Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
43. Kepergian


__ADS_3

"Berengsek. Berani-beraninya lo khianatin gue!” kesal Rapa yang kembali melayangkan tinjuannya ada pintu


“Simpan kata-kata lo untuk diri sendiri.”


Clara, Birma dan beberapa orang yang kebetulan melintas menoleh ke arah laki-laki tampan yang mereka kenal sebagai mantan kakak kelasnya. Sementara Rapa mengepalkan tangannya dan dengan cepat menghampiri seraya melayangkan pukulan pada wajah Alvin, yang sayangnya lebih dulu menahan kepalan itu, kemudian menghempaskannya dengan kasar.


“Lo gak berhak mukul gue, Rap. Karena yang jelas-jelas butuh itu lo ...!” kata Alvin langsung mendaratkan pukulan demi pukulan yang tentu saja belum siap Rapa terima.


Clara menjerit histeris begitu mendapati sang kakak yang tersungkur kearahnya. Suara derap langkah cepat terdengar oleh inderanya, membuat Alvin menoleh dan mendapati teman-teman Rapa datang menghampiri.


“Apa lo belum puas udah ngerebut Queen dari kakak gue, dan sekarang lo main pukul abang gue! Lo berengsek, Kak...”


“Kakak lo yang berengsek Cla! Apa kalian sadar Queen terluka gara-gara siapa? Apa lo tahu bagaimana sedihnya dia belakangan ini?” Alvin berkata sedikit membentak, menatap tidak percaya pada Clara dan teman-teman Rapa termasuk Mirna yang saat ini terduduk di samping Rapa yang terluka akibat pukulan Alvin. “Kakak lo yang terlalu memilih sahabat kesayangannya dari pada Cleo. Kakak lo dan kalian semua yang menyakiti dia. Bukan Cleona yang menghianati kalian! Lo yang seharusnya tahu Cleona luar dalam, nyatanya gak percaya saat dia cerita bahwa dia tengah di buat cemburu sama kakak lo, dan ...” Alvin menoleh pada Rapa yang berusaha bangkit. “... lo seakan tutup mata dan telinga begitu Cleona mengutarakan perasaannya. Kalian semua terlalu menganggap bahwa Cleona baik-baik aja melihat kedekatan dan tingkah kalian. Lo gak pernah sadar akan perasaan Cleona, Rap. Lo terlalu egois!”


“Gak perlu bicara omong kosong. Udah jelas-jelas Queen sendiri bilang bahwa dia lebih milih lo...”


“Dan lo percaya? ****!” Alvin dengan cepat memotong perkataan Rapa. “Lo yang katanya kenal dari orok harusnya tahu bagaimana Cleona dan perasaannya. Lo yang selalu cemburuin gue sama dia, tapi lo sendiri gak sadar tingkah lo sama sahabat kesayangan lo itu lebih menyakiti perasaan Cleona. Dan begonya, lo gak menyadari itu?” menggelengkan kepala tak habis pikir, Alvin kemudian berkata sebelum berlalu pergi meninggalkan kebingungan semua orang yang ada di sana. “Selamat menikmati penyesalan kalian.”


“Bang, apa...”

__ADS_1


Drettt... drett... drett...


Clara yang hendak bicara menghentikan katanya begitu ponsel yang berada di sakunya bergetar dan melihat bahwa sang bunda yang menghubungi. Menoleh sekilas pada kakaknya kemudian Clara mengangkat sambungan tersebut.


“Iya bunda, Atu pulang sekarang sama abang,” kata Clara pada seseorang di seberang sana, sebelum kemudian kembali menyimpan ponselnya.


“Semuanya kita pulang lebih dulu. Birma maaf." Clara menoleh ke arah kekasihnya, yang kemudian mendapat anggukan paham hari laki-laki tampan itu.


Rapa yang masih dalam keadaan setengah sadar akibat perkataan Alvin tadi hanya mengikuti begitu tangannya di tarik oleh Clara menuju parkiran. Pikirannya terus tertuju pada Cleona dan perkataan perempuan itu beberapa waktu lalu sebelum pertengkaran mereka terjadi, di tambah dengan ucapan Alvin tadi. Menebak-nebak mana yang harus dirinya percayai, antara hatinya sendiri dan perkataan Alvin.


Clara dengan cepat merebut kunci mobil dari tangan kakaknya dan langsung menyalakannya begitu duduk di balik kemudi. Sementara Rapa yang biasanya tidak pernah mengizinkan adiknya menyetir, kali ini memilih diam karena ia sendiri seakan tidak ada kekuatan untuk berdebat dan menyetir. Apa lagi denyutan nyeri di sekitar wajahnya akibat pukulan yang di layangkan Alvin tadi.


Karena jalanan yang tidak terlalu mecet, membuat Clara dan Rapa sampai dengan cepat di komplek perumahannya. Clara yang melihat kemunculan kedua orang tuanya dari gerbang rumah Cleona segera menghentikan laju mobilnya dan turun menghampiri ayah dan bundanya yang terlihat sedih.


“Mana janji kamu yang katanya akan segera memperbaiki masalah di antara kalian? Apa ini yang kamu maksud dari menyelesaikan? Membuat Queen pergi!” murka Lyra dengan wajah sembab dan kemarahan yang jelas tersirat dari kedua matanya.


“Maksud, Bunda...?” kening Rapa dan Clara mengerut bingung.


“Queen pergi. Apa kamu puas sekarang?!” bentak Lyra keras. Membuat kedua remaja itu terlonjak kaget, karena bagaimana pun baru kali ini mereka mendapatkan kemarahan bundanya.

__ADS_1


“Udah sayang, kita pulang kerumah dulu ya, gak enak bicara di luar seperti ini.” Pandu berusaha menenangkan istrinya yang tengah diliputi emosi, dan membawa istrinya itu menuju rumah.


Rapa dan Clara mengikuti langkah kedua orang tuanya, dengan perasaan tak menentu juga pikiran yang kemana-mana. Dan tentu saja keduanya belum juga paham akan apa yang terjadi, namun mereka cukup tahu bahwa ayah dan bundanya kecewa.


“Cerita apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian!” tuntut Lyra pada kedua anaknya yang saat ini berdiri di tengah-tengah ruang keluarga.


Clara dan Rapa saling berpandangan sebelum kemudian cerita mengalir dari mulut keduanya secara bergantian. Beberapa kali helaan napas berat Lyra keluarkan dan air matanya menetes tanpa di minta. Pandu yang setia duduk di samping istrinya, memeluk tubuh mungil itu dan menepuk-nepuk pelan punggungnya, menenangkan sang istri agar tidak sampai lepas kontrol, karena bagaimana pun yang mereka hadapi adalah anak-anaknya.


Setelah penjelasan Clara dan Rapa terhenti, Lyra menoleh pada kedua anaknya itu kemudian menggelengkan kepala. “Sejak kapan kalian menjadi ceroboh seperti itu? Kamu, Dek sejak kapan main hakim sendiri tanpa mendengar penjelasan Queen? Bukankah kalian sudah mengenal sejak kecil? Bukankah kalian tumbuh bersama?”


“Maaf bunda, saat itu Atu emosi, dan refleks nampar Queen,” jawab Clara menunduk kan kepalanya bersalah.


“Dan kamu, Bang, bukankah kamu sendiri yang sejak kecil menginginkan Queen? Bukankah kamu sendiri tahu bahwa Mami Luna mempercayakan anaknya sama kamu, karena beliau tahu bahwa abang bisa menjaga Queen? Lalu sekarang ...? Hahh ... sudah lah, semuanya juga sudah percuma. Queen pergi dan dia bilang tidak ingin kembali. Sekarang terserah kalian berdua, Bunda hanya berharap bahwa dengan kejadian ini Mami Luna tidak kecewa pada keluarga kita, dan semoga Queen tidak menyimpan dendamnya untuk kalian berdua.”


Lyra pergi begitu saja setelah mengucapkan itu, tidak sama sekali menoleh meskipun Rapa terus berteriak meminta di beri tahu ke mana perginya Cleona.


Saat siang tadi mengunjungi kediaman sahabat kecilnya yang berada di samping rumahnya, Lyra cukup terkejut karena dilihatnya Bi Atin tengah mengemasi barang-barang milik Cleona juga Leo yang mengemasi barang Laura dan dirinya sendiri.


Tentu saja itu menjadi pertanyaannya, tapi bukan jawaban yang ia dapat melainkan kemarahan Leo yang mengutarakan kekecewaannya pada Rapa yang sudah menyakiti anaknya. Lyra tentu paham, karena bagaimana pun ia menyadari itu. Namun siapa yang tahu bahwa keadaannya malah akan semakin rumit seperti ini.

__ADS_1


Mencegah sudah Lyra lakukan, tapi itu tidaklah bisa menghentikan Leo. Sebagai orang tua tentu saja tidak ingin melihat kesedihan anaknya apa lagi dengan Cleona sendiri yang memohon untuk di bawa pergi. Dan mendengar keputusan itu Lyra tidak mampu lagi mencegah, hanya kata maaf yang dirinya keluarkan untuk segala kesalahan yang di buat kedua anaknya, menyesal juga karena tidak dengan cepat bertindak untuk membantu menyatukan kembali keharmonisan anak-anaknya yang ia didik bersama-sama dengan Luna selama ini.


“Maafin gue, Lun. Maaf karena sudah mengecewakan lo. Gue janji akan kembali mempersatukan anak-anak kita.”


__ADS_2