
Berkutat dengan perabotan dapur, Cleona kini tengah memasak untuk sarapan bersama sang ayah dan suami serta adiknya sambil bersenandung pelan hingga sebuah pelukan yang tiba-tiba mengejutkannya, membuat Cleona terperanjat dan hampir saja menjatuhkan ayam goreng yang baru saja di angkat dari penggorengan.
“Kebiasaan banget sih, Abang! Kalau Queen jatuh ke penggorengan gimana coba?!” dengus Cleona memukul pelan tangan sang suami yang melingkar di perutnya.
Satu kecupan gemas Rapa layangkan di pipi sang istri. “Jangan lebay deh istri,” katanya memutar bola mata malas. “Lagian itu penggorengannya juga kecil, mana muat kamu masuk ke sana!”
“Abang bau belum cuci muka, jangan cium-cium Queen!”
“Mana ada abang bau! Meskipun belum mandi orang ganteng itu tetap wangi. Gak percaya? Nih cium nih,” Rapa semakin memajukan wajahnya dan menggesek-gesek di pipi berisi sang istri yang segera menghindar dan berlari menjauh dari Rapa yang saat ini mengejar.
Pagi yang indah untuk pasangan yang masih terbilang baru, mengingat usia pernikahan yang baru melangkah satu bulan. Leo yang menyaksikan itu dari kejauhan melebarkan senyumnya, bahagia melihat anaknya tumbuh dewasa dengan baik dan bahagia bersama suaminya. Bukankan sudah tidak ada yang mesti di khawatirkan lagi?
Namun baru saja pemikiran itu melintas, dan bahagia ikut menyertainya, Leo kemudian berubah panik saat asap dari penggorengan terlihat mengepul dan membuatnya heboh, sampai menghentikan Cleona dan Rapa yang saling berkejaran mengelilingi meja makan.
“Aish gosok kan jadinya, untung dapurnya gak kebakar. Kamu kalau lagi masak, masak aja deh Queen jangan sambil main-main gitu!” omel sang papi dengan nada jengkel yang sesungguhnya.
Menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Cleona kemudian cengengesan dan memeluk papinya untuk meredakan kekesalan laki-laki tua kesayangannya itu. “Maafin Queen ya papi sayang, abis abang tadi ganggu Queen masak,” adunya cemberut, dan cebikan bibir Cleona berikan pada suaminya.
“Ck, mentang-mentang pengantin baru, di dapur aja pake acara kejar-kejaran segala, mending kalau gak sambil masak!” cibir Leo, melepaskan pelukan sang putri dan melangkah menuju lemari pendingin.
__ADS_1
“Bilang aja papi sirik!” balas Rapa mencibir.
“Heh, sebelum lo juga, gue udah lebih dulu ngalamin, lo pikir papi gak pernah muda apa!” deliknya.
“Ya, mungkin.”
“Emang deh, cuma lo doang mantu yang ngeselinnya melebihi kucing yang doyan beranak!”
“Kok papi tahu kalau kucing doyan beranak? Apa jangan-jangan papi yang hamilin lagi?!” mata Rapa memicing curiga. Mendengar itu tentu saja membuat Leo melayangkan delikan tajam dan melempar menantunya itu dengan kulit pisang yang ada di tangannya.
Lancang emang, punya menantu modelan Rapa sepertinya harus sering-sering mengucap sabar dan lebih penting lagi rajin mengecek tekanan darah. Bisa struk mendadak jika di biarkan.
Menyudahi pertengkaran konyol yang sudah pasti akan membuatnya terkena serangan jantung jika di lanjutkan, Leo kini memilih membahas pekerjaan dengan sang menantu sementara Cleona masih sibuk di depan kompor bersama alat-alat masak.
Seperti hari ini begitu semua selesai sarapan maka pekerjaan rumah akan segera di laksanakan. Leo yang bertugas memotong rumput yang sudah memanjang juga tanaman yang membutuhkan perawatan, Rapa dan Cleona menyapu serta mengepel sementara Laura bertugas membersihkan kaca sedangkan pak satpam akan membantu papi Leo yang lebih suka berkebun untuk mengenang sang istri.
Hari minggu yang sempurna bukan? Meski lelah tapi mereka puas dengan hasil yang di terima, selain bersih, juga membuat mereka pada akhirnya nyaman berkumpul dan bercengkrama, di temani kudapan dan menonton santai. Hari yang sempurna dengan orang-orang tercinta.
“Tumben Emak Bapak lo gak kesini, Bang?” tanya Leo yang baru sadar bahwa besannya tidak juga menunjukan batang hidungnya sejak pagi.
__ADS_1
“Gak ada di tanyain, giliran ada di suruh pergi,” kata Rapa mencebikan bibirnya. “Kayak cinta berkedok permusuhan.”
“Kenapa sih setiap nanya lo gak pernah langsung mendapat jawaban?” dengus kesal Leo, yang membuat Rapa terkekeh geli, sementara Cleona dan Laura, kedua perempuan cantik itu memilih fokus pada drama yang di tontonkan di televisi, tanpa mau sedikitpun peduli pada perdebatan yang akan kembali berlangsung antara menantu dan mertua.
“Entah lah, tapi yang jelas bikin papi kesal itu adalah kebahagiaan tersendiri untuk abang,” jawabnya tertawa puas melihat raut sang papi yang semakin kesal dan cemberut.
“Menantu durhaka emang lo!”
“Makasih pujiannya papi.” Tawa Rapa semakin berderai bersamaan dengan bantal sofa yang melayang kearahnya.
“Nyesel gue nerima lo jadi mantu. Ah, andai saat itu Queen mau terima lamarannya Alvin, sentosa dan bahagia kayaknya hidup gue sama Queen,” kata Leo menatap mengejek kearah menantunya yang saat ini wajahnya sudah mulai memerah. Memang nama Alvin lah yang paling sensitif untuk Rapa hingga saat ini, meskipun sama-sama sudah memiliki pedamping hidup.
“Gak usah berandai-andai pi, karena kenyataan yang harus papi terima adalah Rapa yang jadi mantu papi.”
“Iya, dan itu benar-benar jadi bencana buat gue.”
“Papi itu pinter banget ngeles, padahal kenyataannya papi sayang sama abang,” cibir Rapa. Bukannya percaya diri, tapi memang seperti itulah pada kenyataannya. Entah lah papinya itu sepertinya terlalu gengsi untuk menunjukan rasa sayang yang sesungguhnya pada menantu tanpamnya itu.
“Bangun, Bang, mimpi lo terlalu indah!” delik Leo yang kemudian bangkit dari duduknya melangkah menuju dapur. Padahal dalam hati Leo tidak dapat memungkiri bahwa menantunya itu benar.
__ADS_1
Leo menyayangi Rapa selayaknya anaknya sendiri. Hanya saja Leo tidak ingin menantunya jadi besar kepala jika dirinya mengatakan atau menunjukan kejujurannya itu. Sudah dapat di bayangkan bukan bagaimana reaksi lebaynya putra pertama pasangan Lyra-Pandu?
Kadang Leo menyesali kenapa menantunya harus menuruni tingkah bundanya yang ‘astaga’ menyebalkan itu.