Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
133. Mimpimu Terlalu Indah


__ADS_3

"Queen udah siap 'kan?” tanya Lyra mengetuk pintu kamar anak dan menantunya.


“Udah bunda,” sahut Cleona membuka pintu kamarnya, sudah siap dengan midi dress sederhana berwarna dusty pink.


“Cantik banget sih mantunya bunda ini,” puji Lyra mengusap sayang rambut menantunya. Dan perlakuan itu membuat Cleona mengukir senyum manisnya. “Suami kamu belum selesai?” lanjutnya bertanya begitu tidak mendapati anaknya mengekor.


“Lagi ke toilet dulu, kebelet katanya.”


“Ck, ada-ada si Abang mah.” Mendorong kursi roda yang Cleona duduki, Lyra membawa menantunya itu menuju ruang tengah dimana Clara dan Dania berada bersama si kembar.


Kedua perempuan itu memeluk Cleona bergantian dan melayangkan kecupan di pipi. “Semangat terapinya, Sis!” Dania mengepalkan tangannya memberi semangat.


“Pasti dong. Gue juga ‘kan pengen cepat sembuh biar bisa hangout sama kalian lagi,” kata Cleona dengan senyuman cerianya. “Kangen shoping, ngabisin uangnya Abang.” Lanjut Cleona terkekeh pelan. Kemudian mereka tertawa begitupun juga dengan Lyra yang tahu persis bagaimana gilanya Cleona dalam berbelanja.


Tak lama Rapa datang menghampiri, dan Lyra pun mengajak untuk segera berangkat. Selesai berpamitan pada kedua putranya, juga Dania dan Clara, sang bunda kembali mendorong kursi roda yang di kenakan Cleona keluar dari rumah. Mereka akan pergi ke rumah sakit karena ini adalah jadwal Cleona untuk cek up dan terapi berjalan.


“Tu, jaga anak gue dengan baik, lecet dikit, laki lo yang gue bunuh!” ancam Rapa dengan begitu sadisnya.


“Kenapa Birma yang di bunuh? Kan Atu yang celakain?” heran Dania.


“Ya mana tega gue bunuh adik sendiri. Udah ah gue mau berangkat, ingat jaga si kembar dengan baik!” Rapa kembali memperingati sebelum kemudian melangkahkan kaki keluar dari rumah.


“Pulangnya beliin seblak, Bang jangan lupa!” teriak Dania, karena Rapa yang sudah lebih dulu menghilang di balik pintu.


***

__ADS_1


Bulir air mata menetes saat Lyra menyaksikan bagaimana sulitnya sang menantu yang saat ini tengah melakukan terapi berjalan di dampingi Rapa, dokter juga perawat. Lyra masih enggan percaya bahwa menantunya mengalami nasib malang seperti ini. Dengan cepat Lyra menyeka sudut matanya begitu Cleona yang sudah kembali duduk di kursi rodanya setelah satu jam menjalani terapi menghampiri bersama Rapa.


“Bunda, Abang titip Queen sebentar ya, abang mau temuin dokter dulu.”


“Ya udah kalau gitu bunda sama Queen tunggu di depan ya,” Rapa mengangguk dan melayangkan terlebih dulu kecupan di pelipis Cleona sebelum membiarkan kedua wanita kesayangannya itu ke luar dari ruang terapi.


“Kita duduk di sana dulu aja ya?” tunjuk Lyra pada kursi tunggu yang di huni beberapa orang lainnya. Cleona hanya mengangguk, mengikuti kemanapun sang mertua membawanya.


“Gimana, sakit gak saat terapi tadi?” tanya Lyra begitu sudah duduk di samping kursi roda menantunya.


“Sakit lumayan, rasanya Queen lupa caranya untuk melangkah. Bunda apa mungkin Queen bisa sembuh?” Cleona menatap mertuanya itu dengan mata berkaca-kaca, rasa takut entah kenapa kini menyerang saat terapi tadi dirinya merasakan kesulitan. Padahal sejak awal Cleona begitu percaya diri bahwa dirinya akan kembali bisa berjalan.


“Kamu pasti sembuh, sayang. Berdo'a lah dan terus berusaha. Bunda yakin kamu pasti bisa!” membawa kepala Cleona untuk bersandar pada pundaknya, Lyra mengusap-usap lembut punggung menantunya itu untuk memberikan ketenangan yang memang di butuhkan Cleona.


Bunda!!!


“Queen bunda angkat telpon dulu ya? Ayah kamu nyebelin, nelpon gak tahu tempat mana volumenya besar banget lagi!” gerutu Lyra.


Cleona mengangguk seraya menahan kekehan gelinya mendengar omelan dan wajah malu sang bunda karena beberapa orang yang berada di sana menoleh, menatap dengan berbagai macam ekspresi.


Mengisi kebosanannya dengan memainkan ponsel, Cleona sesekali menggelengkan kepala saat tatapannya tak sengaja melihat sang bunda yang tidak jauh berada di depannya, terlihat cemberut dan menghentak-hentakan kaki, tanda bahwa bundanya itu tengah kesal.


Walaupun sudah memiliki anak bahkan cucu, bundanya itu tetaplah sosok Lyra yang manja, dan kemanjaannya itu hanya berlaku pada suaminya. Cleona sudah biasa menyaksikan itu, meskipun kadang selalu membuatnya geli.


“Cleona?”

__ADS_1


Mendongak, Cleona manatap wanita cantik yang berdiri di depannya, tersenyum manis seolah bahagia bertemu teman lama.


“Maaf siapa ya?” Cleona mengernyitkan keningnya, menatap orang yang berdiri di depannya itu.


“Lo gak kenal gue?” tanya perempuan itu menunjuk dirinya sendiri. “Atau cuma pura-pura gak kenal?”


Cleona belum juga mengubah ekspresi anehnya, apa lagi saat mendengar pertanyaan dari perempuan itu. “Kayak kenal, tapi gue gak ingat siapa lo.”


“Cih, masih aja lo belagu kayak dulu.” Kata perempuan itu, membuat Cleona semakin mengernyitkan keningnya, tak paham dengan apa yang di maksud perempuan di depannya. “Apa mungkin lo amnesia gara-gara kecelakaan itu?” tanyanya kemudian menatap Cleona dari atas sampai bawah seraya tersenyum meremehkan. “Lumpuh juga lo ternyata, haha. Kenapa gak mati aja sekalian dan biarkan Rapa jadi milik gue?”


Rahang Cleona mengeras begitu wanita di depannya tertawa atas kondisinya, di tambah dengan nama sang suami yang di bawa-bawa. “Siapa si lo sebenarnya?” tanya Cleona dengan nada sinis dan marahnya.


“Berhubung lo amnesia jadi, biar gue perkenalkan diri,” wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Cleona, yang tentu saja tidak sama sekali Cleona sambut. “Gue Nia, calon istrinya Rapa Pratama Dhikra.” Dengan percaya dirinya Nia memperkenalkan diri.


Wajah Cleona semakin memerah dan rahangnya semakin mengeras. Cleona menepis tangan Nia yang masih terulur dengan kasar, membuat perempuan itu sedikit terkejut dan melayangkan tatapan tajamnya ke arah Cleona, yang juga menatapnya dengan menantang.


“Jadi lo Nia Mariani, wanita rubah itu,” kata Cleona menganggung-anggukan kepalanya serya melipat kedua tangannya di dada, menatap wanita di depannya itu dengan tatapan merendahkan. Karena jujur saja, penampilan Nia saat ini tidak secantik saat mereka terakhir bertemu beberapa waktu lalu di depan mall.


“Lo bilang apa barusan?!”


“W.A.N.I.T.A R.U.B.A.H.” Cleona mengeja sambil menekankan setiap katanya. Tersenyum mengejek pada perempuan di depannya, yang kini wajahnya sudah begitu memerah. Tangan perempuan itu mengayun hendak melayangkan tamparan, namun Cleona dengan tangkas menangkap tangan perempuan itu dan mempelintirkannya sebelum kemudian mendorong Nia hingga terjatuh ke lantai.


“Lo …”


“Apa? Jangan lo pikir karena gue lumpuh, lo bisa semena-mena sama gue. Ingat Kakak Nia yang terhormat, gue bukan perempuan lemah yang menerima begitu saja saat di tindas, dulu gue diam karena memang itu belum saatnya. Tapi sekarang lo ngaku-ngaku calon istri suami gue … haha, lo lagi mimpi apa ngedongeng?” tawa Cleona terdengar seperti psikopat yang siap membunuh mangsanya, dan itu sukses membuat Nia bergidik ngeri. Namun sebisa mungkin untuk tidak terlihat ketakutan.

__ADS_1


Rapa yang baru saja keluar dari ruangan dokter dan melihat keberadaan Nia di dekat istrinya, hendak melangkah menghampiri dan menarik istrinya menjauh, tapi Lyra dengan cepat menahan anaknya itu, meminta Rapa untuk diam menyaksikan. Bukan karena Lyra tidak peduli pada menantunya, tapi Lyra ingin tahu sampai mana keberanian Cleona dan perempuan yang tidak di kenalnya itu.


“Gue ingetin lo sekali lagi, Rapa suami gue, ayah dari anak-anak gue. Jadi, jika lo bermimpi jadi istri suami gue, lebih baik lo segera bangun, karena kenyataan tidaklah seindah itu.”


__ADS_2