
Lyra dan Pandu benar-benar di sibukkan dengan persiapan pernikahan kedua anaknya yang hanya berselang satu bulan. Seharusnya untuk pernikahan Rapa memang di serahkan pada pihak Cleona. Namun berhubung gadis itu tidak lagi memiliki ibu, maka Lyra lah yang turun tangan dengan di bantu oleh Devi dan Amel, serta Melinda juga Linda, dua wanita yang sudah menginjak usia lanjut itu nyatanya masih memiliki semangat yang luar biasa dalam mempersiapkan semua keinginan Rapa yang meminta pernikahan di langsungkan di pantai Bali.
Keinginannya itu sempat mendapat protesan dari Pandu dan Leo, karena jaraknya terlalu jauh. Namun jika Leon dan Wisnu sudah setuju maka protesan kedua ayah itu tidak lagi berguna, karena nyatanya para kakek-lah yang lebih berkuasa.
Protesan itu tidak hanya di berikan oleh kedua ayah saja, karena Dava, yang tak lain adalah sahabat Rapa pun melayangkan protesan keras, meskipun pada akhirnya menghela napas pasrah. Salah dirinya juga memang karena sudah menawarkan taruhan konyol saat itu, yang mana dirinya harus membiayai pesta pernikahan Rapa dan Cleona. Penyesalan memang selalu hadir di akhir.
Padahal saat itu Dava sempat mengira bahwa Rapa dan yang lainnya sudah melupakan soal perjanjian mereka, tapi sialnya Chiko malah mengingatkan semua itu, dan membuat Dava akhirnya terpaksa mengangguk untuk memenuhi janjinya.
“Kenapa lo milih nikah di Bali sih, Rap?” tanya Nino saat Rapa dan Cleona datang ke kantor WO kakak dari laki-laki bergingsul manis itu.
“Gue pengen bikin pesta pernikahan di pinggir pantai, No,” jawab Rapa.
“Pantai di Indonesia juga banyak,” delik Nino.
“Bali juga masih bagian Indonesia, kalau lo lupa!”
“Ck, maksud gue yang dekat.”
“Yang dekat udah banyak tercemar sampah, kecuali kalau lo bersedia pungutin dulu, gimana?” Rapa menaik turunkan alisnya.
“Dih, ogah!”
“Di Bali biar bisa sekalian honeymoon, No, gue 'kan mau bikin banyak anak,” ucap Rapa dengan tidak tahu malunya. Dan ucapan vulgar itu tentu saja membuat Cleona yang tengah berdiskusi mengenai dekoran bersama Nina menundukan kepalanya malu.
__ADS_1
“Yang bentar lagi mau nikah emang beda pikirannya,” Nino menggelengkan kepala.
“Bilang aja lo sirik, Dek!” cibir Nina terkekeh pelan.
“Berisik lo Mbak! Lo juga jangan ngurusin nikahan orang mulu sampai lupa ngurusin nikahan lo sendiri.” Balas Nino mencibir sang kakak, yang membuat Nina mendengus kesal, sedangkan Rapa dan Cleona hanya terkekeh geli.
“Ya udah Mbak, kalau begitu aku pulang dulu, nanti kita berangkat sama-sama ke Balinya,” kata Cleona menyudahi diskusi mereka.
Nina mengangguk, kemudian menjabat tangan Cleona. “Terima kasih sudah mempercayakan nikahan kalian pada WO kami, Mbak akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian.”
“Jangan yang mahal-mahal, Mbak itu semua gue yang bayar soalnya,” celetuk Dava yang sejak tadi fokus pada ponselnya.
“Mbak percaya sama lo, Dav, untuk anak sultan kayak lo mah, biaya nikahan mereka belum seberapa,” kata Nina menepuk-nepuk pundak sahabat dari adiknya itu
“Gue terpaksa, Cle, kalau bukan karena janji, gue juga ogah biayain nikahan lo. Padahal saat itu gue udah bayangin keliling Eropa gratis,” ucap Dava dengan lesu. "Coba aja lo baliknya tahun depan, Cle, gue gak akan kebobolan gini!” lanjutnya mendengus pelan.
“Gimana dong, Kak abis gue udah gak kuat nahan rindu. Dan mungkin ini memang rezeki gue sana Bang Rapa untuk nikah gratis,” ujar Cleona.
“Ya udah lah, hitung-hitung amal sama orang yang tidak mampu, gue ikhlas, Cle.” Semua yang ada di sana tertawa, menyaksikan wajah nelangsa Dava.
Selesai urusan dengan WO, Rapa membawa tunangannya menuju toko perhiasan yang berada di sebuah mall besar di kotanya. Dan sebagai wanita, mata Cleona tentu saja berkilau melihat deretan perhiasan indah dan mahal itu, apalagi belanja memanglah hobinya sejak kecil. Maka berada di toko perhiasan ini, Cleona seakan lupa diri sampai Rapa ia abaikan karena saking fokusnya mencari cincin untuk pernikahan mereka.
Puluhan cincin Cleona coba sampai menemukan satu cincin yang membuatnya jatuh cinta dan segera menarik Rapa untuk ikut mencoba sebelum kemudian meminta si pelayan toko untuk membungkusnya.
__ADS_1
“Bang, Queen pengen gelang itu boleh gak?” tanya Cleona menunjukan sebuah gelang berdesain menyerupai angsa yang berada di dalam etalase.
Rapa menyampirkan anak-anak rambut Cleona yang jatuh menutupi wajah cantiknya. “Apapun yang Queen mau, ambil selama itu Queen suka dan bermanfaat,” katanya dengan lembut dan senyum tampan yang membuat Cleona selalu jatuh cinta.
“Tapi abang gak akan ngomel 'kan di rumah nanti gara-gara Queen ngabisin banyak uang abang?” tanya Cleona cemas.
“Abang bukan Papi yang selalu perhitungan dan memegang teguh penghematan. Jadi, Queen gak perlu khawatir.”
“Aaa ... terima kasih abang sayang,”
“Apapun untukmu sayang.”
Setelah selesai di toko perhiasan, Cleona dan Rapa melanjutkan kembali langkahnya, yang semula berencana untuk ke percetakan undangan malah belok kebeberapa toko pakaian, tas dan sepatu juga kosmetik. Siapa lagi dalangnya jika bukan Cleona Queenisa, anak kesayangan papi Leo yang tak lain adalah calon istri idaman Rapa Pratama Dhikra sejak perempuan cantik itu baru saja keluar dari perut maminya.
Sudah bisa di tebak bukan bagaimana gilanya Cleona begitu datang ke mall? Sejak kecil saja dia sudah mampu menghabiskan uang banyak jadi, bisa di tebak bagaimana dengan Cleona dewasa yang sudah semakin pintar mengenal fashion? Rapa rasanya ingin sekali kabur sekarang juga, bukan hanya kesal dan lelahnya karena terus mengekor perempuan cantik itu masuk keluar dari satu toko ke toko lain, tapi juga ia harus rela kebobolan karena banyaknya uang yang dirinya keluarkan untuk membayar semua belanjaan Cleona. Seketika Rapa menyesal karena sudah mengatakan bahwa gadis itu boleh membeli apa saja yang calon istrinya inginkan.
“Kayaknya gue harus beli rumah di perkampungan deh, biar jauh dari mall dan bikin bini gue gak bisa belanja seperti ini.” Pikir hati Rapa mendesah pasrah.
“Bang, makan yuk, Queen lapar,” ucapnya dengan manja. Rapa menghela napas lega, karena ternyata calon istrinya itu berhenti juga menjelajahi toko. Sejak tadi perutnya benar-benar keroncongan sementara Cleona tidak sama sekali bisa di hentikan berbelanja, jika bukan dia sendiri yang menghentikannya.
“Sampe rumah kayaknya gue harus langsung cek kartu kredit nih,” bisik hati Rapa saat melihat kantong belanjaan milik Cleona yang berada di kedua tangannya juga tengan gadis itu. “Semoga aja gue gak pingsan, nanti.”
__ADS_1