Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
103. Tak Paham


__ADS_3

Di tengah malam, Rapa benar-banar harus kuat menahan rasa kantuknya, mengelus perut Cleona yang sejak tadi mengeluh sakit dan tak nyaman. Sang bunda bilang itu hal biasa di rasakan ibu hamil, tapi tentu saja itu tidak biasa bagi Rapa yang harus mengelus di tengah kantuk yang menyerang, apa lagi esok harus menghadiri meeting yang tidak bisa di wakilkan. Dan sialnya sang bayi tidak bisa memahaminya saat ini.


Di saat Rapa melepaskan tangan dari perut buncit itu, atau hanya sekedar menghentikan elusannya, Cleona yang sudah terlihat nyenyak dalam tidur akan meringis dan itu membuat Rapa tidak tega.


Ingin sekali sebenarnya memaki anaknya yang belum keluar itu, tapi Rapa tidak ingin menjadi orang tua yang tidak baik untuk anak-anaknya, ia juga tidak ingin mereka membenci dirinya begitu lahir nanti. Jadi, dari pada mengeluarkan makian, Rapa menggantinya dengan sebuah pujian untuk anak-anak kalemnya itu.


“Dua bulan lagi, Rapa. Sabar-sabar,” ucapnya menyemangati diri sendiri, begitu kantuk kembali menyerang dan hampir saja ketiduran. Menoleh ke arah jam di atas nakas, Rapa menghela napasnya begitu jarum jam sudah menunjuk di angka empat. “Gak tidur lebih baik kayaknya, dari pada bangun kesiangan,” gumam Rapa pada dirinya sendiri. Setelah itu menoleh pada perut buncit Cleona yang hanya tertutup kain tipis lembut.


“Baby, jangan rewel lagi, ya? Jangan berantem mulu di dalam, kasian mamanya kesakitan.” Rapa bicara pelan di depan perut istrinya, kemudian memberikan beberapa kecupan di sana. “Papa mandi dulu, ya? Kalian yang tenang, jangan buat mama kebangun!” peringat Rapa kembali melayangkan kecupan singkat lalu beranjak turun dari ranjang dan berlalu menuju kamar mandi. Ia butuh air dingin untuk menyegarkan tubuhnya, dan menghilangkan rasa kantuk.


Selesai dengan urusan mandi, Rapa kemudian keluar dari kamar dengan langkah sepelan mungkin dan kembali menutup dengan begitu hati-hati karena tidak ingin sampai membangunkan istrinya yang tengah terlelap nyaman.


Tujuannya kali ini adalah dapur, berniat membuat sarapan untuk istri juga keluarganya. Menyibukan diri hingga pagi datang agar tidak membuatnya tertidur dan berakhir dengan kesiangan datang ke tempat kerja. Rapa masih membutuhkan uang untuk menghidupi anak istrinya, dan Pandu juga Leo bukanlah bos yang akan berbaik hati pada bawahannya yang tidak kompeten. Apa lagi dengan alasan mengantuk. Jangan harap Rapa bisa mendapatkan gaji di bulan berikutnya.


“Abang lagi ngapain?”


Terlonjak kaget, Rapa hampir saja mengiris jarinya sendiri begitu pundaknya di tepuk pelan oleh Laura yang tepat berada di belakangnya. “Astaga, Dek, lo ngagetin tahu gak sih!”


“Lah lewat mana ngagetinnya? Ella cuma nanya, Bang.”


“Nanya sih nanya tapi gak setiba-tiba itu juga! kaget gue. Hampir aja nih jari putus.”

__ADS_1


“Lebay,” kata Laura memutar bola matanya malas. “Makanya bang kalau lagi ngiris bawang jangan sambil ngelamun. Untung Ella yang lebih dulu sapa abang, coba kalau itu mbak-mbak yang duluan rasukin abang, bisa-bi...”


“Mbak-mbak siapa sih, La di sini gak ada siapa-siapa. Lo gak usah nakutin gue deh,” dengan cepat Rapa memotong ucapan adik iparnya yang selalu saja bicara melantur. Tidak pernah memahami Rapa yang sudah gemetar seperti sekarang ini, menatap sekeliling yang terlihat sepi.


“Ella gak nakutin abang, si mbaknya memang liatin abang dari tadi. Kayak istri yang lagi nunggu suaminya selesai masak.” Laura tertawa begitu kencang saat Rapa melompat dan bersembunyi di punggungnya dengan wajah ketakutan yang begitu ketara.


“Lemah lo, Bang. Sama setan aja takut.” Cibir Laura, melepas tangan kakak iparnya yang berada di pundak, kemudian melangkah menuju kulkas dan mengambil air dingin yang langsung di teguknya tanpa repot-repot menuangkan ke dalam gelas terlebih dulu.


“Abang lebih takut di tinggal kakak kamu, La dari pada setan.”


“Uuu, so sweet.” Kata Laura dengan nada mengejek, dan kemudian tertawa begitu mendengar dengusan Rapa yang kembali sibuk dengan pisau dan teman-temannya.


“Abang tumben udah bangun?”


Laura kembali tertawa mendengar curhatan kakaknya yang sepertinya benar-benar kesal. “Lah, kak Queen yang kesakitan kenapa abang yang gak bisa tidur?” tanya Laura yang masih belum juga menghentikan tawanya.


“Ya iya abang gak bisa tidur, orang itu bocah baru diam kalau perutnya abang elus. Berhenti bentar aja, mereka kembali bertingkah dan buat kak Queen ngeringis. Gak tega abang.”


Senyum Laura terbit mendengar hal tersebut, bahagia dan juga bersyukur karena sang kakak mendapatkan suami sebaik dan seperhatian Rapa. Meskipun kakak iparnya itu bar-bar dan petakilan, tapi Laura tahu bahwa kasih sayang pria itu terhadap Cleona benar-benar nyata.


“Apapun yang akan terjadi nanti, Ella harap abang masih bersedia berada di samping kak Queen.”

__ADS_1


Kegiatan Rapa yang tengah memotong sayuran untuk nasi gorengnya tiba-tiba terhenti begitu mendengar ucapan sang adik ipar yang terdengar janggal. Keningnya berkerut dan Rapa menatap Laura meminta penjelasan. Namun remaja 17 tahun itu hanya mengedikan bahu sebelum kemudian melenggang pergi meninggalkan dapur, dan kebingungan Rapa.


“Emang gak pernah jelas itu bocah kalau ngomong.” Ujar Rapa pada dirinya sendiri, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya, mengalihkan pikiran dari apa yang di dapatnya barusan dari ucapan sang adik ipar yang tidak sama sekali bisa Rapa pahami maksudnya.


Senyum terukir lebar begitu nasi goreng spesial buatannya selesai di buat, dengan sosis goreng, telur ceplok dan kerupuk sebagai pelengkap. Setelah itu Rapa meninggalkan dapur berniat membangunkan istrinya dan bersiap dengan mengganti pakaian begitu melihat jam sudah menunjukan pukul 6.30 pagi.


Begitu membuka pintu kamar, Rapa tersenyum melihat istri cantiknya sudah duduk di ranjang dengan rambut yang sedikit berantakan. “Good morning my sunshine.” Satu kecupan Rapa berikan pada kening istrinya cukup lama.


“Pagi juga abang sayang,” balas Cleona memberikan kecupan singkat di pipi sang suami. Kegiatan yang wajib keduanya lakukan setiap bangun tidur atau menjelang tidur.


“Abang tumben udah bangun?” tanya Cleona dalam pelukan Rapa.


“Bukan cuma udah tidur, abang juga udah mandi, udah masak juga buat sarapan.” Kara Rapa tanpa memberi tahu bahwa dirinya sama sekali tidak tidur. Berbohong untuk ini bukankah di perbolehkan? “Kamu cuci muka dulu gih, abang juga mau siap-siap kerja, setelah itu kita sarapan.”


Cleona mengangguk patuh, tapi tidak juga melepaskan pelukannya, membuat Rapa terkekeh gemas dan melayangkan cubitan di pipi tembam istrinya, di susul dengan kecupan-kecupan singkat di seluruh wajah Cleona.


“Manja-manjaannya di tunda dulu ya sayang? Abang harus kerja, ada rapat di kantor pagi ini,” sekali lagi Rapa memberikan kecupan di kening istrinya. Kemudian beralih pada perut besar Cleona dan memeberikan kecupan bertubi-tubi. “Selamat pagi anak-anak papa, sehat-sehat di dalam perut mama. Jangan nakal dan bikin mama kerepotan, ingat!” peringatnya dengan tatapan tajam yang tertuju pada perut Cleona.


Cleona mengembangkan senyum, mendengar interaksi sang suami dengan calon anak-anak mereka yang masih di dalam perut. Bahagianya tidak dapat dirinya sembunyikan dan Cleona begitu amat bersyukur dengan kehidupannya sekarang ini. Meskipun sang mami sudah tak lagi berada di dekatnya, tapi masih ada mereka, termasuk Rapa yang menyayangi dan berusaha membahagiakannya.


“Terima kasih Tuhan, atas segala kebahagiaan yang kau limpahkan ini. Semoga engkau juga bersedia memberikan kebahagiaan yang sama pada saudari iparku.” Itu harapan Cleona yang selalu ia pinta dalam setiap doanya.

__ADS_1


__ADS_2