Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
Bonus Chapter 3


__ADS_3

“Selalu aja kayak gini, di tinggal!” gerutu Rapa begitu membuka mata sang istri tidak lagi ada di sampingnya, padahal ia ingin memberikan kecupan selamat pagi, menjadi orang pertama yang dilihatnya kala mata terbuka dan hari kembali harus di jalani. Tapi belakangan ini kebiasaan awal pernikahan itu sudah jarang terjadi. Rapa bangun dan Cleona entah sudah ke mana. Tidak ada lagi waktu untuk bermalas-malasan di atas ranjang, saling memeluk di bawah selimut tebal. Ah, Rapa rindu moment itu.


“Istri kamu dimana?” panggil Rapa berteriak, melangkah menuruni tangga menuju lantai satu rumah mertuanya. Resiko menikah dengan tetangga, Rapa merasa tinggal di rumah yang begitu luas.


“Oh istriku sayang, dimanakah kamu berada?” kembali teriakan itu Rapa layangkan saat tidak ada sahutan dari yang dicarinya, membuat si pemilik rumah keluar dari kamar dengan raut wajah kesal dan siap menyemburkan lahar panasnya.


“Pagi-pagi berisik aja lo, Bang!” omel Leo yang dari wajahnya terlihat bahwa pria tua itu baru saja bangun dari tidur.


“Papi liat istri abang gak?” tanyanya tanpa menghiraukan omelan sang mertua.


“Menurut lo?” Leo memutar bola matanya jengah. “Gue masih ngantuk banget dan lo teriak-teriak sepagi ini. Ganggu tahu gak lo!” tambahnya mendengus kesal.


“Ck, Papi tinggal bilang gak liat aja susah amat, berbelit dan berurat-urat segala. Tambah keriput baru tahu rasa!” Rapa tidak sama sekali menghiraukan kekesalan sang mertua. “Pagi-pagi itu olahraga, Pi bukannya marah-marah. Cepat tua nanti,” cibir Rapa kemudian melanjutkan langkahnya untuk mencari sang istri tercinta beserta si kembar kesayangannya. Melantunkan teriakannya lagi dan itu sukses membuat Leo melemparkan sendal jepitnya yang di pakainya hingga mengenai kepala belakang Rapa yang tidak menyadari serangan dari pria tua yang sayangnya cinta pertama sang istri.


“Papi, kalau Abang amnesia gimana? Nanti abang gak ingat siapa Papi, mau emang Papi, Abang lupain?” ujarnya menoleh kebelakang dimana Leo masih berdiri dengan sebelah sendal yang masih tersisa di kakinya.


“Cih, justru gue bersyukur dilupain lo,” decih Leo masih dengan nada kesalnya.


“Yakin? Nanti Abang bawa Queen pergi dari rumah ....”


Bugh.

__ADS_1


Satu lagi sendal jepit yang semula Leo kenakan mendarat di kepala Rapa, membuat laki-laki muda itu mengerjap terkejut karena serangan yang tidak dirinya perkirakan. Herannya kenapa Leo selalu bisa melempar tepat sasaran, dan kepalanya selalu saja yang menjadi korban. Apa seingin itu mertuanya membuat ia hilang ingatan? Aish, dasar orang tua.


“Sakit loh, Pi,” rengak Rapa mengusap samping kepalanya yang berdenyut nyeri.


“Gak peduli gue,” ujar Leo seraya berjalan kembali masuk ke kamarnya.


“Papi mertua kejam, Abang laporin Kak Seto tahu rasa loh, Pi,” ancam Rapa sedikit berteriak.


“Gue gak takut sekalipun lo laporin gue ke Bapak lo,” sahut Leo balas berteriak tanpa menoleh kebelakang lagi, melangkah lurus masuk ke dalam kamar dan sedikit membanting pintunya hingga membuat Rapa terlonjak kaget.


“Ck, udah tua emosian, pantes gak ada cewek yang nyantol.” Gumam Rapa seraya menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan langkah mencari keberadaan sang istri yang tidak juga menampakan diri.


🍒🍒🍒🍒


“Kamu mau ke mana memangnya?” Lyra menaikan sebelah alisnya menoleh pada sang putra yang berjalan mendekat.


“Mau pacaran,” kata Rapa dengan cengiran khasnya, membuat sang adik yang tengah mengupas apel untuk isian kue yang akan di buatnya bersama sang ibu memutar bola matanya malas.


“Makanya kalau belum puas pacaran jangan dulu punya anak. Dasar orang tua gak tanggung jawab!”


“Sirik aja deh kamu,” sahut Rapa yang tidak memedulikan cibiran adiknya itu. “Gimana Bun, boleh ya titip si kembar? Nanti Abang beliin pancake durian kesukaan Bunda,” lanjutnya menoleh kembali pada sang ibu seraya mengedip-ngedipkan matanya. Jurus yang selalu Rapa gunakan untuk membujuk Lyra.

__ADS_1


“Cih, nyogok,” lagi-lagi cibiran Clara layangkan.


“Bodo, yang penting gue ganteng.”


“Gak nyambung ****!” delik Clara seraya melayangkan getokan pisau di kepala sang abang, yang untung saja benda tajam itu tidak melukai kepala Rapa. Jika sampai itu terjadi, tidak akan segan-segan Rapa meminta ganti rugi.


“Ya udah kamu pergi aja. El sama Nathan kasih Ayah kamu aja,” kata Lyra yang membuat senyum di bibir Rapa mengembang sempurna di susul dengan seruan gembiranya, lalu melayangkan kecupan demi kecupan di seluruh wajah Lyra yang jika saja Pandu melihatnya maka sudah dapat di pastikan bahwa Rapa tidak akan selamat.


“Namanya udah nikah, udah punya anak, mau kencan itu ajak anak-anaknya sekalian, jangan mau enak-enakan aja lo berduaan—"


“Apa sih adek jelek, lo iri karena Birma milih mancing bareng papi dari pada ajak lo kencan?” tanya Rapa dengan nada mengejek, membuat Clara kembali memberikan dengusannya.


“Sorry ya, gak ada di kamusnya gue iri sama lo,” tangan Clara bergerak mengibaskan rambut panjangnya kebelakang.


“Heleh, alasan!” cibir Rapa. “Udah ah, gue mau siap-siap, keburu siang.” Lanjutnya kembali melayangkan satu kecupan di pipi Lyra, lalu mengacak jahil rambut adiknya hingga teriakan Clara terdengar memenuhi ruangan, sementara Rapa tertawa puas karena berhasil membuat kesal sang adik. Hingga sedewasa ini, menjahili Clara tetaplah menjadi kesukaannya.


“Abang beliin gue rujak tumbuk jangan lupa!” teriak Clara begitu kekesalannya mereda dan sosok Rapa sudah hilang dari pandangannya.


“Iya nanti gue beliin, rujak tumbuk cabe!” sahut Rapa terdengar berteriak pula.


Clara mendengus kesal mendengar jawaban dari abangnya itu. Rapa yang menyebalkan memang tidak pernah hilang walau sudah memiliki dua anak. Semoga saja tingkah menyebalkannya itu tidak menular pada si kembar, sungguh Clara menyayangkan jika sampai itu terjadi. Bisa kacau generasi bangsa nantinya.

__ADS_1


×××××


__ADS_2