
“Kamu tahu sebahagia apa Abang karena sudah bisa kembali melihatmu dan memilikimu?” tanya Rapa saat mereka berdua berada di taman belakang rumah Lyra-Pandu. Taman yang sejak kecil menjadi tempat favorit mereka.
“Queen tahu abang, karena itu pun ikut Queen rasakan,” Cleona tersenyum lembut yang selalu sukses membuat Rapa jatuh cinta.
“Queen mau janji 'kan sama abang? Janji untuk tidak lagi meninggalkan abang.”
Cleona tentu saja mengangguk, karena bagaimana pun kepergiannya dulu tidak hanya Rapa saja yang tersiksa, ia sendiri pun sama tersiksanya. Kepergiannya sempat ia sesali. Namun rasa tidak siap akan kembali terluka membuat Cleona akhirnya bertahan untuk berjauhan, itu pun untuk sekaligus menguji cintanya terhadap Rapa.
Setiap saat Cleona selalu meyakinkan diri bahwa ia bisa tanpa Rapa, tapi sayang, setiap kali ia berusaha mencoba melupakan malah membuatnya semakin terluka. Sejak itu lah Cleona berpikir untuk segera kembali, karena cintanya dengan Rapa bukan untuk saling menyakiti, melainkan untuk saling memberi kebahagiaan.
“Maafin Queen ya, Bang, Maaf sempat meninggalkan abang begitu lamanya. Tapi, yang harus abang tahu, cinta ini tidak pernah hilang untuk abang.” Cleona mengucapkan itu dengan serius dan sorot mata yang seakan berbicara yang sesungguhnya.
“Abang percaya sayang,” kata Rapa dengan senyum memikat dan tatapan cinta yang membuat Cleona tidak pernah ingin berpaling.
“Aish, malas gue lihat lo bedua mersa-mesraan mulu. Bikin mual!” Clara yang berdiri tak jauh dari posisi Rapa-Cleona berekspresi seakan mau muntah.
“Sirik lo, Tu? Makanya balikan lagi sama cowok lo, masih cinta kok malah di putusin!” Rapa menggelengkan kepala dengan mendramatisir, sementara Clara mendengus kesal dan pergi dengan kaki yang di hentak.
“Punya abang nyebelinnya kebangetan. Udah tahu gue gak bisa move on, malah di ingetin mulu!” gerutunya kesal seraya menaiki tangga menuju kamarnya.
“Aish, kenapa jadi tiba-tiba kangen gini sama itu cowok?!” Clara menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, membuang napasnya kasar lalu meraih ponselnya dan mengotak atiknya random. Segala macam sosial media yang dimilikinya ia buka, sebelum kemudian kembali ke menu awal begitu tidak ada hal menarik dari semua itu, yang membuatnya semakin bosan.
“Kalau dia ada nelpon gue dalam satu jam terakhir ini, gue janji akan ngajak dia balikan. Bodo amat dengan gengsi dan har...”
Drettt... drettt... drettt...
__ADS_1
“Jir, baru aja di omongin!” jerit Clara terkejut mendengar suara dering dari ponselnya.
“Aaaa! Bunda kenapa adek jadi bingung gini? Ini juga jantung kenapa detaknya gak manusiawi? Masa iya gue harus benar-benar ngajak dia balikan? Malu astaga, muka cantik gue mau ditaro dimana!”
Clara menenggelamkan wajahnya di lipatan bantal. Memukul-mukulkan tangannya pada kasur, kemudian menoleh pada ponsel yang masih berdering dengan layar berkedip-kedip menampilkan nama Birma yang masih memiliki lambang ‘Love’ di ponselnya, begitu juga di hatinya.
Clara mengubah posisinya menjadi duduk, memperhatikan layar ponsel dan menimbang-nimbang antara mengangkat atau mengabaikannya. Namun setelah berpikir untuk beberapa saat, akhirnya...
“Hallo,”
“Ke mana aja? Lama banget ngangkatnya,”
“Sorry, gue tadi mikir dulu mau ngangkat telepon lo,” Clara mengatakan dengan jujur, akan apa yang dilakukannya sejak tadi.
“Kenapa? Apa saking gak inginnya lo...”
Ucapan polos Clara barusan sukses membuat Birma yang berada di seberang telepon sana terdiam karena terlalu terkejut, semantara Clara sendiri tengah menunggu respons dari Birma dengan harap-harap cemas.
Beberapa menit tidak ada juga balasan, membuat Clara mendesah kecewa. “Bir, gue salah bicara ya?” untuk kedua kalinya Clara mengeluarkan desahan kecewa dan wajahnya berubah murung. Padahal ia sudah mengenyahkan rasa malunya untuk mengatakan itu. “Birma, lo masih hidup kan?”
“Gue di depan rumah lo, Cla.”
Clara terpekik kaget saat mendengar ucapan Birma barusan. Melompat dengan cepat dari ranjangnya, Clara lalu berlari menuju jendela. Dan benar saja, laki-laki tampan itu berdiri di seberang jalan rumahnya. Baru pertama kali ini ia benar-benar merasa malu dengan tingkah dan ucapannya sendiri.
“Yak, Birma sialan, kenapa tiba-tiba ada disana? Malu gue, jir!”
__ADS_1
Suara kekehan geli dapat Clara dengar, dan itu membuatnya segera menutup gorden dan juga mematikan sambungan telepon, kemudian berlari menuju kamar mandi.
Selama mandi, Clara tidak hentinya merutuki diri yang malu luar biasa, dan bingung untuk bersikap bagaimana pada Birma setelah ini.
“Dek, Birma nunggu di bawah, nih!” suara teriakan dari luar kamarnya dapat Clara dengar dengan jelas.
“Suruh pulang aja, Bun!” seru Clara berteriak pula.
“Gak boleh gitu, Ratu! Bunda gak pernah ya, ajari kamu gak sopan gitu sama orang. Cepat keluar dan temui Birma!” titah tegas sang bunda tentu saja tidak berani Clara bantah, dan mau tidak mau, setelah selesai berpakaian dan mengeringkan rambutnya, Clara keluar dari kamar untuk menemui Birma yang berada di ruang tamu bersama Cleona dan Rapa tengah mengobrol.
“Lama amat lo, Dek!” kata Rapa mencibir.
“Tau lo, untung aja Birma bersedia nunggu. Coba kalau enggak? Patah hati lo yang ada.” Cleona ikut mencibir.
“Berisik lo berdua, pergi sana!” kesal Clara mengusir.
Birma hanya terkekeh geli menyaksikan itu. Merasa lucu melihat wajah kesal bercampur malu mantan kekasihnya. Sebenarnya Birma merasa enggan menyebut Clara sebagai mantan, karena bagaimana pun status itu tidak ingin dirinya sandang.
Namun apa daya, Clara memang benar-benar mengakhiri hubungan mereka empat tahun yang lalu dengan alasan konyol, karena tidak ingin mengabaikannya di saat gadis itu sibuk menyesali diri atas kesalahpahaman antara dia dan Cleona tempo hari. Birma padahal sudah mengatakan bahwa dirinya tidak keberatan dan menawarkan diri untuk membantu mencari keberadaan Cleona, tapi Clara tetaplah gadis keras kepala yang keinginannya tidak bisa di bantah.
Hingga pada akhirnya, Birma mengalah dan membiarkan gadis itu untuk menenangkan hati dan pikirannya. Namun tidak pernah sekali pun Birma menganggap hubungannya dengan Clara berakhir. Bahkan ia tidak lupa untuk mengirimkan pesan singkat atau menelponnya, meskipun Clara jarang sekali merespons.
Hari ini adalah hari yang tidak pernah Birma sangka. Clara yang mengajaknya balikan tentu saja membuat ia terkejut, sampai membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Dan Birma tentu saja bahagia, karena memang itu yang dirinya inginkan, dan itu juga lah yang menjadi tujuan utamanya datang menghampiri perempuan itu.
“Lo ngapian ke sini?”
__ADS_1
Ucapan bernada jutek itu mengingatkan Birma pada masa dimana ia awal mendekati Clara. Jika saat awal terkesan judes dan sombong, tapi kini justru terkesan malu-malu, terlihat lucu di matanya. Birma gemas dan ingin sekali mencubit pipi tembam itu seperti dulu.
“Mau ngajak balikan."