Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
39. Kesedihan yang Bertambah


__ADS_3

Seminggu sudah pertengkaran antara Rapa, Clara dan Cleona berlalu. Sejak saat itu, Cleona merasa bahwa dunianya berubah, tidak ada lagi tawa dan canda yang selalu mereka lakukan, bahkan dirinya seakan sendiri dalam keramaian yang tidak lepas dari sebuah hujatan.


Hampir semua orang di SMA Kebaperan ini tahu masalah yang menimpanya, dan semua beranggapan bahwa perselingkuhan benar-benar di lakukan Cleona. Ingin membantah, tapi itu percuma, kerena ia tahu bahwa mereka tidak akan percaya.


Memilih membiarkan mungkin memang lebih baik, tangannya hanya dua dan itu jelas tidak cukup untuk membungkam mulut semua orang yang membicarakannya jadi, sebisa mungkin ia gunakan untuk menutup telinganya, meskipun tetap saja cibiran itu terdengar begitu jelas di indranya


Keempat temannya yang lain juga sempat menanyakan kebenaran gosip itu, tapi Cleona hanya membalas dengan sebuah senyuman. Biarlah mereka yang mengartikan, biarkan mereka menganggap semua itu benar, karena menurut Cleona sendiri pembelaannya tidak mungkin lagi berguna untuk saat ini, semua orang, terlebih Clara dan Rapa sudah terlanjur mempercayai apa yang di saksikan dari pada menuntut sebuah penjelasan darinya.


Cleona lebih sering menghabiskan waktu seorang diri belakangan ini, atau kadang bersama Alvin yang datang untuk sekedar mengetahui kabar gadis itu. Tidak banyak yang Cleona lakukan selain menangis atau merenung seorang diri. Semangatnya untuk menjalani hari seakan melayang entah ke mana, apalagi melihat sikap Rapa yang sepertinya enggan hanya sekedar bertatap muka.


Bukan sekali dua kali dirinya mencoba menghampiri kekasihnya, berniat untuk meminta maaf, tapi pengabaian yang sering kali laki-laki itu lakukan membuat Cleona hanya bisa menunduk pasrah dan akhirnya memilih untuk menyerah, tidak ada lagi pesan yang dirinya kirimkan, tidak juga untuk menemuinya. Ia cukup tahu diri, Rapa tak ingin melihat keberadaannya jadi, sebisa mungkin Cleona menghindar dan memilih untuk menyendiri di taman yang selalu menemani kesendirian serta kesedihannya.


Bunda dan ayah Rapa sempat beberapa kali datang ke rumah, mengecek kondisinya dan menanyakan ke mana dirinya yang tidak lagi selalu datang berkunjung. Dengan alasan belajar untuk ulangan semester yang Cleona katakan, meskipun dapat di lihat raut tidak percaya di wajah kedua orang tua itu, tapi sebisa mungkin ia selalu meyakinkan bahwa tidak ada masalah diantara dirinya, Clara dan Rapa, walau pada kenyataannya hubungan mereka memang tengah dalam guncangan ombak.


“Jika di antara kalian ada masalah, selesaikan lah dengan kepala dingin. Dan jangan segan untuk bercerita sama bunda dan ayah, karena kami adalah orang tua kalian.”


Itu yang malam kemarin Lyra katakan. Cleona hanya bisa mengangguk dan memberikan senyum singkat. Kesedihannya memang seketara itu, karena ia memang tidak pandai untuk menyembunyikan, tapi sebisa mungkin Cleona tetap bungkam. Ini masalahnya, maka sebisa mungkin untuk tidak melibatkan orang lain terutama orang tuanya dan orang tua Clara serta Rapa. Cleona ingin belajar untuk menyelesaikannya seorang diri, meski pun suatu saat, mungkin ia akan membutuhkan bantuan orang tuanya, begitu masalah yang di hadapinya tidak bisa ia selesaikan seorang diri.

__ADS_1


══════


Ulangan semester di laluinya dengan cukup baik, berkat belajar yang menjadi pengalihan rasa sedih dan kesepiannya. Sementara kelas XII langsung berangkat kemah, kelas X dan XI justru melakukan kegiatan Class meeting.


Cleona yang bahkan tidak semangat hanya untuk sekedar menonton, memilih untuk menyendiri. Di taman ini, air mata Cleona selalu saja menetes tidak ada habisnya, meskipun sudah berusaha untuk tidak lagi memikirkan Rapa yang semakin menjauh, tapi tetap saja tidak mudah dirinya lakukan. Rasa rindunya terlalu dalam untuk pria itu.


Entah sudah berapa lama Cleona berdiam diri di bawah payungan pohon rindang, sampai kemudian suara deringan ponsel sedikit mengejutkannya.


Mengernyitkan kening, Cleona mengangkat telepon masuk dari bundanya. “Hallo, Bunda.”


“Queen dimana?”


“Kamu pulang sekarang ya, sayang, ajak Ratu sekalian. Sejak tadi Bunda hubungin, tapi gak dia angkat juga.”


“Memangnya ada apa, Bunda?”


“Kamu pulang aja, ya, Queen. Nanti Bunda hubungi pihak sekolah untuk izin.”

__ADS_1


Setelah sambungan telepon terputus, Cleona masih menatap layar datar yang sudah menggelap itu dengan bingung. Namun dengan cepat juga ia bangkit dan segera mencari Clara di sepanjang lorong sekolah. Perasaannya berubah tidak enak saat mengingat nada suara bundanya terdengar sedih.


Memilih berhenti untuk mencari Clara, Cleona melangkah menghampiri salah satu orang yang sepertinya hendak menuju lapangan di mana acara berlangsung dan menitipkan pesan untuk di sampaikan pada sahabatnya itu, sementara dirinya sendiri berlari menuju gerbang, mencegat taxi untuk mengantarnya pulang.


Semakin jaraknya dekat menuju komplek perumahan, maka semakin cepat juga debaran di jantungnya, perasaanya pun semakin tidak enak dan kebingungan segera hinggap begitu melihat di depan rumahnya sudah ramai oleh banyak orang. Secepatnya Cleona turun dari taxi dan berlari masuk menerobos orang-orang yang menghalangi jalannya, air mata sudah tidak bisa ia bendung lagi begitu melihat bendera kuning juga beberapa rangkaian bunga di sisi kanan kiri gerbang.


Bundanya menyambut di teras dengan air mata yang berderai dan langsung memeluk Cleona yang hendak menerobos masuk ke dalam rumah.


“Apa yang terjadi, Bunda? Kenapa banyak orang disini, dan kenapa ada bendera kuning di depan?” Cleona melayangkan tanya bertubi-tubi sambil menangis dan berontak minta di lepaskan.


“Kamu yang sabar ya, Queen, Mami kamu sudah bahagia bersama Tuhan.” Berat Lyra mengucapkan itu, tapi mau bagaimana lagi ia memang harus mengatakannya.


Apa yang di katakan Lyara membuat Cleona terdiam untuk mencerna, sebelum kemudian menjerit kencang dan mendorong tubuh Lyra hingga pelukan itu terlepas. Berlari masuk ke dalam rumah, Cleona mendapati papinya duduk di samping tubuh kaku yang tertutup kain di tengah ruangan, menunduk dengan pundak bergerak turun naik.


Dengan cepat Cleona beralari dan menghampiri Leo, menggungcang tubuh papinya itu sambil terus memaksa sang papi untuk mengatakan bahwa semua ini adalah kebohongan dan hanya mimpi belaka. Namun begitu tangan kekar itu memberikan pelukan erat dan suara isakan, Cleona dengar, tubuhnya tida-tiba melamah dan tangisnya semakin kencang, menggelengkan kepala beberapa kali, Cleona menolak untuk percaya.


“Mami kenapa pergi tinggalin Queen, Mi. Bangun, Mi, jangan tinggalkan Queen sendiri, Mami bangun …!"

__ADS_1


Cleona yang terus menangis melepaskan pelukan papinya, beralih menoleh pada tubuh terlentang kaku di sampingnya, membuka kain penutup tersebut, Cleona semakin histeris begitu wajah pucat Luna terpangpang jelas di depannya.


Beberapa kali Cleona mengguncang tubuh Luna yang tidak juga memberi respons. “Mami bangun, Mi, Queen butuh mami, Queen gak mau kehilangan mami. Bangun, Mi,” ucapnya lemah, menumpahkan segala kesedihan lewat air mata, Cleona memeluk tubuh kaku itu dan tidak lama kesadarannya berangsur hilang bersamaan dengan datangnya Clara, yang tidak kalah histerisnya.


__ADS_2