Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
142. Berusaha Untuk Sembuh


__ADS_3

Untuk terapi kali ini, Cleona berusaha semaksimal mungkin untuk segera dapat bisa berjalan, meskipun dokter yang menemani Cleona menyarankan untuk tidak terlalu memaksakan, tapi Cleona tetap pada pendiriannya. Ia harus segera sembuh, karena berada dalam kondisi seperti ini selain membuat orang lain kerepotan, dirinya sendiri pun seakan tersiksa dan bosan tidak dapat melakakan apapun.


Beruntung sang papi yang menemaninya kali ini pamit ke luar untuk mengangkat telpon dari rekan bisnis pria itu, membuat kesempatan Cleona semakin besar untuk berusahan sekuat tenaganya.


Sudah dapat berdiri sendiri saja Cleona sudah benar-benar bersyukur, dan kini dirinya tengah belajar untuk melangkahkan kaki, memperkuat setiap otot-otot kakinya yang sempat rusak. Jika biasanya terapi ini berjalan hanya satu jam saja, kini Cleona meminta sang dokter untuk menambahkan waktu terapinya menjadi sedikit lebih lama, Cleona tidak ingin terus menunda kesembuhannya. Dan ia akan berjuang untuk bisa berjalan secepatnya.


“Cleo, untuk hari ini mari kita sudahi. Jangan terlalu memaksakan, karena otot-otot kakimu belum benar-benar stabil. Perlahan saja ya?”


“Ta…”


“Kamu bisa belajar sedikit-sedikit, tidak baik juga untuk kakimu jika terus di paksakan.” Dokter tersebut dengan cepat memotong ucapan Cleona.


Mengangguk lemas, Cleona akhirnya menuruti apa yang dokter katakan dan menerima bantuan dokter berusia pertengah 40 tahun itu untuk dirinya kembali duduk di kursi rodanya, bersamaan dengan sang papi yang masuk ke dalam ruangan terapi dan menghampiri anak perempuan pertamanya itu.


“Sudah berapa langkah yang bisa kamu lalui hari ini?” tanya Leo bersimpuh di depan anaknya yang sudah kembali duduk di kursi roda.


“Sudah lumayan banyak, kita hanya perlu untuk memperkuat otot-otot tulangnya.” Dokter yang menemani Cleona yang menjawab pertanyaan Leo seraya memberikan senyum ramahnya.


“Terima kasih sudah membantu anak saya, Dokter. Doakan dan bantu dia supaya si cantik ini cepat kembali berjalan, anak saya sudah tidak sabar ingin segera bisa berjalan untuk menghabiskan uang suaminya,” dokter itu tertawa bersama Leo, sementara Cleona hanya mencubit pinggang papinya dan mendengus pelan.


“Saya akan melakukan yang terbaik untuk anak anda, Pak. Jangan lupa kembali satu minggu lagi untuk melanjutkan terapinya,” kata dokter itu pada Leo yang di angguki pria tua kesayangan Cleona. “Berlatihlah di rumah sedikit-sedikit, tapi ingat jangan terlalu di paksakan!” peringat sang Dokter pada Cleona.


“Baik dokter, dan terima kasih untuk hari ini.”

__ADS_1


❄❄❄❄


Dalam perjalanan menuju pulang, ponsel Cleona berbunyi dengan nyaringnya, menandakan adanya panggilan yang berasal dari Rapa terdengar dari nada dering yang berbunyi. Senyum Cleona terukir begitu melihat bahwa suaminya tidak hanya menelpon, melainkan menghubunginya melalui video call.


“Hallo istriku sayang,” sapa riang laki-laki tampan di layar ponsel Cleona. Mendengar itu Leo yang tengah menyetir mendengus pelan dan mencebikan bibirnya pada menantunya. “Eh, ada papi mertua juga. Sehat-sehat aja kan papi?” tambah Rapa bertanya.


“Males gue basa-basi sama lo,” delik Leo, kemudian kembali fokus pada jalanan. Rapa yang mendengar itu hanya terkekeh, tidak sama sekali merasa tersinggung apa lagi marah, sudah biasa dirinya mendapatkan itu dari sang papi mertuanya yang amat di sayanginya


“Hati-hati nyetirnya, ya pi, jangan lupa istri abang di ajak makan dulu di restoran mahal.”


“Gak perlu khawatir, di sini anak gue bahagia tanpa lo, mau makan aja tinggal ngucap, dan gak lama Si Alvin datang bawa makanan banyak,” sekilas menoleh pada layar yang menampilkan wajah menantunya, memberikan senyuman jahil yang membuat laki-laki tampan di layar itu mendengus.


“Kenapa nama dia selalu di bawa-bawa sih!” delik Rapa tak suka.


“Abang pulang nih! Nanti kalau ayah marah, abang tinggal bilang aja kalau papi yang nyuruh,” ancam Rapa dengan wajah cemberut, karena tidak suka dengan papinya yang mulai menyebalkan.


Cukup kemarin saja dirinya di buat uring-uringan oleh adik dan bundanya, saat wanita kesayangannya itu mengatakan bahwa istrinya di bawa oleh laki-laki lain, sekarang jangan sampai terulang kembali oleh papi mertuanya juga. Kalau sampai itu terjadi, Rapa tidak akan berpikir dua kali untuk pulang dengan segera dan bertahan di sisi sang istri, tidak peduli meskipun ayahnya akan mengacungkan senjata apapun demi mengirimnya kembali ke Bali dan berpisah dari sang sitri.


“Abang lagi apa?” tanya Cleona, sengaja untuk mengalihkan pembahasan. Ia malas untuk kembali mendengar perdebatan kedua laki-laki tersayangnya. Di tambah Cleona juga tak ingin malah membuat Rapa tidak tenang dan mengganggu pekerjaan laki-laki itu. Cukup tahu bagaimana keluarganya jika sudah berniat jahil, dan Cleona pun tahu bagaimana suaminya jika sudah cemburu.


“Abang lagi rindu kamu, istri.”


“Queen juga kengen abang, tapi sekarang terobati begitu melihat wajah abang.” Kata Cleona dengan senyum terukir indah, dan senyum itu menular pada Rapa yang saat ini semakin merindukan istri cantiknya. Memeluk Cleona adalah keinginan terbesar Rapa, apalagi di saat lelah dan pusing menderanya akibat kekacauan yang harus segera dirinya selesaikan demi anak perusahaan sang ayah kembali stabil.

__ADS_1


“Istri,”


“Apa Bang,”


“Pengen peluk. Rindu ini kok gak bisa abang tahan ya? Pengen banget ada di samping kamu, peluk kamu seperti biasanya, cium kamu di setiap kesempatan. Di sini abang cuma bisa mantengin foto kamu yang ada di ponsel, gak bisa abang apa-apain …”


“Menantu mesum dasar lo emang!” sahut Leo yang sejak tadi diam mendengarkan.


“Diam deh, papi gak usah ikut campur, yang di mesumin juga istri abang, bukan papi.” Memeletkan lidahnya, Rapa kemudian me mencebikan bibirnya, walau sang mertua tidak sedang menatapnya. Leo hanya mendengus, dan keluar dari mobilnya yang baru saja berhenti di pekarangan rumah Lyra-Pandu. Mengambil kursi roda anaknya kemudian membantu Cleona kembali duduk di sana.


“Hati-hati gendong istri abangnya, Pi, hati-hati juga nanti pinggangnya encok,” kata Rapa di iringin dengan tawa.


“Gue masih tangguh asal lo tahu, usia boleh tua tapi soal tenaga, gue masih kuat, gak kayak lo!”


“Dih kayak abang gak tahu aja kalau tiap malam papi ngurut-ngurut pinggang dan ngeluh sakit.” Cibir Rapa.


“Lah, tahu dari mana lo?” Leo yang tengah mendorong kursi roda Cleona masuk ke dalam rumah membelalakan matanya, heran dari mana sang menantu tahu itu.


Tawa Rapa terdengar begitu menyebalkan di telinga Leo yang mendengar seolah dalam tawa itu tersirat sebuah ejekan.


“O jelas aja abang tahu, papi kan udah tua, jadi mana mungkin gak encok!”


“Sialan emang lo, Bang!”

__ADS_1


__ADS_2