
Begitu menyelesaikan pekerjaannya, Rapa membereskan segera meja kerjanya yang berada di kamar. Semenjak istrinya pulang dari rumah sakit, Rapa meminta izin pada ayahnya untuk bekerja di rumah, kecuali jika ada meeting yang memang harus dirinya hadiri, itu pun jika memang benar-benar penting. Untuk menandatangani berkas-berkas, sekretarisnya lah yang bolak balik antara rumah dan kantor. Merepotkan memang, tapi Rapa juga tak ingin meninggalkan istrinya yang susah melakukan apa pun.
Bukan karena dirinya kasihan, tapi karena Rapa terlalu khawatir jika tidak mengawasinya secara langsung. Dan beruntung sang ayah mengizinkan, begitupun dengan papi mertuanya yang mendukung penuh. Bahkan papinya itu meminta Rapa tak perlu bekerja yang penting Cleona baik-baik saja. Namun Rapa tentu saja menolak, karena bagaimanapun dirinya masih membutuhkan uang untuk menghidupi keluarga kecilnya, apalagi anak-anaknya yang semakin tumbuh besar membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tidak mungkin dirinya selalu bergantung pada orang tuanya.
“Istri, kamu dimana?” panggil Rapa sedikit berteriak.
Tak ada jawaban sama sekali, membuat Rapa mengernyitkan kening dan mulai khawatir begitu tidak mendapati istri serta anak-anaknya di ruang tengah, di dapur, di taman belakang. Tidak ada juga di kamar sang bunda. Namun akhirnya ia bisa menghela napas lega begitu berada di ruang utama dan mendengar suara tawa istrinya.
“Disini kamu ternyata,” ucap Rapa begitu berdiri di belakang istrinya. “Pantesan aku panggil-panggil gak ada yang nyaut.”
“Eh Abang,” Cleona menoleh dan memberikan senyum cantiknya. “Tadi Queen bosan, jadi bunda ngajakin untuk siram tanaman.”
Rapa menarik kursi roda istrinya sedikit ke belakang, kemudian menunduk dan memberikan kecupan singkat di puncak kepala Cleona. “Mandi dulu yuk, udah sore.”
Cleona mendongak kemudian mengangguk.
“Bunda, Queen udahan nyiramnya ya, abang udah ngajakin mandi.”
“Oke sayang, biar sisanya Bunda selesaikan sama Bi Ani.” Sahut Lyra yang berada di depan sana, memetik daun-daun tua di tanaman bunga kesayangannya.
Setelah mendapatkan persetujuan sang bunda, Rapa kemudian mendorong kursi roda yang di duduki istrinya masuk ke dalam rumah. Tapi kemudian berhenti begitu mengingat bahwa dirinya tidak melihat keberadaan kedua anaknya. “Si kembar ke mana, istri?”
“Mereka di culik Ratu tadi, katanya mau di ajak nginap di rumahnya.”
__ADS_1
“Kok gak ijin abang?”
“Mana ada mau nyulik ijin dulu? Abang mah suka aneh,” delik Cleona meski Rapa tidak dapat melihatnya.
“Tapi kan seenggaknya kalau mau ajak mereka nginap harus bilang dulu, Abang Papa-nya loh?”
“Atu bilang, kalau ijin dulu sama Abang udah pasti gak akan di ijinin, makanya cuma ijin sama Queen, dan Bunda.”
“Ya, ta--”
“Gak apa-apa Bang, untuk malam ini ijinin Atu sama anak-anak kita, Queen yakin kok mereka bisa jaga si kembar. Abang kan tahu kalau Birma sama Atu pengen cepat punya anak, biar si kembar yang menjadi pancingannya,”
“Di kira anak-anak Abang umpan apa, sampai di pakai pancingan segala!” dengus Rapa memutar bola matanya.
Rapa pada akhirnya menyerah dan kembali melanjutkan langkah mendorong kursi roda sang istri menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. “Istri tunggu sebentar, Abang mau ambil dulu handuk di lemari.” Kecupan Rapa berikan di puncak kepala istrinya sebelum kemudian melangkah keluar dari kamar mandi, meninggalkan Cleona.
Air mata selalu akan menetes begitu Cleona tengah sendiri, karena bagaimanapun kesedihan itu dirinya rasakan. Cleona tidak bisa membohongi hatinya sendiri, bahwa ia merasakan perih mengingat kondisinya saat ini. Tapi ia tidak pernah ingin memperlihatkan itu di depan semua orang termasuk suami tercintanya. Cleona tidak ingin membuat orang-orang di sekitarnya khawatir. Jadi, Cleona memilih untuk memendamnya seorang diri.
Tak lama, Rapa kembali dengan handuk putih di tangannya yang kemudian ia gantungkan di balik pintu yang baru saja di tutupnya. Beruntung Cleona sudah berhasil menyeka air matanya dan senyum sudah kembali ia ukir sebelum Rapa menghampirinya kembali dan memangkunya untuk pindah dari kursi roda, lalu mendudukannya di closet duduk yang sudah di tutup.
“Mau pakai air dingin apa air hangat?” tanya Rapa begitu selesai melepaskan pakaian yang semula di kenakan istrinya.
“Air dingin aja, biar segar.” Rapa mengangguk dan menuruti sesuai keinginan istrinya.
__ADS_1
Kegiatan memandikan istrinya memang selalu Rapa lakukan sejak masih di rumah sakit dan berlanjut hingga sekarang, tidak ada sedikit pun rasa keberatan dari diri Rapa untuk merawat istrinya, membatu Cleona mandi, menggantikan pakaian, bahkan untuk setiap kali istrinya ingin ke toilet, Rapa selalu siap dan melakukannya dengan sabar.
Tidak ada kata lelah untuk apa pun yang dirinya lakukan untuk sang istri, tidak ada keluhan apa pun untuk kondisi istrinya saat ini karena cinta Rapa terhadap Cleona tidak menilai dari kekurangan maupun kelebihan yang istrinya miliki, melainkan dirinya memang tulus dan ingin menjadikan Cleona sebagai satu-satunya wanita yang akan menemaninya hingga maut datang menghampiri, walau dalam segala kekurangan yang dimiliki.
Begitu selesai melingkarkan handuk di tubuh istrinya, Rapa kembali menggendong Cleona menuju kamar dan mendudukannya di atas ranjang, setelah itu memakaikan piyama pada wanita cantik tercintanya.
“Terima kasih suami.” Cleona memberikan satu kecupan di pipi kanan suaminya itu.
“Gak perlu bilang makasih, sayang. Kamu itu istrinya Abang, tanggung jawab Abang, jadi apa pun akan Abang lakukan untuk kamu.” Senyum manis terukir di bibir Rapa, kemudian satu kecupan cukup lama, laki-laki itu berikan di kening istrinya. Hingga membuat air mata Cleona menetes tanpa di komando.
“Kok nangis?” Rapa menyeka sudut mata istrinya yang berair, saat dirinya menarik wajahnya menjauh dari kening Cleona.
“Queen bahagia, karena punya suami seperti Abang,” air mata Cleona kembali menetes. “Terima kasih sudah bersedia di repotkan oleh Queen, terima kasih sudah dengan sabar merawat Queen, terima kasih karena keikhlasan Abang dalam menerima kekurangan Queen, dan masih banyak lagi kata terima kasih yang ingin Queen sampaikan sama Abang ….”
Kecupan kembali Rapa daratkan, dan kali ini di kedua mata Cleona, wanita cantik kesayangannya. Ibu jari Rapa bergerak mengusap air mata yang sudah mengalir di pipi istrinya. “Tidak perlu berterima kasih untuk semua itu, sayang. Semua yang Abang lakukan, karena Abang mencintai kamu. Tidak ada wanita manapun yang sesempurna kamu di mata abang. Apa lagi kamu sudah melahirkan dua jagoan yang menggemaskan seperti Nathan dan Nathael.”
“Uhh, kenapa Abang sweet banget, sih!” gemas Cleona mencubit pipi tirus suaminya. “Buat Queen makin cinta."
“Suami siapa dulu dong?”
“Suaminya Queen.”
Keduanya kemudian tertawa, dan Rapa meraih istrinya itu ke dalam pelukan. “Ingat sayang, kamu jangan pernah merasa rendah diri dengan kondiri kamu saat ini, jangan pernah merasa terbebani, dan jangan pernah merasa diri kamu tidak sempurna, karena bagaimanapun keadaan kamu, Abang akan tetap mencintai kamu. Abang tidak akan pernah pergi dari sisi kamu dan Abang tidak akan pernah melepaskan kamu, meskipun kamu memintanya.”
__ADS_1