
Berkumpul dan mengobrol bersama sahabat-sahabatnya, Rapa merasa bahwa ini adalah hari terbaiknya selepas enam tahun kebelakang, dimana di saat-saat itu senyum terasa sulit dirinya sunggingkan. Berbeda dengan sekarang, jiwanya seakan kembali, semangatnya berkobar dan bahagia selalu ingin ia tunjukan pada orang-orang di sekelilingnya.
“Enam tahun gak bisa meluk Cleo, Si Rapa jadi berasa di lem tangannya,” cibir Nino yang sudah jengah melihat Rapa yang sedikit-sedikit memeluk Cleona, mengecup tangan mungil gadis itu dan juga mengecup kening atau puncak kepala perempuan cantik yang sepertinya memang tidak merasa risi dengan perlakuan Rapa. Wajar memang, enam tahun bukan lah waktu yang singkat, keduanya pasti sama-sama saling merindukan. Namun bisakah untuk tidak bersikap seperti itu di hadapan jomlo?
“Bibirnya malah kayak yang baru lepas lakban, untung depan kita-kita, coba kalau sekiranya depan orang lain? Yakin gue mah Si Rapa bakalan di seret ke rumah sakit jiwa,” Chiko menambahi, karena merasa jengah juga melihat sahabatnya itu sejak tadi tidak juga menyurutkan senyumnya.
“Enam tahun, bro dia kaku dan kedinginan, sekalinya di kasih kehangatan malah mirip banget sama orang gila. Bahaya kalau gak buru-buru di kawinin,” kata Dava yang juga ikut menambahi.
Rapa yang mendapat cibiran ini itu dari teman-temannya hanya cuek saja, membiarkan mereka puas mengatainya, karena bagaimana pun apa yang mereka katakan memang benar adanya. Lima tahun lebih di tinggal Cleona memang siksaan, dan di saat perempuan itu kembali tentu saja kebahagiaan amat dirinya rasakan.
Sejujurnya ia masih sulit untuk mempercayai ini semua, Rapa merasa bahwa apa yang di alaminya ini hanyalah sebuah mimpi indah, karena terlalu merindukan Cleona. Namun jika pun memang benar mimpi, Rapa berharap untuk tidak pernah di bangunkan.
“Cle, di Singapura lo sempat dekat laki-laki lain gak? Disana kan setidaknya banyak tuh yang ganteng, lebih dari Kak Rapa,” tanya Nirmala penasaran.
“Asal kalian tahu deh, Cleo di Kampus jadi idola, bahkan banyak cowok yang antri minta jadi pacarnya,” bukan Cleona yang menjawab, melainkan Freya yang juga ikut berkumpul dengan sahabat-sahabat Cleona dan Rapa.
“Benar, Cle?” Alisya bertanya dengan raut kagum yang berlebihan.
“Ada satu orang yang dekat banget sama dia, kirim makanan atau enggak dia masakin, antar Cleo ke mana-mana, bahkan sampai beresin apartemen aja dia bantuin. Kurang baik apa coba tuh cowok?” kata Alvin yang juga ikut menambahi, karena bagaimana pun ia pernah mengunjungi Cleona beberapa kali dan ia tahu dengan siapa aja perempuan itu dekat.
“Kok lo bisa tahu?” tanya Rapa yang wajahnya sudah memerah menahan kesal.
“Gue kan sering ngunjungin Cleo kesana. Emangnya lo!”
“Ngapain lo datang-datangin pacar orang...”
__ADS_1
“Ngapel lah,” sombong Alvin. “Lupa lo kalau saat itu Cleo udah mutusin lo? Jadi, dia bukan milik siapa-siapa selain Bapaknya,” lanjut Alvin menyeringai. Puas, karena sudah membuat mantan adik kelasnya itu bungkam memendam kekesalan.
Rapa yang mendengarkan tentu saja cemberut dan menuntut penjelasan pada gadis cantik yang duduk disampingnya, sementara Cleona sendiri sudah melayangkan tatapan protes ke arah dua orang di depannya yang sudah lancang menceritakan semua itu. Namun yang di tatap malah tenang-tenang saja, sama sekali tidak merasa bersalah.
“Apa yang dia ucapin benar, Yang?” tanya Rapa. Cleona hanya menjawab dengan anggukan kecil, dan itu sukses membuat Rapa semakin mengeraskan rahangnya.
“Queen sama dia emang dekat banget, tapi abang gak perlu khawatir dan cemburu, karena sebanyak apapun pria yang menyukai Queen, seberapa baik dan tampannya mereka, hanya abang yang ada di hati Queen sejak dulu hingga sekarang dan sampai selamanya,” kata Cleona dengan tersenyum manis dan memeluk laki-laki di depannya itu, meyakinkan bahwa apa yang di ucapkannya adalah yang sesungguhnya.
“Terus itu yang berani masuk dan beresin apartement Queen, siapa? Sampai masakin segala, emangnya Queen gak bisa masak sendiri?” Rapa bertanya masih dengan nada tak sukanya.
“Abang cemburu?” senyum Cleona semakin lebar, melihat wajah cemberut tunangannya.
“Ya iya lah abang cemburu, kamu pikir abang bisa baik-baik aja di saat ada laki-laki lain yang deketin Queennya abang! Kamu gak tahu, di sini hati abang mati gara-gara kepergian kamu? Abang tersiksa Queen, apalagi gak ada seorang pun yang mau ngasih tahu keberadaan kamu, buat abang lelah sendiri nyari kamu kesana kemari, bahkan sampai susul kamu ke Singapur yang sayangnya kamu malah udah pulang duluan. Di tambah dengan drama kalian semua yang buat abang ingin sekali menyerah. Gak puas juga siksa abang?” ujar Rapa panjang lebar, kekesalannya tidak dapat Rapa hilangkan, karena bagaimana pun sejak itu masa-masa sulitnya ia jalani seorang diri.
“Cih, lebay.” Cibir Clara, memutar bola matanya malas, yang tidak sama sekali di hiraukan oleh pasangan yang baru di satukan lagi itu.
“Jadi maksud lo ... cowok itu gay?” tanya Clara membulatkan matanya. Cleona menjawab dengan anggukan. Sontak semua orang yang berada di sana tertawa seraya menoleh pada Alvin yang saat ini wajahnya sudah memerah.
“Ck, kenapa lo ceritain bagian itunya, Cleo!” decak Rapa kesal juga malu. Freya yang sebagai calon istrinya bahkan ikut menertawakan, dan terlihat begitu puas.
“Wajar sih kalau cowok feminim itu suka sama kak Alvin, secara kak Alvin ganteng, Atletis...”
“Lo mau muji apa ngehina sih, Kay?” dengus Alvin yang kemudian kembali mendapat tertawaan.
“Bang ayok,” kata Lyra menghampiri Rapa, menghentikan tawa semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
“Ayok, ke mana?” tanya Rapa dengan kening berkerut bingung.
“Ck, dasar pelupa. Kamu 'kan harus segera ke bandara, Bang.” Lyra memutar bola matanya malas. Cleona yang berada di samping laki-laki itu langsung mendongak dan memberikan tatapan bertanya.
“Hehe, gak jadi Bun, abang disini aja. Gak jadi pindak ke Balinya,” jawab Rapa cengengesan setelah mengingat yang di maksud sang bunda.
“Kok gak jadi?” heran Pandu yang baru saja berdiri di samping istrinya. “Ayah udah urus semua kepindahan kamu loh, Bang. Kan kamu sendiri yang semalam ngerengek minta pindah, kenapa sekarang malah bilang gak jadi?”
“Semalamkan karena abang lagi galau, Yah. Di tinggal nikah! Siapa coba yang gak akan frustasi dan galau?”
“Ya gak bisa gitu dong, Bang! Ayah udah terlanjur urus kepindahan kamu. Kamu pikir semua itu gak pake uang? Cepat deh, kita ke bandara sekarang, mumpung masih ada waktu,”
“Masa Ayah tega pisahin Abang sama Queen lagi. Abang sama Queen baru balikan loh, Yah?” ucap Rapa dengan memelas.
“Lah, ini 'kan keinginan kamu, Bang!” Lyra menaikan sebelah alisnya.
“Ck, ya udah Abang jadi pergi, tapi bawa Queen." Rapa tersenyum seraya menaik turunkan alisnya.
“Enak aja! Lo pergi aja sendiri, gak usah ajak-ajak anak gue,” ujar Leo yang dengan cepat datang dan memberikan delikan tajamnya.
“Ya, masa iya, Abang harus pisah lagi sama Queen? Gak ada pokoknya! Cukup ya Papi pisahin Abang sama Queen enam tahun ini. Mulai sekarang gak boleh ada yang pisahin kami lagi!” tegas Rapa memeluk Cleona dengan erat, seolah gadis itu akan kembali di bawa pergi.
“Queen pergi karena keinginannya, itu pun karena kesalahan kamu.” Ujar Leo, mengingatkan anak dari sahabatnya itu.
“Dan kepergian kamu pun atas keinginan kamu, jangan lupa loh, Bang semalam kamu memelas gitu sama Ayah dan Bunda minta pindah. Kami gak pernah pisahin kalian. Kalian sendiri yang pada mau pisah jadi, jangan salahin kita dong!” dengus Lyra memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Rapa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kemudian cengengesan. “Bunda, Ayah, Papi Leo yang tampan ngalahin Chanyeol EXO, abang izin tetap di samping Queen, ya? Menebus dosa yang dulu sempat abang lakukan, menyembuhkan luka yang dulu sempat abang torehkan. Abang ingin memperbaiki semuanya, dan memulai kisah yang baru bersama Queen. Abang janji untuk tidak menyakitinya lagi, tidak membuatnya menangis lagi, dan abang janji akan menjaganya dengan segenap hati.”