
Di jam istirahat ini, Cleona dan Rapa memilih untuk berdua, duduk di taman belakang yang sepi. Sebenarnya tadi teman-teman Rapa dan Cleon ingin ikut, tapi segera di tolak oleh Rapa. Laki-laki itu bilang bahwa dirinya hanya ingin menghabiskan waktu istirahat ini berdua dengan sang kekasih, karena semenjak menjabat ketua OSIS, kebersamaan mereka berkurang.
Cleona tentu saja bahagia, karena ia juga begitu merindukan laki-laki tampan itu. Ini pun Cleona jadikan untuk menceritakan Alvin yang belakngan ini selalu bertukar pesan dengannya. Dan, ya, Rapa tentu mengenal kakak kelasnya itu.
“Queen ceritain dia, bukan karena ingin bikin Abang cemburu. Queen hanya ingin jujur dan tidak membuat Abang salah paham suatu saat nanti. Abang percaya kan sama Queen?”
Cleona sebenarnya gugup menjelaskan ini kepada Rapa, ia takut bahwa kekasihnya itu tidak menyukai kedekatannya dengan Alvin, atau laki-laki lain, apalagi melihat Rapa yang hanya menatap lurus ke depan, menambah kegugupannya.
“Dia tahu kalau Queen udah punya pacar?”
“Tahu, bahkan Queen banyak cerita tentang Abang sama dia, tentang masa depan yang sudah di rencanakan orang tua kita juga.”
“Queen nyaman sama dia?”
“Nyaman. Queen merasa memiliki kakak yang bisa di ajak cerita, teman yang menyenangkan , Queen…”
“Aban gak masalah Queen temenan sama siapa aja, mau laki-laki atau pun perempuan. Tapi ketakutan abang hanya satu …” Rapa menoleh pada kekasihnya itu. “Abang takut kamu berpaling sama dia,” lanjut Rapa dengan raut wajah sedih.
Terkekeh geli, Cleona mencubit pipi tirus kekasihnya itu. “Abang kan tahu cinta Queen dari kecil cuma buat Abang. Lagi pula kalau memang Queen berniat berpaling kenapa gak dari dulu, Abang lupa kalau sejak SMP banyak laki-laki yang nyatain cintanya sama Queen?”
“Ish, jangan ingetin itu lagi deh, Abang sebel!” Rapa berdecak dan memalingkan wajahnya sambil bersedekap dada. Persis seperti anak kecil yang tengah merajuk. Merasa gemas, Cleona menguyel kedua pipi kekasihnya itu, mengacak Rambut berjambut Rapa hingga membuat laki-laki itu semakin mendengus kesal karena rambut kebanggaannya telah rusak.
“Jadi Abang izinin Queen temenan sama Kak Alvin gak, nih?”
“Tapi gak akan sampai jatuh cinta kan?” Rapa memicingkan matanya.
“Abang gak percaya sama Queen?” Cleona cemberut sedih.
“Percaya tuh sama Tuhan, bukan sama Queen,” cibirnya, membuat Cleona semakin cemberut. “Abang izinin Queen temenan sama dia, tapi tolong jaga hatinya buat Abang, ya? Queen tahu ‘kan Abang gak mau kehilangan kamu?” lanjut Rapa dengan tatapan memohon. Meraih kedua tangan Cleona dan ia genggam dengan erat.
Tersenyum, Cleona kemudian mengangguk. “Abang juga tolong jaga hatinya buat Queen, ya? Jangan buat kepercayaan yang Queen beri, Abang hancurkan. Queen gak akan siap jika harus kehilangan Abang. Jadi, jangan pernah tergoda dengan perempuan lain, apalagi wanita rubah sialan itu!”
__ADS_1
“Siapa yang Queen panggil wanita rubah?” tanya Rapa menaikan sebelah alisnya penasaran.
“Siapa lagi kalau bukan sekretaris Abang di OSIS, benci Queen sama dia!”
“Maksud kamu Nia?” tanya Rapa. Begitu satu anggukan di berikan sang kekasih, tawanya meledak, mengacak rambut Cleona kemudian menjawil hidung mancung wanita cantik itu gemas. “Bisa banget sih, ngasih julukan ke orang lain,” tambah Rapa menggelengkan kepala tidak habis pikir.
“Pokoknya awas aja kalau Abang deket-deket sama dia, jaga jarak aja meskipun lagi diskusiin tugas,” Cleona menatap tajam kekasihnya itu mengancam.
“Siap, Princess. Pangeran akan jaga jarak dengan Nenek sihir." Rapa memberikan gestur hormat. Keduanya kemudian tertawa dan obrolan beralih membahas hal-hal lucu, sampai tawa berderai dan tidak sadar bahwa waktu istirahat telah habis.
“Belajar yang rajin, Princess.” Rapa berkata seraya mengusak rambut Cleona dengan sayang, setelah itu pergi dari depan kelas sang kekasih.
Cleona tersenyum manatap kepergian Rapa, kemudian masuk ke dalam kelas yang langsung di sambut dengan suara riuh teman-teman sekelasnya yang ‘mencie-ciekan’ dirinya. Cleona tentu saja malu saat ini, tidak menyangka bahwa teman-teman sekelasnya akan mengintip dirinya dengan Rapa dari balik jendela.
“Belajar yang rajin, Princess.”
“Mau dong gue di elus juga rambutnya.”
“Ah, pengen punya pacar kayak Kak Rapa!”
“Jomlo mah bisa apa atuh!l
“Cle, gue patah hari masa?"
“Kalau saingannya semanis Kak Rapa, gue nyerah deh, Cle. Berjuang pun percuma gue kalah ganteng sama dia.”
Masih banyak lagi sahutan-sahutan dari teman-teman sekelasnya itu, membuat kelas semakin riuh dan tidak terkendali. Wajah Cleona begitu panas, sudah di pastikan bahwa pipinya benar-benar merona dan ia ingin sekali menghilang saat ini juga. Tuhan galikan sumur untuk gue sembunyi, please! Hati Cleona menjerit.
Beruntung guru cepat datang dan itu membuat Cleona menghela napasnya lega, meskipun tatapan-tatapan menggoda lainnya masih dapat dirinya lihat, termasuk dari Nirmala yang duduk di sebelahnya.
Pelajaran Matematika yang biasanya di benci Cleona, dan bahkan sangat malas perempuan cantik itu kerjakan, sepertinya tidak untuk kali ini, karena Cleona justru dengan santai dan senyum terukir mengerjakan soal-soal yang di berikan gurunya. Bahkan sampai bersedia ketika di minta mengerjakan di papan tulis, meskipun tidak yakin benar atau salah Cleona tetap tersenyum, mood-nya sedang bagus hari ini.
__ADS_1
“Apa efek kak Rapa sebesar itu, Cle, sampai buat lo pintar mendadak sama matematika?” Nirmata berbisik begitu Cleona kembali duduk di bangkunya.
“Makanya Mal, lo harus jatuh cinta biar tahu rasanya." Balas Cleona berbisik pula. Senyumnya tidak juga luntur dan itu membuat Nirmala bergidik ngeri.
“Apa semenyeramkan ini orang jatuh cinta?” tanya Nirmala pada dirinya sendiri.
Tring … tring … tring …
Bel pulang berbunyi adalah kebahagian semua pelajar, karena terlepas dari suntuknya belajar dan lelahnya berpikir. Kelas X IPS B ini sepertinya paling heboh karena setiap bel berbunyi, maka semua akan bersorak gembira, tidak peduli bahwa guru masih ada di dalam kelas. Cleona pun tidak kalah bahagiaanya dengan bel pulang ini, karena hari ini adalah untuk pertama kalinya lagi ia pulang bersama pacar tercintanya, setelah kesibukan Rapa yang menguras waktu.
Setelah di rasa bahwa kelas sudah mulai kosong dan di koridor tidak terlalu ramai, Cleona dan ketiga temannya keluar dari kelas, dan melangkah menghampiri kelas Clara dan Kayla untuk mengajak kedua wanita itu berjalan bersama menuju parkiran.
“Atu, pulang yuk!” ajak Cleona begitu berada di ambang pintu kelas Clara.
“Kayaknya gue gak bisa pulang bareng deh, soalnya mau kerja kelompok di rumah Birma,” kata Clara mendekati Cleona.
“Kerja kelompok apa kerja kelompok lo, Tu?” suara berat di belakang sana membuat beberapa orang menoleh ke arah suara, dan mendapati Rapa berdiri di belakang Shafa.
“Kerja kelompok lah, lo kira apa?” dengus Clara.
“Dimana? Sama siapa aja? Sampai jam berapa?” pertanyaan bertubi-tubi Rapa membuat Clara kembali mendengus dan menghentakan kakinya.
“Rapa, posesif banget sih lo, ish! Gue kerja kelompok di rumah Birma. Perginya juga sama Kayla, Vino, Chesil dan Virni. Gak akan terlalu malam kok, janji!” kata Clara sedikit memohon agar kakaknya itu mengizinkan.
Semua orang yang berada di sana menyaksikan dengan penasaran, memang tidak semua murid kelas Clara tahu bahwa Rapa dan Clara adalah adik kakak, karena masih ada yang mengira bahwa mereka pacaran, melihat tingkah manja Clara pada laki-laki itu membuat orang salah megartikan, dan menyangka bahwa diantara Rapa, Clara dan Cleona terjalin cinta segitiga.
“Boleh ya, ya, Rapa ganteng deh, janji nanti setelah sampai di rumah Birma gue kasih kabar sama lo,” bujuk Clara lagi.
“Bagus lah kalau lo gak pulang bareng gue, jadi gue bisa berduaan sama Queen, bye-bye Atu, lo hati-hati ya, ingat jangan mau di godain cowok!” Rapa memperingati adiknya itu sebelum melangkah pergi sambil merangkul Cleona menjauh dari kelas Clara.
“Rapa sialan! Jadi buat apa gue tadi mohon-mohon minta izin coba? Aish, nyebelin!”
__ADS_1