Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
75. Percayalah


__ADS_3

Menjelang tiga hari pernikahan, Clara sudah tidak di izinkan keluar dari rumah oleh kedua orang tuanya, begitu pun dengan Birma yang Clara tahu kabarnya dari sang bunda.


Waktu selama beberapa hari ini, Clara habiskan di rumah bersama sang kakak ipar dan Laura begitu bocah spesial itu pulang dari sekolah. Namun tetap saja ia merasa kesepian dan rindu yang amat besar menyiksanya.


Jika saja ada peluang untuk kabur, maka dengan semangat Clara akan pergi menemui laki-laki terkasihnya. Sejak peristiwa di kantor Birma beberapa hari lalu, entah kenapa perasaannya jadi membuncah dan membuatnya enggan jauh-jauh dari pria itu. Apa sedahsyat itu efek ciuman? Jika benar, Clara jadi khawatir dirinya jatuh terlalu dalam pada kubangan cinta yang Birma ciptakan, dan berakhir dengan dirinya yang menjadi budak cinta laki-laki itu.


“Kak Atu jangan ngelamun, nanti kak Putri masuk ke tubuh kakak,” ucap Laura yang refleks membuat Clara terlonjak dan merapat pada tubuh Laura yang duduk di sampingnya.


“Jangan bicara gitu ah, Dek. Kakak merinding.” Wajah cemberut dengan raut ketakutan Clara membuat Cleona dan Laura terkikik geli.


“Makanya jangan ngelamun! Kak Putri bilang calon pengantin aromanya manis, jadi …”


“Udah, Dek udah. Kakak janji gak akan ngelamun lagi. Bilangin sama teman kamu itu jangan nakutin kakak.” Potong Clara cepat. Sejak kelebihan gadis remaja itu di ketahui semua keluarga, Laura jadi tidak segan-segan untuk membicarakan mahluk yang tidak dapat di lihat oleh orang lain itu dan selalu sukses membut suasana menjadi horor.


“La, setiap hari kamu bisa lihat mami?” tanya Cleona.


“Gak selalu kok, Kak. Kenapa emangnya?” Laura balik bertanya. “Kakak kangen sama mami?” satu anggukan menjadi jawaban Cleona saat ini.


“Nanti kalau maminya ada, Ella kasih tahu. Kakak jangan sedih, karena mami juga selalu sedih kalau lihat kakak dan papi sedih. Jangan menghambat kepergian mami, kak. Biarkan mami pergi tanpa menghawatirkan kesedihan kalian.”


Pelukan yang adiknya berikan cukup membuat Cleona tenang dan meredakan air matanya yang terlanjur menetes. “Mami, Queen janji gak akan sedih lagi.”


👭👭👭


Rapa membuka pintu rumah dengan lemas, ia benar-benar lelah seharian ini bekerja dan menghadiri beberapa meeting di tambah dengan adanya masalah yang menimpa perusahan, kemudian macetnya jalanan membuat Rapa terjebak.


“Abang udah pulang. Cape ya?” Cleona mengelus lembut pipi sang suami, memberikannya kecupan singkat di pipi laki-laki itu kemudian membawanya untuk naik ke kamar mereka.


Senyum yang tadi seakan berat Rapa keluarkan, ternyata kini terbit dengan mudahnya begitu sosok cantik sang istri menyambut kepulangannya di tambah dengan senyuman dan kecupan manis yang di berikan wanita tercintanya itu.


“Abang mandi dulu ya, Queen sudah siapkan air hangatnya.” Kata Cleona dengan senyum manis yang tak hilang dari bibir merah muda itu.

__ADS_1


Beginikah indahnya pernikahan? Tahu akan seperti ini, Rapa jadi menyesal tidak menikahi perempuan itu sejak dulu.


“Terima kasih sayang,” satu kecupan Rapa berikan di kening istrinya sebelum kemudian berniat langsung menuju kamar mandi, jika saja Cleona tidak menghentikannya dengan satu kecupan yang perempuan itu berikan pada bibirnya yang entah kenapa malah membuatnya menginginkan lebih, hingga berakhir acara mandinya tertunda selama dua jam, begitu juga dengan makan malamnya bersama keluarga.


Sebenarnya Rapa merasa heran pada istrinya yang tumben sekali memberikan kode lebih awal, tidak seperti biasanya yang di ajak saja kadang banyak sekali alasannya. Namun meskipun begitu, sebagai laki-laki Rapa tentu saja bahagia. Masa bodo dengan rasa lelahnya, karena sehabis melakukan olahraga di tempat tidur semangatnya seakan kembali terisi.


“Istri mulai nakal ya sekarang,” Rapa memberikan satu sentilan di kening Cleona. “Di ajarin siapa sih, hm?” tanya Rapa menaikan sebelah alisnya.


“Kan abang yang ngajarin,” kedipan genit Cleona berikan, dan satu cubitan gemas Rapa berikan.


“Bang,” panggil Cleona yang masih nyaman dalam pelukan suaminya. Rapa membalas dengan deheman tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel yang ia pegang, tengah berbalas pesan dengan sahabat-sahabatnya yang meminta datang ke café Chiko besok malam.


“Noleh coba kalau istri panggil itu, emangnya ponsel lebih menarik apa!” dengus Cleona. Rapa yang tahu bahwa sang istri mulai kesal, dengan cepat melemparkan ponselnya ke ujung ranjang, kemudian mengalihkan seluruh perhatiannya pada perempuan cantik yang beberapa waktu lalu memberikan kesenangan padanya sebagai suami.


“Ada apa sayang?” dengan lembut Rapa bertanya seraya menatap sang istri dengan tatapan cinta dan memujanya.


“I love you, Abang.”


“Bang,” kembali Cleona memanggil Rapa yang terpaku menatapnya.


“Love you too, sayang.”


Bukannya kecupan atau pelukan yang selanjutnya terjadi, melaikan sebuah decakan kesal dari mulut Cleona di susul dengan suara nyaring yang berasal dari perut wanita cantik itu. Rapa heran, kenapa pernyataan cintanya malah membuat istrinya kelapran? Bukankah seharusnya kenyang, atau mungkin karena kurang banyak asupan cintanya untuk sang istri?


“Abang, Queen lapar, ish kenapa malah bengong aja! Ayo makan.” Sentakan ketus Cleona kembali menyadarkan Rapa dari kebodohannya yang tiba-tiba menyerang, turun dari ranjang kemudian dengan cepat menyusul sang istri yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat pintu.


Rumah sudah sepi dan beberapa lampu pun sudah mati, tentu saja, ini sudah pukul sepuluh malam dan penghuni rumah sudah tidur pastinya, sementara mereka berdua baru saja turun hendak mencari makanan.


“Kayaknya tadi papi sama Ella makan di rumah bunda deh,” ucap Cleona begitu tidak mendapati apa-apa di lemari yang memang biasa di gunakan untuk menyimpan makanan. “Abang lapar gak?” menoleh ke arah suaminya, Cleona bertanya dan satu anggukan menjadi jawban Rapa. “Queen bikin roti bakar sama omellet aja gimana?”


“Boleh, tapi tambahin nasi goreng juga ya? Tuh masih ada nasinya.”

__ADS_1


“Ini udah malam loh, bang, gak baik makan banyak-banyak.”


“Abang kan lapar, sayang. Masa iya harus di tunda sampai pagi. Kalau abang meninggal gara-gara kelaparan gimana coba? Siap emang kamu jadi janda?"


Pletak.


“Sembarangan aja kalau ngomong!” satu pukulan cukup keras Cleona layangkan. “Tapi, emangnya abang siap lihat Queen nikah lagi sama laki-laki lain?”


“Langkahi mayat abang dulu kalau sampai ada yang berani rebut kamu dari abang!” kata Rapa dengan tegas dan serius, matanya mengkilat penuh ancaman.


“Itu mah mudah kali bang, nanti yang jadi calon suami baru Queen tinggal langkahin aja gundukan tanah makam abang.” Kikikan geli Cleon tidak lagi bisa di sembunyikanya, sementara wajah Rapa sudah benar-benar tak enak di lihat.


“Kamu doain abang cepat meninggal?” tuduhnya dengan nada tak suka.


“Lah, mana ada Queen doain abang begitu? Bukannya abang sendiri yang bilang?” dengusan kecil Rapa membuat tawa Cleona akhirnya pecah. Sebelum kemudian reda akibat suara yang berasal dari perutnya kembali terdengar, membuatnya dengan segera memulai acara masaknya dengan di temani Rapa yang duduk di kursi pantry.


Tidak banyak yang berubah antara Rapa dan Cleona menjalani hari, mungkin hanya status, kebebasan bersentuhan dan tidur yang selalu bersama, selebihnya berjalan sebagaimana hari-hari mereka biasanya. Terkesan monoton menurut Cleona sendiri, tapi mungkinkah dirinya akan siap jika cobaan dalam rumah tangganya kelak datang menghampiri?


Cleona jadi teringat perkataan sang mami dulu tentang bagaimana mengerikannya cobaan yang pasti saja terjadi dalam rumah tangga. Menggelengkan kepala, Cleona membuang jauh-jauh pemikirannya itu dan berdoa untuk tetap bisa berdiri dengan tegak di saat nanti dirinya mendapatkan cobaan itu.


Bukan karena Cleona mengharapkan cobaan itu segera hadir, hanya saja sang mami dulu selalu mengingatkan bahwa ia harus dengan segera menyiapkan diri dari apapun yang akan menimpanya di masa depan.


“Kamu ngelamun?” tanya Rapa yang saat ini berdiri di samping sang istri yang tengah membuat roti bakar.


“Abang gak akan ninggalin Queen, kan?”


Rapa mengernyitkan kening, heran. “Kenapa Queen tiba-tiba tanya seperti itu?”


“Queen terlalu mencintai abang, jadi Queen takut untuk kehilangan abang.”


“Queen dengar!” Rapa memegang pundak istrinya, membuatnya hanya terfokus pada tatapannya agar perempuan itu bisa mencari keseriusan dari setiap perkataan yang akan ia lontarkan. “Sejak abang belum mengerti apa itu cinta, abang sudah lebih dulu merasakan getaran-getaran itu pada kamu, bayi mungil yang saat itu tidak pernah mampu mengalihkan tatapan abang dari kamu, hingga saat ini, dan kamu tidak pernah membuat abang ingin beralih. Jadi, jangan ragukan abang, Queen, karena selamanya hanya kamu yang abang mau. Abang gak akan ninggalin kamu. Percaya lah!”

__ADS_1


__ADS_2