Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
118. Kabar dari Levin


__ADS_3

Begitu Nathan dan Nathael berhasil tidurkan kembali, Lyra menghampiri suaminya yang sudah duduk di sofa bersama Levin. “Lo ngapain kesini, Bang?” tanya Lyra tanpa sama sekali basa-basi, membuat laki-laki tua yang masih tak berhenti mengunyah itu mencebikan bibirnya.


“Mau ngasih kabar,”


“Kabar apa? Langsung aja kenapa sih?!”


Levin terkekeh pelan melihat kekesalan adik semata wayangnya itu. Meskipun usia sudah di atas 40 tetap saja Lyra menjadi sosok adik kecilnya yang menggemaskan bagi Levin. “Gitu banget lo, Ly sama abang sendiri. Gak ada basa-basinya. Tanyain kabar dulu atau apa kek,”


“Cih, dengan lo datang ke sini aja gue tahu bahwa lo baik-baik aja.” Tawa Levin pecah mendengar perkataan adiknya itu. Kemudian meraih Lyra yang duduk di tengah-tengah antara dirinya dan Pandu ke dalam pelukan, kemudian Levin bubuhkan kecupan singkat pada puncak kepala Lyra.


“Stop cium-cium dan peluk istri gue, Bang.” Delik Pandu menarik istrinya terlepas dari pelukan Levin.


“Gak anaknya gak bapaknya sama-sama cemburuan,” cibir Levin.


“Dan lo juga sama, gak anaknya gak bapaknya sama-sama senang bikin orang kesel.” Balas Pandu, yang kemudian mendapat dengusan Levin.


“Udah gak usah mulai. Mending sekarang abang bilang tujuan lo ke sini untuk apa?” lerai Lyra yang malas menyaksikan perdebatan tidak bermutu antara kakak dan suaminya. Lyra juga tak ingin sampai keributan kedua orang itu mengganggu cucunya yang baru saja kembali tertidur.


Menghela napasnya terlebih dulu, Levin kemudian meletakan cemilannya ke atas meja, dan raut wajahnya mulai serius menatap adik serta iparnya. “Bantu gue urus pernikahan …”


“Lo mau nikah lagi, Bang?” cepat Lyra memotong ucapan Levin dengan raut wajah terkejut. “Mau nikah sama siapa lo, Bang? Astaga abang, Devi mau lo kemanain …!”


Pletak.


Satu jitakan Levin berikan pada kening adiknya. “Diam dulu makanya, jangan main potong ucapan gue. Lagian siapa juga yang mau nikah lagi, satu Devi aja udah bikin gue kalang kabut kalau lagi marah!” Levin mendengus kesal.


Lyra menggaruk tengkuknya seraya cengengesan. “Ya gue kira lo yang mau nikah, makanya kalau bicara itu yang lengkap, Bang biar gue gak salah paham.”


“Lo yang terlalu cepat potong ucapan gue, Dek!”


“Ya udah, lanjut.”


“Dania mau nikah, masih lama sih sebenarnya 3 bulan lagi. Tapi Devi minta kita perlahan untuk mempersiapkan semua itu biar nanti gak keteteran …”

__ADS_1


“Lamarannya udah?” Pandu bertanya begitu Levin selesai mengutarakan maksud utamanya. Anggukan kecil menjadi jawaban kakak iparnya itu.


“Kok lo gak ngasih tahu gue, Bang waktu lamaran di gelar?” Lyra menaikan sebelah alisnya tanda protes


“Lah, ngapai? Kedatangan lo juga gak guna, cuma penuhin ruangan sama ngabisin makanan doang, males gue.”


Bugh… bugh… bugh…


Pukulan demi pukulan Lyra layangkan pada dada sang kakak, beruntung karena di belakangnya terhalang tangan sofa, jadi tidak sampai membuat Levin jatuh tersungkur.


“Jahat lo, ada acara penting gitu keluarga lo sampai gak di ajak. Gini-gini gue keluarga lo satu-satunya setelah mama sama daddy.”


“Iya deh, iya maaf,” Levin meraih kedua tangan Lyra yang di gunakan untuk melayangkan pukulan padanya. “Lamarannya juga dadakan, tunangannya Dania kan bukan orang Indonesia…”


“Cih, sombong!” delik Lyra yang hanya di balas cengiran oleh Levin.


“Mike orang sibuk, dan acara lamaran pun berlangsung karena kebetulan dia ada pekerjaan di Indonesia. Dia ingin mengikat Dania dalam sebuah pertunangan, kerena ingin meyakinkan gue juga Dania sendiri bahwa laki-laki itu memang serius, makanya beberapa malam yang lalu pertunangan itu di adakan. Dan keputusan untuk menikah tiga bulan ke depan di sepakati kedua orang tua Mike yang saat itu pun hanya menyaksikan lewat video call. Semuanya serba mendadak dan hanya dengan persiapan seadanya. Jadi Devi tidak menginginkan pernikahan yang mendadak juga.”


“Padahal tadinya gue pengen lihat wajah calonnya Dania. Gue penasaran sama muka-muka bule yang tampan itu,” kata Lyra yang langsung mendapat delikan cemburu dari suami protektif-nya itu.


“Nanti aja lo lihatnya kalau dia datang lagi,”


“Kapan emang?”


“Sebulan menuju pernikahan.” Jawab Levin, kembali meraih cemilannya yang semula di simpan.


“Masih lama, gila. Keburu gue mati karena penasaran.” Ujar Lyra membulatkan mata tak percaya.


Cup. Kecupan singkat Pandu berikan pada bibir istrinya. “Ucapannya di jaga sayang.” Dan Lyra hanya cengengesan seraya meminta maaf, sementara Levin mendengus kemudian bangkit dari duduknya keluar dari kamar bocah kembar yang masih anteng dalam tidurnya, tidak lupa cemilan yang masih bersisa Levin bawa pergi juga.


Berjalan menuju ruang tengah yang sepi, Levin menggelengkan kepala melihat anak serta keponakannya yang tertidur di lantai dan saling memeluk satu sama lain. Melihat itu membuat Levin teringat akan masa mudanya dulu bersama Leo, karena Pandu bukan lah sosok yang mudah di ajak bertengkar atau becanda.


“Uncle udah ketemu bunda sama ayah?” tanya Cleona yang baru kembali dari dapur dengan nampan berisi tiga mangkuk mie rebus.

__ADS_1


“Udah. Buat uncle satu boleh gak?” Levin menunjuk mie rebus yang baru sana Cleona letakan di meja.


Tersenyum, Cleona kemudian mengangguk dan memberikan satu mangkuk mie rebus racikannya pada Levin, yang menerima dengan binar bahagianya.


“Devin bangun, mie rebusnya udah jadi.”


Devin mengerjapkan matanya beberapa kali saat merasakan guncangan pelan yang di berikan Cleona. Sadar berada dalam pelukan sang abang, Devin kemudian bangun tanpa menyingkirkan tangan Rapa lebih dulu, membuat Rapa pun ikut terbangun karena terkejut.


“Pelan-pelan bisa gak sih lo?!” keras Rapa menarik kaki Devin yang kendak melangkah, membuat remaja itu kembali terjatuh dengan bokong yang mendarat mulus pada kerasnya lantai.


“Sakit, abang!”


“Bodo amat!” cueknya, kemudian duduk di samping sang istri yang hanya menggelengkan kepala melihat kedua laki-laki beda usia itu yang hanya bisa akur beberapa detik saja.


“Itu punya Devin, bang.” Cleona menggeser mangkuk mie tersebut menjauh dari Rapa.


“Terus punya abang mana?”


“Lo gak kebagian, Bang. Bikin sendiri sana.” Levin menyahuti begitu selesai menelan suapan pertamanya.


“Itu punya abang harusnya. Uncle aja main rebut,” delik Rapa yang sama sekali tidak di hiraukan Levin.


“Abang berdua aja sama Queen, biar sweet.”


“Tapi abang gak akan kenyang,” rengeknya manja.


“Ya udah, Devin ngalah. Tuh abang makan punya Devin aja, biar Devin yang makan berdua sama Kak Queen.” Tentu saja itu tidak Rapa setujui, karena bagaimana pun Rapa tidak akan membiarkan siapapun berbagi dengan sang istri kecuali dirinya.


Selesai melahap habis mie masing-masing, Levin kemudian mengajak anak lelakinya untuk pulang, karena urusannya bersama sang adik sudah selesai, di tambah hari sudah mulai sore dan perut pun sudah terisi penuh. Tidak ada lagi alasan untuk mereka tetap tinggal, bukan?


“Sudah makan pulang. Dasar tamu tak di undang berjiwa MissQueen.” Rapa, memutar bola matanya. Seolah tak peduli dengan cibiran itu, Levin keluar dari rumah besar milik adik dan iparnya, di susul oleh Devin yang lebih dulu meninggalkan kecupan di pipi Cleona, dan berhasil membuat Rapa mengelaurkan kekesalannya.


“Devin sialan. Awas lo punya istri nanti, gue godain sampai lo mati berdiri!"

__ADS_1


__ADS_2