
“Kamu kenapa sejak pulang dari rumah sakit cemberut mulu?” tanya Rapa begitu mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
“Gak apa-apa.”
“Aku tahu, di balik kata gak apa-apanya seorang perempuan itu berarti sedang ada apa-apa. Aku peka, sayang. Sini cerita sama aku,” Rapa menggeser duduknya agar lebih menempel dengan sang istri tercinta. “Ingat, aku suami kamu, dan diantara suami istri itu tidak boleh ada yang di sembunyikan.”
Rapa menghela napasnya panjang, kemudian mengubah posisi agar menghadap istrinya yang masih juga enggan membuka suara. Hanya tatapan wanita itu lah yang tertuju pada matanya, seolah tengah mencari sesuatu yang ingin di dapatkan.
“Istri tahu gak apa alasan orang-orang di luaran sana banyak yang berpisah?”
“Karena kekurangan uang belanja.” Jawab Cleona tanpa berpikir lebih dulu. Satu sentilan pelan Rapa berikan pada kening istri cantiknya itu.
“Kenapa Queen di sentil? Emang salah ya?” tanyanya dengan polos sambil mengusap-usap keningnya yang terkena sentilan Rapa.
“Gak salah, tapi gak juga benar. Ada banyak alasan yang membuat pasangan berpisah terutama suami istri. Penyebabnya sederhana, hanya sebuah komunikasi,”
“Kenapa gitu?” Cleona mengangkat sebelah alisnya.
“Ketidakjujuran dan tidak adanya keterbukaan. Itu membuat komunikasi di antara suami dan istri kurang, dan tidak sedikit karena masalah sepele itu menimbulkan dampak yang amat begitu besar.”
“Jadi maksud abang, kalau sekarang Queen gak mau terbuka, abang mau menceraikan Queen gitu?” tuduh Cleona dengan berapi-api. Satu lagi sentilan Rapa berikan dan sekarang cukup kuat, membuat Cleona mengaduh sakit.
"KDRT!”
“Abis abang kesal, pemikiran kamu pendek banget.”
__ADS_1
“Ya kan emang itu yang Queen cerna dari penjelasan abang sejak awal,”
“Iya, tapi bukan itu maksud abang, sayang. Abang sebagai suami kamu, tidak ingin membuat kamu memendam masalah apa pun seorang diri. Seperti yang tadi kamu bilang sama Nia, bahwa abang merasa menjadi suami yang di andalkan sama kamu. Jadi, apa pun yang tengah menjadi beban pikiran kamu, tolong berbagi sama abang, biar abang lebih berguna menjadi suami kamu. Kita sudah menikah satu tahun lebih, meskipun masih terbilang baru, tapi tetap saja aku dan kamu sudah menjadi kita, menjadi satu. Itu artinya masalah kamu sudah menjadi masalah abang, kesedihan kamu sudah menjadi kesedihan abang, dan bahagia kamu sudah menjadi bahagianya abang.”
Mata Cleona berkaca-kaca mendengar setiap kata yang di ucapkan suaminya itu, terharu dan Cleona begitu bersyukur menjadi istri dari seorang Rapa Pratama Dhikra, laki-laki tampan di depannya yang selalu saja membuatnya merasa dicintai dengan kata maupun perbuatannya yang selalu manis.
“Peluk,” Cleona merentangkan kedua tangannya dengan wajah menggemaskan seperti anak kecil. Rapa tentu saja menyambut itu dengan bahagia dan segera mendekat untuk memeluk istri tercintanya. Kecupan demi kecupan Rapa berikan, sebelum kemudian menyandarkan kepala istrinya di dada bidangnya, dan Rapa duduk di samping Cleona bersandar pada kepala ranjang.
“Jadi sekarang udah mau cerita, kamu kenapa cemberut terus sejak pulang dari rumah sakit dan bertemu Nia?” mengusap-usap kepala Cleona, Rapa kembali bertanya dengan lembut. Ia belum tenang jika istrinya itu masih saja menyembunyikan masalahnya seorang diri.
“Abang,” panggil Cleona sedikit mendongak agar dapat melihat wajah suaminya.
“Apa sayang.” Rapa sekali lagi memberikan kecupan di hidung istrinya.
“Tentu aja abang akan pergi …”
Jawaban Rapa barusan membuat Cleona kembali menundukkan kepala, wajahnya semakin murung dan ketakutan itu semakin menghampiri.
“Jika memang ayah minta abang untuk pergi menghadiri rapat yang tidak bisa di tinggalkan. Abang pasti akan pergi jika kamu meminta abang untuk pergi membelikan soto, siomay dan yang lainnya, tapi percayalah, abang tidak akan pernah pergi meskipun kamu memaksa agar abang meninggalkan kamu. Kecuali kalau memang Tuhan menginginkan abang pergi lebih dulu, itu tentu saja tidak akan pernah bisa abang tolak.”
Dengan cepat Cleona memeluk suaminya dengan erat. “Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Bang. Queen gak sanggup kalau tanpa abang. Queen tidak akan siap kembali kehilangan orang yang Queen sayang. Jadi, Queen mohon ….”
“Iya sayang, abang tidak akan pernah membahas tentang itu lagi. Maafin abang, ya?” Cleona mengangguk dan semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
“Jadi apa yang ingin Queen lanjutkan dari pertanyaan tadi?” tanya Rapa yang belum bisa menebak semua yang berada dalam pikiran istrinya sejak tadi.
__ADS_1
“Gak ada, Queen cuma ingin meyakinkan hati bahwa abang memang tidak akan pernah pergi meninggalkan Queen, apalagi dengan kondisi Queen yang seperti ini. Jujur saja, ucapan Nia tadi cukup membuat hati Queen goyah dan takut. Queen takut abang benar-benar terbebani dengan kondisi Queen yang tidak berguna, yang menyusahkan karena apa-apa harus mengandalkan abang, bahkan untuk turun dari tempat tidur aja Queen harus mengandalkan abang.” Air mata Cleona menetes, membasahi piyama yang di kenakan Rapa.
“Abang sudah menduga, perkataan Nia tadi sedikit banyak akan mempengaruhi kamu. Tapi abang mohon, tolong percaya sama abang. Apa pun yang orang lain katakan jangan pernah kamu dengarkan, apa lagi mengenai kejelekan. Ini hati abang, sayang, ini perasaan abang, hanya abang yang tahu bagaimana isinya …,” Rapa menunjuk dadanya.
“… dan kamu lebih mengenal abang dari pada Nia atau pun perempuan lain, kamu jelas tahu luar dan dalamnya abang, karena kita memang sudah sejak bayi bersama hingga kini kita memiliki seorang bayi lucu yang menggemaskan. Tolong jangan ragukan cinta dan kesetiaan abang!” binar mata Rapa yang menunjukan kesungguhan itu membuat Cleona mengukir senyumnya dan memberikan anggukan.
“Queen gak akan pernah ragu lagi, Bang, dan Queen akan terus percaya. Tapi abang tahu kan, sekali saja kepercayaan itu abang salah gunakan, maka jangan pernah abang berharap untuk mendapatkannya lagi!”
“Abang tahu sayang, dan abang akan berusaha menjaga kepercayaan yang sudah kamu berikan. Abang akan terus berusaha untuk tidak mengecewakan kamu, apalagi sampai mengkhianati kamu.” Rapa tentu saja bersungguh-sungguh mengatakan itu, karena bagaimanapun cintanya terhadap Cleona begitu besar dan dalam. Ia tidak ingin kehilangan istrinya, ibu dari anak-anaknya dan ia lebih tak ingin kehilangan kepercayaan wanita itu.
“Terima kasih abang sayang,” ucap Cleona di akhiri dengan kecupan singkat di bibir suaminya itu.
“Terima kasih untuk apa?” kening Rapa mengerut bingung menatap istrinya.
“Terima kasih untuk semuanya.”
“Kalau begitu sama-sama, dan abang pun mau mengucapkan terima kasih pada kamu. Terima kasih istri, untuk segalanya.” Kata itu di akhiri dengan kecupan dalam di kening Cleona.
“Sekarang kita tidur ya, sayang. Udah malam.” Rapa membenarkan posisi istrinya untuk berbaring, begitupun dengan dirinya yang memang sudah merasakan kantuk sejak tadi segera menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
“Abang,” panggil Cleona pelan. Rapa yang sudah memejamkan matanya hanya menjawab dengan deheman kecil. Namun Cleona yang tidak puas dengan respons Rapa kembali memanggil suaminya itu.
“Apa sih sayang? Tidur please, ini udah malam, dan abang ngantuk ba--"
“I love you.” Setelah mengucapkan itu dengan suara pelan di depan wajah suaminya yang masih terpejam, Cleona segera menutup matanya, sementara Rapa kembali membuka mata, senyum terukir di bibir laki-laki dua anak itu, lalu membalas ucapan cinta istrinya sebelum kemudian melayangkan kecupan dan menarik istrinya lebih masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1