
"Mau ke kantin gak?” Clara bertanya begitu masuk ke dalam kelas Cleona dan ketiga temannya yang lain.
“Kantin lah, lapar gue,” kata Alisya segera bangkit dari duduknya.
“Ya, kalau lo mah kerjaannya emang lapar mulu,” Shafa mendelik.
“Dari pada lo datar mulu,” balas Alisya tak mau kalah.
“Dih, gak apa-apa yang penting gue tinggi, gak kayak lo!”
“Aish, nyebelin banget lo mainnya hinaan fisik!" Alisya cemberut, sementara yang lainnya tertawa puas.
Cleona berjalan lebih dulu meninggalkan kelas, diikuti keempat temannya yang lain. becanda dan saling mengejek masih mereka lakukan dan itu membuat tawa keenamnya berderai, beberapa orang yang menyaksikan menatap bingung dan penasaran, tapi tidak sedikit juga yang bersikap masa bodo.
Dari arah berlawanan, Cleona dapat melihat wajah kakak kelasnya yang tadi melayangkan tamparan, perempuan itu memberikan senyum mengejek kearahnya dan itu terlihat menyebalkan di matanya. Namun sekarang bukanlah saatnya membalas perempuan gila itu, Bunda Lyra dan Aunty Devi bilang bahwa melawan musuh bukanlah dengan emosi, melainkan dengan sikap tenang juga otak cerdas yang mana akan memberikan pembalasan dengan cara cerdik dan melumpuhkan musuh tanpa menguras tenaga.
“Dia OSIS yang gila itu 'kan?” tanya Clara berbisik.
Cleona mengangguk. “Fans berat kakak lo, Tu,” jawab Cleona kerkekeh setelahnya.
Calara mendengus dan menghentakan kakinya. “Amit-amit deh kalau sampai Bang Rapa mau sama wanita rubah kayak gitu,” bergidik ngeri Clara lakukan, kemudian keduanya tertawa, dan mengabaikan tatapan kakak kelasnya itu.
“Kok penuh?”
“Ini jam istirahat, Mala sayang, wajar kalau penuh. Orang lain juga pada kelaparan bukan cuma lo doang.” Kayla memutar bola matanya malas.
“Bang Rapa!” teriak Alisya yang membuat semua penghuni kantin menoleh kearahnya. Cleona menepuk jidatnya cukup keras, merutuki sahabat satunya itu karena sudah membuat kehebohan.
Laki-laki yang di panggil Alisya menoleh dan melambaikan tangan seraya tersenyum manis. Cubitan kecil Clara berikan pada tangan Alisya yang dengan lebaynya gadis itu meringis cukup kencang. Bertambah sudah rasa malu Cleona dan Clara juga teman-teman yang lainnya rasakan.
“Toa banget sih suara lo, Sya, mending kalau bagus, ini cempreng banget kayak anak kucing kelindes truk!” dumel Kayla yang hanya di tanggapi dengan cengengesan Alisya.
Cleona memilih menarik Shafa untuk berbalik badan menuju stand makanan, di susul oleh Clara yang juga tidak ingin menanggung malu lebih lama. Memilih membeli makanan ringan dan air minum, kemudian ketiganya melenggang meninggalkan kantin dan Alisya, Nirmala serta Kayla yang tengah memesan Bakso.
Sampainya di taman, Clara, Cleona dan Shafa duduk di kursi kayu yang berada di bawah pohon rindang, memayungi mereka dari panasnya matahari di pukul 9.35 pagi ini.
“Lo tahu, Queen si wanita rubah itu juga ikut nyalonin diri jadi ketua OSIS,” kata Clara begitu selesai meneguk minumannya.
“Emang bakalan ada yang milih?” menaikan satu Alisnya Cleona bertanya. Clara mengedikan bahunya, tanda tidak tahu.
__ADS_1
“Wanita rubah siapa sih?” tanya Shafa yang tidak tahu siapa yang kedua temannya maksud. Meskipun sudah sering kali mendengar sebutan itu, tapi ia tidak pernah tahu siapa nama yang sesungguhnya.
“OSIS yang pernah nyeret kita, penggemar gilanya Bang Rapa." Clara sedikit mengingatkan Shafa yang memang tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang tak penting.
“Maksud lo Nia Mariani?” Cleona dan Clara mengangguk bersamaan, membenarkan tebakan Shafa.
“Nia si wanita rubah.” Tambah Clara dengan dengusan tak suka.
“Bukannya dia teman sekelasnya Bang Rapa juga?” kembali Shafa melayangkan tanya.
“Masa, iya?” Clara sedikit terkejut dengan yang di dengarnya barusan.
“Bang Rapa XI IPS A ‘kan?” lagi duo C itu mengangguk.
“Si Nia itu juga sama.”
“Mau sekelas mau enggak, bodo amatlah, yang penting Bang Rapa cintanya sama gue.”
Pletak. Satu sentilan di pelipisnya di berikan oleh Clara sementara Shafa hanya memutar bola matanya malas.
“Semenjak pacaran sama Bang Rapa lo jadi gila, Queen.” Clara mendengus kesal, sedangkan Cleona hanya terkekeh kecil.
Di taman ini jarang ada orang yang datang, karena rumornya bahwa di taman belakang ini terlalu angker, tapi menurut Cleona taman ini bukan angker hanya saja angin yang berhembus terlalu kencang dan banyak pepohonan besar yang rindang. Mungkin karena sepi juga yang membuat banyak orang mengartikan bahwa taman ini terlihat menyeramkan. Padahal untuk yang ingin menenangkan diri, disini lah tempat yang cocok.
♥♥♥
Saat bel pulang berbunyi, Cleona langsung bangkit dari duduknya setelah lebih dulu membereskan buku-bukunya ke dalam tas. Jika biasanya ia akan duduk-duduk malas sambil mengobrol menunggu kedatangan Rapa, tapi untuk hari ini tidak, karena kekasihnya itu tengah sibuk mempersiapkan untuk pemilihan ketua OSIS satu bulan lagi.
Cleona yang mengerti akan kesibukan sang kekasih memilih mengangguk saja, ia tidak ingin terlalu membebani Rapa dengan larangannya, karena hubungan yang baik itu bukan untuk saling mengekang, melainkan saling mendukung dan percaya satu sama lain. Namun Rapa ternyata tidak membiarkan adik juga kekasihnya pulang menaiki angkutan umum, melainkan menghubungi orang tua di rumah untuk salah satu diantara mereka ada yang menjemput. Sebenarnya itu sempat membuat Clara mendengus kesal, niat untuk mampir-mampir harus gagal gara-gara kakaknya itu. Padahal tadinya Clara bahagia karena bisa pergi tanpa pengawasan Rapa.
“Lo mau ke mana Cle? Buru-buru banget,” heran Nirmala.
“Pulang lah, ngapain lagi?”
“Emang Kak Rapa udah jemput?” Alisya menaikan sebelah alisnya ikut bertanya.
Shafa bangkit dari duduknya, merangkul pundak sahabat satunya itu. “Yuk, Cle kita barengan ke gerbangnya,” kata Shafa melangkah meninggalkan Alisya dan Nirmala yang masih belum selesai mengemasi buku-bukunya.
Clara sudah menunggu di depan bersama Kayla, tak lama juga Alisya dan Nirmala berlari menyusul. Di jam pulang seperti ini, koridor penuh dengan murid-murid yang hendak pulang, tapi banyak juga yang hanya duduk dan berdiri bergerombol membuat koridor sempit. Ini yang membuat Cleona malas harus cepat-cepat keluar dari kelasnya saat jam pulang.
__ADS_1
Nirmala dan Kayla yang membawa kendaraan sendiri ke sekolah berbelok ke arah parkiran. Setelah berpisah dengan kedua temannya itu, Clara, Cleona, Shafa dan Alisya melanjutkan langkah menuju dimana jemputan Clara dan Cleona berada.
“Hallo, Lisya, Shafa.” Lyra yang ternyata menjemput kedua anak perempuannya itu menyapa.
“Hai, Tante,” balas keduanya serempak, menyalami punggung tangan Lyra yang menampilkan senyum ramahnya.
“Pulang bareng kita yuk, biar Tante anterin kalian ke rumah masing-masing,”
“Gak perlu Tante, terima kasih. Jemputan kita juga paling sebentar lagi sampai.” Shafa menjawab dengan ramah, kemudian diangguki setuju oleh Alisya.
“Ya udah, kalau gitu kita duluan ya? Lo pada hati-hati, nanti di godain om-om,” kata Clara sebelum masuk ke dalam mobil yang di kendarai Bundanya.
Pertama kalinya pulang tanpa Rapa, membuat Cleona merasa sedikit aneh. Bukan karena tidak suka di jemput oleh Bunda Lyra, hanya saja terbiasa bersama Rapa membuat perjalanan pulangnya kali ini terasa berbeda dan tentu saja ia jadi merasa kesepian, meskipun Bundanya itu tidak hentinya mengoceh sepanjang perjalanan.
Begitu di rasa ponsel di sakunya bergetar, Cleona dengan cepat meraih benda persegi itu dan membuka pesan yang baru saja di kirimkan oleh Rapa.
Abang Rapa ♥
Bunda udah jemput?”
Queen
Udah ini lagi di jalan pulang,
Abang Rapa ♥
Hati-hati ya, sayang. Maaf Abang gak bisa pulang bareng kamu, 😞
Queen
Gak apa-apa kok, Bang 😊
Clara menaikan sebelah alisnya begitu melihat sahabat sejak oroknya itu tengah tersenyum-senyum sendiri di depan ponsel, meskipun ia tahu apa yang membuat sudut bibir wanita itu terbit, tapi tentu saja dirinya penasaran apa isi pesan yang membuat Cleona tersenyum. Merebutnya dan langsung membaca pesan tersebut, tidak peduli bahwa Cleona terus meminta ponselnya di kembalikan.
“Ck, Queen-Queen, cuma pesan gini aja lo sampai senyum-senyum gak jelas. Berlebihan tahu gak?!" ujar Clara kembali mengembalikan benda pipih itu pada pemiliknya. Lyra yang tengah menyetir melirik kedua anak remaja itu melalui spion depan.
“Kamu bicara seperti itu karena belum merasakan indahnya jatuh cinta, Tu, jadi gak akan paham,” kata Lyra pada anaknya.
“Atu gak mau jatuh cinta deh, Bun kayaknya, Atu takut jadi gila kayak Queen dan Bang Rapa. Cukup menyukai aja Atu mah, jatuh cintanya gak usah, ngeri.” Clara bergidik hanya membayangkannya saja. Lyra dan Cleona tertawa di buatnya.
__ADS_1
“Gue doain lo cepat-cepat jatuh cinta, Tu!”