Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
79. Maafkan


__ADS_3

"Queen, bulan madu yuk,” kata Rapa saat mereka sudah berada di kamar siap untuk tidur, karena hari yang memang sudah cukup malam.


Mengernyit, Cleona menatap suaminya bertanya. Paham akan apa yang di maksud sang istri, Rapa meraih pundak Cleona agar menghadapnya, kemudian membubuhkan satu kecupan di kening perempuan cantik itu.


“Kita berangkat bulan madu ke Bukit Moko gimana? Bareng Atu sama Birma,” ucapnya dengan senyum lebar dan binar mata penuh harap.


“Kapan memangnya?”


“Minggu depan.” Cengiran Rapa berikan, seraya menggesek-gesekan hidung mancunnya pada hidung mungil Cleona. “Nanti aku izin cuti sama ayah.”


“Emang ayah bakal ngizinin? Kamukan baru banget ngambil cuti, masa udah cuti lagi,”


“Ayah pasti izinin kok, apa lagi alasannya karena bulan madu. Bunda sama ayah kan udah ngarepin banget punya cucu.” Wajah cantik Cleona menghangat begitu mendengar perkataan suaminya apa lagi laki-laki itu mengelus perutnya lembut dan melabuhkan beberapa kali kecupan di sana, membuatnya geli sekaligus senang karena itu berarti suaminya pun mengharapkan seseorang hadir di dalam sana.


“Kita berdoa aja ya, semoga dia cepat hadir.” Cleona ikut mengelus permukaan perutnya yang rata, dengan harapan yang tidak jauh berbeda dengan sang suami serta mertuanya.


Setelah menikah bukankah seorang anak yang menjadi harapan baru sepasang suami istri? Begitu pun dengan keinginan Cleona. Ia ingin segera memiliki seorang anak yang lahir dari rahimnya, pelengkap pernikahannya dan perekat rumah tangganya.


“Jadi mau kan berangkat bulan madu lagi?” tanya Rapa untuk memastikan.

__ADS_1


Satu anggukan Cleona berikan diiringi dengan sunyum manis yang terlihat semakin indah dalam keadaan temaram akibat lampu utama yang sudah di matikan, dan hanya menyisakan lampu tidur yang cahayanya sedikit redup.


“Semoga aja pulang dari sana ganda putra kita jadi di dalam sini,” kata Rapa yang kembali mengelus perut sang istri, yang tentu saja Cleona aminkan.


“Kalau seandainya belum juga hadir?” Cleona bertanya kemungkinan terburuknya, meskipun dalam hati ia terluka mengatakan itu, tapi Cleona tidak ingin lebih kecewa jika terlalu berharap. Ia pun tidak ingin membuat suami serta mertuanya kecewa, jadi tidak ada salahnya bukan jika Cleona mempertanyaan hal ini?


Rapa menangkup wajah istrinya kemudian mendaratkan kecupan di seluruh wajah istrinya dan menatap manik indah itu dengan tatapan serius. “Jika pun belum, itu artinya kita lebih sering lagi usahanya. Kamu tenang aja, abang masih kuat kok untuk tidurin kamu tiap malam.” Menaik turunkan alisnya mengoda, Rapa malah justru mendapat cubitan pedas di pinggangnya dari sang istri tercinta.


“Mesum banget sih, abang!”


“Mesum juga sama istri sendiri ini, kalau mesum sama istri orang baru deh gak boleh,”


“Kamu tenang aja, sayang, abang janji untuk gak mengecewakan kamu. Apa lagi sampai berani mesumin perempuan lain. Lagi pula istri abang ini juga gak akan abis-abis, seperti cinta abang.”


“Astaga, meleleh hati adek, Bang!” jerit hati Celona yang wajahnya kini sudah sebelas dua belas dengan udang rebus saking bapernya akan perkataan manis laki-laki yang sudah menjadi raja di hatinya sejak dulu itu.


Memangnya siapa sih yang tidak akan baper? Semua perempuan mungkin akan menggelengkan kepala jika ada yang melayangkan pertanyaan seperti itu.


Memiliki suami yang pandai menggombal itu entah sebuah anugerah atau justru musibah, karena yang jelas, mendapatkan gombalan terus menerus itu membuat kerja jantung Cleona dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Bukankah itu tidak baik untuk kesehatannya? Tapi Cleona menyukai debaran ini, dan Cleona selalu menyukai reaksi anggota tubuhnya pada apapun yang suaminya lakukan, termasuk pada debaran jantungnya yang menggila dan rasa hangat di pipinya yang selalu menimbulkan semburat merah.

__ADS_1


“Abang jangan gombal terus dong, Queen gak mau mati mendadak gara-gara kelebihan kandungan gula saking manisnya mulut abang mengeluarkan kata.”


“Kamu itu pasti panjang umur, Queen karena kadar cinta abang lebih besar untuk kamu.”


“Asataga abang, udah ah jangan gombalin Queen terus. Queen gak kuat sumpah, takut pipinya kebakaran. Lebih baik sekarang tidur, udah malam, lagi pula bukannya besok abang mau ajak Queen lari pagi?”


“Abang nyalain alarm kok agar besok kita gak kesiangan.”


“Kenapa sih harus lari pagi, Queen suka malas, Bang! Lebih baik abang aja yang lari, Queen tunggu di pinggiran, semangatin abang.” Cleona mengedip-ngedipkan kedua matanya lucu, berharap bahwa sang suami akan luluh dan mengizinkannya untuk hanya duduk santai menikmati gorengan atau bubur ayam.


“Queen itu harus rajin lari pagi biar sehat, jangan lari dari kenyataan yang justru bikin sakit.”


“Abang mau bahas masalah kita dulu?” delik Cleona tak suka. Setiap kali suaminya itu membahas perihat ‘lari dari kenyataan’ membuat Cleona jadi teringat akan masalah mereka beberapa tahun lalu yang mana dirinya berlari dari kenyataan pahit akan kesalah pahaman mereka dan kecemburuannya. Cleona teringat masa-masa sulitnya yang di habiskan di negara orang demi menghindari sang terkasih, menyiksa diri sendiri dengan rasa rindu yang menyesakan.


“Gak ada abang bahas masalah dulu! Lagi pula masalah itu abang jadikan sebagai pembelajaran agar lebih bisa menghargai kamu, lebih bisa mengerti kamu dan tahu bagaimana berharganya kamu dalam hidup abang, seperti yang pernah di katakan bunda, Ratu, dan orang-orang yang sayang terhadap kita,” Rapa membelai lembut pipi berisi istrinya.


“Jika masalah itu tak ada, jika kamu tidak marah dan memilih pergi, mungkin sampai kini abang masih seenanknya menyakiti perasaan kamu, mungkin hingga saat ini abang belum sadar mengenai tindakan salah abang yang tidak bisa membedakan antara kekasih dan sahabat. Maafin abang, sayang. Abang janji tidak akan pernah mengulanginya lagi.”


“Queen gak akan larang abang berteman dengan siapapun, termasuk Kak Mirna atau perempuan lainnya, hanya saja abang harus punya batasan. Ingat ya, Bang, sedekat apapun, seerat apapun hubungan pesahabatan tetap saja sahabat, kedekatannya pun ada batasnya. Jangan seperti dulu yang malah mesra banget bahkan sampai rasa cemburu Queen abang abaikan.”

__ADS_1


Dengan gemas Rapa menjawil hidung mungil sang istri dan memberikan satu kecupan gemas disana sebelum kemudian membawa Cleona ke dalam pelukan hangatnya. “Maafin abang, sayang.”


__ADS_2