Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
62. Sabar


__ADS_3

Cleona sudah rapi dengan midi dress berbahan chiffon berwarna putih dengan corak bunga lembut membuat Cleona terlihat segar dan cantik. Siang ini, ia akan mengunjungi Rapa di kantornya, makan siang bersama lalu setelah itu pergi menuju percetakan undangan sebelum dua hari kemudian Cleona beserta keluarganya yang lain berangkat ke Bali, meninggalkan Rapa dan para ayah yang memang harus tetap menjalankan pekerjaan.


Menenteng tas dan lunchbox, Cleona keluar dari rumahnya karena taxi online yang di pesannya lewat aplikasi sudah berada di depan rumah. Setelah menitip pesan pada pak satpam, Cleona masuk ke dalam taxi online yang akan mengantarnya menuju kantor Rapa. Untuk pertama kalinya, sejak berusia 10 tahun dulu, Cleona kembali menginjakan kakinya di perusahaan milik Grandpa Leon.


Cleona melangkah anggun masuk ke dalam gedung pencakar langit itu, menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan ruangan Rapa berada.


“Maaf Mbak apa sudah buat janji sebelumnya?” tanya wanita cantik berusia sekitar 25 tahun itu dengan ramah.


Cleona menggaruk tengkuknya, kemudian memberikan cengirannya sebelum menggelengkan kepala. “Emang harus buat janji dulu ya?”


Perempuan ber-name tag Raisa itu mengangguk kecil lalu tersenyum ramah. “Kalau boleh tahu, atas nama siapa? Biar saya hubungi sekertaris Pak Rapa,”


“Bilang aja, Queen sudah datang,” kata Cleona pada resepsionis itu yang di balas dengan anggukan, lalu segera meraih gagang teleponnya. Cleona sendiri sibuk menatap sekeliling yang terlihat cukup ramai di jam 11.35 siang ini.


“Mbak di minta naik ke lantai 25, nanti akan ada sekertaris Pak Rapa yang menunggu,” kata wanita cantik bernama Raisa itu, yang kemudian Cleona angguki dan tidak lupa ia mengucapkan terima kasih sebelum berlalu menuju lift yang akan mengantarnya menuju ruangan Rapa.


Tadinya Cleona mengira bahwa akan ada drama menyebalkan dulu dimana si resepsionis yang akan memandang dirinya rendah dan mecibirnya sebagai wanita penggoda bos mereka, tapi ternyata itu tidak terjadi. Cleona jadi ingin tertawa sendiri dengan pikiran konyolnya itu.


“Dengan Ibu Cleona Queenisa?” tanya seorang laki-laki tampan berusia sekitar tiga puluhan menyapa di depan lift, yang di jawab anggukan oleh Cleona. “Mari ikut saya, Bapak meminta ibu untuk munggu di ruangannya sebentar.”


“Emang, Bang Rapa ke mana?”


“Bapak sedang ada di ruang meeting, sebentar lagi selesai.” Cleona menganggukkan kepala mengerti dengan apa yang di katakan laki-laki itu, kemudian masuk ke dalam ruangan Rapa yang luas dan nyaman dengan nuansa abu-hitam ini, lalu duduk di sofa hitam yang berada di tengah ruangan.


“Jika ibu...”

__ADS_1


“Jangan panggil ibu please, saya masih muda,” protes Cleona dengan wajah cemberut dan juga geli.


“Ta...”


“Panggil Cleona aja, oke!” lagi-lagi Cleona memotong ucapan sekertaris Rapa.


“Hm, baik lah Cleona,” pasrahnya. “Jika perlu sesuatu kasih tahu saya." Lanjutnya sebelum kemudian undur diri kembali keruangannya.


“Gue kira sekertarisnya Si Abang cewek seksi dan menggoda,” Cleona terkekeh kecil dengan pemikirannya yang sejak dalam perjalanan membuatnya cemas dan sudah menyiapkan diri untuk mengomeli calon suaminya itu. “Gara-gara kebanyakan baca novel deh kayaknya, otak gue jadi eror kayak gini.”


Setelah menunggu selama lebih dari tiga puluh menit, seseorang yang di tunggu akhirnya datang menampakan diri dengan wajah lesu yang tidak bisa di sembunyikan walau senyum tampan terukir dengan sempurna.


“Kamu pasti nunggu lama, ya,” kata Rapa meringis menyesal.


“Abang gak masalah nunggu meski seumur hidup sekali pun selama itu kamu yang jadi alasannya.” Ujar Rapa, melangkah mendekat ke arah sofa yang di duduki calon istrinya.


“Aaa ... adek baper, Bang.”


Ucapan dengan nada menyebalkan dari arah pintu ruangan Rapa membuat si pemilik menoleh dan mendengus kesal begitu melihat siapa yang berani mengganggu moment romantisnya. Leo berdiri dengan tampannya di ambang pintu, melipat tangan di dada seraya bersandar pada kusen pintu, menatap Rapa dengan geli.


“Pengganggu datang.” Rapa bergumam dalam hati.


“Aish, papi ngapain disini, sih!” Rapa menghentakan kakinya kesal, terlihat seperti anak kecil yang tengah merajuk, membuat Cleona geli, karena merasa tidak cocok Rapa berlaku seperti itu dalam setelan kantor yang formal dan berwibawa.


“Mau nemenin anak gue, biar gak lo apa-apain,” kata Leo melenggang masuk dan duduk di samping putrinya, melewati Rapa yang bertambah kesal.

__ADS_1


“Untung calon mertua, coba kalau bukan ...!”


“Jangan main cium-cium Queen, Pi. Ingat dia calon istri abang!” ujar Rapa begitu melihat kening calon istrinya di kecup Leo.


Satu delikan Leo berikan, dan menarik Cleona yang tengah menyajikan makan siang ke dalam pelukannya. “Heh, lo harus ingat, ini anak gue. Baru jadi calon suaminya aja udah larang-larang gue. Mau lo, gue cabut restunya?”


“Jangan!” panik Rapa menyusul duduk berhadapan dengan sepasang ayah dan anak itu. “Jangan tega gitu, Pi. Kalau papi cabut restunya, bukan hanya abang yang galau, tapi juga Queen. Papi 'kan tahu bahagianya Queen cuma sama abang.” Rapa berujar bangga, senyumnya terukir, sementara Leo hanya mencebikan bibirnya.


“Cih, percaya diri sekali anda. Waktu di Singapura, Queen bahagia kok tanpa lo. Apalagi Si Alvin selalu ada jengukin.” Leo menyunggingkan senyum kemenangannya, begitu melihat wajah keruh Rapa.


“Papi ngajak ribut?!” tanya Rapa dengan delikan tak suka.


“Gak. Papi mau ngajak makan, lapar.” Leo terkekeh geli dan segera memalingkan muka dari wajah kesal Rapa. Perutnya sudah berbunyi dan makanan yang sudah sang putri tercinta sajikan cukup membuat perutnya semakin terguncang untuk segera pelahapnya.


“Makan, Bang. Jangan lihat Papi terus, Papi tahu Papi ganteng, tapi meskipun sudah jadi duda dan kesepian Papi gak akan sampai belok dan naksir kamu,” kata Leo yang mulai melahap makanannya.


“Papi senang banget sih godain Bang Rapa, dia ngambek ribet kita nanti.” Cleona berkata di sisa-sisa kekehannya.


“Abis calon suami kamu itu bullyable, cemburuan pula! Bikin papi gemas dan pengen banget lempar dia ke laut, biar jadi makanan ikan teri.”


“Kenapa ikan teri?” tanya Cleona yang kembali melanjutkan tawanya, sepasang anak dan ayah itu berlaku seolah hanya mereka berdua yang berada di sana, sementara Rapa yang wajahnya makin keruh tidak sama sekali mereka anggap ada. Menyebalkan!


“Karena ikan hiu gak suka dia.” Ujar Rapa di akhiri dengan tawa yang begitu puas.


“Sabar Rap, sabar. Ngehujat orang tua nanti lo kualat.” Rapa berulang kali mengucapkan itu seraya mengelus-ngelus dadanya, sementara Leo dan Cleona semakin melebarkan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2