
Cleona dan Rapa pulang lebih awal dari cafe Chiko, karena ibu hamil yang memang tidak boleh terlalu kecapean dan pulang terlalu malam. Cleona hanya menurut meskipun dengan berat hati. Jika boleh jujur Cleona bukan berat meninggalkan teman-temannya, tapi lebih kepada berat meninggalkan makanan-makanan enak yang Chiko suguhkan.
“Kak Chik, kapan-kapan main ke rumah ya? Bawa makanan yang banyak buat gue,” ujar Cleona sebelum meninggalkan Cafe Chiko, sementara si pemilik hanya memutar bola matanya, meskipun kemudian tetap memberikan anggukan.
Dalam perjalanan pulang Cleona tertidur, meninggalkan Rapa seorang diri, mengemudi dalam kesunyian. Tak masalah memang, tapi Rapa kini tengah kebingungan cara membawa istrinya menuju kamar. Di bangunkan kasihan, sementara jika dirinya pangku maka dapat di pastikan bahwa tulangnya akan rontok semua.
Berpikir untuk beberapa saat, kemudian Rapa memilih untuk menghubungi mertuanya, meminta bantuan untuk memindahkan sang istri menuju ranjang.
“Lemah banget lo, Bang, angkat bini sendiri aja gak bisa.” Cibir Leo begitu mobil Rapa sudah terparkir di pekarangan rumah.
“Gak usah ngeremehin berat badannya Queen sekarang, Pi. Kalau penasaran silahkan papi angkat sendiri,” Rapa bergeser ke samping, mempersilahkan mertuanya untuk mengangkat tubuh Cleona yang tertidur. Namun memang nasib Leo yang mujur sepertinya, belum sempat laki-laki tua itu berhasil meraih tubuh anaknya, mata Cleona lebih dulu terbuka dan menguap begitu lebarnya.
“Papi ngapain?”tanya Cleona dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul.
“Suami lemah kamu itu minta bantuan angkat kamu ke kamar, makanya tadinya papi mau gendong kamu.” Leo melirik sekilas menantunya yang menggaruk tengkut salah tingkah.
“Queen berat tahu, Pi, gak usah di gendong-gendong segala. Bangunin aja,”
“Abang gak tega banguninnya,” kata Rapa yang kini sudah meraih pinggang Cleona dan menuntun istrinya masuk ke dalam rumah.
“Mantu gak tahu diri ya emang kayak lo, Bang. Tadi minta tolong, sekarang malah ninggalin. Nyebelin emang!” Leo mendengus melihat kepergian anak serta menantunya, sedangkan Rapa dan Cleona malah anteng-anteng saja berjalan menuju kamar walau gerutuan sang papi terdengar.
__ADS_1
Begitu sampai di kamar, Cleona langsung kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dengan hati-hati, sementara Rapa masuk ke kamar mandi untuk membersihakan diri setelah itu barulah menyusul istrinya naik ke tempat tidur.
“Istri gak mau cuci muka dulu?”
“Malas bang, Queen cape, ngantuk juga.”
Rapa mengangguk dan meraih tisu basah yang ada di nakas sebelah tempat tidurnya, menggunakan itu untuk membersihkan wajah Cleona dari make up tipis yang di kenakan istrinya sejak siang tadi, membuat Cleona yang baru saja memejamkan matanya itu pun terkejut dan langsung membuka matanya.
“Abang ngapain?” panik Cleona, yang di balas kekehan geli Rapa.
“Bersihin wajah kamu, sayang.”
“Diam istri, biar abang bersihin wajah kamu dulu, nanti jerawatan kalau di biarin. Diam ya biar abang selesaikan dulu. Kalau merasa gak enak, nanti kamu cukup bayar dengan kecupan aja,” kedipan mata genit yang Rapa lemparkan membuat Cleona yang semula merasa tak enak hati berubah mendengus dan menepis kasar tangan Rapa yang memang sudah selesai dengan aktivitas membersihkan wajahnya.
“Abang pamrih?”
“Enggak kok, mana mungkin sama istri sendiri abang pamrih. Kalau kamu gak ngasih juga abang bisa ambil paksa kecupannya,” alis yang di naik turunkan itu membuat Cleona kembali mendengus, karena Rapa yang terlihat lebih menyebalkan dari sebelumnya.
Malas menanggapi suaminya,Cleona berbalik memunggungi Rapa dan memejamkan matanya tanpa berkata apa pun. Kantuknya lebih penting saat ini dari pada meladeni gombalan-gombalan receh sang suami tercinta.
“Istri, gak baik loh tidur munggungin suami, dosa, nanti Tuhan marah.” Kata Rapa yang saat ini sudah berbaring mepet ke arah istrinya, memeluk pinggang Cleona yang beberapa kali mendapatkan tepisan. Namun Rapa tetap saja keras kepala, terus mengulanginya sampai Cleona lelah dan berhenti untuk menepis.
__ADS_1
Tangan Rapa bergerak mengusap perut istrinya. “Queen, bimbing abang untuk menjadi ayah yang baik untuk anak kita nanti, ya?” bisik Rapa di belakang kepala sang istri.
Cleona yang baru saja memejamkan matanya kembali melek, meski tidak memberikan pergerakan apa pun. Teringat kembali obrolan dengan sang bunda dan adiknya beberapa waktu lalu, mengingat kecerobohannya, tingkahnya yang masih seperti anak-anak dan manjanya ia, apakah bisa membimbing suaminya? Sementara dirinya pun belum yakin mampu menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya.
“Istri udah tidur?” tanya Rapa berbisik.
“Abang, apa Queen bisa?” Cleona balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan suaminya lebih dulu, posisinya masih sama, dan pergerakan pun tidak ada dari Cleona selain tanya yang di layangkannya.
Rapa tak langsung memberikan jawaban, karena bagaimanapun Rapa sadar bahwa ini hal baru untuk Cleona, begitu juga untuk dirinya sendiri. Menghadapi kelahiran yang hanya tinggal menghitung minggu ini membuat Rapa mulai berpikir, padahal saat itu tidak sedikit pun terlintas di kepalanya mengenai apa yang di tanyakannya barusan.
“Bang,”
Panggilan dari sang istri menyadarkan Rapa dari lamunannya. “Mari kita belajar sama-sama, Queen. Berusaha menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita, dan karena anak kita dua, sebisa mungkin kita harus berusaha adil agar tidak ada salah satu dari mereka yang merasa tersisihkan. Kamu mau kan belajar bekerja sama dengan abang untuk membangun keluarga kecil kita nanti?”
Membalikan tubuhnya menghadap sang suami, Cleona menaikan kedua sudut bibirnya, mengukir sebuah senyum lalu memberikan kecupan singkat setelah itu menganggukan kepala. “Queen mau belajar, Bang. Tapi abang mau kan janji sama Queen? Janji untuk tidak ringan tangan pada anak-anak kita nanti, sebesar apapun kesalahan mereka yang mungkin akan terjadi di kemudian hari.”
“Kenapa?” kening Rapa mengernyit bingung.
“Karena Queen ingin abang menjadi panutan anak-anak kita nanti, superhero-nya anak-anak, dan menjadi tempat berlindungnya anak-anak. Jadi, jangan membuat anak-anak kita trauma dengan perlakuan kasar orang tuanya. Abang paham kan maksud Queen?”
Setelah beberapa detik terdiam, Rapa akhirnya mengangguk dan melayangkan kecupan singkat di kening sang istri. “Abang akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita nanti, juga untuk kamu.”
__ADS_1