Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
101. Kembalinya Si Rubah


__ADS_3

“Lebih lucu yang ini, Bang!” kekeh Cleona menunjuk ranjang bayi dengan warna biru muda yang lucu.


“Yang coklat ini lebih bagus istri, elegan dan terlihat mewah.” Begitu pun dengan Rapa yang masih kekeh dengan pilihannya.


“Abang, anak kita belum tahu mewah atau elegannya. Lebih baik pakai pilihan aku aja, lebih cocok untuk bayi.”


“Tapi pilihan abang juga bangus, istri. Nanti orang-orang yang lihat akan terkesan dengan kemewahannya.”


Cleona memutar bola matanya malas. “Pokoknya beli pilihan Queen.”


“Gak bisa gitu dong, abang…”


“Please deh bang, yang harus kita perhatikan itu kenyamanan anak kita nanti, bukan kemewahannya. Yang akan menjadi objek nanti anak kita bukan ranjangnya. Jadi pilihan Queen aja.” Cleona memotong cepat ucapan suaminya.


Rapa yang memang sudah lelah akhirnya mengangguk meski dengan berat hati. Sejak satu jam yang lalu berdebat pada akhirnya tetap istrinya yang menang, padahal Rapa sudah begitu keras kepala. Tapi tetap saja, istrinya yang lebih keras kepala, dan Rapa tetap yang harus mengalah.


“Apa lagi yang belum di beli?” tanya Rapa kembali mendorong keranjang belanjaannya, setelah menyerahkan ranjang mungil untuk bayinya yang menjadi pilihan Cleona.


“Eumm,” Cleona mengabsen barang-barang mungil di keranjang yang di dorong Rapa. “Udah cukup, Bang. Semuanya udah lengkap.”


“Oke.” Rapa berjalan lebih dulu menuju kasir sementara Cleona memilih untuk menunggu di sofa yang tersedia di dalam toko tersebut seraya mengurut pelan kakinya yang sedikit bengkak akibat pegal yang di rasakannya.


Tak lama Rapa datang dan berjongkok di depannya, mengambil alih tugas Cleona memijat kaki tanpa sama sekali laki-laki itu mengeluarkan suara. Perlakuan sederhana ini tentu saja membuat wajah cantik Cleona menghangat, memerah hingga menjalar ke telinga.

__ADS_1


Beberapa pengunjung toko yang melihat di landa rasa iri, sampai ada ibu hamil yang merengek meminta di perlakukan seperti Cleona. Ada yang memberikan cibiran pada suaminya yang ikut menemani belanja, dan ada juga yang hanya menatap biasa saja. Termasuk kasir yang baru saja selesai mengepak belanjaan mereka.


Cleona sebenarnya malu, tapi untuk menghentikan perhatian kecil suaminya itu, Cleona merasa enggan jadi, lebih baik menikmatin dan berusaha tidak peduli pada orang yang masih memperhatikan. Bairlah untuk sekarang dirinya menganggap dunia ini miliknya dan sang suami.


“Gimana udah enakan?” tanya Rapa mendongak pada sang istri yang tengah memberikannya senyuman cantik, dan anggukan kecil. “Udah bisa jalan untuk pulang?”


“Makan dulu boleh?”


Menepuk keninnya cukup keras, Rapa membulatkan matanya tak habis pikir. “Kamu udah lapar lagi?” Cleona mengangguk seraya cengengesan, dan itu membuat Rapa gemas sampai melayangkan cubitan di pipi tembam itu. “Yang doyan makan si kembar apa kamu sih, sayang?” tanya Rapa menggeleng kecil, bangkit dari duduknya kemudian mengulurkan tangan untuk istrinya raih.


“Makan di mana sekarang? Jangan sampai muter-muter kayak tadi lagi, kaki kamu udah bengkak itu,” peringat Rapa begitu mereka keluar dari toko perlengkapan bayi.


“Queen pengen makan nasi bakar tuna di seberang aja, Bang. Boleh kan?”


“Apa sih yang enggak buat istri abang.” Menjawil hidung mancung istrinya dengan gemas, Rapa kemudian melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan berjalan hati-hati keluar dari mal.


Hendak menyebrang, Rapa menghentikan langkah begitu pun dengan Cleona saat suara panggilan yang cukup keras terdengar, sampai membuat beberapa orang menoleh. Hanya Rapa yang menoleh, sementara Cleona bertahan dalam posisinya, seraya memutar bola mata malas dengan gangguan yang datang tanpa di minta.


“Hai Rap,” sapa perempuan itu dengan senyum manisnya yang sama sekali tidak menarik di mata Rapa.


“Lo siapa?” kening Rapa mengerut, benar-benar tidak mengenali perempuan di depannya kini. Semantara Cleona yang masih membelakangi hanya kerkikik geli.


“Ck, lo lupa sama gue?” tanya itu tak percaya. Satu anggukan penuh kebingungan Rapa berikan, membuat perempuan itu mendesah kecewa. “Gue Nia, teman SMA lo dulu di KEBAPERAN. Kalau masih lupa juga, gue sekertaris osis dulu. Jangan bilang lo lupa juga?!” delik perempuan bernama Nia itu, membuat Rapa tertawa, sedangkan Cleona sudah mengepalkan tangannya kesal.

__ADS_1


Cleona masih ingat dengan perempuan rubah yang dulu sudah berani menamparnya, dan mengancam untuk menjauhi Rapa. Setelah lama tidak berjumpa bahkan hanya sekedar mendengar kabar, kini wanita itu kembali, menyapa suaminya dengan tidak tahu diri.


“Iya, gue ingat sekarang,” Rapa menjawab di tengah tawanya. “Ada apa?”


“Eh … ah- gak kok, gue tadi cuma manggil aja. Di kira tadi salah, eh tahunya beneran lo. Sendiri?” ucap perempuan itu yang di akhiri dengan tanya yang membuat Cleona semakin mengeratkan kepalan tangannya dan dengan cepat menoleh. Menatap sinis perempuan itu yang terlihat begitu terkejut.


“Lo gak lihat laki gue lagi gandeng bininya?” ketus Cleona.


“Gue kira Rapa belum nikah gara-gara di tinggal Cleona.” Cicitnya pelan, meski masih dapat di dengar oleh Rapa dan Cleona.


“Orangnya udah balik, ya gue nikahin,” kata Rapa terkekeh kecil. Sementara Nia sedikit terkejut dan menatap Cleona dengan tatapan menilai dari atas hingga bawah, dan itu membuat Cleona sedikit tak nyaman.


“Lo, Cleona?” tanya Nia dengan kening mengerut.


“Kalau iya emang kenapa? Pangling karena gue makin cantik?”


“Iya gue pangling, lo gendutan.”


Nada ejekan itu jelas terdengar oleh indera Cleona membuatnya, mendengus dan ingin sekali menangis. Namun sekarang bukanlah saatnya untuk itu, karena jika itu terjadi maka wanita rubah di depannya akan merasa menang, dan Cleona tentu saja tidak menginginkan itu terjadi.


“O jelas gue gendut, ini juga hasil perbuatan laki gue. Nih benihnya udah berkembang di sini,” Cleona menunjukan perut besarnya pada Nia yang wajahnya sudah memarah. Cleona puas, tapi ini tentu saja belum berakhir. Menatap mantan kakak kelasnya dulu, Cleona menilai perempuan cantik itu dari atas hingga bawah sebelum kemudian melayangkan senyuman mengejak. “Lo belum ada yang buntingin? Atau emang gak ada yang mau sama tubuh krempeng lo ini?”


Nia yang mendapat ejekan itu tentu saja mengeram marah, sementara Rapa secepatnya melindungi sang istri, takut-takut bahwa teman sekolahnya itu mendorong atau mencelakai istrinya yang tengah hamil. Karena setahunya seperti itu lah skenario yang selalu ada di dalam novel atau tayangan televisi. Jadi sebelum itu terjadi Rapa akan lebih dulu melindungi istrinya agar tidak celaka.

__ADS_1


“Nyebelin lo dasar!” dengus Nia menghentakan kakinya dan pergi menjauh dengan rasa malu, sementara Rapa menghela napasnya lega melihat kepergian perempuan itu.


“Dasar rubah betina.”


__ADS_2