Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
116. Kemarahan Leo


__ADS_3

Lyra, Pandu serta Leo baru saja pulang dari rumah sakit setelah tiga malam menginap, menunggu Linda juga Leon yang sama-sama jatuh sakit. Terlihat raut sedih juga lelah di wajah Lyra yang saat ini memilih menyandarkan kepalanya di dada sang suami yang juga sama lelahnya, hanya saja Pandu tidak terlalu memperlihatkan itu, karena ia harus lebih menguatkan istrinya, dan memastikan bahwa Lyra tidak terlalu bersedih dengan kondisi kedua orang tua perempuan itu yang saat ini masih berada di rumah sakit, di tunggui oleh Levin dan Devi. Sedangkan Leo, laki-laki itu sudah pergi ke dapur mencari apa saja yang bisa dirinya makan, sebab rasa lapar yang tidak dapat di abaikan keberadaannya.


Kadatangan Rapa beserta si kembar, menerbitkan senyum di bibir Lyra yang dengan cepat meraih salah satu cucunya itu dan menghujaninya dengan kecupan-kecupan gemas untuk mengutarakan rasa rindunya karena beberapa hari tak bertemu, meskipun setiap hari rutin melakukan video call, tetap saja rindu itu masih di rasakannya.


“Nenek kangen banget sama Nathan, sama Nathel juga,” kecupan yang Lyra berikan membuat Nathael yang sudah berpindah ke pangkuan Pandu tertawa-tawa kegelian. Meskipun tawanya belum juga mengeluarkan suara, tetap saja kedua bayi itu begitu menggemaskan di mata siapa pun yang melihatnya, termasuk Lyra yang tidak hentinya menggoda kedua cucunya itu.


“Kabar grandpa sama nenek gimana, Yah?”


“Sudah lebih baik, cuma dokter belum mengizinkan pulang.” Jawab Pandu seadanya dan Rapa hanya mengangguk kecil. Memperhatikan kedua orang tuanya yang begitu asik dengan anak-anaknya, Rapa memilih kembali naik ke kamar, untuk membangunkan istrinya yang masih tertidur.


“Istri, bangun.”


“Heummm.” Hanya gumaman kecil itu yang keluar dari istrinya, membuat Rapa gemas dan langsung melayangkan kecupan-kecupan singkat di jawah Cleona, hingga wanita itu terganggu dan tak lagi nyaman dalam tidurnya.


Menggeram, Cleona mendorong Rapa cukup kuat sampai suaminya itu terjatuh ke lantai. Beruntung kepalanya tidak sampai terbentur.


“Sakit istri,” ringis Rapa saat denyutan di bokong dan kedua siku tangannya ia rasakan.


“Maaf bang, Queen gak sengaja,” ucap Cleona merasa bersalah, tidak menyangka bahwa dorongannya akan sekuat itu. “Salah abang juga kenapa gangguin, Queen masih ngantuk tahu, Bang.” dengusnya kemudian.

__ADS_1


Rapa mengulurkan kedua tangannya meminta sang istri untuk membantunya berdiri. Karena merasa bersalah juga kasihan, Cleona akhirnya meraih uluran tangan sang suami, dan berusaha menariknya agar bangkit. Namun yang terjadi malah dirinya yang tertarik oleh Rapa dan jatuh di dada bidang laki-laki itu.


“Abang! Nyebelin-nyebelin-nyebelin!” kesal Cleona seraya memukul-mukul dada suaminya yang kini malah tertawa puas dengan melingkarkan tangan di pinggang Cleona agar istrinya itu tidak melarikan diri.


“Istri?” panggil Rapa menatap tepat pada mata indah Cleona.


“Hm, lepas ih bang, Queen mau mandi. Si kembar juga abang kemanain?”


“Ada sama bunda, sama ayah juga,” jawab Rapa agar tidak membuat istrinya khawatir. “Istri,” kembali Rapa memanggil sang istri yang masih saja berusaha melepaskan diri.


“Ck, apa sih, Ba…”


***


Di sore-sore seperti ini Pandu, Leo dan Rapa, duduk santai di kursi malas yang berada di pinggir kolam renang, di temani teh hangat juga cake yang Lyra buat siang tadi. Pekerjaan tentu saja menjadi bahan obrolan ketiga pria itu. Di tambah dengan niat Rapa yang ingin membahas mengenai rencananya membangun rumah sendiri untuk keluarga kecilnya.


“Yah, Pi, abang mau izin,” Rapa mulai membuka suara setelah beberapa menit membisu, membuat kedua orang tua itu menoleh dengan kening mengerut tanda bertanya. “Abang sama Queen berencana untuk membangun rumah,” menatap Leo dan Pandu secara bergantian, Rapa menunggu dengan cemas respon dari ayah dan mertuanya sebelum kemudian melanjutkan ucapannya, “Abang sama Queen pengen mandiri, Yah, Pi.”


“Lo mau pisahin gue sama anak gue?” Leo bertanya dengan suara dinginnya yang sarat akan ketik sukaan. “Lo mau tega pisahin papi sama Queen? Lo tahu gue udah gak punya siapa-siapa selain Queen dan Ella. Anak bungsu gue mau pergi ke Singapura untuk kuliah, dan lo juga mau bawa anak pertama gue pergi? Lo mau siksa gue, Bang?!”

__ADS_1


Rapa meringis kecil mendengar nada dingin papi mertuanya yang jujur saja ini kali kedua Rapa mendengar dan melihat raut wajah Leo yang terlihat marah. Dulu ketika kepergian Cleona, Leo juga mengutarakan kekecewaannya, dan benar-benar marah pada Rapa. Dan kini, ia kembali mendapatkan nada dan tatapan itu lagi.


“Bukan gi…”


“Ya terus apa?! Sebelum kalian menikah lo udah janji gak akan pisahin gue sama Queen, lo udah janji gak akan bawa dia pergi, Bang!” suara Leo meninggi, rahangnya mengetat, dan wajahnya memerah marah.


Rapa menoleh pada sang ayah meminta bantuan untuk memberi pengertian pada mertuanya itu, namun hanya gelengan yang Pandu berikan membuat Rapa menghela napas, dan menundukan kepala, tak berani lagi ia membuka suara.


Lyra yang sekilas mendengar suara besannya marah-marah segera menghampiri, dan mentap bertanya ke arah suami serta anaknya.


“Istri gue udah pergi ninggalin gue untuk selamanya, Priela harus pergi untuk pendidikannya, apa harus gue juga di tinggalin Queen? Lo pikir hidup sendiri itu enak?!”


“Abang gak akan bangun rumah jauh-jauh dari sini, Pi …”


“Ya, tapi intinya lo tetap bawa anak gue pergi, dan lo pisahin gue sama Queen, Rapa?!” murka Leo, yang kemudian pergi meninggalkan Rapa, Pandu dan Lyra yang tersentak kaget dengan teriakan marah Leo.


Helaan napas panjang Rapa keluarkan, sebelum kemudian memeluk sang bunda yang berdiri di samping kursi yang di dudukinya. “Bunda, niat abang bukan gitu…” adunya dengan wajah sedih yang tidak dapat Rapa sembunyikan.


Lyra mengelus sayang kepala anaknya, kemudian memberikan kecupan di sana. “Bunda ngerti, Bang, bunda paham maksud kamu. Tapi sekarang biarkan papi kamu tenang dulu. Mungkin papi hanya belum siap berpisah dengan Queen. Kamu ngertiin papi kamu dulu ya? Emosinya lagi tak terkendali, karena harus melepas Priela yang minta kuliah di Singapura. Kamu yang sabar, ya, Bang. Di lain waktu baru bicarakan lagi begitu keadaannya sudah lebih baik.”

__ADS_1


Rapa mengangguk paham, meski rasa sedih itu masih hatinya rasakan. Sementara Pandu hanya memberikan tepukan di bahu anaknya untuk memberikan semangat setelah itu ketiganya sama-sama diam, tanpa ada yang tahu bahwa Cleona sejak tadi menguping dan sudah menangis mendengar reaksi marah sang papi.


__ADS_2