
Pandu tidak hentinya tersenyum memperhatikan sang putra yang baru saja menyandang status sebagai ayah, yang saat ini tengah asyik bersama buah hatinya. Sejak kemarin, Pandu melihat bagaimana Rapa berinteraksi dengan si kembar, menjaga serta mengurus bayi mungil itu dengan hati-hati. Meskipun masih sedikit kaku tapi Rapa melakukan semuanya dengan benar, membuat Pandu teringat akan masa lalunya yang juga berada di masa-masa itu.
“Kamu ngapain?” tegur Lyra saat melihat sang suami yang berada di depan pintu kamar anak dan menantunya yang sedikit terbuka.
“Lagi ngintip si abang,” jawab Pandu sejenak menoleh pada sang istri dan memberikan senyum lembutnya, setelah itu kembali memperhatikan putranya yang tengah menggantikan popok si kembar di barengi dengan segala celotehan Rapa yang heboh sendiri.
“Kenapa emang pake di intipin segara?”
“Gak apa-apa, aku jadi ingat dulu saat kamu melahirkan,” kata Pandu yang saat ini sudah merangkul istrinya dan mengajak wanita itu menuruni tangga, berhenti memperhatikan anak serta cucunya.
Lyra mengembangkan senyum, kemudian berjinjit dan melayangkan kecupan singkat di pipi suaminya. “Gak kerasa ya udah punya cucu aja sekarang.” Pandu mengangguk, kemudian menuntun sang istri naik ke tempat tidur.
“Ternyata kita semakin tua, bahkan udah ada yang manggil kita kakek, nenek. Dulu mana pernah aku kepikiran soal ini, apa lagi sama kamu.” Pandu terkekeh, kemudian menjawil hidung istrinya.
“Iya, yang kamu pikir ‘kan cuma Amel. Mana ada aku dulu dalam rencana hidup kamu,” dengus Lyra pelan, membuat Pandu semakin gemas pada istri cantiknya itu.
“Waktu remaja, dia pun gak pernah masuk dalam rencana perjalanan hidupku. Aku baru memiliki rencana setelah jatuh cinta sama kamu, hingga saat ini rencanaku adalah menua bersamamu. Dan berhubung usia kita sekarang udah tua, maka rencanya aku ganti jadi, menghabiskan sisa hidupku bersama kamu.”
__ADS_1
“Udah tua, masih aja doyan gombal,” pukulan pelan Lyra berikan pada dada bidang suaminya dengan wajah memerah yang tidak dapat di sembunyikan. Meskipun sudah menikah selama 25 tahun, tetap saja Lyra masih merasakan malu juga baper saat suaminya itu melayangkan gombalan, atau kata-kata manis lainnya.
Pandu mengecup gemas pipi sang istri, kemudian semakin membawanya ke dalam pelukan. Di usianya yang tak lagi muda ini, Lyra tetap terlihat menggemaskan di mata Pandu, dan selalu mampu membuatnya jatuh cinta. “Aku gak nyangka loh istri aku yang udah tua ini masih bisa merona,” Pandu terkekeh pelan begitu mendapatkan cubitan kecil dari wanita tercintanya itu.
“Meski pun tua gini kamu cinta loh, Pan!”
“Iya, dan aku gak mau kehilangan kamu,” ujar Pandu dengan sorot mata yang menunjukan keseriusan. “Terima kasih, sayang sudah mendampingiku selama ini, menjadi patner dalam segala hal dan menjadi sumber kebahahagiaan dalam hidupku. Mungkin selama ini aku masih belum bisa menjadi suami yang kamu inginkan, tapi percayalah hingga maut menjemput maka aku akan terus berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu. Terus berada di sampingku, sayang. Karena aku masih membutuhkan kamu, dan akan selalu membutuhkan kamu.”
Pandu menangkup wajah istrinya yang sudah basah itu, ibu jarinya bergerak menyeka air mata yang mengaliri pipi Lyra kemudian melayangkan kecupan di mata itu secara bergantian, setelah itu mengecup kening istrinya dalam dan cukup lama. Lyra yang merasakan kehangatan itu memejamkan matanya untuk lebih menghayati hingga setetes air mata kembali jatuh.
“Tuhan terima kasih sudah memberiku hati yang kuat juga kesabaran yang tiada batas hingga aku mampu bertahan meskipun kekecewaan pernah laki-laki itu goreskan, terima kasih karena pada akhirnya kebahagian besar ini aku dapatkan sebagai imbalannya.” Bisik hati Lyra yang kemudian memeluk suaminya seraya menggumamkan kata cinta yang entah kenapa tidak pernah bosan Lyra utarakan.
“Bodo ah, gak dilihat ini sama mereka,” balas Lyra menyeka air matanya sendiri.
“Dih kata siapa? Noh mereka ngintip,” tunjuk Pandu ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Tentu saja Lyra menoleh dan segera memasang wajah galaknya.
“Bintitan itu mata, baru tahu rasa kalian!”
__ADS_1
Rapa keluar dari persembunyiannya beserta Cleona yang sama-sama membawa sang putra di gendongan masing-masing. “Ayah sama bunda lagi ngapain sih? Bunda sampai nangis gitu, ayah apain?” tanya Rapa begitu duduk di ranjang kedua orang taunya.
“Kepo!” jawab Pandu dan Lyra bersamaan. Membuat Rapa mencebikan bibirnya dan memberikan sang putra pada gendongan bundanya.
“Yah, mereka mirip si abang gak sih?” Lyra bertanya pada sang suami yang juga tengah menggendong cucunya.
“Lebih ganteng mereka, deh, Bun. Si abang mah buluk. Sampai sekarang gak berubah, malah makin buluk.” Kata Pandu yang kemudian pasangan kakek nenek baru itu tertawa.
“Buly aja terus, abang emang tampan, wajar banyak orang iri.” Rapa mendengus pelan, sementara Lyra dan Pandu sama-sama abai.
“Cucu-cucu nenek …” Lyra berhenti berucap, mengernyitkan keningnya kemudian menoleh pada Pandu. “Yah, kok rasanya bunda gak cocok ya di panggil nenek. Kesannya tua banget aja gitu.”
“Gak perlu ngaku-ngaku masih muda, kalau pada kenyataannya umur bunda emang udah tua.” Cibir Rapa yang dengan cepat mendapatkan jitakan panas dari Lyra.
“Usia boleh tua, tapi wajah tetap awet muda. Kamu gak ingat kalau waktu itu om Angga masih naksir bunda? Dan kamu jangan lupa juga kalau teman kamu, Si Daniel itu suka benget gombalin bunda. Tua-tua gini bunda masih laku sama berondong …”
“Ekhhem!”
__ADS_1
Deheman yang Pandu berikan sukses membuat Lyra menhentikan ucapannya, dan seolah tak melakukan kesalahan wanita yang baru saja mendapatkan cucu itu menyibukan diri mengajak ngobrol bayi dalam gendongannya, mengalihkan tatapan tajam suaminya yang sarat akan ketidak sukaan atas ucapannya barusan. Pandu masih menjadi laki-laki posesif dan cemburuan jika itu menyangkut istrinya. Namun meskipun begitu Lyra menyukainya dan perlu di ketahui bahwa cintanya tak akan pernah habis di makan usia.