
Sejak kepergian Cleona, dunia Rapa seakan tidak lagi berada dalam porosnya, langitnya mendung dan hangatnya matahari tidak lagi dapat dirinya rasakan. Semua orang tidak lagi dapat menikmati senyum Rapa yang selalu memikat siapa saja yang melihatnya, karena sejak hari itu, kepribadian Rapa yang hangat dan menyenangkan seolah mati di bawa pergi oleh Cleona, begitu pun dengan hatinya. Sebesar itu dampak Cleona untuk Rapa dari dulu hingga sekarang.
Clara sebagai adik jelas tahu bagaimana kesedihan yang dirasakan kakaknya, karena bagaimana pun dirinya ikut merasakan itu juga. Di tambah dengan penyesalan yang hingga saat ini tidak pernah hilang meskipun waktu sudah berlalu. Lima tahun lebih seharusnya bukanlah waktu yang singkat, tapi itu tidak lah cukup untuk menghilangkan kesedihan dan rasa bersalah Clara serta Rapa.
Kedua orang tuanya tidak juga memberitahu mereka tentang keberadaan Cleona saat ini, bahkan Leo yang sempat di temui beberapa kali pun seolah sengaja menyembunyikan keberadaan anaknya, meskipun Clara dan Rapa sudah memohon ampun dan menyesali semuanya. Papinya itu seakan tutup telinga dan tidak lagi menghiraukan keduanya. Sekecewa itu Leo pada kedua anak sahabatnya.
Pandu, ayahnya bahkan dengan terang-terangan memohon pada Leo untuk mengizinkan anak-anaknya bertemu kembali dengan Cleona, karena tidak tega melihat Clara dan Rapa yang terlihat amat tersiksa selepas kepergian Cleona.
“Lo pikir cuma anak-anak lo yang tersiksa? Apa lo gak mikirin bagaimana anak gue?”
Dan perkataan Leo waktu itu masih terus terngiang di kepala Rapa hingga saat ini. Beberapa waktu lalu, kedua laki-laki tua kesayangannya sempat akan berantem, karena saling membela anak mereka masing-masing, tapi untunglah sang bunda dengan cepat menghentikan pertengkaran mereka, hingga tidak sampai ada pertumpahan darah dari kedua laki-laki tua itu.
Sejak itu juga Rapa berhenti menanyakan keberadaan sang belahan jiwa pada kedua orang tuanya juga Leo. Ia memilih mencarinya sendiri tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Namun hingga sejauh ini, Rapa tidak juga menemukan sosok yang dirindukannya itu. Raganya ingin menyerah, tapi hatinya mendorong agar ia terus mencari meskipun tanpa hasil yanh di peroleh.
Hari ini adalah hari di mana adiknya wisuda, hari yang seharusnya ia sambut bahagia nyatanya malah terasa semakin membuatnya sedih. Ingatan akan sosok cantik Cleona yang sudah sangat lama tidak ia temui membuatnya tidak terasa meneteskan air mata padahal dirinya tengah berada di dalam keramaian sorak-sorai orang banyak di gedung aula kampus tempatnya dulu menuntut ilmu.
Satu tahun lalu, dirinya pun berada di situasi yang sama seperti ini, dimana hari bahagianya ia jalani dengan kesedihan yang begitu amat menyiksa. Padahal saat itu bayangannya tertuju akan Cleona yang datang memberinya kejutan, mengucapkan selamat atas kelulusannya dan memberinya pelukan hangat penuh kerinduaan. Namun semua itu hanyalah bayangannya, itu hanyalah keinginannya, dan harapannya, karena yang sesungguhnya kenyataan tidaklah seindah itu.
“Abang gak ngasih selamat buat Atu?” tanya Clara cemberut melihat kakaknya yang hanya diam di saat semua orang mengucapkan kata selamat atas kelulusannya.
“Apa Queen udah wisuda juga ya, Tu?" Rapa berucap pelan, menatap adiknya yang saat ini sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Beberapa teman Rapa dan Clara yang semula heboh pun tiba-tiba bungkam dan meringis prihatin pada sepasang kakak beradik itu. Tidak menyangka bahwa kesedihan itu ternyata masih juga belum kering, walau waktu yang di habiskan begitu panjang.
“Kesalahan kita terlalu besar, Bang, sampai membuat Queen kecewa dan enggan bertemu kita,” ucap Clara dalam pelukan sang kakak. Rapa mengangguk kecil, membenarkan apa yang dikatakan adiknya.
“Abang akan cari Queen, Dek, meskipun ke ujung dunia sekali pun. Abang janji akan bawa Queen kita kembali.” Ujar Rapa dengan tekad yang begitu besar. Ia merindukan Cleona, bahkan sangat, dan Rapa janji akan meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya yang sudah melukai perempuan tercintanya begitu ia menemukan gadis itu.
“Dunia ini luas, Bang. Jangan konyol!” dengus Clara melepaskan diri dari pelukan Rapa.
“Abang pasti akan menemukan Queen secepatnya.” Ujar Rapa yakin.
“Seyakin itu?” tanya Clara menaikan sebelah alisnya, ragu akan apa yang di ucapkan kakaknya, mengingat bahwa selama hampir enam tahun ini tidak juga membuahkan hasil akan pencariannya.
“Ck, percaya diri sekali bapak direktur ini. Gak ingat sudah berapa kota yang di jelajahi, dan tidak ada hasil yang di dapat." Cibir Dava memutar bola matanya malas.
“Lo gak percaya?” Rapa menaikan sebelah alisnya.
“Musrik gue kalau percaya sama lo!"
“Awas lo kalau sampai gue nemuin belahan jiwa gue dalam waktu dekat ini, siap-siap aja siapin modal untuk urus pernikahan gue sama Queen.”
“Oke, tapi kalau lo gak ketemu juga hingga akhir tahun ini, lo yang harus siap-siap biayain kita semua keliling Eropa. Gimana?” Dava menaik turunkan alisnya menantang sahabatnya itu.
__ADS_1
“Oke deal!” kata Rapa dengan yakin, menjabat tangan Dava sebagi tanda sepakat tanpa berpikir panjang terlebih dulu.
Daniel, Chiko, Nirmala dan Shafa serta Kayla membelalakan matanya tak habis pikir dengan perjanjian konyol kedua orang itu. Oke, mereka tahu bahwa Rapa dan Dava bukanlah orang susah, tapi apa ini tidak terlalu berlebihan? Demi seorang Cleona, ini memang kesepakatan gila. Namun semua mungkin tahu bahwa untuk Cleona, tidak ada yang namanya berlebihan bagi Rapa.
“Abang emang mau cari Queen ke mana lagi?” tanya Clara begitu mereka berada dalam perjalanan pulang.
“Singapura.”
“Emang abang yakin bakal nemuin Queen di sana?”
“Teman abang pernah lihat dia di sana, Tu, semoga aja memang benar. Kebetulan juga ayah minta abang untuk perjalanan bisnis ke sana. Jadi, bisa sekalian cari Queen,” ucap Rapa dengan senyum terukir di bibirnya, harapannya tidak pernah berubah sejak hampir enam tahun belakangan ini untuk di pertemukan kembali dengan belahan jiwanya.
“Atu ikut boleh?”
“Adik, abang yang cantik di sini aja ya, jagain bunda,” kata Rapa mengusak lembut rambut adiknya.
“Abang harus janji bawa Queen pulang ya, Atu kangen Queen, Atu pengen minta maaf, Bang,” Rapa membawa kepala adiknya itu ke dalam pelukannya, mengusapnya untuk meredakan tangis yang meluncur begitu saja. Ia tahu betul bagaimana sedihnya Clara yang hampir setiap malam menangis, menyesali perbuatannya dulu yang sudah salah paham dan tidak mempercayai sahabatnya itu.
“Abang janji, dek, abang akan bawa Queen pulang ketengah-tengah kita lagi.” Ujar Rapa yang kemudian di angguki Clara.
"Tunggu Abang Queen, Abang pasti akan nemuin kamu, dan Abang akan bawa kamu kembali kepelukan Abang."
__ADS_1