
Pukul sembilan malam, Clara dan Birma baru saja pulang dari kediaman ayah dan bundanya, menghabiskan waktu dengan mengobrol dan menyaksikan kekonyolan ketiga orang tua yang selalu membuatnya tertawa, mengalihkan sejenak pikirannya meskipun setalah itu ia harus kembali berpura-pura baik-baik saja di depan suaminya.
Sebenarnya, keluarga Birma benar-benar baik, penyayang juga sosok yang hangat dan lembut. Clara senang berada di tengah-tengah mereka, hanya saja sejak kata cucu sering kali di bahas, sejak itu lah Clara mulai tak nyaman. Apa lagi jika sang eyang berkunjung, maka Clara harus tahan diri setiap kali di jejali jamu penyubur kandungan yang katanya, ampuh mempercepat kehamilan.
Andai yang di hadapinya bukan orang tua, sudah dapat di pastikan mulut tajamnya akan Clara keluarkan. Tapi sayang kenyataan tidak lah sebaik itu, dan Clara harus rela menjadi anak manis dengan tidak mengeluarkan umpatan.
“Bir, pembangunan rumah kita udah sampai mana?” Clara bertanya begitu suaminya baru saja ikut bergabung di atas ranjang.
“Besok kita cek, ya,” kata Birma dengan senyum manisnya yang selalu membuat Clara jatuh cinta. “Kenapa? Udah gak betah tinggal di sini?” lanjutnya bertanya, seraya merapikan anak rambut yang menghalangi pipi berisi Clara.
“Aku betah kok di sini,” Clara tak bohong, karena jika di tanya betah atau tidak, Clara memang betah, hanya saja merasa kurang nyaman akhir-akhir ini. “Aku gak sabar aja tinggal di rumah baru yang isinya cuma kita berdua. Ngurusin keperluan kamu, masakin buat kamu, bagi-bagi tugas beresin rumah …”
“Sabar ya, sayang. Aku pastikan secepatnya kita akan segera pindah,” Birma memotong cepat ucapan istrinya, kemudian memberikan satu kecupan dalam pada kening Clara, dan memeluk tubuh ramping itu dengan erat. Sejujurnya Birma tahu alasan sang istri yang sesungguhnya, hanya saja Birma tidak ingin membahas itu, yang besar kemungkinan malah akan semakin membuat Clara terbebani.
Bukan hanya Clara yang mendapatkan pertanyaan itu, karena Birma pun selalu mendapatkannya, apa lagi sang eyang yang terus menerornya dengan pesan singkat atau telpon yang rutin di dapatkan setiap harinya. Birma sama seperti Clara, menanggung beban itu masing-masing. Hanya saja Birma lebih pandai menyembunyikannya.
Pasangan suami istri mana memang yang tidak menginginkan seorang anak untuk melengkapi pernikahannya? Birma jelas menginginkan itu, tapi Birma tidak ingin terlalu memojokan istrinya. Toh, usia pernikahan mereka pun belum genap satu tahun, masih banyak waktu bagi mereka untuk berusaha. Saat ini hanya harus meyakinkan diri bahwa rezeki itu belum pantas Birma dan Clara dapatkan, jika pun sudah waktunya, Birma yakin Tuhan tidak akan lagi menundanya.
__ADS_1
“Cla,” panggil Birma sedikit menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah sang istri, yang hanya menjawab dengan sebuah deheman kecil. “I really love you.”
Mata yang semula terpejam, kembali terbuka mendengar bisikan cinta itu. Senyum Clara terbit bersamaan dengan rona merah di wajahnya. Meskipun sudah sering kali mendengar laki-laki itu mengucapkan kata tersebut, tapi efeknya selalu sama, membuat dadanya berdebar dan hatinya menghangat.
“Tidur, Bir udah malam,” kata Clara yang pura-pura tidak tertarik dengan ucapan cinta yang Birma lontarkan.
“Apapun yang menjadi kegelisahanmu, apapun yang menjadi beban hati dan pikiranmu, percayalah aku di sini siap memberimu pelukan. Meskipun tidak menyelesaikan, setidaknya mampu menenangkan.”
Clara tertegun, dan air matanya tiba-tiba menetes mendengar bisikan suaminya yang saat ini sudah memeluknya, menyembunyikan kepala Clara di dada bidang Birma, yang seolah tahu bahwa Clara tidak mengizinkan suaminya itu melihat dirinya menangis. Lihatlah bagaimana mungkin Clara tidak jatuh cinta pada laki-laki tampan itu, yang selalu tahu pada apa yang tengah di rasakannya tanpa harus di beri tahukan lebih dulu.
***
“Yang semangat rapatnya, sayang,” ucap Clara melepas kepergian sang suami.
“Cella jaga istri saya baik-baik,” perintah Birma sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.
“Sejak kapan gue merangkap jadi babysiter?” gerutu Cella dalam hati.
__ADS_1
“Ck, dasar istri manja, gak bisa apa diam di rumah aja?” kata Cella mencibir.
“Kenapa lo, Cel? Iri?” tanya Clara menaikan sebalah alisnya.
“Ngapain juga saya iri,” dengus si sekertaris, yang membuat Clara terkekeh pelan. “Gak ada kerjaan ya, Bu makanya ngintilin pak Birma mulu,” kata Cella dengan suara yang seolah tak suka akan kehadiran Clara di kantor. Ah, perempuan itu sejak awal memang tidak menyukai kehadirannya, jadi sudah bukan masalah besar lagi bagi Clara.
“Tahu aja lo kalau gue gak punya kerjaan,” Clara membalas dengan tenang.
“Makanya cari kerjaan, biar ada kesibukan.”
Meskipun tatapan Cella selalu tajam dan memperlihatkan ketidak sukaannya, tapi setelah lebih mengenal perempuan itu, Clara jadi memiliki perasaan yang mengatakan bahwa sebenarnya perempuan itu tidak seburuk dugaannya sejak awal, toh selama ini, sejak tahu bahwa Birma sudah menikah, Clara tidak pernah melihat sekertaris itu menggoda suaminya. Apa lagi setelah Birma mengutarakan langsung ketidak tertarikannya.
Tidak ada juga ancaman lebih yang membuat Clara harus menghawatirkan suaminya tergoda. Tapi tidak tahu jika diam-diam perempuan itu memiliki niatan licik, karena yang penting, sekarang Clara cukup bisa bernapas lega.
“Lo perhatian banget sih sama gue,” senyum Clara tersungging menatap sekertaris suaminya itu seolah terharu. “Gue punya kesibukan kok, Cell, malam hari, layanin suami gue di ranjang. Kalau siang, kesibukan gue ngerjain lo.”
Decakan sebal terdengar sebelum kemudian perempuan cantik yang selalu mengenakan pakaian seksi itu keluar dengan sedikit membanting pintu, Clara tertawa melihat kekesalan sekertaris suaminya. Cukup menghibur di tengah kebosanannya.
__ADS_1
Pagi tadi Birma memang memutuskan mengajak istrinya ke tempat kerja, selain karena akan mengecek pembangunan rumah mereka siang nanti, Birma juga tidak ingin istrinya berada di rumah yang kebetulan hari ini akan di adakan arisan sekumpulan ibu-ibu komplek.
Birma khawatir pertanyaan-pertanyaan kapan hamil kembali istrinya dapatkan yang akan semakin memperburuk keadaan istrinya. Jadi, mengajak Clara ke kantor adalah keputusan yang terbaik, setidaknya ada Cella yang dapat istrinya itu ajak berdebat, untuk melupakan sejenak beban pikirannya.