Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
120. Cemburu itu Wajar


__ADS_3

Hingga siang ini, Leo tidak juga melepaskan Rapa dari pelukannya. Bahkan saat semalam laki-laki itu merengek meminta untuk tidur dengan Rapa juga Cleona. Tentu saja itu sempat mendapat penolakan Rapa yang tidak ingin kemesraannya dengan sang istri terganggu. Namun Leo yang keras kepala sekaligus menyebalkan, mana pernah mau menerima penolakan juga mengalah. Sampai pada akhirnya, Rapa memilih menyerah karena saat itu malam pun sudah larut dan kantuk mulai menyerang.


Tidur yang seharusnya di awali dengan doa, Rapa justru mengawalinya dengan dengusan kesal juga makian untuk mertuanya itu. Bagaimana tidak, Leo meminta tidur satu ranjang, dan meskipun Cleona berada di tengah-tengah antara mereka, tetap saja, Rapa tak sama sekali di beri kesempatan untuk sekedar memeluk istrinya itu, karena Leo memonopoli Cleona dan menjadikan wanita kesayangannya itu sebagai guling.


Jika saja Leo bukan mertuanya, Rapa tak akan segan memberikan tendangan hingga laki-laki tua itu jatuh ke lantai dengan kepalanya terbentur hingga berdarah-darah. Dan siang ini kekesalan Rapa di tambah dengan sang papi mertua yang tidak pernah melepaskannya kecuali saat dirinya ke toilet, makan dan mandi, itu pun Leo akan selalu mengikutinya dan menunggu di luar. Bukankah itu menyebalkan?


“Papi, lepasin dong, abang risi.” Pinta Rapa dengan memelas.


Menggeleng, Leo malah semakin mengeratkan pelukannya di dada Rapa. “Kalau gue lepasin, nanti lo bawa anak gue pergi.”


Rapa memutar bola mata jengah. “Abang udah janji gak akan bawa Queen pergi kemana-mana, Pi. Jadi, please, lepasin!”


“Gak percaya gue,”


“Astaga! Mimpi apa gue punya mertua modelannya kayak begini!” geram Rapa, memukul-mukul kepala dangan tangannya sendiri. “Papi, abang beneran gak akan bawa Queen pergi. Abang sama Queen akan tetap tinggal di sini dan di rumah papi. Kalau perlu kedua rumah ini abang gabungin jadi satu biar adil.”


“Emang lo bisa?” tanya Leo yang sudah sedikit melonggarkan pelukannya.


“Papi ngeremehin abang? Jangankan gabungin ini rumah, bikin Queen hamil dua jagoan sekaligus aja abang bisa.”


Pletak. Satu geplakan mendarat keras di kepala bagian belakang Rapa, hingga denyutan itu membuat kepalanya pusing. Namun Rapa tak masalah dengan kekerasan yang mertuanya beri selagi pelukan orang tua kesepian itu terlepas, Rapa dapat menghela napas kelegaannya, walau denyutan nyeri sebagai imbalannya.


“Kalau aja bukan mertua, abang gak akan segan-segan rantai tangan sama kaki papi di tiang listrik depan.” Dengus Rapa yang segera menjauh dari sang papi mertua, agar tidak lagi di borgol dengan tangan kekar tua Leo.

__ADS_1


Lyra, Pandu, juga Cleona yang asyik mengajak becanda si kembar hanya menggelengkan kepala menyaksikan tingkah kedua laki-laki beda usia itu.


🌈🌈🌈🌈


Berhubung ke tiga orang tua itu tak ada di rumah, Rapa pada akhirnya mengajak sang istri untuk jalan-jalan ke mall, membawa serta kedua bayinya yang kini sudah menginjak usia dua bulan. Ini adalah jalan-jalan pertama mereka setelah Cleona melahirkan, dan tentu saja wanita dua anak itu bahagia bukan main karena benar-benar sudah merindukan tempat dimana ia bisa berbelanja, menghabiskan uang sang suami.


Begitu turun dari mobil, Rapa mengambil alih satu anaknya dari gendongan Cleona, dan setelah sang istri yang tengah memangku Nathan ikut keluar, barulah Rapa mengunci mobilnya dan berjalan masuk ke dalam mall yang hari ini cukup ramai oleh pengunjung. Dan kedatangan mereka sempat menjadi perhatian banyak orang, dari mulai anak muda bahkan sampai orang tua.


Cleona sedikit risi sebenarnya, apa lagi saat ada yang menatap genit pada suaminya, Cleona benar-benar tak suka dan ingin sekali menusuk mata mereka andai saja tidak takut masuk penjara.


Sadar akan raut cemberut istrinya, Rapa kemudian merangkul pinggang Cleona dan berbisik, “gak perlu cemberut sayang, anggap saja mereka gak ada.”


“Tapi Queen gak suka mereka natap abang begitu, kayak yang mau telanjangin dan nerkam abang aja, Queen gak suka!”


Terkekeh pelan, Rapa kemudian memberikan kecupan singkap pada pelipis istrinya. “Abang kan cuma mau sama kamu aja di telanjanginnya. Apa lagi kalau di terkam, uuhh pengen.”


“Mau makan dimana kita?” tanya Rapa yang masih juga merangkul pinggang istrinya agar semua orang tahu bahwa keduanya sudah saling memiliki, apa lagi di tambah dengan keberadaan si kembar dalam gendongan masing-masing.


“Udah lama Queen gak makan sushi, pengan itu aja boleh?”


“Apa sih yang enggak buat istrinya abang,” Rapa menjawil hidung mancung istrinya gemas, kemudian melangkah menuju restoran sushi yang berada di dalam mall. Menuruti keinginan sang istri adalah kewajiban untuk Rapa, dan mungkin tak lama lagi akan bertambah dengan keinginan kedua buah hatinya.


Menikmati makanan khas Jepan itu semakin terasa nikmat di temani kedua bayinya yang mulai aktif. Tawa terjadi saat Nathael yang berusaha merebut sumpit yang di pegang ayahnya, dan berhasil menjatuhkan sushi ke pipi bulatnya. Tidak beda jauh dengan Nathan yang juga selalu berusaha mengambil apa pun yang di pegang ibunya.

__ADS_1


“Cleona, Rapa?”


Suara seorang perempuan mengalihkan keduanya yang tengah asik menggoda bayi serupa itu. Mendapati sahabat SMA-nya Rapa melayangkan senyum tipis karena tidak ingin kesalah pahaman terjadi dengan istrinya, Rapa kapok dekat-dekat dengan perempuan yang berakhir dengan kehilangan Cleona, jadilan selama ini Rapa berusaha untuk bersikap seadanya terhadap kaum perempuan.


“Kak Mirna di sini juga?” tanya Cleona saat tahu siapa yang menghampiri mereka. Perempuan cantik itu tersenyum kemudian sedikit mengangguk.


“Sini duduk kak,” titah Cleona yang menggeser duduknya. “Baru sampai?” lanjut Cleona bertanya.


“Udah mau pulang. Barusan gak sengaja lihat, makanya gue samperin buat mastiin. Eh ternyata beneran kalian,” jelasnya di iringin dengan senyuman. “Ini anak kalian?” tanya Mirna menunjuk bocah yang berada dalam gendongan Rapa dan Cleona, dan kedua orang tua baru itu mengangguk bersamaan. “Astaga lucu banget!” gemas Mirna melayangkan cubitan kecil di pipi kedua bocah gembil itu secara bergantian. “Kalian gak ada yang ngasih tahu kalau udah punya bocah, ngomong-ngomong udah berapa usianya?”


“Baru dua bulan. Gak di kasih tahu juga lo udah tahu sekarang,” ujar Rapa yang kemudian mendapat cebikan bibir dari Mirna.


“Lo sendiri?” tanya Rapa pada sahabat lamanya itu. “Cih, jomblo,” ledeknya kemudian, dan kembali mendapatkan cebikan wanita itu.


“Mentang-mentang udah beranak lo, Rap. Berani ngejek gue. Asal lo tahu aja, gue ke sini sama calon laki gue. Di kira cewek secantik gue gak laku apa!” delik Mirna.


“Dari dulu lo kan emang gak lak…”


“Sayang, yuk pulang.”


Ucapan Rapa terpotong oleh kedatangan seorang laki-laki yang benar-banar tampan, bahkan sampai membuat Cleona menganga terpesona dengan mata yang tidak sama sekali berkedip melihatnya. Tentu saja itu membuat Rapa cemburu dan dengan cepat sedikit bangkit hanya untuk menutup mata sang istri.


Rapa kadang kesal saat istrinya bereaksi berlebihan saat melihat laki-laki lain, Rapa cemburu, dan ingin sekali mengurung istrinya di kamar agar tidak bisa menatap laki-laki mana pun selain dirinya. Keposesifannya memang sudah berada di tingkat akhir, dan itu karena ia terlalu takut kehilangan Cleona, Rapa tidak ingin istrinya terpesona pada laki-laki lain selain dirinya.

__ADS_1


“Dasar cemburuan!” cibir Cleona seraya menyingkirkan tangan suaminya itu dari matanya.


“Cemburu itu wajar sayang. Aku kan cinta kamu, gak mau kehilangan kamu apa lagi gara-gara kamu terpesona sama laki-laki selain aku.”


__ADS_2