Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
48. Bad Mood


__ADS_3

Rapa di bangunkan dari tidurnya oleh suara nyaring yang berasal dari ponselnya, padahal sudah berkali-kali ia menolak panggilan itu. Namun nyatanya si penelpon tidak juga menyerah, membuat Rapa mendengus kesal dan pada akhirnya mengangkat panggilan tersebut tanpa berniat membuka matanya, apalagi bangun dari tidurnya.


"Hallo,"


"Hm."


"Rapa?" panggil seseorang di seberang telepon, yang lagi-lagi hanya di balas dengan deheman kecil Rapa


“Rap, lo masih di Singapura?” tanya di penelpon dari seberang sana, terdengar kesal.


“Hm,” Rapa yang setengah sadar kembali menjawab dengan deheman malas. Jujur saja matanya masih berat dan kantuknya sama sekali tidak juga usai, di tambah dengan rasa pusing yang menyerang kepalanya.


“Barusan gue lihat cewek yang mirip banget sama Cleona keluar dari kantor WO kakak gue ....”


Mendengar kata Cleona di ucapkan oleh si penelpon membuat Rapa membuka paksa matanya dan langsung menatap layar ponsel untuk melihat siapa yang menjadi teman mengobrolnya saat ini. “Lo barusan bilang apa, No? Coba ulangi yang jelas!” pinta Rapa dengan sedikit memerintah.


“Ck! Barusan gue datang ke kantor WO kakak gue, dan gak sengaja lihat perempuan yang mirip banget sama cewek lo ke luar dari sana. Cowoknya juga kayak gue kenal, tapi lupa siapa namanya. Eh, Cleona 'kan di Singapur ya, jadi mungkin gue salah lihat,” kata Nino meringis kecil, begitu menyadari bahwa aura disekitarnya menjadi gelap dan dingin. Ia lupa bahwa nama itu sangat amat sensitif bagi Rapa.


“Queen udah pulang kemarin. Dan kemungkinan yang lo lihat itu memang benar dia.” Rapa menjawab dengan lesu. Awalnya ia tidak ingin mempercayai ucapan pak satpam dan adiknya, tapi begitu mendengar sahabatnya juga melihat gadis tercintanya, dan lebih parahnya keluar dari kantor WO, membuat Rapa sulit untuk menganggap semua itu palsu, walau hatinya tetap saja menolak kebenarannya.


“Yang benar lo, Rap? Terus ngapain dia ke WO sama cowok? Jangan bilang kalau ...?"

__ADS_1


“Iya dia mau nikah." Potong Rapa dengan cepat, dan lesu.


“Hahaha. Jadi, suara lo lemas gini karena galau mau di tinggal nikah?” Nino tertawa begitu kencang di seberang sana, membuat Rapa sampai harus menjauhkan benda persegi itu dari telinganya.


“No, lo tahu gak kalau rumah sakit aunty Amel masih ada kamar kosong?” kata Rapa dengan suara datar dan dingin, yang membuat Nino di seberang telepon langsung menghentikan tawanya. Ngeri dengan ancaman sahabatnya yang tengah patah hati ini.


“Sorry-sorry, gue becanda doang elah, serius amat lo nanggapinnya. Dari pada galau mending nanti malam kita nongkrong di cafenya Si Chiko, gimana? Sekalian cari cewek baru bro, kali aja lo mau mulai cari pengganti Cleona,” usul Nino dengan nada menggoda, tapi bagi telinga Rapa itu terdengar seperti sebuah ejekan.


“Mati aja lo curut!” kesal Rapa yang langsung mematikan ponselnya dan melemparnya dengan sembarangan.


Dalam hati ia menyumpah serapahi Nino, yang sudah dapat di pastikan bahwa sahabatnya itu pasti sedang menertawakannya saat ini. Dan ingatkan ia untuk melayangkan pukulan pada sahabat satunya itu karena telah merusak mood-nya hari ini. Meskipun pada kenyataannya sejak tadi pun mood-nya sudah hancur.


Rapa menatap jam di atas nakas, yang sayangnya ia lupa bahwa pigura berisikan fotonya dan Cleona saat pacaran dulu berada di sana, berdiri anggun seolah mengejeknya dengan senyum manis perempuan itu yang begitu lebar, dan harus Rapa akui bahwa dirinya merindukan senyuman itu. Dengan perasaan kesal, Rapa meraih dan memasukannya ke dalam laci, sebelum kemudian pergi menuju kamar mandi. Ia membutuhkan air dingin untuk meredakan panas di kepalanya akibat emosi.


“Abang kapan pulang, kok gak ngasih tahu bunda sama ayah?” tanya Lyra begitu anak lelakinya bergabung di meja makan.


“Tadi pagi, Bun.” Rapa menjawab dengan singkat, seraya memberikan kecupan di pipi wanita cantik kesayangannya itu.


“Ck! Pasti ini baru bangun tidur?” tebak


Lyra yang kemudian di balas anggukan kecil oleh Rapa.

__ADS_1


“Gimana kerjaannya di sana, berhasil?” kali ini Pandu yang bertanya, menoleh kekilas dari tablet di tangannya.


“Berhasil kok. Ayah tenang aja, Rapa gak akan ngecewain ayah.” Acungan jempol Pandu berikan sebagai tanda bahwa dirinya bangga pada anak lelakinya itu.


“Oh iya, Abang udah tahu kalau Queen...”


“Udah!” jawab Rapa cepat memotong ucapan bundanya.


Niat awal yang ingin mengambil nasi untuk mengisi piringnya yang masih kosong terpaksa Rapa urungkan begitu mendengar sang bunda membahas soal perempuan yang sama sekali tidak ingin dirinya dengar untuk saat ini. Terlalu sakit mendapat kenyataan yang tidak pernah dirinya harapkan itu. “Rapa pamit, Bun, Yah mau ke Cafenya Chiko.” Pamit Rapa, yang langsung bangkit dari duduknya.


Setelah menyalami punggung tangan ayahnya juga mengecup pipi sang bunda dan adiknya, Rapa melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan wajah mengeras dan mood yang semakin berantakan. Tentu saja itu menjadi kebingungan untuk kedua orang tuanya, sementara Clara hanya terkekeh kecil dan segera mengeluarkan ponselnya, mengirimkan pesan singkat pada tetangga, sekaligus sahabatnya, Cleona.


“Abang kamu kenapa, Tu? Bukankah harusnya dia senang karena Queen udah kembali, kok malah kayak gitu?” tanya Pandu heran, menatap anak gadisnya.


“Bang Rapa lagi galau gara-gara dengar Queen mau nikah." Jawab Clara dengab kekehan gelinya. Dan apa yang di katakan Ckara sukses membuat gebrakan kuat di meja makan, siapa lagi pelakunya jika bukan Lyra dan Pandu. Keduanya terlalu terkejut mendengar calon menantunya akan menikah.


“Apa? Queen mau nikah? Sama siapa? Kok bunda gak tahu? Si Lele gak ngasih tahu juga...”


“Shuttt, Bunda sama Ayah jangan heboh dulu deh,” kata Clara memutar bola matanya malas. “Atu sama Queen lagi ngerjain si abang, lagian siapa suruh jadi cowok berengsek. Lihat aja, biar dia rasa gimana sakitnya ngelihat perempuan tercintanya bahagia sama laki-laki lain. Lagi pula sebentar lagi 'kan dia ulang tahun, sekali-kali boleh lah ya?” ujar Clara menaik turunkan alisnya. “Awas kalau bunda sama ayah berani bocorin ini sama abang!” lanjutnya mengancam.


“Aish kalau itu mah Bunda setuju. Kita ikutan, Yah, nanti kita bicarain juga sama Si Lele,” kata Lyra dengan kedipan jahil yang di terima baik oleh suaminya.

__ADS_1


Melihat sinyal itu, Clara tahu bahwa ini tidak akan berjalan mudah untuk kakaknya, karena sebagai anak, jelas saja Clara tahu bagaimana kedua orang tuanya, yang kadang penuh dengan drama. Namun tentu saja ini akan menjadi lebih menarik jadi, mari kita lihat kejutan apa yang akan kedua orang tuanya beri. Clara benar-benar tak sabar menantikannya, dan ia ingin melihat bagaimana sengsaranya sang abang tersayang.


"Semoga lo gak nekat bunuh diri, Bang."


__ADS_2