
Selesai menghabiskan sarapan di taman kota tadi pagi, Rapa mengajak Cleona untuk berjalan dengannya, meninggalkan kelima temannya yang lain. Meskipun sempat mendapat penolakan, tapi bukan Rapa jika tidak bisa membujuk gadis itu hingga akhirnya pasrah dan ikut.
Setelah beberapa menit berjalan dalam kesunyian, Rapa meminta Cleona untuk duduk di undakan tangga yang berada di pinggir taman, melihat orang-orang yang tengah melakukan aktivitasnya masing-masing.
“Queen,” Rapa memecah keheningan yang Cleona balas dengan deheman kecil. “Apa alasan lo menjauh beberapa tahun ini?” tanya Rapa yang jelas masih saja penasaran.
“Lo butuh jawaban jujur apa bohong?” Queen menoleh sekilas pada laki-laki di sampingnya.
“Kalau bisa di jawab dengan jujur, kenapa kebohongan di ikut sertakan?” Queen terkekeh mendengar pertanyaan balik yang di berikan Rapa. Memang selalu seperti ini jika bertanya pada laki-laki tampan itu, Rapa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan pula yang kadang membuat kesal.
“Gue suka begitu melihat lo tersenyum, Queen. Jangan hilangkan itu untuk gue, please!” ucap Rapa dengan nada memohon.
“Rap, apa lo menerima perjodohan yang di lakukan orang tua kita?” tanya Queen yang mulai serius. Senyum yang semula sedikit terukir ia hilangkan, dan tepat di wajah laki-laki itu Cleona menatap, ia ingin melihat reaksi Rapa atas pertanyaannya, yang sayangnya tidak dapat dirinya tebak.
“Apa masih perlu gue memberikan jawaban untuk itu?”
“Ini yang selalu membuat gue gak paham akan perasaan lo, Rap." Kata Cleona tersenyum kecil, berpaling untuk tidak lagi menatap wajah tampan Rapa.
“Lo tahu, Queen selama ini gue sayang sama lo, apa itu gak cukup untuk meyakinkan lo?”
“Gue tahu tentang itu, Rap, yang gue gak tahu itu mengenai perasaan lo sebenarnya. Perjodohan ini memang tidak pernah lo tolak, tapi lo juga gak pernah bilang bahwa lo menerima,” Queen tersenyum kecut, masih bertahan menatap ke depan. “Apa lo akan percaya alasan gue menjauh itu karena cemburu?” Cleona menoleh sekilas pada Rapa yang masih setia menatapnya.
“Queen…”
“Konyol ‘kan alasan gue? Lo harus tahu, Rap bahwa cemburu itu menyiksa, apalagi cemburu pada seseorang yang bukan milik kita,” ucap Cleona dengan diiringi senyum mirisnya. “Maaf, Rap karena udah lancang cinta sama lo.” Lanjut Cleona.
__ADS_1
“Apa gue boleh bahagia karena dicintai lo?”
Cleona menaikan sebelah alisnya tidak paham dengan apa yang di maksud Rapa. “Maksud lo?”
“Ayo kita pacaran,” celetuk Rapa tiba-tiba, membuat Cleona melongo.
“Emang lo cinta gue?”
“Apa lo gak sadar dengan sikap posesif gue selama ini? Apa lo gak peka dengan semua sikap gue terhadap lo? Sejak lo lahir aja gue udah jatuh cinta, apa lagi sekarang,” kata Rapa dengan senyum mengembang. “Mulai hari ini kita pacaran Queen, biar lo punya alasan untuk cemburu, biar lo berhak atas gue. Dan asal lo tahu Queen, gue selalu dekat dengan perempuan lain itu hanya untuk sekedar memancing emosi lo, gue ingin tahu perasaan lo yang sebenarnya.” Jelas Rapa tanpa melunturkan senyum yang terpatri di bibirnya.
“Lo nembak gue?” kata Cleona menunjuk dirinya sendiri dengan tampang polos yang membuat Rapa gemas.
“Kalau lo, gue tembak, nanti lo mati, Queen."
“Ish, Rapa gue serius!” kesal Cleona menghujani cubitan-cubitan kecil pada lengan laki-laki tampan itu.
♥♥♥
Rapa dan Queen pulang begitu hari sudah beranjak siang, panas matahari pun sudah terasa menyengat, tapi meski begitu tidak membuat Cleona yang tidak suka berpanas-panasan mengeluh, karena saat ini hatinya tengah berada dalam kebahagiaan yang begitu sangat, apa lagi berjalan bergandengan dengan laki-laki yang baru beberapa jam lalu menegaskan tentang hubungan mereka.
“Masuk gih, terus mandi. Nanti gue jemput lagi, kita jalan-jalan.” Kata Rapa begitu mereka sampai di depan gerbang rumah orang tua Cleona.
“Jalan-jalan ke mana?”
“Ke hati lo aja gimana?” Rapa mengedipkan sebelah matanya menggoda gadis cantik di depannya.
__ADS_1
“Jangan jalan-jalan di hati gue, Rap, karena hati gue bukan mall yang begitu cape berkeliling kemudian di tinggal, bukan pula pantai dimana lo sudah merasa tenang lalu kembali meninggalkan. Hati gue hanya untuk orang yang ingin menetap, bukan sekedar jalan-jalan di jelajahi, apa lagi hanya untuk sekedar persinggahan.”
“Aish, pinter banget sih lo berkata-kata!” Rapa mencubit kedua pipi berisi kekasihnya itu.
“Ish, Rapa sakit!” rengek Cleona cemberut dan itu sukses membuat Rapa semakin mengencangkan cubitan gemasnya di pipi Cleona.
“Jangan pacaran di pinggir jalan woy!” suara teriakan itu berhasil mengambil perhatian Rapa juga Cleona yang membuat keduanya menoleh dan mendapati Clara bersama teman-temannya yang lain baru saja keluar dari gerbang rumah sebelah, tak lain rumah orang tua Clara dan Rapa.
“Sirik aja lo jomblo!” delik Rapa, kemudian kembali menatap Cleona yang masih berdiri di depannya, menyuruh wanita itu untuk cepat masuk dan bersiap.
“Guys, gue masuk dulu ya, bye.” Cleona melenggang membuka pagar rumahnya begitu selesai pamit dan melambaikan tangan pada kelima temannya yang berdiri di posisi semula.
“Lo gak ngajak kita masuk juga, Cle?” teriak Nirmala sebelum Cleona benar-benar menghilang di balik pintu besi itu.
“Lo pada pulang aja, gue mau ajak Queen kencan." Rapa berkata dengan sombongnya dan pergi meninggalkan kelima perempuan itu, mengabaikan meskipun panggilan dari adiknya terus terdengar.
“Dasar Abang sialan!” teriakan itu yang Rapa dengar terakhir sebelum dirinya masuk ke dalam rumah.
Dengan senyum terukir dan hati berbunga, Rapa melangkah menaiki satu persatu undakan tangga sambil bersenandung riang, masuk ke dalam kamar dan langsung bergegas menuju kamar mandi, membersihkan diri sebelum kembali menjemput sang kekasih tercinta.
Satu jam kemudian Rapa sudah tampan dengan setelan kasualnya, celana jeans panjang berwarna hitam, kaos polo berwarna putih dan di padukan dengan jaket bomber berwarna hitam. Rapa menuruni tangga masih dengan senyum yang mengembang, sampai Lyra, sang bunda yang melihat pun menaikan sebelah alisnya heran.
“Mau ke mana kamu Bang?” tanya Lyra yang tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya.
“Kencan dong, Bun." Rapa menjawab dengan nada riang, memakai sepatu berwarna putih, kemudian menyalami tangan sang bunda untuk pamit pergi.
__ADS_1
“Kencan sama siapa?” kembali Lyra bertanya, masih dengan raut penasarannya.
“Calon mantu Bunda dong, siapa lagi coba? Udah ah, Abang mau pergi, nanti Queen cemberut, karena Abang lama. Dah Bunda.” Satu kecupan Rapa berikan pada pipi wanita yang telah melahirkannya itu, kemudian berlari pergi keluar dari rumah, meninggalkan Lyra yang masih dalam posisi keheranan juga di tambah dengan keterkejutan.