
"Queen anterin gue ke tempat WO-nya Mbak Nina yuk. Si Birma mah emang sialan, batalin janji cuma gara-gara rapat doang, bikin sebel. Dikira yang mau nikah cuma gue doang apa?!” dengus Clara di ambang pintu kamar pengantin baru.
“Oke, bentar gue siap-siap dulu.” Cleona yang tengah malas-malasan di ranjangnya bergegas masuk ke kamar mandi, sedangkan Clara menghempaskan tubuhnya di ranjang yang semula kakak iparnya itu tiduri sebelum kemudian kembali bangkit dengan cepat begitu ucapan Laura kembali melintas di kepalanya yang mengatakan bahwa teman-teman gadis remaja itu lebih betah di kamar abangnya.
Berlari hingga hampir tersandung kaki kursi, Clara berteriak menuruni anak tangga dan langsung memeluk tubuh sang bunda yang menatapnya dengan kening berkerut. “Kamu kenapa, Dek?”
“Gak apa-apa, Bun, Atu cuma keingat ucapan Priela tentang di kamar abang.” Jawabnya dengan jujur.
“Ck, penakut!” cibir Lyra. “Ella juga kan udah bilang kalau mereka gak akan ganggu, jadi gak perlu takut.”
“Ya emang, tapi tetap aja Atu merinding keingat itu. Oh iya, bunda mau kemana udah rapi gini?” tanya Clara yang baru sadar dengan penampilan cantik sang bunda.
“Mau ke rumah sakit, jenguk kakek kamu.” Clara mengangguk paham. Selama dua bulan belakangan ini ayah dan bundanya memang rajin mengunjungi rumah sakit milik aunty Amel untuk menjenguk papa dari ayahnya yang sudah sering sakit-sakitan semenjak di tinggal istrinya dua tahun lalu.
“Nanti setelah pulang dari WO, Atu nyusul deh ke rumah sakit.” Lyra mengangguk sebelum kemudian bangkit dari duduknya begitu sang suami keluar dari kamarnya dan mengajak untuk segera berangkat.
Tak lama Cleona turun dengan langkah anggun bak seorang putri raja dengan dress polos selutut berwarna hitam yang begitu kontras dengan kulit putihnya. Clara akui kakak iparnya itu sempurna dengan kecantikannya yang alami, tapi baginya tetep saja ia yang paling cantik.
Menggandeng tangan sang kakak ipar, keduanya keluar dari rumah dan tak lupa mengunci pintu sebelum kemudian melajukan mobilnya menuju tempat tujuan yang hanya menghabisakan waktu selama dua jam dengan kemacetan yang mengganggu.
Setibanya di depan kantor WO yang satu bulan lalu Cleona datangi, ia menyapa ramah karyawan kakak dari sahabat suaminya itu yang langsung mengantarkan mereka berdua menuju ruangan Nina yang memang sudah menunggu.
“Calon manten sama pengantin baru udah datang ternyata,” Nina tersenyum ramah menyambut kedua perempuan cantik itu dan langsung mempersilahkan mereka duduk.
Setelah mengobrol basa-basi, Clara langsung membicarakan konsep yang akan dirinya ambil untuk pernikahannya nanti, dan di simak baik oleh Nina yang sesekali memberikan masukan. Sedangkan Cleona sibuk dengan ponselnya, berkirim pesan bersama sang suami yang memintanya untuk datang ke kantor dan membawakan makan siang.
__ADS_1
“Queen!” panggil Clara dengan nada yang cukup kesal, membuat Cleona yang keasyikan dengan ponselnya terperanjat dan refleks memukul tangan Clara.
“Kaget gue,” dengus Cleona.
“Makanya jangan ngelamun. Kesambet tahu rasa!” mencebikan bibirnya, Clara kemudian bangkit dari duduknya dan berpamitan pada si pemilik WO.
“Loh udah selesai emang, Tu?” tanya Cleona dengan raut bingung. “Perasaan baru aja duduk deh. Kenapa? Gak jadi?”
Pletak.
Satu jitakan Clara layangkan pada pelipis kakak iparnya itu, membuat Cleona mengaduh dan melayangkan tatapan tajamnya.
“Udah selesai!” Clara memutar bola matanya jengah. “Dua jam? Gila aja lo masih berani bilang baru duduk! Makanya jangan milikin dunia berdua sama laki lo doang. Ingat, masih ada gue dan manusia-manusia lainnya yang hidup di bumi ini. Ck, udah nikah juga masih aja lebay so-soan chat-an kayak pasangan remaja yang jarang ketemu aja, padahal nanti juga ketemu. Tidur bareng malah.” Cerocoh Clara yang di akhiri dengan cibiran.
Cleona menoyor kening sang adik ipar. “Jangan suka mencibir orang lain. Nanti lo kena batunya tahu rasa!”
Hari ini Clara memutuskan untuk datang ke tempat kerja calon suaminya, mengajak laki-laki itu untuk makan siang bersama sebelum satu minggu ke depan sudah melakukan pingitan yang di haruskan oleh eyang Birma. Meski di terima dengan berat hati oleh keduanya, tapi protesan tidak sedikit pun di lontarkan, Clara segan begitu juga dengan Birma yang walau pun cucu kesayangannya, Birma tak mampu mengatakan tidak pada apa yang sang eyang perintahkan.
Setelah membayar ongkos taxi, Clara berjalan masuk ke lobi kantor kemudian menyapa resepsionis yang sudah cukup di kenalnya karena memang ia sudah beberapa kali mengunjungi calon suaminya.
Selama di dalam lift yang hanya di isi oleh dirinya sendiri, senyum Clara terukir dengan manisnya begitu pun saat keluar dari lift. Namun sepertinya hanya sampai di situ saja karena begitu membuka pintu ruangan Birma senyum itu dengan cepat pudar, di gantikan dengan rasa panas yang menjalar di wajahnya yang dengan kilat sampai ke hati.
Brak.
Suara gebrakan pada pintu mengalihkan sepasang manusia yang tengah berada dalam jarak yang terlalu intim dengan wajah terkejut mereka yang membuat Clara mendengus sebal. Si laki-laki yang langsung berdiri dengan kaku sementara yang perempuan menatap Clara dengan tidak tahu dirinya, seolah menantang calon nyonya Birma.
__ADS_1
“Kerjaan lo jadi sekertaris apa cewek rendahan? Atau sekertaris rendahan?” tanya langsung Clara pada perempuan seksi yang memang sejak pertama kali kehadirannya selalu melayangkan tatapan permusuhan.
“Saya cuma bantuin Pak Birma bersihin kemejanya yang kena tumpahan kopi, karena gak se…”
“Ck! Trik lo terlalu murahan. Lagi pula yang basah jasnya, kenapa yang lo elus kemejanya? Mau cek bagaimana nyamannya dada bidang calon laki gue? Mimpi lo ketinggian!” tukas Clara dengan tatapan tajam dan judesnya.
Perempuan cantik nan seksi bernama Cella itu nyatanya tidak sama sekali gentar meski mendapat dampratan kejam Clara. Entah karena tak mengerti atau memang karena perempuan itu sudah menjadi pelakor sejati, yang pasti Clara harus hati-hati menjaga miliknya. Apa lagi laki-laki adalah makluk yang lemah imannya, seperti kucing, di goda ikan asin aja akan mengeong apa lagi dengan ikan tuna.
“Lo mendingan cari laki-laki lain deh, di luaran sana masih bertebaran kok yang jomblo. Itu pun kalau mereka tertarik sama cewek murahan kayak lo.” Cibir Clara dengan nada santai, meskipun tatapannya masih setajam silet.
“Yang …”
“Apa? Lo mau bela dia?” tuduh Clara memotong ucapan Birma. “Lo diam aja kalau gak mau gue batalin pernikahannya!”
“Loh kok jadi batalin pernikahan, aku kan gak salah, Yang. Aku tadi udah nolak juga, tapi dianya kekeh. Kalau gak percaya lihat aja tuh CCTV yang aku pasang khusus demi menghindari kesalah pahaman kamu.” Birma menunjuk kamera tersembunyi yang berada di sudut atas dekat pintu.
Clara menoleh ke arah yang di tunjuk Birma begitu juga dengan perempuan yang masih bertahan di posisinya semula, dan CCTV itu memang benar-benar berada di sana. Tapi sebenarnya meskipun tidak ada benda itu juga Clara akan percaya pada calon suaminya, karena sejauh ini ia cukup tahu bagaimana sekertaris Birma yang memang begitu mendambakan laki-laki tampan kesayangan Clara ini.
Namun Clara jelas tidak akan membiarkan kepercayaannya pada sang calon suami di permainkan oleh laki-laki yang akan dinikahinya dalam waktu dekat ini. Mekipun sekarang laki-laki itu bisa menjaga hati dan diri, tidak ada kemungkinan jika suatu saat nanti Birma tidak tergoda pada godaan sekertarisnya.
Keinginan mengusir perempuan rubah itu dari kantor ini memang begitu kuat, tapi apalah daya, Clara bukan pemiliknya begitu juga dengan Birma yang hanya di tunjuk untuk menjadi general manager di perusahaan tempatnya bekerja akibat prestasi dan giatnya laki-laki itu dalam bekerja di tambah Cella bukan lah sekertaris yang bisa seenaknya di depak begitu saja, karena meskipun tingkahnya murahan tapi tidak dapat di elakan bahwa kinerjanya patut di acungi jempol.
“Awas lo macam-macam lagi! Gue gampar lo tanpa ampun.” Clara menunjuk wajah Cella dengan tatapan tak main-main, membuat perempuan itu sedikit menunduk. Entah karena takut atau karena tengah menggerutu dan melayangkan makian dalam hatinya.
“Lo juga, berani macam-macam… tanggung sendiri akibatnya.”
__ADS_1
Ancaman yang terdengar sadis itu membuat Birma yang mendengar merinding ngeri, tidak menyangka bahwa perempuan yang cemburu akan sebuas ini.