
Menjadi pedamping Leo untuk menghadiri pelepasan Laura di SMA Negeri 2 Kebaperan menggantikan Luna yang sudah pergi meninggalkan dunia, Lyra puas melihat suaminya cemburu dan uring-uringan sepanjang hari kemarin hingga saat ini, dimana acara baru saja di mulai dan Lyra lebih memilih menggandeng tangan Leo dan duduk di samping sang sahabat yang merangkap menjadi besan. Meninggalkan Pandu di luar aula bersama Clara, Birma dan yang lainnya.
Bukan tanpa alasan juga Lyra memilih mendampingi Leo, karena ini jelas atas permintaan Laura sendiri yang menjadi murid berprestasi dengan nilai tertinggi di sekolah. Remaja itu menginginkan di dampingi orang tua yang lengkap. Dan berhubung sang mami tidak mungkin di ajak ke atas panggung, karena pasti semua orang akan kabur jadilah sang bunda yang menggantikan.
Dan begitu acara selesai di laksanakan, Laura keluar dengan senyum yang mengembang dalam gandengan papi juga bundanya, di sambut oleh orang-orang tercintanya di ambang pintu serta senyuman sang mami yang meski kedatangannya singkat, tetap membuat kebahagiaan Laura begitu sempurna.
“Kak Lyra?”
Di tengah kehebohan keluarga besar konyol itu, satu suara membuat semua orang menoleh dan mendapati sosok laki-laki tampan di usia yang sudah tidak lagi mudanya itu memberikan senyum ke arah Lyra yang mengernyitkan kening.
“Ternyata benar pujaan gue sejak dulu ada di sini. Astaga, gak nyangka gue bisa ketemu bidadari gue lagi,” ucap laki-laki itu dengan senyum mengembang.
Pandu yang sejak tadi sudah keruh semakin keruh mendengar ucapan laki-laki yang tak di kenalnya itu, sementara Lyra yang semula terlihat bingung kini sudah tertawa dan melayangkan pukulan kecil pada dada laki-laki yang menyapanya.
“Angga?” tebak Lyra yang di jawab anggukan oleh laki-laki itu.
“Gue kira lo lupa sama gue,” ujarnya tertawa pelan.
“Sempat lupa emang. Lo makin ganteng abisnya kalau udah berumur gini.” Kata Lyra kemudian tertawa, mengabaikan suaminya yang sudah melayangkan tatapan membunuh.
“Lo malah gak berubah dari dulu. Tetap cantik, padahal udah beranak,” tawa Angga kembali terdengar, sebelum kemudian suara deheman beberapa orang menyadarkan Lyra juga Angga yang asyik mengobrol berdua.
“Dia suami lo?” tanya Angga menunjuk Leo yang masih berada di samping Lyra.
“Bukan. Gue suaminya, kenapa?” jawab Pandu dengan nada tak suka.
__ADS_1
Hendak menjawab, Leo kembali bungkam dan melayangkan delikan pada Pandu yang sudah menggeser tubuhnya menjauh dari Lyra.
“Gak apa sih, gue kira kak Lyra gak jadi nikah sama lo, karena sejak tadi gandengannya sama bang Leo. Di panggung juga …” Angga menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Maklum cewek cantik, lakinya dua,” kata Lyra asal. “Itu anak lo,” tunjuk Lyra pada remaja laki-laki yang sejak tadi hanya berdiri.
Angga mengangguk. “Dulu kita bertemu di usia belasan, sekarang di pertemukan kembali begitu sama-sama bawa anak yang usianya belasan. Jangan-jangan jodoh ini mah,” Angga tertawa begitu juga dengan Lyra. Namun tidak dengan orang-orang yang lainnya yang masih juga memperhatikan keduanya.
“Siapanya nih yang jodoh?” tanya Lyra dengan nada menggoda.
“Kita lah, masa anak-anak kita,” jawab Angga yang kembali di iringi tawa keduanya.
“Bisa aja lo bambang! Bini lo mana, kenalin bisa kali?”
Raut wajah Angga yang semula ceria itu berubah sedih. “Bini gue udah lama pergi, waktu lahirin Kaivan.”
Sebuah gelengan serta senyuman yang terlihat jelas di paksakan Angga berikan. “Gak apa-apa, lagian itu udah lama.”
“Gak nikah lagi?”
“Enggak, abis gue nyari lo susah benget.”
“Lah apa apa hubungannya sama gue?” tunjuk Lyra pada dirinya sendiri dengan kerutan bingung.
“Mau gue ajak nikah,” ucapnya di iringi dengan tawa. Sementara dengusan terdengar di sisi kiri dan kanannya, yang tak lain di berikan oleh Pandu serta Kaivan, yang tak lain anak dari Angga. Sedangkan Lyra dan Angga sama-sama abai.
__ADS_1
“Mau lo jadi suami ketiga gue?” tanya Lyra dengan nada bercanda, tapi tetap saja Pandu langsung melayangkan tatapan tajam sarat akan rasa tak suka pada pertanyaan yang di layangkan Lyra.
“Gak deh makasih. Gue pengen jadi satu-satunya, Kak.”
Jengah dengan obrolan kedua orang di dekatnya Pandu merengek mengajak istrinya pulang. Namun suara ringisan Cleona dan teriakan panik Rapa mengalihkan semua orang yang ada di sana.
Leo beserta Pandu panik dan dengan cepat menghampiri, membantu Rapa membopong Cleona yang kesakitan menuju parkiran yang sialnya berada cukup jauh dari posisi mereka saat ini.
Lyra tak kalah paniknya dan pergi begitu saja meninggalkan Angga yang terlihat kebingungan, di ikuti Laura, Clara juga Birma. Dan segera masuk ke dalam mobil yang di kendarai Leo, mendampingi sang menantu. Sementara suami serta anak-anaknya yang lain berada di mobil Birma.
“Mel, siapin ruangan buat mantu gue. Queen mau lahiran kayaknya,” kata Lyra begitu sambungan telepon di angkat sahabatnya di rumah sakit, dan kembali mematikannya tanpa menunggu jawaban dari si lawan bicara.
“Bang, sakit.” Ringis Cleona dengan peluh yang sudah berjatuhan dari pelipisnya.
Rapa yang masih belum reda dari rasa paniknya tidak kalah berkeringat dan hanya bisa memberikan elusan lembut untuk menenangkan istrinya, serta kecupan-kecupan singkat di puncak kepala Cleona. Sedangkan Leo yang menyetir, sesekali menengok ke belakang, kemudian akan menambah kecepatan laju mobilnya.
“Hati-hati Le, lo fokus kejalanan aja gak usah nengok-nengok.” Lyra memperingati saat besannya itu hampir saja menabrak mobil di depan.
“Abang …”
“Tahan ya, sayang sebentar lagi kita sampai di rumah sakit.” Rapa kembali memberikan kecupan di pelipis istrinya. Tangan Lyra sibuk menyeka keringat di wajah Cleona dan memberikan kata-kata semangat untuk menantunya itu. Sedangkan Cleona yang merasakan sakit luar biasa dengan napas tersenggal, mencengkram kemeja yang di kenakan suaminya dengan kuat.
Sakit yang luar biasa ini benar-benar membuat Cleona tidak bisa menahan tangis, dan itu membuat Rapa sebagai suami tidak tega melihatnya hingga ikut menangis dan mengajak anak-anaknya bernegosiasi agar tidak memberikan sakit itu pada Cleona. Namun tetap saja Cleona menjerit kesakitan, hingga tiba di rumah sakit dan aunty Amel beserta timnya yang sudah menunggu langsung membawa Cleona ke ruangan bersalin.
“Abang temenin,” pinta Cleona di tengah isak tangisnya.
__ADS_1
Rapa bingung harus bagaimana saat ini, di satu sisi ia tidak tega melihat istrinya yang kesakitan dan butuh dukungan, tapi di sisi lain, Rapa juga tidak berani menyaksikan istrinya bertarung nyawa demi sang buah hati. Rapa takut, dan ia tak sanggup mendengar jeritan kesakitan sang istri.
“ABANG!!!”