Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
80. Kekonyolan Hakiki


__ADS_3

Di siang minggu ini, Laura dan Cleona tengah duduk di ayunan pinggir kolam renang, menyaksikan pertarungan sengit antara mertua dan menantu yang saat ini tengah melakukan lomba berenang dengan 10 kali putaran tanpa berhenti. Tentu saja pendukung mereka seri, dimana Cleona yang menjadi suporter suaminya dan Laura yang menjadi suporter sang papi.


Entah ide dari mana papinya itu karena tak ada angin dan tak ada hujan tiba-tiba mengajak Rapa untuk beradu kehebatan dalam berenang, tidak biasanya memang, tapi kata Rapa sendiri sang papi hanyalah mencari alasan untuk tidak membiarkan mereka bermesraan. Papinya hanya iri karena tak punya pasangan jadi, mengganggu adalah hobinya sekarang ini.


Kesal sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, sebagai menantu yang baik bukankah Rapa harus membahagiakan mertuanya meskipun dengan berat hati? Jadi tentu saja Rapa menerima tantangan itu dengan senang hati.


Hanya saja dirinya yang memang tidak terlalu pandai berenang karena sempat mengalami trauma saat kecil harus terpaksa menerima kekalahannya. Ya, sekarang memang tidak lagi takut untuk menyebur ke dalam kolam, tapi tetap saja berenang tidak juga menjadi hobinya.


Mungkin kalau bukan karena kepergian Cleona beberapa tahu lalu, Rapa tidak akan pernah berani berada di area kolam. Tapi berkat istri tercintanya itu, Rapa memberanikan diri kembali berenang. Niat awalnya tentu saja untuk Cleona, takut jika suatu saat Cleona tenggelam atau apa pun itu yang berhubungan dengan kolam berair Rapa tidak bisa menyelamatkan istrinya. Ia tidak ingin menyesal, maka dari itu Rapa sebagai laki-laki harus serba bisa dan melawan ketakutan untuk istri dan anak-anaknya nanti, karena sosoknya nanti akan menjadi pelindung untuk keluarganya.


“Yey, gue menang!” teriak sang papi yang melompat-lompat kegirangan di dalam kolam, membuat Rapa mendengus kesal sementara Laura dengan hebohnya berlari menghampiri sang papi dengan membawakan handuk untuk pria tua kesayangannya itu.


“Abang lemah, masa lawan papi yang udah reyot aja kalah. Malu-maluin tahu gak!” Cleona berdecak kesal seraya menghampiri sang suami yang baru saja naik dari kolam dan memberikan handuk dengan wajah cemberut.


“Abang bukan lemah sayang, tapi sengaja ngalah sama papi. Kasihan nanti kalau dia kalah makin kesepian.” Alibinya yang langsung mendapat decakan sebal Cleona.


“Alasan aja lo curut, kalah ya akui aja. Lo kira papi sereyot itu?!” Leo yang sudah sampai lebih dulu dan tengah mengeringkan tubuhnya menoyor kepala menantunya itu dengan kejam, membuat sang empu mengaduh dan cemberut. “Sebagai kekalahan lo, sore ini teraktir kita makan di luar ya, papi bosen makan di rumah mulu,” katanya dengan cemberut selayaknya anak kecil yang bosan dengan makanan yang di berikan sang ibu.


Decakan kesal Rapa berikan karena permintaan sang mertua. Entah lah laki-laki tua itu selalu saja bisa membuatnya kesal. Bukan karena ia tak mampu meneraktir makan mertuanya di luar, hanya saja malam ini Rapa sudah berniat mengajak istrinya dinner, masa iya harus mengajak serta mertuanya juga.

__ADS_1


“Pi, bisa besok aja gak abang traktirnya?” Rapa mencoba untuk bernegosiasi dengan sang mertua yang sayangnya malah menggelengkan kepala, padahal ia sudah dengan sebaik mungkin menampilkan wajah memelasnya.


“Ayo dong pi, besok malam aja ya, abang janji deh akan bayarin apa aja yang papi mau, asal jangan malam ini, please!” mohonnya yang kembali sia-sia karena sang papi tidak juga berbaik hati menganggukan kepalanya.


“Papi pengennya malam ini, Bang.”


“Ish, yaudah lah mau gimana lagi. Resiko punya mertua kesepian ya gini, doyannya ganggu orang berpasangan. Nyebelin!” sama sekali tak menghiraukan gerutuan sang menantu, Leo dengan santainya melahap cemilan yang di sediakan Laura, duduk di kursi santai pinggir kolam renang.


“Abang kata mami yang sabar,” celetuk Laura dengan tiba-tiba, membuat Rapa terlonjak dan hampir saja kembali tercebur ke dalam kolam.


“Mami di sini, La? Sebelah mana?” tanya Rapa menatap sekeliling dengan perasaan panik, dan takut bahwa sang mami mertua yang sudah tak berada di dunia yang sama itu mengetahui hatinya yang tengah menggerutu dan menyumpah serapahi papi Leo tersayangnya.


“Abang mah sabar, Dek. Kalau gak sabar mungkin bapak lo udah abang mutilasi sejak dulu,” balas Rapa memberikan delikan pada mertuanya yang melayangkan pelototan tajam.


“Astaga-astaga-astaga mata gue ternodai!” pekikan heboh itu mengalihkan tatapan keempat orang disana dan bersamaan menoleh ke arah dimana suara terdengar.


“Lebay lo, Ly. Dulu aja waktu masih muda lo doyan banget masuk kamar gue hanya untuk lihat gue gak pake baju, kenapa udah tua gini lebaynya ngalahin remaja baru netas?!” delik Leo pada sahabat kecilnya yang masih juga tak berubah walau usia sudah kepala empat.


“Makanya lo udah tua jangan ngumbar-ngumbar aurat, Le. Percuma tuh perut lo pamerin, gak akan ada yang doyan lagi. Udah gak ada indah-indahnya.” Cetus Lyra yang saat ini sudah melangkah mendekat, dengan sang suami yang selalu saja mengekor seperti anak ayam pada induknya.

__ADS_1


“Sembarangan aja lo ngomong! Perut gue masih seseksi dulu, noh kotak-kotaknya aja jadi nambah dua.” Leo memperlihatkan perutnya yang berbentuk.


Sebelum istrinya ternodai oleh laki-laki tua kesepian itu, Pandu dengan cepat menarik Lyra ke dalam pelukannya dan mendorong sahabatnya itu agar menjauh.


Para anak hanya menyaksikan saja interaksi ketiga orang tuanya itu. Ayahnya yang masih seperti dulu dangan keposesifannya, papi Leo yang masih saja jahil dan bunda Lyra yang masih saja senang menggoda kedua pria itu. Bukankah persahabatan mereka sangat manis?


Namun sepertinya di bandingkan dengan harmonis keluarga ini lebih pantas di sebut keluarga konyol, karena kekonyolan yang benar-benar hakiki sejak ketiga orang tua itu masih muda dulu dan berlanjut hingga sekarang, tapi Rapa bahagia melihat keluarganya seperti ini.


“Pake baju dulu Leo sialan!” geram Pandu karena sahabat tidak tahu dirinya itu malah terus mepet-mepet pada sang istri yang tentu saja dirinya lindungi agar tidak sahabatnya sentuh. Mendapatkan reaksi seperti itu tentu saja membuat Leo semakin gencar menggoda Pandu yang posesifnya sudah melaupaui batas maksimal.


“Takut banget kayaknya lo, Pan istri lo lebih suka perut seksi gue dari pada punya lo,” cibir Leo yang dengan segera menarik tubuh Lyra hingga terlepas dari pelukan Pandu yang langsung bereaksi panik dan mengejar Leo yang membawa istrinya kabur.


“Kenapa Ella ngerasa geli melihat mereka seperti itu?”


“Konyol emang! Papi juga senang banget godain ayah yang posesifnya kebangetan,” Cleona bergidik geli.


“Kalau mami masih ada mana berani papi kayak gitu.” Laura menyaksikan itu sambil menikmati cemilannya dan bersandar pada kursi malas di pinggir kolam.


“Papi kan gak beda jauh sama ayah. Sama-sama bucin!” kata Rapa yang diangguki setuju kedua perempuan beda usia itu.

__ADS_1


Sementara Laura masih betah menonton ketiga orang tuanya yang masih kejar-kejaran, Rapa menjadikan kesempatan itu menarik Cleona untuk kabur dari rumah dan melanjutkan niatnya membawa sang istri pergi dinner yang sudah dirinya rencanakan sejak kemarin.


__ADS_2