Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
107. Menyambut Kepulangan


__ADS_3

Sejak bangun tidur Cleona dan Rapa sudah di paksa untuk mengikuti para orang tua menuju kediaman lama keluarga Levin, karena kabarnya kakak dari sang bunda akan kembali pindah ke tanah air setelah 10 tahun menetap di negera Singapura. Dan hari ini semua orang berkumpul di rumah yang sudah lama kosong itu untuk menyambut kepulangan si pemilik.


Tak lama dari kedatangan Cleona serta keluarga, Amel dan suami serta anaknya pun datang di susul dengan kedatangan Clara dan Birma yang repot dengan kantung-kantung belanjaan berisi berbagai macam bahan untuk memasak serta cemilan yang di peruntukkan untuk anak-anak muda, seperti Laura dan mungkin anak-anak Levin nanti. Di tambah si ibu hamil yang sepertinya juga tidak akan berani bangkit jika di kelilingi dengan berbagai makanan ringan itu.


Rumah yang memang selalu rutin di bersihkan ini tidak terlalu membuat mereka kerepotan dan hanya perlu menyingkirkan meja makan serta kursi-kursinya sebelum kemudian di ganti oleh tikar agar bisa menampung banyak orang nanti.


Dan di saat sang bunda, aunty Amel, Clara juga Meldi sibuk di dapur, Cleona malah justru bersantai bersama para kakek dan nenek di ruang tengah, menikmati kudapan yang di sediakan, sementara Rapa dan Laura hari ini bertugas menjemput keluarga kakak dari sang bunda di bandara.


“Queen kapan melahirkan?” tanya kakek Wisnu yang duduk di sofa berseberangan dengan Cleona.


“Perkiraan aunty Amel antara empat atau tiga minggu lagi, Kek.” Semua yang ada di ruangan itu mengangguk bersamaan.


“Jaga baik-baik kesehatan kamu, ya, Nak. Dan ingat harus hati-hati!” Melinda memperingati dengan lembut.


Cleona tersenyum, kemudian menunduk dengan raut wajah sedihnya. “Nenek, apa Queen mampu menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak Queen nanti? Queen merasa belum layak ...”


Linda yang berada di samping sang cucu menantunya itu dengan cepat meraih tubuh Cleona ke dalam pelukan sebelum kemudian berucap, “Tuhan memberikan malaikat kecil di perut kamu, itu artinya kamu layak menjadi orang tua, menjadi seorang ibu yang kelak akan membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang dan cinta.”


“Ta- tapi nek ...”


“Kamu hanya perlu berlajar, dan menyayangi anak-anak kamu nanti. Yang lainnya, hati nuranimu sebagai ibu akan bekerja dengan sendirinya. Yang terpenting adalah kamu harus yakin, bahwa kamu bisa.”

__ADS_1


Cleona mengangguk mendengar nasihat dari kedua neneknya yang membuat perasaannya kini mulai cukup lega dan bisa kembali melebarkan senyum.


“Semoga grandpa masih ada usia untuk menyambut kehadiran cicit kita,” ujar Leon, yang berhasil kembali menyurutkan senyum yang semula terukir di bibir Cleona.


“Grandpa jangan bicara seperti itu, karena Queen yakin, grandpa, nenek, dan kakek akan panjang umur, sehat dan pasti bisa main-main sama anak-anaknya Queen nanti.”


“Umur itu gak ada yang tahu, sayang. Apa lagi usia kita sudah tua.” Usapan lembut dari sang nenek entah kenapa membuat Cleona sedih, dan segera memeluk wanita baya itu dengan erat.


“Jangan bicara seperti itu, Nek, Queen belum siap, dan gak akan pernah siap jika harus kembali kehilangan. Queen butuh kalian, butuh bimbingan kalian juga. Queen mohon jangan tinggalkan Queen.” Air mata menetes begitu saja tanpa komando.


Kesedihan selalu Cleona rasakan di saat siapapun membahas soal kematian. Ia tahu maut itu akan datang, tapi mengingat kepergian sang mami yang ia dengar secara tiba-tiba membuat Cleona tak kausa menahan air mata. Dan ia benci membahas soal kepergian.


Linda yang mengerti akan kesedihan sang cucu menantu mengusap punggung Cleona dengan lembut, sesekali menepuk-nepuknya pelan untuk memberikan ketenangan pada wanita hamil itu. Dan saat di rasa sang cucu sudah mulai tenang, barulah ia mengurai pelukannya, menyeka air mata yang membasahi pipi Cleona dengan tangan keriputnya seraya meminta maaf atas ucapannya yang mungkin kembali mengingatkan perempuan itu pada sosok sang mami.


“Grandpa, i miss you.” Dania, yang tak lain adalah putri pertama dari pasangan Levin-Devi langsung berhambur memeluk Leon yang menyambut kedatangan cucu-cucunya dengan gembira, tidak jauh berbeda dengan kedua anak Levin yang lainnya, melakukan hal sama pada sang kakek.


Dan itu membuat Linda, Melinda serta Wisnu menghela napas lega, karena setidaknya itu menolong mereka dari suasana sedih yang baru tercipta.


“Kalian harus pakai bahasa Indonesia di sini. Ingat, cintai bahasa negara sendiri!” kata Linda memperingati saat ketiga cucunya itu menghampiri.


“Hallo father, mother.”

__ADS_1


“Datang juga kamu bocah durhaka,” delik Leon begitu Levin menampakan diri dengan cengiran khasnya.


Pletak.


Satu jitakkan pedas menjadi sambutan ramah Leon pada sang putra, yang saat ini memberikan pelukan. Di usia tuanya, Leon masih sanggup memberikan denyutan nyeri pada pelipis Levin. Membuatnya yakin bahwa sang papa dalam keadaan sehat.


“Makasih sambutannya papa,” kata Levin yang kemudian beralih pada sang mama, yang menyambutnya dengan pelukan hangat yang begitu sangat Levin rindukan.


“Mama sehat kan, ma?” tanya Levin menyeka sudut mata sang mama yang terdapat setetes bulir bening yang siap terjatuh.


“Mama akan lebih sehat jika anak-anak mama berkumpul seperti sekarang ini. Jangan pergi lagi ya, Nak?”


“Levin dari dulu gak mau pergi, tapi karena laki-laki tua itu aja jadi terpaksa ninggalin mama,” Levin menunjuk Leon dengan dagunya, bukan berniat tak sopan, hanya saja Levin masih merasakan sedikit kesal pada sang papa yang dulu mengirimnya ke negara orang untuk mengurus pekerjaan.


“Papa gak nyuruh kamu tinggal selama ini di sana ya, Bang!” delik Leon yang tak terima di salahkan.


“Iya, pa iya, Levin yang salah.” Ujarnya mengalah dengan raut terpaksa yang amat jelas terlihat, membuat semua orang di sana menertawakannya begitu puas. Dan obrolan kembali berlangsung hingga Lyra datang meminta mereka semua pindah untuk makan siang bersama.


Tentu saja ajakan itu di sambut dengan gembira oleh semua orang termasuk Rapa yang sejak tadi asyik berdebat, mengenai Devin yang tidak di izinkan untuk menyentuh perut Cleona.


Dan Cleona sadar bahwa kini lawan Rapa bertambah. Satu lagi orang yang akan membuat Rapa uring-uringan tidak jelas dan keposesifan laki-laki itu akan semakin membuat Cleona sulit untuk bergerak, karena sejak dulu bukan lagi rahasia bahwa Rapa selalu saja cemburu dengan kedekatan Cleona dan sepupunya itu.

__ADS_1


"Semoga Tuhan memberiku kesabaran yang banyak dan juga kuping yang kuat untuk mendengar setiap rengekkan suamiku." Doa Cleona dalam hati.


__ADS_2