
Bergegas Rapa keluar, membuka kan pintu mobil untuk sang istri tercinta yang sudah begitu terlihat kelelahan di tambah dengan wajah cemberutnya yang sejak bertemu Nia tadi perempuan itu perlihatkan, dan yang semula mengatakan lapar pun tiba-tiba tidak lagi bernafsu dan meminta pulang. Rapa tidak paham apa yang terjadi pada istri cantiknya, karena sejak dalam perjalanan pun wanitanya terus saja cemberut, bahkan hingga sekarang.
“Bagus ya kalian, belanja gak ajak-ajak kita.”
Baru saja membuka pintu suara bernada sinis itu sudah terdengar dan masuk ke dalam indranya. Di sofa, bunda, ayah dan papinya duduk, sama-sama bersedekap dada dan menatap dengan kesal.
“Kalian gak ada di rumah, gimana mau di ajak,” balas Rapa, menuntun istrinya untuk duduk di sofa, begitu juga dengan dirinya sendiri.
“Kan bisa di telepon, nanti bunda nyusul kalian ke mal.”
“Ya udah sih, sekarang kan kita udah pulang juga, bunda. Lagi pula ngapain kalian harus ikut? Menuhin mal aja,” Rapa mencebikan bibirnya.
“Bunda juga kan pengen pilihin untuk perlengkapan bayi kalian, Bang.” Kata Lyra dengan cemberut yang di buat-buat.
“Iya cuma milih, yang bayar tetap abang. Ogah! Mending gak ajak kalian aja deh, kebobolannya gak gede-gede amat.”
Bantal sofa dengan cepat melayang mengenai wajah Rapa yang tidak menyadari kedatangannya. “Lo pikir gue gak punya uang buat beli perlengkapan cucu gue? Mal-nya aja bisa gue beli kalau mau.”
“Cih, sombong. Beli batagor aja papi perhitungan, so-soan beli mal segala.” Cibir Rapa yang di acungi jempol oleh Pandu yang sejak tadi menyaksikan sambil membaca koran.
“Lo ...”
__ADS_1
“Mantu bunda kenapa cemberut? Kecapean? Atau karena abang gak nurutin maunya kamu?” tanya Lyra bertubi-tubi seraya menghampiri menantu kesayangannya, membuat Leo yang hendak membalas, segera menolah pada Cleona yang memang belum terdengar juga suaranya.
“Kamu kenapa, Queen? Di apain sama suami kamu itu? Bilang sama papi,”
Rapa langsung melayangkan delikan permusuhannya begitu sang mertua menjadikan dirinya tersangka.
“Queen sebel, karena perempuan rubah itu ngatain Queen gendut,”
“Lah kan kamu emang gendut, Queen,” dengan polos Leo menimpali. Dan langsung saja tiga bantal sofa mendarat di wajah tampannya, juga delikan tajam Leo dapatkan dari besan juga mantunya, membuat Leo mengernyitkan kening, tidak paham di mana letak salahnya. Apa lagi saat mendapati anaknya menangis.
“Queen sayang, kamu wajar kok gen...”
Lyra segera saja melayangkan tatapan tajamnya pada Rapa juga Leo, sebelum kemudian meraih kepala menantunya yang basah oleh air mata, memberikan senyum menenangkan seraya mengusap bulir bening itu. “Di dalam perut kamu itu ada bayinya, Queen. Nanti juga akan kembali ramping kalau si kembarnya udah keluar. Emang perempuan rubah yang Queen maksud tadi siapa?” tanya Lyra dengan lembut.
“Fans-nya abang sejak sekolah dulu. Bahkan Queen pernah kena tampar juga coba, Bun,” adu Cleona masih dengan sisa-sisa isakannya.
Leo yang mendengar itu langsung bangkit dari duduk dan mengepalkan tangannya. “Siapa yang berani tampar anaknya papi? Sialan!” murka Leo menendang kaki Rapa yang kebetulan berada di dekatnya. Membuat laki-laki itu mengaduh, sementara Leo tidak sama sekali merasa bersalah.
“Kenapa malah abang yang di tendang sih, papi!” protes Rapa mengusap-usap kakinya yang berdenyut nyeri.
“Bunda juga akan lakuin hal yang sama kok Bang, karena gak jagain mantu bunda dengan baik.”
__ADS_1
“Abang juga gak tahu kalau Queen pernah ngalamin itu, Bunda.”
“Terus kamu ngapaian aja di sekolah?” Pandu angkat suara dengan nada dinginnya.
Rapa yang mendapat serangan dari ketiga tetua itu tak lagi bisa berkata. Pasrah dan meminta maaf adalah jalan paling cepat untuk menghentikan perdebatan. Lagi pula Cleona saat ini hanya terusik di saat perasaannya tengah sensitif.
“Maafin abang ya, sayang? Maaf karena abang gak jagain kamu dengan baik, maaf karena abang gak ada saat kamu di sakiti orang lain. Tapi abang janji, untuk kedepannya gak ada satupun orang yang bisa nyakitin kamu, termasuk abang.” Ujar Rapa menangkup wajah sembab istrinya, yang masih terisak kecil.
“Lagi pula tadi kamu hebat bisa lawan dia, dan buat dia malu di depan banyak orang,” kali ini Rapa tersenyum dan mengacungkan jempolnya. “Abang udah jadi milik kamu, seutuhnya. Begitu juga dengan kamu, sudah menjadi milik abang seutuhnya. Jangan takut sama orang-orang seperti Nia. Dia kalah banyak dari kamu, karena nyatanya kamu yang abang pilih jadi istri, kamu yang abang jadikan pelabuhan terakhir, bukan Si Rubah itu, bukan pulan perempuan lain. Jadi, jangan khawatir, karena bagaimana pun keadaannya, abang pasti akan tetap bersama kamu.”
“Ayah, bunda pengen di manisin juga,” rengek Lyra melangkah menghampiri suaminya yang hanya cuek saja membaca koran, sementara Leo menghentakan kaki dan pergi meninggalkan ruang tamu. Seolah sadar diri bahwa dirinya tak memiliki pasangan.
“Perut kamu sebesar ini, karena ada anak kita yang hidup di dalamnya,” Rapa mengelus lemput perut Cleona yang tertupi dress hamilnya yang sejak tadi di kenakan. “Seperti yang kamu bilang ke Nia tadi, benih abang udah berkembang di sini, dan tinggal menunggu waktu, buah hati kita akan lahir ke dunia. Kamu harus bangga memiliki badan yang sedikit gemuk, karena kamu sudah akan menjadi ibu, menjadi wanita sempurna dan mulia karena bersedia mengandung titipan Tuhan. Gak perlu minder di katai gendut, toh kamu terlihat lebih seksi, lebih cantik dan pastinya di cintai abang.”
Pipi Celona semakin merona mendengar setiap ucapan lembut suaminya, tatapannya yang menyiratkan akan cinta yang begitu besar membuat Cleona tidak tahan untuk tidak memeluk suaminya, yang tidak akan pernah Cleona tukar dengan kebahagiaan lain di luar sana.
“Jangan cemberut lagi, ya? Jangan pedulikan ejekan orang lain, karena kita tidak di haruskan untuk terlihat sempurna di hadapan orang lain. Cukup di hadapan Tuhan, dan tentunya di mata abang. Kamu sempurna, apa lagi sekarang tengah mengandung darah daging abang,” memberikan elusan serta kecupan di perut buncit itu, Rapa kemudian tersenyum dan mengungkapkan kata cinta pada anak-anaknya yang berada di dalam sana. “Mereka yang mengatai kamu hanya iri. Jadi, abaikan, karena orang iri tidak akan pernah merasakan kebahgiaan, seperti yang kita alami.”
Cleona mengangguk, dan senyumnya sudah mampu perempuan cantik itu ukir, membuat Rapa membalas senyum itu dan melayangkan kecupan di pipi sang istri. Lyra dan Pandu yang masih berada di tempatnya masing-masing, merasa menjadi penonton bisu, namun tidak bisa menampik bahwa meraka bahagia saat ini.
“Abang, Queen pengen nasi bakar tunanya sekarang. Beliin ya?” dengusan kecil Rapa keluarkan, bersamaan dengan hilangnya senyum yang beberapa detik tadi terukir indah. Rapa kesal, karena istrinya selalu saja berhasil mengacaukan momen manis yang tercipta.
__ADS_1