
Satu bulan sepulang dari Singapura, Rapa kembali di sibukan dengan pekerjaannya di kantor. Pulang telat sudah menjadi kebiasaannya belakangan ini, membuat Rapa tidak bisa becanda dan bermain bersama anak-anaknya karena setiap ia pulang, si kembar pasti sudah tidur. Saat pagi pun hanya bisa bermain sebentar, karena Rapa yang harus cepat berangkat kerja. Rindu itu sudah pasti di rasakan, tapi Rapa pun tidak bisa mengabaikan pekerjaannya lebih lama karena bagaimana pun dari bekerjalah dirinya mendapatkan uang dan bisa mencukupi kebutuhannya dengan keluarga.
Cleona tentu saja memaklumi itu meskipun sedikit merasa kesepian, karena kebersamaan mereka berkurang, tapi Cleona belajar untuk mengerti dan memahami tanggung jawab lain suaminya. Dan dukungan serta semangatlah yang tak pernah Cleona lupa berikan pada ayah kedua anaknya itu.
“Papa berangkat kerja dulu ya sayang, baik-baik di rumah jaga mama kalian, jangan sampai kelelahan!” peringatan lembut itu Rapa ucapkan pada sang putra yang saat ini hanya merespon melalui tawa menggemaskannya, yang tak jarang membuat Rapa enggan berangkat ke kantor.
“Iya, papa juga hati-hati berangkat kerjanya, jangan lupa makan siang, dan ingat jangan macam-macam!” kini Cleona yang memberi peringatan dengan suara yang di buat seperti anak kecil, seolah itu di ucapkan oleh anak-anaknya.
“Mana berani sih papa macam-macam. Cukup satu macam aja sama mama,” balas Rapa memberikan kedipan genit pada sang istri.
“Cepat berangkat deh, nanti keburu macet.” Titah Cleona memalingkan wajahnya yang memerah.
“Iya, sayang. Abang berangkat ya, kamu baik-baik di rumah, nanti kalau ada waktu luang aku kabarin.” Satu kecupan Rapa daratkan pada kening istriya setelah itu memberikan kecupan di kedua pipi gembul anak-anaknya secara bergantian. Barulah Rapa keluar dari rumah, bersamaan dengan Pandu serta Leo yang akan pergi menuju kantor.
💗💗💗
Mengasuh kedua putranya sudah menjadi rutinitas Cleona sehari-hari di bantu oleh sang bunda dan kadang Clara, jika adik iparnya itu tengah berkunjung. Sebenarnya Rapa sudah menawarkan seorang babysiter, untuk membantunya mengurus kedua bayi mereka yang mulai aktif, tapi Cleona menolak begitu juga dengan sang bunda yang mengutarakan kesanggupannya yang masih mampu mengurus kedua cucunya, mengingat usianya yang belum terlalu tua. Rapa yang hanya berniat baik mengurangi kerepotan istri dan bundanya, tetap mengalah dan membiarkan kedua wanita tercintanya itu dengan kemauannya.
“Dulu padahal bunda pengen banget punya anak kembar,” Lyra mulai membuka suara, di tengah mengawasi kedua cucunya yang bermain dengan mainan karet hadiah dari Devin. “Gara-gara liat aunty kamu punya bayi kebar, bunda juga jadi kepengen, tapi sayangnya bunda gak bisa hamil lagi sehabis Ratu lahir.”
“Jangan sedih bunda,” Cleona memeluk mertuanya tersayangnya itu. “Meskipun bunda gak bisa melahirkan bayi kembar, tapi sekarang bunda punya cucu kembar.” Senyum manis terukir di bibir Cleona membuat Lyra pun ikut menyunggingkan senyumnya kemudian mengangguk.
__ADS_1
“Terima kasih sudah bersedia menjadi menantu bunda,” kata Lyra membalas pelukan Cleona.
“Queen yang harusnya berterima kasih karena bunda sudah bersedia menjadi orang tua Queen selepas kepergian mami, terima kasih bunda. Queen sayang bunda.” Kecupan singkat Cleona daratkan di pipi sang bunda.
“Bunda juga sayang kamu,” balas Lyra dengan senyum terukir. “Jangan pernah mengucapkan kata terima kasih, sayang, karena menjaga dan menyayangimu sudah menjadi kewajiban bunda sejak kamu lahir ke dunia ini.”
🌞🌞🌞
“Kenapa, bang?” tanya Cleona begitu menggeser tombol hijau di ponselnya.
“Istri, kamu lagi sibuk gak? Abang boleh minta tolong?”
“Boleh minta tolong carikan berkas di meja kerja abang yang map-nya biru?”
Cleona berjalan menuju meja kerja suaminya itu yang cukup Rapi, karena Rapa yang memang tidak pernah suka melihat barang-barang pentingnya berantakan. “ Map di meja abang hampir semuanya biru.”
Suara kekehan pelan terdengar sebelum kemudian Rapa mengatakan detail berkas yang di butuhkannya. “Udah ketemu, bang.”
“Minta di anterin sekalian boleh?”
“Boleh dong, apa sih yang enggak buat abang,” sahut Cleona terkekeh kecil. “Kebetulan si kembar juga baru tidur.”
__ADS_1
“Ya udah, abang tunggu ya sayang. Meeting-nya satu jam lagi di mulai, tapi kamu gak perlu terburu-buru ya, karena yang penting itu adalah keselamantan kamu.”
“Siap kapten! Kalau begitu Queen berangkat sekarang.” Setelah menerima kecupan jauh dari sang suami, sambungan Cleona putuskan.
Cleona yang baru saja memindahkan kedua jagoannya ke box tidurnya segera mengganti pakaiannya, kemudian meraih tas slempang kecilnya sebelum keluar dari kamar dan menghampiri bundanya yang tengah berkutat membuat kue di dapur.
“Bunda, Queen mau anterin map dulu ke kantor abang. Queen boleh minta tolong bunda jaga si kembar ‘kan?”
“Iya, gak apa-apa sayang. Biar bunda jaga mereka, kamu hati-hati di jalannya,” pesan sang bunda yang kemudian Cleona angguki, tidak lupa lebih dulu mengucapkan terima kasih sebelum kemudian keluar dari rumah karena taxi yang di pesannya sudah menunggu.
Begitu duduk di kursi penumpang belakang, Cleona menyebutkan tujuannya, baru lah si sopir taxi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Melirik sekilas jam di pergelangan tangannya, Cleona kemudian meminta si supir untuk lebih mempercepat laju kendaraannya karena ia tak mau suaminya telat menghadiri meeting yang akan berlangsung sekitar setengah jam lagi, sedangkan berkas penting itu masih berada di tangannya.
Si supir hanya menurut, dan menambah kecepatan laju mobilnya, tanpa sadar bahwa ada mobil yang berusaha menerobos lampu merah di persimpangan, membuat kecelakaan itu terjadi karena mobil yang di tumpangi Cleona tidak berhasil menghindar. Suara benturan keras terdengar bersamaan dengan jeritan Cleona yang meneriakan nama Rapa dengan kesadaran yang hampir hilang, di tambah dengan penglihatannya yang mulai mengabur
Dalam hati Cleona terus berdoa untuk keselamatannya, menggumamkan nama Rapa juga papinya, hingga sekelebat bayangan sang mami hadir memberikannya senyum manis keibuan yang sudah lama tak Cleona lihat, setelah itu kesadarannya benar-benar hilang.
Orang-orang mulai berkerumun dan jalanan menjadi benar-benar macet, polisi yang berada tak jauh dari tempat kejadian segera menghubungi ambulance dan beberapa rekannya untuk mengurus kecelakaan yang bisa di bilang parah itu hingga memakan tidak hanya satu korban.
“Satu korban meninggal di tempat, dengan jenis kelamin laki-laki.” Teriak salah satu perawat yang mengangkat satu persatu korban dalam kecelakaan itu untuk memberitahukan pada polisi yang bertugas.
“Satu lagi korban meninggal di tempat, berjenis kelamin perempuan.”
__ADS_1