
“Abang tungguin!” teriak Cleona menghentikan larinya. Menjatuhkan diri di pasir pantai yang lembut dengan napas terengah. Sementara Rapa tertawa puas beberapa meter di depannya.
“Ck, payah banget sih istri. Lari segitu aja masa udah nyerah,” Rapa mencibir, menghampiri Cleon dan mengulurkan tangannya meminta sang istri untuk berdiri.
“Abang kan tahu kalau Queen gak suka di ajak lari,” Cleona meraih uluran tangan Rapa. “Apa lagi lari dari kenyataan. Terlalu indah, dan Queen gak mau meninggalkannya,” ucapnya cengengesan.
Satu sentilan pelan Rapa berikan di kening istri cantiknya itu, lalu memiting lehernya dan membawa Cleona melanjutkan langkah. “Lagi pula aku tidak akan pernah membiarkan kamu lari dari kenyataan, Queen. Terlalu indah, dan aku tak ingin kehilangan kamu.”
“Queen gak kenyang dengan gombalan abang!” Cleona melepaskan diri dari rangkulan Rapa. “Makan di café depan sana ya,” tunjuk Cleona “Yang sampai belakangan harus teraktir!” teriak Cleona yang sudah lebih dulu berlari meninggalkan Rapa.
“Istri curang!” Rapa balas berteriak, Cleona hanya menjulurkan lidahnya mengejek, kemudian melanjutkan larinya begitu tahu bahwa Rapa mengejar.
Beberapa orang memperhatikan mereka dengan kening berkerut, ada yang menatapnya aneh, geli, kagum dan ada juga yang menatap mereka dengan tatapan tak suka dan mencibir. Cleona mau pun Rapa tidak peduli dengan tatapan semua orang, karena yang penting adalah kebahagiannya. Toh untuk apa memikirkan penilaian orang jika bahagia itu tidak di berikan oleh mereka.
Masa bodo di bilang alay, masa bodo di nilai kampungan karena menurut Rapa dan Cleona selama itu membahagiakan, kenapa harus bersikap so elegan yang hanya biasa di lakukan oleh orang-orang yang haus akan sanjungan. Rapa tidak suka dengan pencitraan begitu pun Cleona. Jika sederhana saja bisa menciptakan bahagia, apa harus mencari kemewahan yang hanya bersifat sementara?
Cleona melayangkan tawa girang atas kemenangannya, sementra Rapa yang baru saja sampai mendengus kesal. Masih ingat bukan, baru beberapa menit yang lalu perempuan itu mengatan bahwa dia tak suka berlari, tapi lihat lah sekarang, Rapa malah kalah dengan istrinya yang kini melompat-lompat kegirangan, merayakan kemenangannya sendiri.
Segala macam makanan Cleona pesan, tidak peduli bahwa pelayan yang mencatat pesanan gadis itu sudah membulatkan mata saking banyaknya menu yang perempuan itu sebutkan. Sedangkan Rapa mendesah panjang karena harus rela dompetnya kembali kebobolan.
“Kamu yakin bakal habisin semua makanan itu?” tanya Rapa begitu si pelayan sudah pergi.
__ADS_1
“Habislah, Bang, lagi pula kita kan makan berdua.”
“Tapi itu kebanyakan hanya untuk kita berdua sayang,”
“Emang abang gak lapar?” tanya Cleona dengan kening mengkerut.
“Ya—laper sih. Tapi …”
“Nanti juga abang yang akan banyak makan.” Kata Cleona mencebikan bibirnya. Ia tahu betul bagimana suaminya. Rapa itu seperti sang papi, doyan makan. Bilangnya kebanyakan tapi nyatanya malah dia sendiri yang menghabiskan semua makanan. Gak percaya? Mari kita saksikan bagaimana suaminya itu makan.
Tak lama apa yang di pesan Cleona di sajikan satu persatu, mencium dari baunya saja sudah membuar Rapa meneteskan liurnya, tak sabar ingin segera melahap semua makanan berbau enak tersebut.
Menyunggingkan senyum kecilnya, Cleona menghitung sampai tiga, dan benar saja suaminya yang tadi protes bahwa ia memesan terlalu banyak itu kini sudah mulai melahap makanan yang ada dengan begitu bernapsu seolah tak menemukan makanan selama satu minggu dan tak akan menemukannya lagi esok hari.
Cleona dengan cepat menggelengkan kepalanya, membuang semua pikiran-pikiran anehnya mengenai sang suami yang baru satu minggu ini menikahinya.
“Pelan-pelan aja makannya, Bang, nanti tersedak!” Cleona memperingati. Rapa hanya mengangguk, namun tidak sama sekali menuruti. Laki itu melahap makanannya, hingga beberapa menit kemudian piring yang semula terisi dengan berbagai makanan tandas hanya menyisakan tulang, lalapan dan bawang yang memang laki-laki itu jauhkan.
“Bilangnya kebanyakan, tapi dia juga yang ngabisin. Suami dasar!” cibir Cleona pelan.
Menyandarkan punggungnya pada kepala kursi, Rapa menepuk-nepuk perutnya yang sudah terisi penuh, sesekali laki-laki itu bersendawa membuat beberapa orang yang mejanya dekat dengan mereka menoleh dan menatap dengan kening mengernyit.
__ADS_1
“Pulang yuk, Queen, abang udah kenyang. Pengen tidur.”
Cleona memutar bola matanya jengah, kebiasaan baru Rapa semenjak berada di bali ini ya seperti itu, makan-tidur-makan-tidur. Jika di tegur selalu saja memberikan alasan, “saat pulang nanti, abang gak akan bisa sepeti ini Queen, ayah sama papi pasti akan jejelin pekerjaan yang banyak.”
Setelah berjalan selama tiga puluh menit dari café menuju villa, Rapa langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di ruang utama, menarik istrinya agar ikut berbaring juga meski Cleona sudah menolak karena berniat untuk langsung masuk kamar dan mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dengan keringat.
Bersikeras menolak pun nyatanya Rapa tetap kekeh mengurungnya di dalam pelukan laki-laki itu, berdempetan tidur di sofa sempit yang entah kenapa malah membuatnya nyaman dan berhenti memberontak.
“Abang geli!” seru Cleona berusaha menghindar dari Rapa yang menghujani lehernya dengan kecupan-kecupan kecil.
Rapa tidak menghiraukannya, dan memilih melanjutkan aktivitasnya itu. Niat awal hanya ingin menggoda malah membuatnya lupa diri dan berakhir dengan menginginkan lebih. Bukankah ini semacam senjata makan tuan? Salahkan Cleona yang mengeluarkan erangan seksinya, membuat gairahnya naik dan rasa panas menjalari tubuhnya.
Beruntung statusnya saat ini sudah sah jadi bisa melepaskan hasratnya kapan saja tanpa khawatir. Coba kalau belum, bisa-bisa kamar mandi yang menjadi pelariannya.
“Queen, boleh kan abang produksi lagi?” bisik Rapa dengan suara berat di balik telinga Cleona yang gairahnya ikut terpancing oleh elusan juga kecupan-kecupan nakal yang Rapa berikan.
“Kalau Queen bilang, enggak, abang mau berhenti gak?”
“Ya enggak lah! Meskipun Queen tolak, abang akan tetap tidurin kamu,” jawab Rapa cepat seraya membalikan tubuh Cleona agar menghadapnya.
“Kalau gitu ngapain nanya!” Rapa terkekeh kecil mendengar cibiran sang istri, dan tanpa berbasa-basi pertempuran segera dirinya mulai berawal dari sofa dan berakhir di kamar tidur, hingga sang rembulan menampakan diri, dan bintang-bintang bermunculan menghiasi langit.
__ADS_1
Rapa mengecup kening istrinya berkali-kali seraya mengucapkan terima kasih dan rasa cintanya yang amat luar biasa ini, setelah itu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua.
“Baby cepat hadir di sini ya, Nak,” ucap Rapa mengelus lembut permukaan perut rata sang istri.