
Matahari kian meninggi seiring berjalannya waktu, dan rasa hangat mulai menerpa tubuh Cleona yang saat ini tengah duduk di bawah sinar matahari taman belakang, berjemur sekaligus menyaksikan sang suami yang sedang memotong tanaman yang sudah memanjang. Ini adalah hari sabtu yang mana bersih-bersih selalu di lakukan oleh anggota keluarga termasuk asisten rumah tangga yang baru satu minggu ini bekerja di kediaman Leo. Hanya Cleona seorang diri yang duduk menunggu dengan si kembar yang berada dalam ayunannya. Tak enak sebenarnya, dan Cleona pun cukup merindukan aktivitas ini, tapi mau bagaimana lagi, sekarang dirinya memiliki keterbatasan dalam bergerak, dan duduk diam adalah caranya agar tidak kembali membuat keluarganya khawatir.
“Istri, nih abang baru aja panen,” Rapa menghampiri Cleona dengan membawa setumpuk buah starawberry segar yang baru saja di petiknya dari kebun yang waktu itu di buatnya.
Binar bahagia Cleona terpancar melihat buah berwarna merah itu, tangannya pun sudah terulur untuk mengambilnya. Namun Rapa kembali menjauhkan dan itu membuat Cleona menatap bingung ke arah suami tampannya yang saat ini hanya mengenakan kaos longgar tanpa lengan dan di padukan dengan celana pendek selutut, di tambah sendal jepit karet. Berbanding kebalik dengan setelan di hari kerja biasanya.
“Ini belum di cuci, sayang. Sebentar ya abang cuci dulu.” Rapa melenggang masuk ke dalam rumah meninggalkan Cleona setelah berhasil mengusak rambutnya. Namun tak lama, laki-laki tampan itu kembali dengan mangkuk kecil berisi strawberry yang daunnya sudah di bersihkan. Tangan Cleona terulur dengan tak sabar ingin meraih buah merah itu, tapi dengan cepat Rapa menyembunyikannya di balik punggung.
“Abang!” geram Cleona, ingin sekali memukuli suaminya yang sudah berani mengajaknya bermain-main, jika saja dirinya bisa berlari, sudah dapat di pastikan bahwa kini akan terjadi kejar-kejaran.
“Istri mau ini,” kata Rapa seraya menunjuk strawberry di tangannya. Mengangguk semangat, Cleona sudah membuka mulut hendak menerima suapan dari suaminya. Tapi Rapa tetap lah Rapa yang selalu jahil dan mempermainkanya.
“Cium dulu.” Strawberry yang sudah hampir dekat dengan bibirnya, kembali menjauh dan di gantikan dengan wajah menyebalkan Rapa yang kini menyunggingkan senyum manis yang terlihat begitu mengesalkan di mata Cleona. Memundurkan wajahnya, Cleona kemudian menggeleng.
“Ya udah kalau gak mau.” Rapa dengan santainya melahap buah merah yang tadi hendak sampai di mulut Cleona.
“Ish, abang mah nyebelin!” dengus Cleona, melipat kedua tangannya di dada dengan bibir yang cemberut lucu.
“Twins, tuh mama kalian lucu kalau lagi cemberut. Udah mirip bebek tetangga,” canda Rapa pada kedua anaknya yang anteng dalam ayunan bayi.
“Abang ngatain Queen bebek!” Rapa tertawa melihat kekesalan istri cantiknya itu.
“Iya, mirip mainannya si kembar, tuh,” Rapa menunjuk bebek karet yang di pegang Nathan.
__ADS_1
“Ish, abang nyebelin, Queen marah pokoknya!” tawa Rapa semakin berderai sementara Cleona semakin cemberut dan membuang mukanya enggan menatap suaminya itu.
“Mama-nya marah Twins, tuh lihat gemesin kan? Papa jadi pengen uyel-uyel pipinya terus buang deh kasih makan ikan lele …”
“Jahat banget!” Cloena semakin memajukan bibirnya, kesal karena tidak bisa melawan suaminya itu.
Puas tertawa, Rapa kemudian menghentikan tawanya dan kembali menawarkan buah strawberry yang menyegarkan itu, tentu saja Cleona menginginkannya.
“Cium dulu, nanti abang kasih semuanya sama kamu.”
Dengan terpaksa Cleona memberikan kecupan kilat pada pipi Rapa yang berada di depan wajahnya. “Siniin strawberry-nya.” Pinta Cleona menengadahkan tangannya.
“Apaan segitu doang, gak berasa. Ulangi!” Cleona menurut dan kembali melayangkan kecupan di pipi suaminya, lebih lama dari sebelumnya. Namun dasarnya Rapa yang memang berniat mengerjai istrinya, laki-laki itu berkali-kali meminta sang istri untuk terus mengulang hingga beberapa kali dengan berbagai alasan. Sampai pada akhirnya, Cleona melayangkan kecupan pada bibir suaminya dan menggigit kuat daun bibir laki-laki itu, membuat Rapa menjerit sakit, sementara Cleona puas dengan apa yang dilakukannya, apa lagi saat buah merah itu berhasil dirinya ambil dari tangan sang suami.
“Kok segini, Bang? Perasaan tadi abang bawanya banyak deh?” kening Cleona mengerut menatap isi mangkuk kecil itu.
“Kamu kalau mau gigit-gigit yang lembut dong, istri. Perih nih bibir abang, nanti kalau sariawan gimana?”
“Ya obatin lah.” Jawab Cleona santai.
“Iya, sama bibir kamu.” Kata Rapa mengedipkan sebelah matanya.
“Sama cabe, Bang. Biar lebih cepat sembuhnya.”
__ADS_1
“Makin perih kali istri!"
“Ya biarin, abang ini yang rasain bukan Queen,” cuek Cleona, kembali melahap buah merah di tangannya.
“Jahat banget sama suami,” cemberut Rapa.
“Bodo amat!”
Melihat istrinya memakan buah tersebut membuat jiwa laki-laki Rapa seakan meronta, apa lagi melihat merahnya buah itu dengan bibir Cleona, yang hanya di bayangkannya saja sudah membuat air liurnya menetes. Terbayang rasa manis dan asamnya yang pasti menyegarkan, di tambah dengan …
Memukul kepalanya dengan keras, Rapa mengintruksikan agar pikiran mesum itu segera pergi dari otaknya. Tapi apalah daya, sebagai pria normal Rapa sepertinya tidak sanggup untuk mengabaikan itu, dan dengan cepat juga, tiba-tiba Rapa menyambar bibir Cleona untuk mengambil strawberry yang baru saja istrinya lahap.
“Jadi lebih manis kalau makan dari bibir kamu langsung,” kata Rapa saat berhasil mengambil alih strawberry yang masih utuh dari bibir istrinya. Cleona masih terbengong, terkejut dengan apa yang dilakukan suami tampannya itu.
“Itu strawberry jatah terakhir loh, bang. Balikin!” pinta Cleona dengan kesal.
“Ya udah abang balikin,” Rapa mencium bibir istrinya itu, lalu memberikan sedikit lumatan, sebelum kemudian melepaskannya kembali.
“Mana strawberry-nya?” tanya polos Cleona.
“Udah abis abang telan.”
“Kalau udah abang telan, terus ngapain barusan cium Queen lagi?!"
__ADS_1
“Meskipun buahnya sudah habis abang telan, tapi kan rasanya masih tetap ada.” Kata Rapa kemudian mengedipkan sebelah matanya genit. Merasa bahwa semburan kemurkaan Cleona akan meledak, dengan cepat Rapa melarikan diri menjauh dari istrinya yang cantik itu, namun sebelum itu Rapa menyempatkan diri untuk kembali melayangkan kecupan singkat di bibir istrinya.
“ABANG!!”