Rapa & Cleona : Menjaga Hati

Rapa & Cleona : Menjaga Hati
58. Balikan


__ADS_3

Apakah tidak ada hal yang lebih gila lagi dari ajakan Birma yang benar-benar santai itu? Yang benar saja laki-laki itu mengajaknya menikah dengan cara seperti ini! Tidak bisakah lebih romantis dengan setangkai mawar atau cincin?


“Lo ngajak nikah ringan banget, kayak ngajak gue makan pecel lele di pinggir jalan!” dengus Clara melipat kedua tangannya di dada.


“Emang lo mau di samain sama pecel lele?”


“Ck, justru itu gue gak mau! Lo sebenarnya niat gak sih ngajak gue nikah?” tanya Clara menatap kesal laki-laki di depannya.


“Kalau gak niat, gue gak mungkin ngajak,” ujarnya dengan senyum manis yang harus Clara akui selalu membuatnya terpesona.


“Dan cara lo ngajak gue nikah apa gak salah?” Clara menaikan sebelah alisnya bertanya


“Kenapa? Lo gak mau yang biasa?”


“Semua perempuan selalu ingin yang luar biasa dan berkesan!”


“Lamaran boleh biasa, tapi lo harus tahu, bahwa cinta gue luar biasa untuk lo.”


“Astaga boleh gak sih gue lompat dari kursi ini? Baper tak tertolong! Lagian belajar dari mana nih cowok bisa semanis ini setelah pisah dari gue?” jerit hati Clara dengan hebohnya.


Jantung yang semula berdetak sebagaimana mestinya kini malah meloncat-loncat meminta kebebasan, debarannya tak biasa dan Clara tentu saja takut akan terjadi sesuatu pada dirinya. Bahaya bukan jika sampai jantungnya benar-benar meloncat dari tepatnya, bisa-bisa ia di timbun oleh tanah!


“Cla,” panggil Birma menyadarkan lamunannya. Clara hanya membalas dengan deheman kecil. “Mau gak jadi istri gue?” lanjut Birma kembali bertanya.


“Lo serius mau nikahin gue?” tanya Clara tak yakin.


“Apa gue terlihat becanda?”


“Ajakan lo memang terdengar seperti itu! Gila aja lo ngajak gue nikah sesantai itu. Lo pikir pernikahan semudah beli tomat di pasar?” dengus Clara memutar bola matnya. “Ketika kita memutuskan untuk menikah, itu artinya kita harus sudah siap dalam segala hal, termasuk komitmen dari sebuah pernikahan, dan lo pikir itu mudah? Jangan sembarangan, Bir, gue gak mau nanti malah jadi janda!”


Birma menoyor pelan kening perempuan di depannya itu. “Kenapa pikiran lo sedangkal itu? Lo tahu, gue adalah orang yang penuh pertimbangan. Dan di saat gue ngajak lo nikah itu berarti semuanya sudah gue pikirkan, termasuk sebuah komitmen. Lo pikir pacaran gak butuh komitmen? Jangan jadi **** mendadak deh Clara sayang,” kata Birma yang di akhiri dengan ledekan.


“Lo benar-benar serius dengan ucapan lo?” Clara kembali bertanya, bukan karena tidak percaya, tapi ia hanya ingin memastikan sekali lagi. Ia tidak ingin kecewa di kemudian hari, karena bagaimanapun dirinya begitu mencintai Birma, dan Clara jelas tidak ingin bahwa cintanya nanti malah akan menjadi senjata Birma untuk menyakitinya. Meskipun harapannya amit-amit jika itu sampai terjadi.


“Gue harus apa biar lo percaya?”

__ADS_1


“Izin sama Abang, Papi, Ayah dan Grandpa. Jika mereka memberi restu maka dengan senang hati gue menerima pinangan lo.”


“Oke, secepatnya gue akan mendapatkan restu itu. Dan jika mereka sudah mengizinkan, lo harus mau gue ajak nikah seminggu setelahnya!”


“Gila lo!” sentak Clara yang benar-benar terkejut dengan kalimat terakhir Birma. “Gak dalam waktu sedekat itu juga kali, sinting emang lo, Bir.”


Birma benar-benar terhibur dengan reaksi Clara mengenai ajakannya, niatnya ia hanya becanda untuk menggoda perempuan cantik itu, dan reaksinya memang seperti apa yang ada dalam pikirannya, meskipun sudut dalam hatinya mengharapkan bahwa gadis itu menyetujui.


Sejak berada dalam semester akhir kuliahnya, Birma sudah memikirkan masa depannya dengan Clara, bahkan ia sudah membicarakan niatnya pada Eyang-nya di Yogya. Meskipun saat itu dirinya tidak mengetahui bagaimana perasaan Clara setelah mereka berpisah, tapi Birma selalu yakin bahwa perempuan itu masih menyimpan perasaan cinta untuknya walau hanya setitik tinta. Maka dari itu, selama berada di kota orang yang cukup jauh dari keberadaan Clara, Birma terus menjaga hati untuk cinta pertamanya. Ia tidak ingin mengecewakan siapa pun yang mengharapkannya, terlebih Clara.


“Terus lo pengen gue nikahinnya kapan?” tanya Birma di tengah kekehannya.


“Di hari ulang tahun gue."


“Ulang tahun lo udah kelewat dua bulan lalu, Clara!”


“Ulang tahun gue masih ada di tahun-tahun berikutnya, Birma sayang.” Kata Clara mencubit gemas pipi laki-laki di depannya.


“Ck, nunggu tahun depan itu kelamaan,” dengus Birma melipat kedua tangannya di dada, dan tidak lupa bahwa wajah tampan itu kini cemberut, membuat pipinya sedikit mengembung.


“Berhenti cemberut lo, gak pantes. Lebih baik sekarang kita cari makan, gue lapar!” kata Clara bangkit dari duduknya, mengulurkan tangan meminta laki-laki itu untuk berdiri.


Birma yang memang merindukan tangan hangat itu tentu saja menerima dengan senang hati, walau wajahnya masih juga di tekuk, tapi siapa yang tahu bahwa hatinya tersenyum cerah, karena bisa merasakan kelembutan tangan mungil itu lagi.


Tempat makan yang Clara pilih adalah warung sate di pinggir jalan yang cukup ramai oleh pengunjung. Wanita cantik itu membawanya duduk di sudut ruangan karena memang di sana lah tempat kosong yang tersisa, duduk lesehan seperti ini membuatnya nyaman apa lagi di temani perempuan cantik yang memang amat dirinya cintai. Meskipun menu makanan mereka sederhana, tapi percayalah bahwa makan dengan orang tersayang akan membuat makanan itu terasa istimewa. Entah itu teori dari mana, tapi yang jelas Birma merasakannya sendiri.


“Lo gak berubah ternyata, masih aja gak ada anggun-anggunnya kalau lagi makan,” kata Birma membersihkan bumbu sate yang tertinggal di sudut bibir perempuan di depannya.


“Kalau gue berubah anggun, buka lagi lo yang jadi tipe gue!”


“Kayak ada aja yang mau sama lo selain gue!” cibir Birma.


Clara tak lagi menanggapi, memilih fokus pada makanan di depannya, mengisi perut yang sejak tadi keroncongan karena terlalu banyak makan gombalan Birma, laki-laki menyebalkan yang sayangnya tidak pernah hilang dari hati dan ingatannya.


Birma memang bukan laki-laki romantis seperti Rapa, bukan juga laki-laki tampan layaknya Alvin, tapi di matanya, Birma adalah sosok sempurna yang sangat ia cintai. Sebanyak apapun laki-laki di luar sana, sebaik apapun mereka dan setampan apa pun laki-laki itu, Clara tidak akan sanggup menukarnya dengan seorang Birma Dirgiantara.

__ADS_1


“Bir, sekarang status kita apa?” tanya Clara yang sejak tadi masih bingung dengan satu hal itu.


“Suami istri,” kata Birma mengedipkan sebelah matanya genit.


“Belum nikah, jangan sembarangan!” peringat Clara tajam.


Birma terkekeh kecil. “Sekarang kita pacaran dulu ya, nanti setelah gue dapat restu baru status lo naik jadi tunangan gue.”


“Emang lo udah ngajak balikan?”


“Perasaan lo gak kejedot pintu deh, Cla, kenapa jadi pelupa gini?” Birma mendengus kecil.


“Emang yang tadi pernyataan cinta lo, untuk ngajakin gue balikan? Kok gak ada manis-manisnya?”


“Air comberan kali ah, ada manis-manisnya.” Delik Birma malas.


Clara terkekeh geli melihat wajah kesal laki-laki di depannya. Saking gemasnya ia langsung melayangkan cubitan di kedua pipi Birma cukup kuat, dan sukses membuat pria tampan itu meringis pelan.


Birma meraih kedua tangan Clara yang berada di pipinya, menggenggam tangan mungil itu dengan hati-hati, kemudian menatap gadis di depannya dengan tatapan dalam dan serius. “Cla, aku sadar bahwa aku bukanlah laki-laki baik, aku gak sempurna, bahkan mungkin banyak sekali kekurangan dalam diriku. Namun begitu bersamamu, aku merasa kekurangan itu tertutupi, bersamamu aku merasa sempurna, dan bersamamu kebahagiaan seakan berada di depan mata. Sebelumnya aku tidak pernah tahu bahwa aku akan bertemu denganmu dan jatuh cinta pada sosok cantikmu yang berhasil mencuri perhatianku. Aku bukan laki-laki yang pandai bicara, apa lagi becanda, karena yang aku bisa adalah mencintaimu dengan setulus jiwa. Aku tidak bisa bersandiwara, karena aku tidak ingin berdusta. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa disini, hanya ada kamu.” Birma menepuk-nepuk pelan dada sebelah kirinya.


“Birma ...”


“Clara Ratu Yeima, apa kamu bersedia menjadi kekasihku kembali? Dan bersediakah kamu melanjutkan perjalanan cinta kita yang belum usai? Aku tidak akan menjanjikanmu mengenai kebahagian, karena aku hanya lah manusia yang tak luput dari sebuah kesalahan. Aku hanya akan berusaha semampuku untuk membahagiakan kamu, melindungimu, dan menyayangimu setulus hatiku. Jadi, apakah kamu mau menerimaku kembali?”


Air mata Clara semakin menetes deras membasahi pipinya. Jujur saja, baru kali ini ia mendapatkan kata-kata manis panjang lebar seperti ini dari seorang Birma yang lebih di kenal konyol dan kadang kaku. Bukan karena Birma tidak pernah memperlakukannya dengan romantis, tapi jelas saja ini berbeda, saat ini Birma terlihat lebih serius dan tulus membuat Clara tidak bisa untuk mengatakan tidak untuk ajakan laki-laki itu.


“Aku mau, Bir, aku mau kembali menjalin kasih bersamamu. Maafkan aku jika dulu sempat mengecewakan kamu. Maaf sudah menyakiti kamu dan maaf ka...”


Birma dengan cepat meletakan telunjuknya di bibir Clara, meminta agar perempuan itu menghentikan ucapannya. “Jangan pernah meminta maaf untuk itu, karena kamu tidak sama sekali membuatku kecewa, kamu tidak bersalah. Aku mengerti keadaanmu saat itu. Aku mohon jangan menyesalinya, sayang.” Pinta Birma dengan tatapan memohon, ibu jarinya bergerak lembut menghapus sudut mata Clara yang basah.


“Jadi sekarang kita udah balikan?” tanya Clara begitu tangisnya mereda. Birma menjawab dengan anggukan seraya merapikan rambut kekasihnya yang sedikit berantakan, menghalangi wajah cantik itu.


“Oke, kalau begitu lo bayarin sate pesanan gue ya, sekalian bungkusin buat Bunda sama Ayah,” kata Clara dengan tidak tahu malunya.


“Ck, nyesel gue udah manis-manisin lo. Di kira udah benar-benar jinak, tahunya ... dasar dedemit, untung gue cinta. Kalau enggak...!” Birma menggeleng-gelengkan kepala seraya berdecak.

__ADS_1


"I love you too sayang." Balas Clara terkekeh geli.


__ADS_2