
"Mau ngajak balikan.”
“Hah!”
Tertawa lepas, Birma merasa lucu melihat wajah cengo gadis cantik itu. “Gue mau ngajak lo jalan.” Birma tersenyum, dan itu sukses membuat Clara terpesona untuk beberapa saat, sebelum kemudian kembali menyadarkan diri sambil merutuki diri dalam hati.
“Ke mana?”
“Ikut aja, nanti juga lo tahu."
“Ish, Birma. Bilang dulu lo mau ajak gue ke mana,” rengek Clara.
“Ke pelaminan.” Kata Birma dengan senyum ringan.
“Ish, Birma!” kesal Clara, tidak tahan untuk mencakar wajah tampannya itu.
Birma tertawa geli. “Ikut aja ya, sayang. Nanti lo akan tahu.”
Wajah Clara menghangat dan sudah dapat di pastikan bahwa pipinya memerah saat ini. Ah, bukan hanya wajahnya saja, tapi juga dengan hatinya yang selama empat tahun ini sepi dan dingin, tapi kini debaran tak biasa itu kembali dirinya rasakan.
“Mau siap-siap dulu, atau seperti ini aja?” kata Birma menyadarkan Clara dari lamunannya.
“Eh, tu-- tunggu gue ganti dulu gak apa-apa ‘kan?” tanya Clara dengan terbata. Birma mengangguk dengan diiringi senyum tampannya.
“Jangan senyum terus dong, Bang, adek gak kuat!” jerit hati Clara.
“Nunggu lo siap-siap doang mah gak ada apa-apanya, gak akan sampai buat gue mati, karena nunggu lo kembali jadi pacar gue lagi selama empat tahun ini aja gak buat gue lelah.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Clara berlari kecil menuju kamarnya. Tidak sanggup lagi menahan debaran hebat di dadanya akibat perkataan Birma yang membuat rasa bersalahnya kembali naik kepermukaan dan rasa rindu yang menyeruak keluar dari pertahanan yang selama ini selalu ia tekan untuk bersembunyi.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian Clara kembali menghampiri Birma yang saat ini di temani ngobrol oleh sang ayah. Melihat keakraban kedua laki-laki itu membuat sudut bibir Clara terangkat, dan dalam hati ia berharap bahwa Birma memang yang Tuhan takdirkan untuknya.
“Udah siap, Dek? Segera pergi gih, nanti keburu sore,” kata Pandu begitu menyadari kehadiran anak perempuannya.
“Ayah ngusir Atu?” Clara cemberut seolah benar-benar terluka dengan ucapan sang ayah, membuat Pandu memutar bola matanya malas.
“Buah emang jatuh gak jauh dari pohonnya. Anak sama ibu sama-sama suka drama.” Cibir Pandu dalam hati.
“Hati-hati perginya. Ingat jangan pulang terlalu malam! Birma, jaga anak gadis ayah baik-baik, lecet dikit, kamu tanggung akibatnya!” ancam Pandu tajam.
Birma tersenyum lalu mengangguk, kemudian menyalami punggung tangan Pandu seraya pamit. Clara mengikuti di belakang dengan kepala menunduk, memikirkan tentang apa yang harus dirinya ucapkan pada Birma, agar laki-laki itu mau kembali menjadi kekasihnya.
“Auhhh!” dan saking sibuk dengan pikirannya sendiri sampai membuat Clara menubruk benda keras di depannya, yang tak lain adalah punggung Birma.
“Makanya kalau jalan itu tengok depan, bukan malah nunduk.” Birma terkekeh geli, kemudian membukakan pintu mobil dan meminta Clara untuk masuk.
Setelah berada di balik kursi kemudi, Birma langsung melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah keluarga Clara. Dari mulai melajunya mobil yang dikendarainya, Birma berkali-kali menoleh ke arah Clara yang terus menatap jendela sebelahnya, tidak ada tanda-tanda bahwa gadis itu akan mengajaknya bicara.
“Hm,” tanpa sedikit pun menoleh, Clara menjawab hanya dengan deheman.
“Kenapa, kok, sekarang lo jadi pendiam? Keberatan di ajak jalan sama gue?” tanya Birma yang memang sudah penasaran sejak tadi.
“Bukan gitu, gue cuma ngerasa canggung dan malu aja,” jujur Clara, menoleh sebentar ke arah Birma, lalu kembali membuang pandangan. Tidak tahan jika harus berlama-lama menatap wajah tampan yang di rindukannya
“Tumben lo punya malu? Biasanya juga malu-maluin.”
“Ish, Birma!”
Birma terkekeh geli mendengar rengekan gadis di sampingnya. Ia rindu dengan tingkah manja kekasihnya dulu, ia rindu dengan segala tingkah Clara, dan ia sangat merindukan kebersamaan mereka dulu.
__ADS_1
“Lo kapan pulang?” Clara bertanya saat suasana kembali sunyi. Sebenarnya jantungnya masih berdetak tak karuan. Namun berdiam diri malah membuatnya semakin gugup dan keheningan bukanlah yang Clara sukai. Maka dari itu ia memberanikan diri untuk memulai percakapan.
“Pulang ke mana?” tanya Birma menaikkan sebelah alisnya dan menatap jahil Clara.
“Pulang dari Yogya.” Clara mencebikkan bibirnya kesal.
“Gue kira pulang ke hati lo. Soalnya kalau memang itu, gue emang gak pernah pergi, jadi mana mungkin gue pulang semantara hati ini selalu menetap.”
Clara tak mampu berkata lagi, selain karena wajahnya yang kini memanas, hatinya juga menghangat dan detak jantungnya tidak bisa ia kondisikan, membuat Clara takut bahwa Birma bisa mendengar suara detak jantungnya yang berontak di dalam sana.
Ia akui bahwa Birma masih menjadi satu-satunya pria yang mampu membuatnya seperti ini. Laki-laki pertama yang mampu membuatnya malu hanya dengan tatapannya saja, dan Birma adalah satu-satunya laki-laki yang berhasil meluluh lantahkan hatinya yang sejak dulu bertekad untuk tidak terlalu jatuh cinta, tapi karena Birma, ia harus kembali menarik kata-katanya itu.
“Turun yuk, kita sudah sampai,” kata Birma membuyarkan pikiran Clara.
Menatap sekeliling, Clara menaikan sebelah alisnya bingung. “Ngapain ke sini?” Clara bertanya saat menyaksikan bahwa ternyata Birma mengajaknya ke sebuah taman bermain yang cukup ramai.
“Kenapa? Gak suka? Kalau gitu kita cari tem...”
“Bu-- bukan gitu. Gue suka kok, tapi bingung aja mau ngapain kita kesini? Masa main prosotan kayak anak-anak itu,” kata Clara menunjuk ke depan sana.
“Gak ada salahnya ‘kan? Hitung-hitung mengenang masa kecil, Cla." Kata Birma terkekeh kecil.
“Ya udah yuk turun,” ajak Clara dengan wajah ceria, dan melenggang pergi lebih dulu meninggalkan Birma di dalam mobil yang menggeleng-gelengkan kepala.
Melihat gadisnya di depan sana, bibir Birma tertarik naik membentuk sebuah senyuman. Tidak menyangka bahwa ia akan kembali melihat wajah cantik itu tersenyum lebar dan lepas seperti ini. Dan melihat gadis itu berada di antara anak-anak di taman bermain itu, membuat Clara terlihat tidak jauh berbeda dengan mereka yang usianya tidak lebih dari tujuh tahun. Bahkan Clara seakan tidak memiliki malu ikut bermain bersama mereka meskipun banyak orang yang memperhatikan.
Lima belas menit kemudian, Clara kembali dan duduk di samping Birma yang menyambutnya dengan senyuman, juga sebotol air mineral yang tutupnya lebih dulu laki-laki itu buka dan langsung menyeka keringat yang mengucur di pelipisnya. Membuat Clara membeku dengan perlakuan sederhana, namun manis itu.
“Ma--makasih.” Kata Clara kikuk, dan di balas Birma dengan anggukan kecil.
__ADS_1
“Cape?” tanya Birma begitu selesai menyeka keringat Clara.
“Lebih cape memendam rindu asal lo tahu.”