
Masih dengan senyum terukir yang sejak semalam tak juga surut, Rapa dan Cleona memasuki rumah sang papi yang menjadi tempat tinggalnya selama ini sambil bergandengan tangan mesra. Tidak sadar dengan semua orang yang berada di ruang tamu itu menatap mereka.
“Ekhem!”
Suara deheman cukup keras itu membuat langkah Cleona dan Rapa terhenti lalu menoleh dan mendapati seluruh keluarganya berada di sana, duduk di sofa sambil memberikan tatapan tajam.
“Selamat siang semuanya,” sapa Rapa dengan cengiran khasnya. “Tumben kumpul di sini, ada apa? Gak pada kerja?” menyusul sang istri yang sudah lebih dulu bergabung dengan keluarganya, Rapa duduk di samping adiknya yang datang serta dengan suaminya. Tatapan semua orang begitu aneh, seolah memancarkan kemarahan yang tentu saja tidak Rapa ketahui alasannya. Ia merasa tidak membuat kesalahan jadi, siapakah yang membuat mereka marah?
“Kenapa semuanya pada tegang gini sih? Ada apa?” Cleona yang keheranan pun membuka suara, menatap satu persatu dari mereka dengan kening mengernyit.
“Dari mana saja kalian?” sang papi yang lebih dulu membuka suara. Nadanya terdengar berbeda dari biasanya, dan Cleona tahu bahwa papinya itu tengah marah.
“Makan malam,” Cleona membalas dengan takut-takut, sementara Rapa masih tidak paham pada keadaan yang di hadapinya kini.
“Sampai siang seperti ini?” sebelah alis Leo terangkat. “Oke, kami mengerti kalian sudah dewasa, bahkan sudah menikah. Tapi bisakah memberitahu salah satu dari kami jika akan pergi? Bisakah tidak membuat semua orang rumah khawatir dengan sulitnya menghubungi kalian?!”
“Pi…”
“Apa! Kalian mau bilang bahwa kalian sudah bisa menjaga diri? Kalian mau bilang agar kami tak hawatir? Kalian mau bilang bahwa kalian bukan lagi anak kecil yang perlu di cemaskan? Lalu kenapa? Sedewasa apapun kalian, kami sebagai orang tua tetap akan khawatir apa lagi deng…”
__ADS_1
“Pi, Abang mau minta maaf karena sudah membuat kalian semua khawatir. Maaf juga karena sengaja mematikan ponsel, abang cuma gak ingin di ganggu untuk merayakan satu bulan pernikahan kami,” Rapa memotong ucapan sang mertua merasa bersalah, namun tetap saja Rapa cengengesan di akhir kalimat.
“Jadi lo ngerasa terganggu, hah?!”
Satu anggukan polos Rapa merikan, dan itu sukses membuat Rapa naik darah. “Kan emang iya. Papi kemarin aja hampir gagalin rencana abang buat ajak Queen makan malam.” Rapa mengacungkan jari tengah dan telunjuknya membuat sebuah huruf ‘V’ seraya menampilkan cengirannya. “Malam ini abang teraktir kalian semua makan di luar deh, gimana? Sebagai permintaan maaf abang dan juga untuk merayakan pernikahan kami di bulan petama.”
“Ya udah lah, mau bagaimana lagi,” sang bunda mengeluarkan napas leganya. “Tapi bunda yang tentuin tempatnya, ya?” seringai yang di berikan sang bunda tentu saja Rapa paham, dan itu jelas bukan sesuatu yang menarik, melainkan Rapa harus siap mengeluarkan kocek besar untuk acara makan malam kali ini. Bundanya tahu bagaimana cara membalas dendam.
Berhubung terlanjur menawarkan makan malam sebagai permintaan maaf, maka mau tak mau Rapa pada akhirnya mengangguk.
“Tapi, Bang, ayah harap kejadian ini tidak lagi terulang. Meskipun kalian sudah menikah, please kasih tahu kami lebih dulu jika emang ingin pergi, apa lagi sampai menginap seperti semalam. Kalian gak tahu 'kan bagaimana cemasnya papi kalian yang hampir seperti orang gila? Dia bahkan berniat melapor pada polisi dengan dugaan penculikan.” Ayah Pandu yang sejak tadi diam mengeluarkan suaranya.
Mendengar itu tentu saja membuat Cleona dan Rapa menoleh pada Leo yang pura-pura tidak mendengar. Rapa bangkit dari duduknya dan menghampiri sang papi lalu memeluknya dengan erat, tidak peduli laki-laki tua itu memberontak mencoba melepaskan diri dari pelukan sang menantu tampan yang saat ini mengecupi pipinya. Tentu saja itu menjijikan, tapi sepertinya Rapa tak peduli.
“Minggir woy. Dasar mantu sinting! Jangan terlalu percaya diri lo, mana ada gue sayang sama lo, dih amit-amit. Gue cuma khawatir sama anak gue yang lo bawa, kalau lo mah bodo amat mau ada yang mutilasi juga.” Leo masih berusaha membebaskan diri, namun pelukan Rapa terlalu erat, atau karena mungkin dirinya yang tidak bertenaga untuk menyingkirkan menantunya itu?
Dan sialnya semua orang malah asik menyaksikan dan menertawakan dari pada berusaha membantunya terlepas dari laki-laki menyeramkan seperti menantunya ini, memang deh sahabat sama anak sama saja menyebalkannya. Tolong di ingat, meskipun dirinya duda kesepian akibat di tinggal mati sang istri, tetap saja tidak membuat Leo menyukai laki-laki. Buah melon masih lebih menggiurkan di matanya. Jadi, tolong singkirkan menantu tersayangnya ini.
“Akui dulu kalau papi memang segitu sayangnya sama abang,” kata Rapa menuntut.
__ADS_1
“Gak ada pengakuan-pengakuan! Dih geli gue dengarnya juga,” Leo bergidig, sementara Rapa semakin mengeratkan pelukannya pada sang papi, dan semua yang ada di ruang tamu semakin tertawa puas melihat wajah Leo yang suda memerah, entah karena kesal, geli, atau justru jijik.
“So jual mahal banget sih papi, kayak remaja cewek!”
“Bodo amat, Rapa! Lepasin gue sekarang juga, please.” Pinta Leo memohon.
Rapa masih saja menggeleng, enggan melepaskan pelukannya dari papi mertua. Bukan berarti ia menyukai mertuanya itu, Rapa senang saja menggoda sang papi yang gengsinya melebihi tingginya monas. Ia hanya ingin pengakuan laki-laki itu, bahwa sang papi memang menyayanginya.
“Ayo lah, Pi, masa ngaku sayang sama mantu sendiri sulitnya minta ampun gini,”
“Gak di lepas, gue jauhin Queen dari lo!”
“Dih ngancem,” Rapa memutar bola matanya malas.
“Ly, singkirin anak lo dari gue, please! Lo senang banget kayaknya bikin gue tersiksa gini.” Pinta Leo pada sahabatnya yang tak juga menghentikan tawa.
“Gue lebih suka lihat lo tersiksa, Le, dan gue bersyukur punya Rapa yang rela nyiksa lo demi kebahgiaan gue.”
Leo yang malang, bukankah perempuan tua itu sahabat yang baik? Ya Tuhan cobaan sekali memiliki menantu dan sahabat yang kayak gini.
__ADS_1
“Rap, gak lepasin gue benar-benar akan bawa Queen pergi dari hidup lo!” ancaman kembali Leo berikan dan itu berhasil membuat Rapa melepaskan pelukannya dari sang mertua. Dan Leo dapat bernapas lega sekarang. “Hampir aja gue mati gara-gara sesak napas.”
“Lebay!” cibir Rapa yang saat ini melangkah menjauh dari mertuanya dan duduk di samping sang istri, tidak lupa memberikan kecupan singkat di kening Cleona. Pengakuan laki-laki tua itu tidak lagi Rapa butuhkan selama Queennya berada di sampingnya. Percuma juga kekeh meminta pengakuan sang mertua, laki-laki itu tidak pernah mau menurunkan gengsinya.