
Cleona yang lebih dulu bangun dari tidur siangnya begitu mendengar suara ribut-ribut dari bawah, menyesal karena membiarkan pintu kamarnya terbuka. Menoleh kesampingnya, senyum Cleona terukir sempurna mendapati ketiga laki-laki tersayangnya masih tertidur nyenyak di atas ranjang yang sama.
Kecupan kecil Cleona berikan pada anak-anaknya secara bergantian kemudian beralih mengecup pipi suaminya dan kembali menjauhkan kepala berniat untuk turun dari ranjang, andai saja Rapa tidak dengan cepat menahan lehernya dan ******* bibirnya dengan begitu rakusnya seolah tidak ada lagi hari esok.
“Puasa woy Rapa! Ini baru dua minggu!”
Mendengar suara itu, Cleona dengan cepat mendorong tubuh suaminya hingga ciuman mereka terlepas, dan dengan cepat pula Cleona menyeka bibirnya dan menoleh pada arah suara dimana Alvin dan Freya berada di ambang pintu menahan tawa geli, membuat Cleona benar-benar malu dan merutuki diri karena sudah terbuai dengan ciuman suaminya yang memang ia rindukan, dan sialnya lagi kenapa harus lupa menutup pintu kamar. Sementara Rapa mendengus dan merutuki kedua orang yang saat ini dengan tidak sopannya masuk tanpa di persilahkan.
“Ck, ganggu aja lo berdua!” kesal Rapa yang kemudian duduk di ranjangnya dan mengacak rambutnya frustasi.
“Harusnya lo bersyukur karena kita ganggu. Coba kalau enggak? Junior lo keburu bangun dan harus berhenti pas lagi tegang-tegangnya karena Cleona belum bisa lo tidurin. Itu lebih menyiksa kawan,” ujar Alvin dengan tawanya yang berderai puas melihat wajah memerah Rapa, sementara Cleona sudah berhasil melarkan diri ke kamar mandi.
Suara tangisan bayi yang begitu nyaring, membuat Alvin meringis, menyesal telah membuat kegaduhan dan mengganggu tidur bayi kembar itu. Freya langsung membawa salah satu dari kedua bayi itu untuk di tenangkannya, sementara yang satunya di gendong oleh Alvin.
“Bukannya lo udah lahiran ya, Fre?” tanya Rapa dengan kening mengerut karena tidak melihat adanya bayi yang sahabat istrinya itu bawa.
“Udah lah, bukannya lo udah lihat juga anak gue?”
“Terus sekarang anak lo mana? Gak lo bawa?”
__ADS_1
“Ada di bawah, di gendong Clara.” Rapa akhirnya mengangguk paham, kemudian masuk ke dalam kamar mandi begitu melihat istrinya yang baru saja keluar dengan wajah yang lebih segar.
Cleona mengajak kedua tamunya itu untuk turun kembali dan bergabung dengan yang lain meninggalkan Rapa yang sepertinya tengah mandi. Dan begitu tiba di lantai bawah, Cleona menggelengkan kepala melihat ramainya ruang tengah yang sudah di isi banyak orang, salah satunya keluarga kakak dari sang ayah yang memang sudah lama tak terlihat karena berada di kota yang berbeda.
Menyapa semua tamunya, Cleona kemudian duduk di samping sang papi. Sementara anak-anaknya yang semula berada di tangan Alvin dan Freya, kini sudah berpindah pada tangan Clara juga Birma, yang beberapa waktu ini memang sudah tidak terlihat sedih dan terbebani karena orang tua Birma yang berhenti menuntut seorang cucu sejak kepergian Eyang Birma hampir dua bulan lalu.
“Suami kamu mana, Queen?” tanya Panji, kakak dari sang ayah.
“Lagi mandi, om.” Cleona menjawab seadanya.
“Hampir aja Si Cleona kebobolan lagi tadi, gara-gara Si Rapa nyosor,” adu Alvin, membuat wajah Cleona memerah malu. Dan merutuki laki-laki yang di anggap kakaknya itu.
“Yang benar kamu, Vin?” anggukan menjadi jawaban Alvin atas pertanyaan yang di layangkan Lyra. “Ck, benar-benar deh tuh bocah. Gak bisa apa nunggu tiga minggu lagi,” Lyra berdecak, kemudian menggelengkan kepala.
“Pisahin aja tidurnya, Tante.” Alvin mengompori, begitu melihat kedatangan Rapa.
“Yah, nanti malam bunda tidur sama Queen, ya?” izin Lyra pada suaminya.
“Lah kenapa emang, Bun?” tanya Rapa mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
“Biar kamu gak macam-macem dulu sama Queen. Ingat bang kamu itu harus puasa dulu sampai anak kalian berusia 40 hari.”
“Abang juga tahu, bun. Terus apa hubungannya sama bunda tidur sama istri abang?” Rapa masih saja belum paham dengan apa yang di bicarakan bundanya.
“Biar kamu gak nyosorin istri kamu terus!”
“Abang gak nyosor-nyosor …”
“Bohong itu tan, tadi aja kalau gak Alvin pergokin udah ke mana-mana tangannya Si Rapa.”
Mendelik tajam ke arah si pengadu, Rapa kemudian mengacungkan kepalan tangannya. Menyumpah serapahi Alvin dalam hati karena sudah seenaknya mengadu. Namun Alvin tidak sama sekali merasa bersalah. Mantan kakak kelasnya itu malah justru terlihat puas, membuat Rapa semakin kesal dan ingin sekali menendangnya.
Alvin benar-benar balas dendam mengenai ejekan Rapa saat beberapa bulan lalu Freya melahirkan. Dan sekarang itu pun Rapa dapatkan. Tahu bagaimana tersiksanya puasa 40 hari, Rapa tidak akan mengejek Alvin yang pedendam itu.
“Bunda gak usah tidur bareng Queen, kasihan ayah tidur sendiri. Abang janji kok gak akan nyosor-nyosor Queen.”
“Jangan percaya, Bun.” Kini Birma pun ikut mengompori.
Semua yang ada di ruangan tersebut tertawa puas melihat wajah kesal Rapa. Semua orang sepertinya memang begitu senang jika dirinya terbuly, apa lagi Leo yang saat ini tertawa paling kencang. Sayang dulu waktu Cleona dan Laura lahir dirinya masih bocah, jadi tidak bisa membuli mertuanya yang juga pasti puasa, tidak pula bisa membuli ayahnya yang tidak pernah Rapa tahu bagaimana wajah tersiksanya karena harus puasa saat sang bunda melahirkan.
__ADS_1
Sial memang, tidak ada satu pun yang mengerti posisi Rapa saat ini, sekali pun om nya yang baru kembali menampakan diri setelah sekian lama berada di kota lain. Mereka semua seperti tidak pernah merasakan masa-masa tersiksanya saja, membuat Rapa mendengus kesal dan memilih pergi menuju dapur untuk mencari makanan dari pada harus tetap bertahan di tengah-tengah mereka yang malah puas membulinya. Tidak kah mereka tahu bahwa orang tampan tidak layak untuk di buli. Apa harus dirinya membuat undang-undang untuk larangan pembulian bagi orang tampan seperti dirinya?