
Cleona terbangun begitu hari sudah malam, dan keadaan kamar pun masih dalam keadaan gelap membuktikan bahwa memang tidak ada orang yang berusaha membangunkan mereka. Mungkin keluarganya paham akan dirinya yang begitu lelah.
Menyingkirkan tangan kekar yang melingkar di perutnya, Cleona kemudian turun dari ranjang dan langsung menghampiri saklar agar keadaan gelap gulita ini menjadi terang, dan dengan cahaya itu nyatanya sukses membuat Rapa terbangun tanpa harus susah-susah Cleona membangunkan.
Membiarkan sang suami mengumpulkan semua kesadarannya, Cleona memilih untuk masuk ke kamar mandi yang masih berada di kamar luas itu untuk membersihkan tubuhnya yang sudah tak nyaman. Satu jam yang Cleona habiskan di kamar mandi membuat Rapa mengomel sepanjang waktu bahkan hingga mereka bergabung di ruang makan bersama yang lainnya.
Mulut laki-laki itu memang mengalahkan Cleona dan Clara jika mengomel, membuat Cleona semakin meragukan keaslian Rapa yang katanya anak dari ayah Pandu yang kalem dan irit bicara. Sementara Rapa sedang makan saja masih bisa mengomel.
Begitu selesai makan malam yang tak pernah sepi apa lagi dengan adanya Rapa dan papi Leo, semua yang semula duduk di ruang makan pindah menuju gazebo belakang dengan cemilan yang memang selalu tersedia di lemari melanjutkan obrolan yang kali ini membahas mengenai pernikahan Clara yang akan berlangsung 3 minggu lagi.
Sebagian memang sudah di urus, hanya tinggal undangan dan dekorasi, sementara gedung tentu saja sang papi yang tumben berbaik hati itu membiarkan satu ballroom hotelnya di gunakan untuk pesta perikahan anak dari sahabatnya.
Lyra yang tahu bagaimana pelitnya laki-laki tua kesepian itu sampai di buat tak percaya hingga rela menampar pipinya sendiri agar membuktikan bahwa apa yang di dengarnya bukan hanya sekedar mimpi belaka. Berlebihan memang, tapi untuk kelangkaan Leo tidak ada yang berlebihan menurut Lyra yang sudah mengenal laki-laki itu sejak masih sama-sama mengenakan popok. Bahkan mungkin sepertinya harus sujud syukur dengan kebaikan Leo yang jarang-jarang terjadi memberikan sebuah gratisan. Biasanya kan laki-laki itu yang selalu meminta gratisan.
“Mami sejak kapan disini?” semua yang duduk di gazebo itu langsung menoleh pada Laura yang baru saja bersuara, kening mereka mengerut, sementara Laura yang tak menyadari tatapan bingung semua orang tetap menatap lurus kedepannya.
“Ella,” panggil Cleona menepuk bahu adiknya pelan. “Kamu bicara sama siapa barusan?”
Laura dengan cepat menggeleng, gelagapan. “Gak bicara sama siapa-siapa kok kak,” jawabnya membuang pandangan.
“Jangan bohong! Kakak jelas-jelas dengar kamu bawa-bawa nama mami,” mata Cleona memicing, membuat Laura semakin gelagapan apa lagi saat di sadarinya bahwa semua mata tertuju padanya saat ini.
__ADS_1
“Gak kok kak, Ella cuma asal bicara aja tadi…”
“Ella!” panggilan bernada rendah sang papi membuat Laura menunduk dan sedikit menimbang sebelum kemudian keputusan ia ambil. Mungkin memang sudah saatnya keluarganya tahu.
“Tuh, mami di sini,” Laura menunjuk kearah depannya, lebih tepatnya pada sebuah bangku kayu depan air mancur buatan yang membuat taman semakin terlihat indah.
Semua orang perlahan menoleh kearah yang di tunjuk Laura hingga beberapa pekikan terdengar di susul dengan suara tangis Cleona yang meraung memanggil sang mami.
Di depan sana sosok cantik Luna duduk dan tersenyum. Hanya beberapa detik sebelum kemudian sosok itu kembali hilang.
“Barusan apa benar-benar mami?” tanya Leo yang menolak untuk percaya. Laura mengangguk. “Bukan hanya halusinasi papi aja kan?” kini Laura menggelengkan kepala, bersamaan dengan air mata yang menetes dari mata Leo.
“Sejak kecil.” Laura menjawab dengan singkat, menunduk tak berani menatap semua orang.
“Kenapa gak pernah bilang?” Leo yang kali ini bertanya, masih tidak menyangka dengan kenyataan yang baru di ketahuinya ini. Sudut hatinya jadi seakan tersentil karena merasa tak perhatian pada anak bungsunya itu, sampai hal sepenting ini saja tidak dirinya sadari.
“Priela gak mau di anggap aneh, Pi. Makanya selama ini Ella gak pernah ngasih tahu siapapun. Ella takut nanti papi atau yang lainnya malah masukin Ella ke rumah sakit jiwa karena menganggap gila dengan kemampuan Ella ini,”
Kemuampuannya melihat sosok-sosok astral itu memang tidak pernah Laura duga. Dulu sejak usianya baru beranjak 5 tahun, ia tiba-tiba bisa melihat apa yang tidak dapat orang lain lihat begitu dirinya bangun tidur ketika menginap di rumah kakek neneknya. Namun selama ini ia sembunyikan karena tidak ingin di anggap aneh oleh semua orang termasuk keluarganya sendiri. Beruntung karena selama kemampuannya itu hadir ia tidak melihat mahkluk-mahkluk aneh dan menyeramkan yang mungkin saja akan membuatnya shock bahkan gila karena ketakutan.
“Dangkal bengat pikiran lo, Dek!” Rapa menyentil pelan kening adik iparnya itu. “Harusnya lo bilang, bagaimana pun juga keluarga berhak tahu. Lo gak bisa menyimpan beban sebesar itu sediri, La …”
__ADS_1
“Tapi, Ella gak terbebani kok, Bang. Yang Ella lihat gak ada yang nyeremin, mereka semua baik dan Ella juga jadi bisa lihat mami.” Potong Laura cepat.
“Jadi itu alasannya,” Clara mengangguk-anggukan kepalanya. “Pantesan beberapa kali kakak lihat kamu ngobrol sendiri di taman belakang atau kamarnya abang.”
Laura menggaruk tengkuknya salah tingkah. Sementara Rapa langsung menoleh dan menaikan sebelah alisnya meminta penjelasan.
“Teman-temen Ella betahnya di kamar abang, jadi …”
“What! Kamar abang?” Rapa memebelalakan matanya. “Kenapa gue jadi merinding gini? Suruh pergi Dek, abang gak mau tahu pokoknya. Serem gila ada yang begituan di kamar gue,” bergidik takut, Rapa bersembunyi di pelukan sang istri.
Leo yang melihat itu langsung melayangkan geplakan cukup keras di punggung menantunya. “Modus banget lo bocah!” dengus Leo menarik Rapa yang menenggelamkan wajahnya di dada Cleona.
Wajah kesal Rapa membuat semua orang yang ada di sana tertawa begitu juga dengan Cleona yang tadi menangis karena melihat sosok sang mami yang amat di rindukannya. Menoleh ke arah adiknya, Cleona kemudian memeluk Laura. “Maafin kak Queen, karena sudah menjadi kakak yang tidak perhatian, maaf karena kamu harus memendam ini sendirian. Kakak tahu itu pasti berat banget untuk kamu, maafin kakak, La, maaf.”
Tangis Cleona kembali pecah. Laura menggelengkan kepala dan membalas pelukan kakaknya itu. “Kak Queen udah lebih dari cukup untuk menjadi kakak yang baik untuk Priela, gak perlu minta maaf kak, lagi pula Ella menyukai kelebihan Ella ini,” Laura mengurai pelukannya dengan sang kakak, kemudian membantu menghapur air mata yang sudah membasahi pipi berisi kakaknya itu. “Udah nikah, kak Queen masih aja cengeng. Pantesan mami selalu khawatirin kakak dari pada Ella,” ucapnya terkekeh geli. Sementara Cloena meringis kecil merasa bersalah, karena selama ini memang dirinya yang selalu lebih banyak mendapatkan perhatian orang tuanya.
“Maafin kakak yang sudah mencuri perhatian mami papi dari kamu, La …”
“Suttt, kakak gak usah merasa bersalah. Papi sama mami gak menelantarkan Ella kok, Kak. Kasih sayang yang Ella dapat dari papi dan mami cukup, kakak gak perlu khawatir.”
Sekali lagi Cleona memeluk tubuh adiknya dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Bersyukur memiliki adik seperti Laura yang dewasa di usianya yang masih remaja ini.
__ADS_1