
Cleona berjalan sambil menggandeng papinya menyusuri pemakaman umum di mana sang mami di kebumikan enam tahun lalu. Dapat Cleona rasakan langkah berat papinya yang menatap lurus ke depan. Ia tahu bahwa laki-laki tua di sampingnya itu merasakan kesedihannya kembali, karena bagaimana pun itu sama dirinya rasakan, hanya saja Cleona saat ini berusaha tegar, untuk papinya juga sang adik.
Menuntun sang papi untuk duduk di samping gundukan tanah yang sudah di tutupi rumput hijau yang indah dan rapi itu, Cleona semakin merasakan kesedihan papinya, bukan hanya Leo, tapi juga mereka semua yang datang ke tempat itu terlihat jelas raut kesedihannya, bahkan Laura dan Clara sudah menangis dengan tangan yang terulur mengelus batu nisan dengan ukiran nama Luna Alisya.
“Lun, aku datang. Maaf kalau selama enam tahun ini aku jarang banget jengukin kamu. Bukan karena aku tidak ingin, hanya saja aku selalu merasa berat saat harus meninggalkan kamu sendiri di tempat ini,” sapaan Leo keluarkan setelah doa-doa selesai di kirimkan untuk sang istri.
“Kamu gak perlu khawatir dengan anak-anak, karena aku janji akan menjaga, merawat dan membesarkan mereka seperti apa yang kamu mau. Dan kamu pasti sudah melihat bahwa Queen dan Priela tumbuh menjadi perempuan-perempuan cantik yang membanggakan. Apalagi anak pertama kita sudah akan menikah, sesui keinginan kamu saat Queen masih berada dalam kandungan. Dia akan menikah dengan Rapa, bocah ingusan yang selalu kamu banggakan dan percaya akan menjaga anak kita. Kamu gak perlu khawatir, Lun. Semua itu akan segera terwujud.”
Leo menarik napasnya terlebih dulu, menyeka sudut matanya yang berair dan mengusap kepala anak-anaknya yang berada di kanan dan kiri, tengah memeluknya. “Andai kamu masih ada di tengah-tengah kita, Lun ... kebahagiaan kita semua pasti akan lebih sempurna.”
“Mami, Abang minta restunya untuk menikahi putri Mami. Abang janji akan menjaga dan menyayangi Queen seperti Mami menyayanginya. Abang akan berusaha membahagiakan Queen, dan abang akan berusaha untuk tidak mengecewakan Mami, juga mengecewakan semuanya. Restui pernikahan kami, Mi,” ucap Rapa dengan tulus, dan air mata tidak lagi bisa dirinya sembunyikan. Rapa benar-benar menangis di depan makam sang mami. Sempat ada sesal, karena saat itu tidak mengantarkan ibu keduanya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
“Sebentar lagi kita akan benar-benar menjadi besan, Lun. Persahabatan kita akan semakin terikat, sesuai apa yang pernah lo ucapkan dulu. Gue akan berusahan menjadi mertua dan ibu pengganti yang baik untuk anak lo, bukan hanya untuk Queen, tapi juga untuk Priela. Lo yang tenang di sana, Lun, gak perlu khawatir, kerana gue akan menjaga mereka juga menyayangi mereka sebagaimana anak gue sendiri.”
Tidak beda jauh dengan yang lainnya, Lyra juga nyatanya tidak bisa menahan laju air mata yang sejak tadi di tahannya. Pandu memeluk tubuh bergetar istrinya mengecup puncak kepala Lyra dan mengelus punggungnya untuk menenangkan wanita tercinta yang sudah hampir tiga puluh tahun dirinya nikahi.
“Gue pastikan anak gue gak akan pernah menghianati anak lo, Lun. Meskipun gue sadar kelakuan gue dulu tidak lah baik terhadap Lyra, tapi dapat gue pastikan bahwa apa yang terjadi pada Lyra dulu tidak akan pernah terjadi pada Queen, karena gue tahu, Rapa benar-benar mencintai anak lo melebihi kecintaannya pada dirinya sendiri. Gue bisa menjamin itu, karena mungkin lo tahu sendiri bagaimana menyesal dan menderitanya Rapa selepas kepergian Queen atas kesalah pahaman anak-anak kita enam tahun lalu. Gue harap lo bisa memaafkan kesalahan anak gue dulu, Lun. Dan gue harap lo masih bersedia menjadikan Rapa menantu lo. Gue mohon restunya, Lun. Restui anak-anak kita untuk melangkah menuju pernikahan.” Pandu mengungkapkan itu dalam hatinya. Meskipun semua orang yang di sekelilingnya tidak dapat mendengar, tapi Pandu yakin bahwa, Luna dapat mendengarnya di akhirat sana.
__ADS_1
“Seperti janji Priela, Mi, Ella akan jaga papi dan kak Queen.” Laura tersenyum menatap lurus ke depannya.
Clara, Laura dan Cleona menaburkan bunga yang di bawanya di atas pusara Luna, sebelum kemudian mereka semua meninggalkan pemakaman itu dengan langkah berat.
»«»«»«»«
“Bun, abang gak bisa gitu ikut sekarang aja ke Balinya,” rengek Rapa begitu mereka berada di bandara.
“Kerjaan kamu banyak, Bang. Selesaikan dulu, setelah itu baru boleh nyusul.” Kata Pandu menarik anaknya yang menempel pada Lyra.
“Tapi abang gak bisa, Pi di jauhkan dari Queen,” ucapnya memelas. Lyra dan Leo sama-sama memutarkan bola matanya.
“Aish, kenapa sih punya keluarga pada jahat banget sama Abang. Kalian semuakan pernah muda, pernah jatuh cinta, masa iya gak paham beratnya menahan rindu!” dengus Rapa menghentakan kakinya, lalu melangkah menghampiri Cleona.
“Queen berangkatnya nanti aja barengan sama abang,” kata Rapa meraih tangan Cleona.
“Gak bisa Abang sayang, di sana kan banyak yang harus di persiapkan untuk nikahan kita nanti. Salah abang sendiri yang minta nikah di Bali!” cibir Cleona.
__ADS_1
“Ya udah deh batalin aja di sana, kita ganti nikahnya di sini aja ...”
Pletak.
Satu pukulan mendarat di kepala Rapa. Clara memutar bola matanya malas lalu berkata, “Gak usah lebay lo, Bang. Lepasin tangan Queen, pesawat kita udah mau berangkat.”
“Queen, abang gak mau kamu pergi!” teriak Rapa saat sang kekasih di bawa pergi oleh Clara dan bundanya.
“Boleh gak sih gue buang anak gue ke kali ciliwung?” Pandu bertanya pada dirinya sendiri. “Jangan malu-maluin deh Bang, ini bandara bukan sanggar seni, jadi gak usah drama!” lanjut Pandu menarik pergi anaknya yang sudah menjadi perhatian beberapa pengunjung bandara.
Berjalan lesu, Rapa mengikuti langkah kedua ayahnya. Sesekali menoleh ke arah belakang dengan harapan bahwa Cleona berlari dari sana sambil merentangkan tangan dan menangis memeluk Rapa. Namun begitu berada di luar bandara, satu yang harus Rapa sadari bahwa ia tidak sedang bermain di dalam sebuah sinetron.
Rapa membawa mobilnya sendiri begitu juga dengan papi dan ayahnya, karena mereka memang membawa mobil masing-masing untuk mengantarkan keluarganya ke bandara.
Jika ayah dan papinya memilih pulang ke rumah masing-masing, karena hari pun memang sudah menjelang sore, Rapa justru memilih untuk kembali ke kantor. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa dengan cepat menyusul calon istri juga keluarganya yang lain.
Rapa tidak ingin kembali menghabiskan waktu tanpa Cleona di sampingnya, karena yang ia mau adalah menghabiskan sisa hidupnya bersama perempuan tercintanya itu.
__ADS_1
“Semoga waktu berjalan dengan cepat, agar Queen secepatnya jadi milik gue.” Rapa bergumam sebelum kemudian mulai bergumul dengan kertas-kertas berharganya.