Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
37. Pertengkaran


__ADS_3

“Cle, ada yang nyari lo,” kata salah satu teman sekelas Cleona yang baru saja kembali dari luar.


“Rapa?” tanya Cleona sekedar memastikan, karena biasanya hanya laki-laki itu yang datang mencari selain teman-temanya.


“Bukan, tapi cowok kedua lo,” balasnya yang membuat Cleona mengernyitkan kening, berpikir tentang siapa yang di maksud.


“Ye, malah bengong. Itu Kak Alvin nunggu lo di luar,” gemasnya, memberikan satu jitakan di dahi Cleona.


“O, Kak Alvin. Bilang dong dari tadi, gue kira cowok yang mana,” kata Cleona seraya bangkit dari duduknya.


“Makanya punya cowok jangan banyak-banyak, jadi bingung sendiri kan akhirnya. Kasih gue satu, boleh kali,"


Memutar bola mata malas, Cleona memilih menghampiri Alvin dari pada terus meladeni teman sekelasnya itu.


Sambutan berupa senyum manis Cleona dapatnya, membuat matanya berkaca-kaca. Bukan karena bahagia atau terharu, melainkan rasa sedih yang tiba-tiba naik kepermukaan, dan itu ingin segera ia luapkan.


“Jangan nangis disini. Yuk, cari tempat lain.” Ajak Alvin meraih tangan Cleona, dan membawa gadis itu pergi.


Cleona yang di tuntun, berjalan selangkah di belakang Alvin. Kepalanya terus menunduk, karena tidak ingin siapapun melihat air matanya yang perlahan menetas. Tidak ada percakapan sama sekali sampai akhirnya Alvin meminta Cleona untuk duduk di sebuah kursi kayu di bawah pohon rindang taman belakang.


“Cerita yang sejelasnya sama gue!” tuntut Alvin yang saat ini berdiri di hadapan Cleona dengan bersedekap dada.


“Jangan jadi perempuan cengeng, Cle! Selama kenal lo, gue gak pernah lihat lo selemah ini. Mana Cleona yang selalu berani membantai musuhnya? Mana Cleona yang selalu memperjuangkan cintanya, dan mana Cleona yang selalu melindungi miliknya? Kenapa sekarang jadi lemah seperti ini?”


Cleona tidak menjawab semua pertanyaan yang di layangkan Alvin, karena jelas itu tidak dapat dirinya jawab, ia sendiri pun tidak tahu ke mana perginya itu, karena yang belakangan ini ia tahu hanyalah rasa sesak dan perih di hatinya.


Alvin mengacak rambutnya frustasi, melihat wanita di depannya yang terus menangis terisak seperti ini. Untuk pertama kalinya Alvin melihat Cleona menangis, dan itu cukup membuat hatinya seakan teriris, sakit yang gadis itu rasakan seolah ikut ia rasakan juga. Memang semalam ia menelpon gadis itu, menanyakan kabar yang sudah cukup lama tidak ia dengar.


Namun begitu sambungan di angkat, suara isak tangis lah yang dirinya dengar pertama kali, hingga cerita Cleona mengalir begitu saja. Dan itu jugalah yang menjadi alasannya datang hari ini. Tidak menyangka bahwa tangis itu justru akan Alvin dengar dan lihat secara langsung.


Duduk di samping Cleona, Alvin mengulurkan tangannya, membawa kepala gadis itu bersandar di pundaknya. “Nangis sepuas lo hari ini, Cle. Setelah itu lo harus kembali tersenyum," kata Alvin menepuk-nepuk pelan kepala gadis yang sudah dirinya anggap seperti adik sendiri.


“Gue harus gimana, Kak?”


“Lo…”

__ADS_1


“Brengsek!”


Bugh…


Bugh…


Alvin benar-benar terkejut saat seseorang menarik kerah bajunya dan langsung dua pukulan secara berturut-turut di terima wajah tampannya.


Dengan keadaan yang tidak siap tentu saja membuatnya tumbang apa lagi setelah satu pukulan kembali menyerangnya.


“Berhenti, Rapa!”


“Selama ini gue percaya sama lo, Vin. Selama ini gue gak masalah lo dekat-dekat cewek gue, tapi … apa yang gue lihat barusan? Brengsek! Berani-beraninya lo peluk-peluk cewek gue!”


“Rapa, please berhenti, jangan pukul Kak Alvin lagi, Rapa!”


Rapa yang sepertinya benar-benar emosi tidak sama sekali mendengarkan teriakan Cleona, laki-laki itu justru kembali menarik dan melayangkan tinjuan pada wajah juga rahang pria di depannya.


Alvin sendiri kali ini tidak hanya diam, setiap pukulan yang Rapa berikan, ia kembalikan dan itu membuat teriakan juga tangis Cleona semakin kencang.


Dengan tangis yang berderai, Cleona berusaha memisahkan kedua laki-laki yang saat ini sedang baku hantam. Tentu saja ia tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut, karena bagaimana pun kekasihnya itu salah paham. Alvin tidak seharusnya menerima pukulan dari Rapa.


“Jadi lo belain dia Queen? Lo lindungin dia, hah?!" sentak Rapa sambil menunjuk Alvin yang berada di belakang Cleona.


“Queen gak belain dia, Bang! Ini semua sa…”


“Lo mau bilang apa yang gue lihat barusan adalah kesalah pahaman? Basi tahu gak! Dan gue gak nyangka lo bisa sampai nangis seperti ini untuk belain dia!” Rapa menggelengkan kepala tidak percaya, kemudian pergi sebelum Cleona melayangkan pembelaan.


Melihat kepergian kekasihnya itu, Cleona hanya diam menatap langkah panjang sang kekasih yang pergi begitu saja tanpa mau mendengar penjelasannya.


“Kenapa gak lo kejar?”


“Untuk apa? Dia juga gak akan percaya, Kak.”


Cleona kembali duduk di kursinya semula dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan, lalu kembali menangis. Ia tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini. Niat awal hanya curhat, malah berujung dengan adu tonjokan yang di akibatkan sebuah kesalah pahaman.

__ADS_1


Teringat akan pertengkaran barusan, Cleona langsung menoleh pada Alvin yang duduk di sampingnya, cukup terkejut saat melihat bahwa ada setetes darah di sudut bibir laki-laki itu. Meringis, Cleona mengulurkan tangannya ke arah luka lebam di wajah tampan Alvin.


“Sshh…” ringis Alvin pelan. Namun masih dapat Cleona dengar.


“Maaf, gara-gara gue, lo..."


“Gak perlu minta maaf, Cle, gue baik-baik aja." Alvin tersenyum kecil, untuk meyakinkan gadis di depannya.


“Yuk, ke UKS biar gue obatin dulu luka lo,”


“Gak perlu, nanti juga sembuh sendiri.”


“Gak bisa gitu dong, Kak! Bagaimana pun luka lo harus di obati, biar gak infeksi.” Kesal Cleona yang langsung menarik laki-laki itu berdiri, dan melangkah menuju ruang kesehatan.


Di tengah perjalanan, Cleona tiba-tiba menghentikan langkah begitu melihat Clara yang berjalan ke arahnya dengan tatapan marah yang begitu jelas dapat dirinya lihat. Ia cukup tahu, bahwa mungkin sahabatnya itu sudah melihat kondisi Rapa, tapi …


Plak…


… Cleona tidak pernah menyangka bahwa Clara, sahabatnya sejak bayi tega melayangkan tamparan di depan banyak orang. Bukan malu yang dirinya rasakan saat ini, melainkan rasa sakit di hati yang bertambah, karena untuk pertama kalinya Clara marah dan bertindak tanpa lebih dulu menanyakan kebenarannya.


“Gue gak nyangka lo akan seperti ini, Queen. Menyakiti kakak gue yang selama ini begitu besar mencintai lo. Gue gak nyangka karena dengan mudahnya Bang Rapa tersingkir cuma gara-gara cowok yang baru lo kenal!” Clara menggelengkan kepala tak habis pikir, sementara Cleona sendiri hanya menunduk, menyembunyikan air matanya.


“Ini semua bukan salah Cleona …”


“Iya, karena yang salah itu lo! Lo tiba-tiba hadir dan menghancurkan kebahagiaan kakak gue!” sentak Clara dengan keras.


Semua yang berada di koridor menatap dengan penasaran, bahkan sudah mengelilingan mereka bertiga dengan bisik-bisik yang terdengar saling bersahutan, menambah rasa sakit yang Cleona rasakan.


“Lo …”


“Udah kak,” cegah Cleona, menggelengkan kepalanya menatap Alvin dengan tatapan memohon.


“Gue minta maaf, Tu,” ujar Cleona sebelum akhirnya pergi, menerobos kerumunan.


“Semoga penyesalan gak lo dan kakak lo rasakan, Cla.” UcapAlvin tepat di depan wajah Clara yang masih terlihat marah, sebelum kemudian menyusul Cleona.

__ADS_1


__ADS_2