
Malam minggu datang, dan Rapa sudah ganteng dengan kaos hitam yang dipadukan dengan jaket, celana jeans berwarna hitam sedikit robek di bagian lutut juga sneakers adidas berwarna hitam. Clara sendiri di buat kesal melihat kakaknya yang sejak tadi tidak usainya berdiri di depan cermin, entah apa yang laki-laki itu lihat sampai kadang kali kekehan terdengar, kemudian kakaknya itu akan berbicara dan memuji dirinya sendiri.
“Bang, udah. Gue takut kalau kelamaan, lo malah jadi gila beneran.”
“Gue ganteng belum, Dek?” tanya Rapa berbalik menghadap Clara yang tiduran di atas ranjangnya.
“Udah Bang, ganteng,” ucap Clara dengan nada malas. “Buruan deh lo pergi, mata gue perih lihat tingkah alay lo,” lanjutnya mengibas-ngibasakan tangan, mengusir kakaknya itu
“Oke deh, gue berangkat sekarang. Bye-bye adik jelek, nikmatin malam minggu jomblo lo.” Kata Rapa yang kemudian mendaratkan kecupan singkat di pipi kiri adik tersayang itu, sebelum kemudian melenggang pergi meninggalkan Clara seorang diri.
Sambil memainkan kunci mobil ditangannya, Rapa menuruni tangga satu persatu sambil bersenandung. Pandu yang baru saja kembali dari dapur menatap anak lelakinya dari atas hingga bawah, menilai penampilan Rapa.
“Kamu mau kemana, Bang?” tanya Pandu.
“Kencan dong. Ya, kali malam minggu masih di rumah, macem jomblo aja,” ujar Rapa yang kemudian mendapat pukulan dari Lyra yang entah sejak kapan berada di belakangnya.
“Lagaknya malam mingguan, kayak punya uang aja sih, Bang.”
“Punya dong, kemarin malam 'kan Abang kerja, Bun."
“Kerja apa? Kerjain orang?”
“Terserah deh, gimana Bunda aja. Bye, Abang mau pergi kencan sama bidadari.” Rapa melenggang pergi begitu selesai menyalami punggung tangan ayah dan bundnya secara paksa.
“Jangan malam-malam pulangnya, Bang!” teriak Lyra cukup memekakan telinga Pandu yang masih berdiri di sampingnya.
“Iya Bunda. Abang akan pulang pagi, tenang aja.”
“Aish, emak sama anak sama aja, doyan teriak-teriak!” Pandu berucap pelan, tapi tetap saja telinga istrinya itu dapat mendengar dan sebuah jeweran akhirnya Pandu dapatkan.
“Bukannya ayah senang kalau Bunda teriak-teriak, biasanya juga ayah minta Bunda teriak lebih kencang,” kata Lyra begitu melepaskan jewerannya.
“Gak usah ngegoda, kalau gak niat ngasih!" dengus Pandu yang kemudian pergi dari hadapan istrinya itu.
__ADS_1
Lyra sendiri tertawa, puas karena berhasil membuat suaminya kesal. Entahlah sejak dulu senang sekali rasanya membuat Pandu cemberut, meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tapi tetap saja Lyra merasa gemas.
Rapa hendak membunyikan klakson agar Pak satpam membukakan gerbang, tapi Cleona lebih dulu keluar dengan senyum manis yang selalu saja membuat Rapa lupa diri, bahkan saat ini pun sampai membuat Rapa tidak sadar bahwa kekasihnya itu sudah beberapa kali mengetuk jendela mobilnya, meminta untuk di bukakan kunci.
“Lama banget sih,” ucapnya dengan cemberut.
“Maaf sayang, Abang terlalu terpesona dengan senyum kamu.”
Jawaban Rapa sukses membuat pipi Cleona memerah. “Jangan gombalin Queen terus, Bang, nanti Queen terbang,”
“Gak apa-apa, lagi pula kan terbangnya ke pelukan Abang,” balas Rapa dengan kedipan mata genit. “O iya, kok kamu udah di depan aja? Abang kan belum pamit sama mami dan papi,” kata Rapa begitu ia baru saja melajukan mobilnya.
“Gak apa-apa kok, ini juga atas permintaan mami, karena lagi gak kepengan dengar perdebatan abang sama papi,” kata Cleona menyampaikan apa yang tadi sempat maminya katakan.
“Emang deh cuma mami yang paling pengertian, tahu ajak kalau anak-anaknya pengen menikmati waktu lebih lama.”
“Tapi, tadi mami juga bilang, pulangnya jangan lupa beliin martabak di perempatan jalan, yang greentea dan special.”
“Emang deh selalu kayak gini pada akhirnya!" ujar Rapa dengan lesu.
Sisa perjalanan keduanya isi dengan obrolan-obrolan seru lainnya, kemudian bernyanyi begitu lagu yang mereka suka mengalun dari radio yang semula Cleona nyalakan.
Lebih dulu, Rapa membawa kekasihnya makan di kedai pinggir jalan yang menjual pecel lele kesukaan Cleona, dan setelah perut mereka terisi penuh barulah pasar malam mereka kunjungi.
Cleona berseru ceria saat kakinya masuk ke pasar malam yang begitu ramai oleh pengunjung, senyumnya terukir lebar, matanya pun berbinar menatap sekeliling. Rapa sudah menggenggam tangan kekasihnya itu, karena selain takut Cleona hilang, ia juga tidak ingin sampai ada laki-laki lain yang mendekati Queennya.
“Abang naik itu, yuk," Cleona menunjuk kincir raksasa di depannya.
“Naik itunya nanti aja terakhir. Sekarang gimana kalau kita naik yang itu dulu?” Rapa menunjuk salah satu permainan perahu besar yang berayun.
Cleona menimbang-nimbang ajakan kekasihnya itu untuk beberapa saat, sebelum kemudian mengangguk, menyetujui. Selama perahu itu berayun, Cleona dengan erat memeluk Rapa yang hanya tertawa melihat ketakutan kekasihnya. Sebenarnya itu juga alasan Rapa mengajak Cleona menaiki wahana ini. Terdengar modus memang, tapi percayalah bahwa semua orang yang berpasangan, entah bersama gebetan atau pacar akan melakukan hal seperti Rapa untuk mencuri-curi kesempatan.
Di wahana rumah hantu, Cleona terus menjerit begitu di kejutkan oleh beberapa penampakan yang tiba-tiba muncul di depan atau sampingnya, malam ini sepertinya Rapa benar-benar menang banyak, karena Cleona yang terus saja memeluknya, hingga akhirnya mereka menyudahi menaiki wahana dan memilih permainan lain, seperti lempar gelang, bola dan memancing ikan mainan, meskipun lebih banyak anak kecil di sana, tapi Cleona dan Rapa tidak malu untuk melakukan itu, bahkan sepertinya mereka berdua yang paling heboh.
__ADS_1
Lelah bermain, kini Cleona dan Rapa duduk di kursi kayu yang berada di dekat penjual sosis bakar, menunggu makanan itu selesai di buatkan.
“Gimana, senang gak?” tanya Rapa.
“Senang banget!" ujar Cleona dengan wajah gembira. “Lain kali kita kesini lagi ya, Bang, tapi jangan ke rumah hantu, Queen takut.”
“Siap bidadari," Rapa mengacak gemas rambut atas sang kekasih. “Nih makan dulu, setalah itu kita naik bianglala.”
Cleona mengangguk, tidak sabar ingin segera menaiki kincir raksasa itu, melihat pemandangan malam dari atas sana dan menikmati hembusan angin yang menyejukan. Sejak kecil Cleona memang begitu menyukai naik wahana itu, dan sampai sekarang ia tidak perah bosan. Ketenangan selalu dirinya dapatnya begitu berada tepat di atas, menatap sekeliling sejauh mata memandang.
Rapa membukakan pintu besi itu, meminta Cleona untuk masuk lebih dulu, sebelum dirinya menyusul dan mengaitkan kuncinya. Benda itu mulai berputar dengan perlahan, dan beberapa kali berhenti saat ada orang yang kembali masuk sebelum putaran itu terus berjalan begitu semua sangkar terisi penuh.
Menatap sekeliling, Cleona tidak hentinya berdecak kagum, tidak pernah bosan menatap keindahan malam yang hari ini kebetulan di penuhi bintang. Saat bianglala berhenti dan dirinya berada tepat di atas, suara letusan kembang api menambah keindahan langit, Cleona lagi-lagi berdecak kagum, sementara Rapa tersenyum melihat wajah bahagia kekasihnya.
“Queen suka?” tanya Rapa yang mengalihkan Cleona dari tatapannya pada langit.
“Jadi, kembang api ini…”
“Iya, Abang yang memintanya khusus untuk kamu.”
“Abang kenapa manis banget sih?” kata Cleona terharu.
“Karena Abang ingin membuat kamu bahagia, Queen.”
“Tanpa ini juga, Queen udah bahagia, asal itu selalu di samping Abang.”
“Abang juga bahagia bisa terus di samping Queen, tapi abang juga ingin membuat banyak kenangan indah bersama kamu, biar suatu saat nanti kita bisa menceritakan semua ini pada anak-anak kita, dan memberi tahu pada mereka, betapa cintanya Abang sama kamu, juga betapa indahnya masa muda kita.”
Cleona begitu amat sangat terharu mendengar ucapan Rapa yang terdengar tulus dan tatapan laki-laki itu jelas menyiratkan cinta yang begitu besar, Cleona jadi berpikir, bolehkan dirinya sombong karena telah di cintai sebesar ini oleh seorang Rapa?
Mungkin di dunia ini banyak laki-laki yang lebih dari Rapa, tapi meskipun begitu, Cleona tidak akan pernah mau menukarnya dengan yang lain, karena hanya Rapa lah satu-satunya yang ia inginkan.
“I love you Rapa, semoga perasaan ini tetap sama hingga batas waktu yang tidak pernah di tentukan.”
__ADS_1