Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
143. Tunggu Aku Sayang


__ADS_3

Hari demi hari Rapa jalani dengan berat, kerena rindu yang terus menderu pada sang istri juga bauh hati yang tiga bulan ini hanya dirinya lihat melalui layar ponsel, tanpa bisa ia sentuh apa lagi ia peluk erat-erat. Setiap kali ada kesempatan, Rapa selalu menghubungin istri tercintanya di rumah, niatnya ingin melepas rindu, tapi yang terjadi malah rindu itu semakin menumpuk dan Rapa tidak kuasa jika harus terus berjauhan. Ia ingin segera memeluk istrinya, memeluk anak-anaknya juga berkumpul seperti hari-hari sebelumnya.


Namun berapa kali pun Rapa memohon untuk di beri setidaknya dua hari libur untuk sekedar pulang dan bertemu sang istri dan anak-anaknya, Pandu tetap tidak mengizinkannya dengan alasan bahwa jika pulang, maka Rapa pasti tak akan mau kembali untuk pergi. Memang dasarnya sang ayah kejam, laki-laki itu begitu pelit memberinya diskon, membuat Rapa ingin sekali rasanya memaki dan menyumpahi ayahnya itu, kalau perlu Rapa gadaikan ayahnya demi hari liburnya, jika saja ia memang siap mendapatkan gelar anak durhaka. Sayangnya Rapa terlalu mencintai ayahnya, dan ia masih ingin menjadi anak baik untuk pria tua dingin menyebalkan itu.


Tok … tok … tok


“Pak, rapatnya akan segera di mulai.” Ujar wanita cantik berusia tiga puluhan yang baru saja mengetuk pintu ruangannya. Rapa mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ruang rapat di ikuti wanita itu dari belakang.


Rapa sebenarnya sudah begitu lelah dan ingin segera istirahat, karena selama menginjakan kakinya di Bali, pekerjaan sudah menanti, melambai pada Rapa dan menjadi mimpi buruknya hingga hari ini, dan entah harus sampai kapan lagi.


Inginnya Rapa kabur saja dari pekerjaannya ini jika saja kepala cerdasnya tidak membayangkan bagaimana murka sang ayah nanti begitu mendapat kabar bahwa anak perusahanannya jatuh bangkrut di karenakan dirinya yang melarikan diri dari tanggung jawab yang ayahnya itu berikan.


Beruntung rapat yang ketiga di hari ini tidak berlangsung begitu lama, membuat Rapa bisa bernapas lega dan segera merebahkan diri di sofa untuk setidaknya mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum nanti kembali berkutat dengan kertas-kertas berharga yang sudah menumpuk di meja kerjanya, yang sebenarnya ingin sekali Rapa bakar hingga tak tersisa satu pun, dan abunya akan ia biarkan tertiup angin.


Melupakan kertas-kertas itu untuk beberapa saat, Rapa meraih ponselnya dan segera menghubungi sang istri yang sejak pagi belum sama sekali ia beri kabar. Tidak butuh waktu lama, untuk Cleona mengangkat video call-nya, karena dalam dua kali deringan saja, sambungannya sudah di terima wanita cantik itu. Membuat Rapa yakin bahwa istri cantiknya itu tengah menunggu kabar darinya.


“Hallo istri cantiknya Rapa yang tampan,” ujar Rapa dengan gembira, menatap layar datar di tangannya yang menampilkan wajah cantik Cleona tengah bersandar di kepala ranjang.


“Hallo juga suami tampannya Queen,” balas Cleona dari seberang sana, dengan senyum manis yang terukir lebar, membuat Rapa gemas dan ingin sekali melayangkan kecupan di sana, menyalurkan rasa rindu yang sudah menggunung.


“Makin cantik aja sih istrinya abang,” ujar Rapa dengan gemas, dan segera mendekatkan bibirnya ke layar ponsel, seolah dirinya akan mencium istri cantiknya itu. Dan apa yang di lakukan Rapa itu membuat suara tawa merdu Cleona terdengar.

__ADS_1


“Queen emang udah cantik sejak lahir, Bang. Gak kayak abang, yang sekarang aja udah kaya apaan,” Cleona bergidik, kemudian kembali tertawa. “Wajahnya udah ada bulu-bulunya, jelek!”


“Abang mana sempat cukuran, istri,” Rapa menyentuh permukaan wajahnya yang memang sedikit kasar karena bulu-bulu halus itu mulai tumbuh. “Abang jelek ya kalau ada bulu-bulunya gini?” tanya Rapa, yang di jawab anggukan oleh istri cantiknya di layar datar itu.


“Kalau ada waktu luang, abang cukuran ya? Jangan sampe nanti pas pulang anak-anak gak ngenalin abang sebagai papanya,”


Rapa bergidik. “Jangan sampai itu terjadi.”


Cleona lagi-lagi tertawa. “Anak-anak kita sekarang lebih dekat sama Atu, dari pada Queen. Apa karena Queen udah jarang gendong mereka ya?”


Nada sedih dari ucapan istrinya itu dapat Rapa dengar dengan jelas. “Jangan sedih ya sayang, itu hanya sementara kok, nanti anak-anak juga akan kembali sama kamu. Yang penting sekarang adalah, kamu sembuh dulu. Biar nanti bisa main-main sama anak-anak lagi. Abang janji, setelah kamu sembuh dan kembali bisa berjalan abang akan ajak kamu kemana pun kamu mau.”


“Kemana pun?” tanya Cleona memastikan.


“Kalau ke pelukannya kak Alvin?” goda Cleona. Dengan cepat Rapa melayangkan delikan tajamnya pada sang istri.


“Awas aja, kalau kamu berani!” ancam Rapa dengan serius. Dan tawa Cleona kembali terdengar.


“Abang lagi apa? Sudah makan?” tanya Cleona mengalihkan pembicaraan.


“Baru selesai Rapat, istri. Dari pagi abang baru makan roti, itu pun di perjalanan.” Keluh Rapa dengan wajah lesu.

__ADS_1


“Kalau gitu sekarang abang makan dulu, mumpung lagi senggang,”


“Iya nanti, abang lagi nyuruh sekertaris abang beli makanan kok. Istri, abang pengen pulang, kangen kamu. Bujuk ayah dong biar izinin abang pulang,”


Terlihat istri cantiknya itu terkekeh di seberang sana mendengar rengekannya.


“Iya nanti Queen bujuk ayahnya. Abang yang sabar ya, Queen juga kangen sama abang, setiap pagi Queen bangun rasanya aneh, karena gak ada yang ucapin dan kasih kecupan selamat pagi. Cepat selesaikan pekerjaannya, Bang, cepat pulang, Queen pengen kumpul lagi sama abang.”


Melihat istrinya meneteskan air mata membuat Rapa juga ikut meneteskannya, ia tahu istrinya begitu merindukannya mengingat bahwa sejak kecil mereka memang sudah terbiasa bersama meskipun saat itu wanitanya pernah melarikan diri ke negera lain, tapi setelah menikah bahkan mereka tidak pernah berpisah, dan baru kali ini lah keduanya kembali di pisahkan.


Rapa pun sama rindunya dengan sang istri, ia tidak ingin berada jauh dari wanita cantik yang sudah melahirkan anaknya, dan inginnya Rapa membawa wanita itu kemana pun dirinya pergi jika saja keadaan Cleona tidak seperti sekarang ini.


“Abang akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan di sini, istri, dan abang janji akan segera pulang. Abang juga kangen kamu, sama anak-anak. Sabar ya sayang, secepatnya kita akan kembali berkumpul, dan abang tidak akan pernah membiarkan siapa pun kembali memisahkan kita, termasuk ayah.”


Anggukan serta senyuman wanita cantik itu berikan walau air mata masih tetepa terlihat menetes, membuat tangan Rapa gatal untuk segera menyeka bulir bening itu, andai ia berada di sisi perempuan itu.


Tak lama makanan yang Rapa pesan di antar oleh sekertarisnya, dan Rapa makan sambil melakukan video call bersama istri tercintanya itu, meskipun sebenarnya Rapa tak begitu bernapsu, tapi demi tidak membuat istrinya khawatir Rapa memaksakan untuk makan, dan setelahnya kembali melanjutkan pekerjaan dengan begitu fokus agar segera selesai dan ia kembali pulang, berkumpul dengan anak, istri juga keluarganya.


Rapa tak akan sedikit pun membuang wkatunya yang malah akan membuat kepulangannya semakin tertunda, dan kerinduan semakin memuncak.


Tidak peduli siang atau malam, Rapa kini lebih giat lagi bekerja, dan hanya akan tidur jika memang rasa kantuk itu tak lagi bisa dirinya tahan. Demi bertemu dengan anak, istrinya di rumah dengan segera, Rapa rela menahan lelah.

__ADS_1


“Sayang, tunggu sebentar lagi, abang janji akan segera pulang.” Rapa berucap dengan penuh tekad, seolah istrinya berada di depan matanya.


__ADS_2