Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
91. Rapa Memang Berbeda


__ADS_3

Cleona menggelengkan kepala tak habis pikir melihat banyaknya makanan yang tersedia di meja, mulai dari siomay, rujak manga, soto, dan masih banyak lagi makanan lainnya yang katanya, dulu menjadi makanan yang di inginkan bunda, mami dan aunty-nya saat ngidam serta sang papi yang memang pernah mengalami masa itu juga.


Entah apa yang harus Cleona ucapkan saat ini, karena yang jelas ia ingin sekali menangis, bukan karena terharu, tapi lebih kepada kasihan pada makanan-makanan itu yang memang tidak ingin Cleona sentuh sedikit pun.


Keluarganya terlalu berlebihan soal mengidamnya yang baru di mulai tadi siang saat di kantor Rapa, dan sekarang ia benar-benar tidak menyangka bahwa semua anggota keluarga membelikannya berbagai makanan, meskipun tidak Cleona minta.


“Bunda, ayah dan papi, maaf, tapi Queen lagi gak kepengen makan apapun saat ini.” Celona merasa tak enak hati menolak semua makanan yang keluarganya bawakan sampai titipan aunty Amel yang sengaja di kirim lewat ojol ikut serta memenuhi meja.


“Masa sih? Dulu waktu bunda ngidam, bunda selalu suka soto dan siomay loh,” Lyra mengernyit.


“Papi malah selalu minta semua makanan ini sampai ganggu ayah sama om kamu di tenggah malam,” Leo ikut menambahi.


“Ya maaf, tapi kan gak semua yang ngidam sama, Pi, Bun.”


Lyra terdiam sejenak, sebelum kemudian menganguk kecil dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Iya juga sih. Terus ini gimana?”


Cleona menyunggingkan senyumnya. “Kalian aja yang makan, jadi untuk makan malam ini, kita gak perlu masak.”


“Huhh! Ya udah lah, mau bagaimana lagi, di buang juga sayang.” Lyra menghela napasnya berat. Salahnya juga memang karena tidak lebih dulu bertanya pada sang menantu.


“Yey makan!” Laura berteriak dari lantai atas, seraya berlari menuju ruang tengah di mana keluarganya berkumpul, dan yang pasti makanan berada.


“Giliran makan cepat emang, kamu itu, penciumannya juga tajam banget!” Pandu menoyor kening anak bungsu dari sahabatnya itu, tapi kemudian menariknya untuk duduk bergabung.

__ADS_1


“Priela udah lapar dari tadi abisnya,” Laura berkata dengan mulut penuh makanan. “Punya rumah besar tapi isi kulkas kosong, Ella jadi heran papi punya supermarket buat apa sih?” lanjutnya bertanya, seraya menatap sang papi yang tengah memasukan rujak manga kedalam mulutnya.


“Ya jelas buat jualan lah, ya kali papi buangin!”


“Terus uangnya papi kemanain sampai gak mampu beli untuk ngisi kulkas?”


“Papi tabung buat bangun mall,” decakan semua orang terdengar, terlebih dari Lyra yang langsung melayangkan pukulan cukup keras pada kepala Leo yang sepertinya hanya di isi dengan bisnis.


“Gak sekalian papi bangun candi juga?” Clara menaikan sebelah alisnya. Niatnya meyindir, tapi siapa sangka laki-laki tua itu justru menanggapinya dengan semangat, sableng memang!


🏢🏢🏢


Sambil menunggu suaminya kembali dari kamar mandi, Cleona menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sambil menonton video melalui ponselnya, sesekali ia tertawa melihat bagaimana lucunya orang-orang sekarang dalam membuat konten, kreatif memang tapi juga menggelikan.


Rapa yang sudah tahu kebiasaan istrinya itu menggelengkan kepala dan mengambil begitu saja ponsel milik Cleona yang kemudian ia masukan ke dalam sakunya. “Istri jangan nontonin yang gitu mulu, ingat lagi hamil!”


“Gemesin banget sih istrinya abang kalau lagi cemberut gini,” ujar Rapa menjawil hidung mancung sang istri dengan gemas, lalu melayangkan kecupan singkat di kening Cleona,


Rapa kini berbaring di ranjang king size kamar mereka di rumah sang papi dengan berbantalkan paha istrinya, menghadap perut Cleona yang masih rata mengingat usia kandungannya yang baru memasuki usia dua minggu. Rasanya masih tidak menyangka bahwa ia akan segera menjadi seorang ayah, 9 bulan ke depan.


“Istri, kira-kira anak kita laki-laki apa perempuan? Atau mungkin ganda putra?” Rapa mendongan menatap Cleona yang tengah menunduk menatapnya.


“Nanti deh empat bulan lagi kita cek jenis kelaminnya.”

__ADS_1


Rapa mengangguk menyetujui, lalu menyibakan atasan piyama Cleona hingga menampilkan perut sang istri yang putih bersih, kemudian melayangkan kecupan-kecupan kecil hingga membuat sang empunya kegelin dan berusaha menyingkirkan kepala Rapa yang sayangnya tidak juga berhasil.


Tawa kegeliaan Cleona terdengar begitu pun kekehan kecil Rapa yang saat ini semakin menyibakan atasan piyama Clona hingga batas dada, membuat perut Clona semakin terekspos, dan untungnya hanya ada mereka berdua di dalam kamar.


Cleona hendak kembali menurunkan piyamanya, tapi dengan cepat Rapa tahan, membuat istrinya itu mendengus dan berakhir membiarkannya saja walau rasa dingin ia rasakan akibat hembusan angin dari AC di dalam kamarnya.


“Beberapa bulan lagi perut kamu akan membesar,” menggunakan telunjuknya, Rapa membuat sebuah lingkaran di perut istrinya itu. “Kata orang perempuan hamil itu cantik. Abang jadi gak sabar melihat seberapa cantiknya kamu dengan perut buncit hasil keja keras kita setiap malam.”


“Jadi maksud abang, sekarang Queen gak cantik?” tanyanya dengan cemberut.


“Kamu itu dari dulu udah cantik, bahkan begitu keluar dari perut mami,” jawab Rapa dengan senyum manis terukir di bibirnya.


“Ck, kayak yang tahu aja, Queen lahir seperti apa dulu,” Cleona mencebikan bibirnya.


“Tahu lah, kamu sama abang kan lahirnya duluan abang,”


“Ya emang, tapi waktu Queen lahir usia abang baru satu tahun, mana ingat wajah Queen kayak gimana pas lahir,”


“Lah kan ada fotonya, sayang.”


Cleona merutuki dirinya sendiri, lupa bahwa keluarganya memang selalu mengabadikan setiap momen tumbuh kembang Cleona sewaktu bayi, bahkan begitu dirinya lahir pun fotonya ada di album khusus yang neneknya berikan.


Sebenarnya ini yang menjadikan menikah dengan seseorang terdekat itu terasa monoton, mau membicarakan masa-masa kecil, jelas sudah tahu satu sama lain, kejelekan sudah saling mengetahui, kesukaan bahkan hal yang tak di sukai saja sudah di ketahui, jadi apa lagi yang harus mereka bahas selain masa sekarang dan mas depan?

__ADS_1


“Nak kamu kalau mau apa-apa bilang, papa udah gak sabar banget pengen kamu repotin. Jangan jadi anak yang terlalu baik dan kalem ya, papi pengen segera dapat tantangan dari kamu." Rapa berbicara di depan perut Cleona. Membuta wanita cantik itu menggelengkan kepala tak habis pikir dengan permintaan sang suami. Orang tua lain mendoakan anaknya supaya baik dan tidak merepotkan, Rapa malah justru meminta sebaliknya. Calon ayah yang aneh memang.


Rapa memang berbeda, dan perbedaannya itu yang kadang membuat Cleona geleng kepala bahkan ingin sekali memaki suaminya sendiri walau pada akhirnya sayang untuk di buang.


__ADS_2