Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
137. Permintaan Laura


__ADS_3

Begitu sarapan selesai di langsungkan, para orang tua sudah pergi menjenguk orang tua Leo yang saat ini ada di rumah sakit. Cleona bukannya tidak ingin ikut menjenguk sang nenek, tapi Leo melarang, mengingat kondisinya yang seperti ini, jadilah Cleona pada akhirnya pasrah menunggu di rumah, di temani oleh Laura dan Rapa, serta kedua anaknya.


“Kamu kapan pulangnya sih, La, kok kamu tiba-tiba udah ada di sini aja?” tanya Cleoan dengan kening mengerut, pasalnya begitu sang papi datang untuk sarapan adiknya itu juga mengekor dengan cengiran yang di tampilkannya.


“Jam 3 pagi aku baru sampai, Kak.” Jawab Laura tanpa menoleh sedikit pun pada kakanya itu. “Tapi nanti sore udah harus berangkat lagi, karena kuliah Ella gak bisa di tinggalin.”


“Terus kenapa pulang?”


“Emang Ella gak boleh pulang? Lihat keadaan kan Queen?” balik Laura bertanya.


Menghela napasnya pelan, Cleona kemudian menatap sang adik. “Bukan gak boleh pulang, tapi kan kamu juga bukan lagi liburan, di sana kamu sekolah. Kalau pulang pergi begitu waktu kamu untuk istirahat malah terganggu, lagi pula kan hampir setiap malam abang, papi dan yang lainnya video call kamu, lagi pula kakak juga setiap hari laporin kondisi kakak. Kamu gak perlu khawatir, kakak baik-baik aja.”


“Ya tetap aja, Ella juga kan pengen lihat langsung.”


“Ya udah lah istri, lagi pula sekarang Ella udah ada di sini, mau digimanain lagi? Masa ia kita usir.” Rapa melerai keduanya. Laura yang merasa mendapat pembelaan mengunggingkan senyumnya, kemudian melayangkan kecupan pada pipi Cleona yang cemberut.


“Masalahnya bukan aku gak mau dia pulang, tapi kan pulang pergi Singapura-Indonesia itu membutuhkan ongkos yang gak sedikit, Bang.”

__ADS_1


Memutar bola matanya malas, Laura kemudian berucap, “please deh kakakku yang cantik, uang papi banyak, kalau bukan Ella yang ngabisin, siapa lagi? Kakak kan lebih suka abisin uang abang.”


Acungan jempol, Rapa berikan tanda persetujuan dengan apa yang di katakan adik iparnya. Rapa memang senang kalau papinya yang menjunjung tinggi kehematan itu bangkrut oleh anaknya sendiri. Meskipun perhitungan, Leo tidak akan pernah membiarkan anaknya kekurangan, tentu saja.


Dan harapan Rapa untuk membuat sang mertua bangkrut adalah adik iparnya, karena Cleona tidak dirinya izinkan untuk meminta uang pada sang papi. Istrinya adalah tanggung jawabnya, di tambah Rapa tak ingin terus mendapat sindiran dari laki-laki tua kesepian itu, seperti beberapa waktu lalu, Cleona meminta di belikan ponsel baru pada Rapa dan tidak Rapa turuti karena merasa bahwa ponsel milik istrinya itu masih layak di pakai.


Namun sang mertua malah menganggapnya tidak mampu, dan berakhir dia lah yang membelikan ponsel itu untuk Cleona. Sejak itu lah sindiran mertuanya layangkan untuk menyerangnya. Beruntung Rapa sayang pada pria tua itu, jika tidak, mungkin saat ini hanya tinggal nama dan kenangan saja dari seorang Leo Aryatama.


“Tapi sekarang kakak udah gak bisa ngabisin uang abang lagi,” ucapnya sedih, menatap kakinya yang masih lemah untuk di gerakan.


Laura duduk di samping kakaknya itu, memeluk erat tubuh Cleona. Karena Laura tahu bagaimana sedihnya kakak satu-satunya itu, bahkan sejak kecelakaan itu terjadi, Laura sempat di datangi oleh kakaknya lewat mimpi. Dan di mimpi itu Cleona datang bersama sang mami. Menambah ke takutan dan kekhawatiran Laura yang dengan cepat bangun dan menghubungi orang rumah.


“Nanti kakak pasti sembuh kok, percaya saja sama Tuhan, dan jangan pernah berhenti untuk berusaha. Nanti kalau kakak udah bisa jalan lagi, Ella akan bantu kakak buat habisin uang abang, sekalian nanti Ella ajak Kak Queen belanja ke Paris, di mana pusat perbelanjaan terbesar dengan harga selangit .”


Mata Cleona berbinar mendengar itu, tentu saja sebagai si gila belanja, Cleona begitu menginginkan pergi ke negara dimana gudangnya fashion berada, untuk sekedar menikmati brand-brand ternama yang terkenal di seluruh dunia.


Sedangkan mata Rapa sudah melotot tajam pada adik iparnya, tidak senang bocah remaja yang tengah bertransformasi jadi dewasa itu mengajak istrinya ke sana hanya untuk berbelanja. Rapa tidak sebaik itu untuk membiarkan istrinya menghabiskan uangnya demi hal-hal yang hanya memuaskan mata dan menguras dompet serta rekening. Tidak, Rapa tidak akan membiarkn itu terjadi.

__ADS_1


“No, pokoknya nasib tabungan gue harus terselamatkan.” Bisik Rapa dalam hatinya.


Laura yang melihat wajah pucat kakak iparnya tertawa begitu puas, begitu pun dengan Cleona. Kemudian kakak beradik itu melakukan tos


🌷🌷🌷


Pukul 15.30 Rapa dan Laura sudah berada di perjalanan menuju bandara, sementara Cleona dan kedua bocah kesayangan semua keluarga sudah aman bersama Lyra dan Pandu yang baru pulang dari rumah sakit.


“Bang, masih ingat ucapan Ella?” tanya Laura tiba-tiba begitu mobil yang di tumpanginya berhenti di lampu merah.


Rapa mengernyitkan kening, menoleh pada sang adik ipar dengan bingung. “Ucapan yang mana?”


“Apapun yang akan terjadi nanti, Ella harap Abang masih bersedia berada di samping Kak Queen.” Laura mengulang kata-katanya yang dulu pernah dirinya ucapkan.


Rapa terdiam dan berusaha mengingat, sampai akhirnya Rapa kembali menatap adik iparnya. “Apa mungkin yang kamu maksud waktu itu adalah ini?” tanya Rapa saat ingat dengat kata-kata yang pernah sempat menjadi pertanyaan dalam hati dan pikirannya.


“Ella waktu itu gak tahu apa yang akan terjadi, hanya saja sejak lama firasat Ella kuat mengenai sesuatu yang akan menimpa. Tidak menyangkan bahwa kejadian ini akan di alami Kak Queen,” Laura menarik napasnya dalam kemudian kembali menghembuskannya. “Abang, Ella sayang sama Kak Queen, karena Kak Queen adalah pengganti mami setelah beliau pergi. Tolong, Ella mohon untuk abang tidak pernah meninggalkan kakak dalam keadaan apapun. Jangan biarkan kesedihan mendalam kembali Kak Queen rasakan, Ella gak tega, dan Ella gak mau sampai itu terjadi lagi. Maka dari itu, Ella benar-benar mohon agar abang selalu sabar menghadapi kemanjaan dan mungkin tinggal menyebalkan kakak yang lainnya.” Laura menyeka air matanya yang menetes tanpa di komado.

__ADS_1


“La, tanpa kamu minta pun abang akan terus menjaga kakak kamu. Tanpa kamu minta pun, abang akan tetap berada di samping Kak Queen, karena mencintai dia sudah menjadi kebutuhan abang dan membahagiakan serta melindunginya sudah menjadi tanggung jawab abang, jadi Ella gak perlu khawatir, karena abang akan berusaha untuk tidak mengecewakan kalian semua, termasuk kamu dan Kak Queen.”


“Ella percaya sama abang.”


__ADS_2