
Dalam perjalanan menuju pulang, Cleona memaksa sang supir yang tak lain adalah adik iparnya untuk berhenti terlebih dulu di kebun strawberry, karena sejak kemarin wanita cantik kesayangan Rapa dan papi Leo itu sudah membayangkan sensasi memetik buah merah itu dan juga teringat akan sang adik yang memang gemar pada buah berbintik tersebut.
Meninggalkan Clara yang menolak untuk ikut, Cleona dengan wajah sumringahnya masuk dan segera mengambil keranjang buah yang di berikan petugas kebun. Matanya berbinar begitu melihat banyaknya buah strawberry yang sudah siap panen, menambah semangat Cleona untuk memetiknya yang sesekali ia memasukan ke dalam mulutnya, dan sepertinya lebih banyak yang ia makan ketimbang yang ia masukan kekeranjang untuk di timbang.
Sementara Rapa hanya memperhatikan dari kejauhan sambil mengobrol dengan si pemilik perkebunan, bertanya-tanya mengenai perawatan pohon berambat itu, karena Rapa berniat membuat kebunnya sendiri di halaman belakang rumah sang papi, tentu saja untuk membahagiakan sang istri, di tambah agar perempuan cantik itu memiliki pekerjaan selama di rumah, tidak hanya diam dan menonton televisi.
Tidak lama, Cleona kembali dengan keranjang yang semula kosong kini berisi penuh dengan buah merah berbintik dengan wangi yang manis. Rapa tergoda untuk menyicipi, tapi sayang tangannya segera di tepis Cleona begitu berniat mengambil satu dari keranjang yang siap di timbang. Pelit memang istrinya itu.
“Banyak banget, Cle,” Birma berujar begitu melihat kakak iparnya kembali dengan kotak berisi penuh strawberry.
“Oleh-oleh buat papi sana Priela,” kata Cleona seraya masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang bersama sang suami.
“Nyicip dong,” pinta Birma mengulurkan tangannya.
Plak.
Bukan strawberry yang Birma dapat melainkan telapak tangannya yang kebas akibat tamparan Cleona. “Pelit banget lo jadi kakak ipar!”
“Jangankan lo, gue ajak gak dia kasih,” Rapa mencebikan bibirnya pada sang istri yang hanya acuh.
“Siapa suruh pada gak ikut metik.”
“Kalau gue ikut metik, nanti siapa yang jagain bini gue, di gondol kucing kan bahaya.” Birma memberi alasan begitu mobil yang di kendarainya mulai keluar dari parkiran.
“Gak akan ada kucing yang doyan bekas lo,”
__ADS_1
Pletak.
Geplakan panas Clara layangkan pada kaki Rapa yang terulur ke depan. “Lo kira gue ikan asin apa!”
“Lo sendiri itu yang ngomong,” balas Rapa yang kemudian segera menarik kakinya sebelum kembali mendapat geplakan dari adiknya yang galak itu. Kemudian Sisa perjalanan di isi dengan perdebatan dan tawa akibat saling mengejek.
keempatnya akhirnya sampai di kediaman sang bunda begitu jam menunjukan pukul 16.35. Dan kebetulan juga bahwa sang papi bersama Laura berada di sana, menumpang nonton televisi dengan cemilan di pangkuan masing-masing.
Cleona langsung berlari memeluk sang papi lalu pada adiknya seraya menyerahkan kota berisi strawberry yang tadi di petiknya pada sang adik kesayangan. Laura tentu saja menerimanya dengan senang hati dan langsung melahap buah tersebut tanpa lebih dulu mencucinya, jorok memang, tapi Laura seolah tak peduli.
“La, jangan di abisin semua, bunda pengen bikin cake starawberry untuk cemilan nanti malam.” Ujar Lyra yang baru saja kembali dari kamarnya.
“Lima biji cukup bun?” tanya Laura yang mulai menyisihkan buah tersebut ke atas meja.
“Lima biji gak apa-apa asal buahnya sebesar bola basket aja,” Lyra berjalan menghampiri anak bungsung sahabatnya itu.
“Ya makanya, jangan lima biji doang!” Laura terkekeh geli melihat kekesalan yang di buat-buat oleh bundanya itu.
“Ya udah, lebih baik sekarang aja bikin kuenya, Ella udah gak sabar,” bangkit dari duduknya, Laura kemudian menarik sang bunda untuk pergi ke dapur dengan kotak strawberry yang masih setia di tangannya.
“Kamu kalau masalah makanan emang paling cepet, La, kayak papi kamu.”
“Namanya juga ayah dan anak, bun. Ya kali Ella harus kayak tetangga.”
“Tapi abang kamu tingkahnya mirip tetangga,” kata Lyra sambil bolak-balik mengambil bahan-bahan yang akan di butuhkannya untuk membuat kue.
__ADS_1
Laura terkekeh geli, begitu tahu siapa tetangga yang di maksud sang bunda. “Itu karena abang kebanyakan gaul sama papi, Bun. Harusnya waktu masih kecil di jauhin biar gak tertular.”
“Aww…!” ringis Laura begitu di rasa kepala belakangnya ada yang menyentil.
“Kamu pikir papi virus sampe nular segala!”
Laura tak menanggapi, memilih kembali sibuk membersihkan buah kesukaannya dari daun yang masih menempel sebelum nanti akan sang bunda gunakan untuk campuran cake nya. “Papi jangan di makanin terus!” Laura menepis tangan papinya yang terus mengambil buah merah itu secara diam-diam begitu Laura lengah.
“Pelit!”
“Biarin,” Laura menjulurkan lidahnya. “Lebih baik sekarang papi pulang, terus mandi, nanti baru ke sini lagi kalau udah waktunya makan,” kata Laura mengusir dengan halus.
“Papi gak mandi aja ganteng, La, udah bawaan dari orok.” Kepercayaan diri laki-laki itu nyatanya tak juga surut meski usia sudah tua.
Menatap sang sahabat yang mulai merecoki, Lyra berkacak pinggng seraya memberikan tatapan tajamnya. “Lebih baik lo pergi deh, Le sebelum nih adonan, gue tumpahin ke muka ganteng lo itu!”
“Jahat banget lo besan,” kata Leo dengan cemberut, membuat Laura dan Lyra bergidik jijik.
Mengabaikan laki-laki tua kesepian yang terus merecoki, kedua perempuan cantik beda usia itu memilih mengabaikan dan melanjutkan aktivitas membuat kuenya, sampai Leo menyerah sendiri dan pergi dengan suka rela.
Masih ingat bukan dengan pribahasa hilang satu tumbuh seribu? Disini bukan seribu, tapi satu, meskipun begitu keduanya sama-sama penganggu. Dan merecoki sepertinya sudah menjadi hobi para pria tua di rumah ini. Leo baru saja pergi dan Pandu datang langsung melayangkan sebuah kecupan di pelipis sang istri, kemudian melingkarkan tangan besarnya di pinggang Lyra.
Laura yang menyaksikan hanya geleng kepala dan mulai menghitung dalam hati, karena ia tahu bahwa sebentar lagi subuah semburan akan…
“Pandu lepas! Kamu gak tahu aku lagi apa?!” kesal Lyra melepas paksa tangan suaminya. “Kalau kue-nya gagal kamu mau tanggung jawab untuk buat yang baru, hah!”
__ADS_1
“Emang kamu mau makan kue buatan aku?” tanya Pandu menaik turunkan alisnya. Ingat bukan ketika hamil oleh Rapa, istrinya itu mengidam di buatkan brownis olehnya? Hingga saat ini, Lyra tak lagi berani meminta hal itu.
“Ogah! Aku gak mau keracunan gara-gara makan kue buatan kamu," Lyra mendengus dan mendorong tubuh tinggi suaminya agar menjauh.