
Satu minggu ini Rapa habiskan di kantor, Menekuni pekerjaannya agar selesai secepat mungkin dan bisa segara menyusul calon istrinya. Ia sudah amat merindukan gadis cantik pujaannya. Maka dari itu Rapa tak lagi membuang waktu lebih lama, begitu segala urusannya sudah di selesaikan, ia langsung memesan tiket untuknya juga sahabat-sahabatnya yang lain serta sahabat-sahabat Clara dan Cleona.
Ajakan mendadaknya itu tentu saja membuat mereka mendumel, memaki dan menyumpah serapahi, tapi Rapa abaikan semua. Ia tidak peduli dengan protesan-protesan yang keluar dari mulut mereka, karena yang kini dirinya pedulikan adalah perasaannya yang menggebu akan rindu pada sang calon istri.
Begitu pesawat yang di tumpanginya mendarat, Rapa tidak sabar ingin segera turun, namun tentu saja dirinya tidak bisa seenaknya menerobos orang-orang yang juga antri hendak turun.
“Rap, ada yang jemput kita kesini gak?” tanya Daniel begitu mereka tengah mengantri di pengambilan bagasi.
“Adek sama bini gue yang jemput.” Jawab Rapa singkat.
“Masih calon woy! Nikahan lo masih beberapa hari lagi. Siapa yang tahu kalau nanti Cleo sadar dari pelet lo dan batalin pernikahan!” Rapa melayangkan tinjuan di tangan Chiko dan menatap tajam sahabatnya itu, yang justru malah terkekeh tak sama sekali merasa bersalah.
“Do'ain itu yang baik-baik!” dengus Rapa, kemudian berjalan lebih dulu keluar dari bandara.
Cleona yang berada di parkiran meneriakan nama Rapa sambil melambaikan tangan memberitahu keberadaannya. Tentu saja Rapa mengembangkan senyumnya dan berjalan cepat menghampiri calon istri yang berjarak 5 meter dari posisinya.
“Kangen," ucap manja Rapa seraya membawa calon istrinya ke dalam pelukan.
“Alay!” cibir Clara yang berdiri bersandar pada mobil innova reborn hitam sewaannya.
“Sirik aja lo, Dek mentang-mentang calon laki lo belum datang.” Balas Rapa mencibir.
__ADS_1
Tanpa ingin memperpanjang perdebatan, Cleona meminta sahabat-sahabatnya untuk memasukan koper masing-masing ke bagasi agar mereka bisa langsung berangkat ke villa untuk istirahat. Tidak tega rasanya melihat calon suami serta sahabat-sahabatnya berada dalam keadaan lelah seperti ini.
Meskipun dalam keadaan cape, Rapa mengambil alih kemudi walaupun Cleona menolak dan memintanya untuk istirahat, tapi tentu saja Rapa tidak akan membiarkan itu. Dan untungnya Cleona tidak keras kepala untuk saat ini, membuat Rapa bersyukur karena tidak harus menghabiskan sisa tenaganya untuk berdebat.
Di jok belakang, Dava, Daniel, Akbar, Nino dan Chiko, kelimanya tidak ada yang bersuara saking lelahnya. Sementara Clara menyetiri mobil satunya yang berisikan Shafa, Kayla, Nirmala, Alisya dan Caca, karyawan kesayangan Chiko yang sengaja pria itu bawa untuk menemaninya menghadiri pernikahan sahabatnya.
Sesampainya di villa milik keluarga Pandu, Devi dan Lyra segera mengarahkan anak-anak muda itu menuju kamar masing-masing untuk istirahat, sedangkan Rapa memilih duduk di ruang tengah bersama Cleona yang tidak ingin pria itu lepaskan, meskipun lelah itu tidak dapat di sembunyikan. Namun Rapa tetaplah Rapa, laki-laki keras kepala yang selalu manja jika berada di samping Cleona dan keluarganya yang lain.
“Lepasin tangannya, Bang, Queen mau buatkan minuman dulu buat abang.” Kata Cleona menepuk-nepuk tangan Rapa yang melingkar di perutnya.
“Abang cuma ingin kamu, Queen bukan yang lain. Jadi, diam oke!” Rapa semakin mengeratkan pelukannya, menyandarkan kepalanya di ceruk leher Cleona seraya memejamkan matanya, menikmati aroma sang tunangan yang selalu membuatnya tenang. Sebelum satu suara menghancurkan segalanya.
“Siapa yang nyuruh lo peluk-peluk anak gue!”
“Ish, Papi apa-apan sih! Baru aja Abang mejamin mata, main ganggu aja.” Dengus Rapa kesal.
“Minggir lo, ke kamar kalau ngantuk bukannya malah tidur di pundak anak gue!”
“Nyamannya di sini, gimana dong?” kata Rapa yang kembali menjatuhkan kepalanya di pundak Cleona, tangannya yang hendak kembali melingkari pinggang sang tunangan dengan cepat di tepis Leo dengan kasar.
“Belum sah woy!” Leo mendorong tubuh lelah Rapa menjauh dan segera duduk di tengah-tengah antara Cleona dan Rapa untuk memisahkan kedua sejoli itu.
__ADS_1
“Kenapa sih orang tua satu ini nyebelin banget!” Rapa entah untuk keberapa kalinya mendengus. Wajahnya di tekuk dan tangannya di lipat di dada, menatap tajam calon mertuanya, melayangkan permusuhan.
“Kalian kapan akurnya, sih? Bodo ah, Queen ngantuk, bye!” Cleona bangkit dari duduknya dan meninggalkan kedua laki-laki beda generasi itu. Kesal dan malas jika harus menyaksikan perdebatan antara ayah dan calon suaminya, apa lagi dalam keadaan ngantuk seperti ini.
“Queen…”
“Diam lo! Gue gak izinin lo ngintilin anak gue, belum sah!”
Mendengus lemas, Rapa akhirnya memilih membaringkan tubuhnya di sofa panjang dengan berbantalkan paha Leo, yang tentu saja mendapat penolakan dari laki-laki itu. Namun Rapa tetap keras kepala dan memepertahankan posisinya.
“Ck, lo apa-apaan sih bocah. Minggir!”
“Pi, abang minta restu Papi untuk nikahin Queen. Abang sadar bahwa Abang bukanlah laki-laki baik dan sempurna, tapi demi Queen, Abang akan berusaha untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Maaf jika Abang pernah mengecewakan Papi, mendiang Mami dan kalian semua. Abang janji untuk memperbaikinya, dan Abang janji untuk tidak menyakitinya. Apa Papi bersedia merestui kami?” Rapa mengabaikan perkataan Leo sebelumnya dan memilih mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya sejak beberapa hari lalu melihat laki-laki tua itu lebih sering melamun sambil menatap foto Cleona
Sorot mata serius itu dapat Leo tangkap dengan jelas, membuatnya memalingkan wajah. Leo mendongak dan matanya ia pejamkan, sementara Rapa masih setia menatap Leo menunggu jawaban calon mertuanya itu.
“Jika memang Papi masih berat, Abang gak masalah untuk menunda pernikahan ini. Bukan karena Abang berubah pikiran, tapi a
Abang hanya ingin melangsungkan semua ini di saat Papi benar-benar ikhlas melepaskan Queen. Abang ingin sepenuhnya mendapatkan restu itu, Pi, karena bukan hanya kebahagiaan Queen dan Abang yang penting, tapi kebahagiaan Papi pun sama pentingnya untuk kami.”
Leo menunduk, menatap Rapa dengan berkaca-kaca. Tidak menyangka bahwa calon menantunya itu memikirkan perasaannya. Jujur saja, Leo masih sedikit berat untuk melepaskan anaknya, bukan karena tidak percaya pada Rapa, hanya saja Leo belum siap kembali kesepian dan kembali di tinggalkan. Namun Leo sadar bahwa dirinya tidak boleh egois.
__ADS_1
“Bang, Papi percaya bahwa kamu mampu membahagiakan anak Papi. Maaf jika mungkin kamu merasa bahwa Papi tidak memberikan restu itu, tapi harus kamu tahu bahwa sejak Queen lahir, sejak itu jugalah restu Papi menyertai. Papi izinkan kamu menikahi Queen, Bang, dan Papi ikhlas.” Bulir bening di sudut matanya, Leo usap kemudian memberikan senyum tulus pada calon menantunya. “Bahagiakan Queen demi Papi dan Mami, Bang!” lanjut Leo menggenggam erat telapak tangan Rapa yang saat ini masih berbaring di pangkuannya.
Rapa tersenyum. “Pasti, Pi, Abang pasti akan membahagiakan Queen. Abang janji!”