
Di tengah asyiknya bermain dengan kedua jagoannya, Rapa mendapatkan telepon dari sang bunda yang mengatakan bahwa istrinya baru saja siuman membuat senyum Rapa mengembang begitupun dengan orang-orang yang berada di rumah.
“Sayang, Papa pamit ya, mau temuin Mama dulu, nanti kita main lagi. Jangan rewel!” peringat Rapa mengacungkan telunjuknya. Setelah melayangkan beberapa kecupan di wajah kedua putranya, Rapa kemudian pamit pada semua orang dan bergegas menuju rumah sakit. Ia sudah tak sabar ingin menemui istrinya.
Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, Rapa sampai di rumah sakit tempat istrinya di rawat. Senyum terus terukir hingga tiba di kamar rawat sang istri, dan senyumnya semakin lebar karena Cleona menyambutnya dengan senyuman dan tangan yang merentang, meminta Rapa segera memeluknya, membuat Rapa berlari kecil, kemudian berhambur memeluk istri tercintanya itu yang masih berbaring di ranjang rumah sakit.
“Kangen!” ucap Cleona dengan nada manja yang membuat Rapa terkekeh pelan.
“Aku juga kangen kamu sayang. Kamu lama banget tidurnya,” sahut Rapa memberikan kecupan singkat di kening istri cantiknya. Namun begitu teringat akan sesuatu, dengan perlahan Rapa melepaskan pelukannya dan menatap istrinya, “kaki kamu…?” Rapa bicara dengan hati-hati.
“Queen tahu kok, Bang, Dokter tadi udah jelasin kalau Queen gak bisa jalan,” wanita cantik itu tersenyum, terlihat tegar.
“Kamu gak sedih?” tanya Rapa untuk memastikan. Karena sejak di perjalanan, bahkan begitu sang istri di pindahkan dari ruang operasi dan Dokter menjelaskan mengenai keadaan istrinya, Rapa sudah membayangkan bahwa Cleona akan menangis histeris. Namun apa yang dibayangkannya tidak terjadi, istrinya malah justru memberikannya senyum bahkan kecupan.
“Jelaslah Queen sedih, tapi Queen lebih kepada bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk Queen hidup, melihat Abang, Bunda, Papi, Ayah dan yang lainnya. Juga melihat pertumbuhan anak-anak kita.”
Apa yang di ucapkan Cleona barusan membuat Rapa terharu dan langsung berhambur memeluk wanita tercintanya itu. Tidak beda jauh dengan Pandu, Leo dan Lyra yang juga berada di ruangan itu menyaksikan bagaimana tegarnya Cleona.
“Abang, dengan kondisi Queen seperti ini, apa Abang masih mau menerima Queen?” tanya Cleona tiba-tiba.
Mengurai pelukannya, Rapa memberikan kecupan di kedua mata istrinya secara bergantian setelah itu menatap kekasih hatinya dengan tatapan lembut. “Sayang dengarkan Abang, apa pun keadaan kamu, bagaimanapun kondisi kamu, Abang selamanya akan tetap mencintai kamu, karena kamu adalah separuh jiwa Abang. Jadi, jangan pernah ragukan kesetiaan Abang, apa lagi ragu akan cinta Abang. Kamu paham?”
Mengangguk Cleona kemudian mengembangkan senyumnya, dan kembali merentangkan tangan meminta sang suami tercinta untuk kembali memeluknya. “Terima kasih Abang, terima kasih sudah bersedia menerima kekurangan Queen, terima kasih sudah mencintai Queen begitu dalam. Queen berjanji untuk terus berusaha agar bisa kembali berjalan, meskipun Dokter mengatakan bahwa kemungkinan itu kecil, tapi Queen percaya Tuhan punya rencana lain untuk Queen.”
Teman-teman Cleona dan Rapa datang bergantian untuk menjenguk, begitupun dengan keluarganya yang lain. Cleona lega teman-temannya tidak memandangnya iba atas apa yang dirinya alami, mereka justru memberikan dukungan dan menyemangatinya, yang membuat Cleona bersyukur memiliki mereka semua.
Kedatangan si kembar lah yang membuat Cleona bahagia bukan main, satu minggu lebih tidak bertemu dengan kedua buah hatinya membuat Cleona begitu merindukan anak-anaknya sampai air mata tidak lagi bisa dirinya tahan.
“Mama kangen banget sama kalian,” ucap Cleona mengecupi pipi gembul anak-anaknya yang berada dalam gendongan Rapa.
__ADS_1
“Kami juga kangen, Mama. Cepat sembuh Mama, biar kita bisa main sama-sama lagi.” sahut Rapa dengan suara yang di buat seperti anak kecil. Kemudian keduanya tertawa, begitupun si kembar yang ikut tertawa seolah paham dengan yang orang tuanya bicarakan.
👶👶👶
Mengetahui kabar bahwa sang menantu sudah di perbolehkan pulang, Lyra dengan di bantu Devi dan Amel menyiapkan segala macam masakan kesukaan Cleona untuk memberikan sambutan pada menantu tersayangnya itu, tidak lupa Lyra pun menghubungi sahabat-sahabat dari anak-anaknya untuk datang dan bergabung dalam acara penyambutan.
Dan kebetulan yang sangat tepat di saat mereka semua akan kembali menjenguk Cleona di rumah sakit, begitu tahu bahwa yang akan di hampiri sudah di izinkan pulang membuat mereka berbelok arah menjadi ke rumah Lyra-Pandu, membuat suasana yang sudah ramai dengan keluarga besar bertambah ramai dengan keberadaan mereka.
“Gue udah bisa nebak nih kalau, Si El nanti besarnya bakalan jadi penerus Si Rapa,” ucap Dava yang saat ini duduk mengamati si kembar.
“So nebak-nebak lo, curut!” cibir Daniel memberikan jitakkan di kepala temannya itu.
“Eh jangan salah, tebakan gue biasanya benar tahu. Lihat aja, Nathan sama Nathael meski masih usia beberapa bulan, Si El udah kelihatan bar-barnya. Mainan Nathan aja dia sering rebut, gue jadi khawatir kalau besar nanti tuh bocah ngerebut cewek Nathan juga,”
Bugh.
Tongkat kayu milik Wisnu mendarat di kepala Dava. “Lo sadar gak kalau yang lo bicarain itu cicit gue?” tatapan tajam Wisnu berikan pada sahabat cucu menantunya.
Leon dan para nenek ikut mengamati begitu pun dengan Daniel dan taman-temannya yang lain. Dava memberikan mainan bebek karet pada Nathan sementara Nathael diberikannya mainan ikan. Untuk beberapa saat mereka semua terdiam dan mengamati kedua bocah itu.
“Kok gue baru sadar, ya?” Birma yang lebih dulu membuka suara setelah beberapa menit mengamati.
“Nathan sadar diri, sebagai kakak emang harus banyak ngalah,” celetuk Chiko kemudian. “Tapi gue yakin nih, kalau dia suatu saat nanti bakalan menjadi pemimpin yang keren. Semoga nanti gue punya anak cewek,”
“Mau apa emang kalau anak lo cewek?” tanya Akbar dengan kening mengerut.
“Mau gue jodohin,” jawab Chiko menaik turunkan alisnya, membuat teman-temannya itu melayangkan cebikan dan toyoran di kepala Chiko.
“Cih, sirik!”
__ADS_1
“Nah- nah, tuh bar-bar kan tuh bocah!” Dava dengan hebohnya menunjuk Nathael yang kembali berusaha mengambil mainan di tangan Nathan. Tangan mungil bocah itu bahkan sampai menyingkirkan kepala kakaknya, dan mematikan pergerakan Nathan dengan cara menindih kaki, dan mengunci pergerakan tangan sang kakak.
“Wih, cicit gue ini,” Leon bersuara seraya menunjuk Nathael dengan bangga. “Granpa yakin nih, gedenya Nathael gak beda jauh sama Rapa dan Devin.”
“Buah emang gak jatuh jauh dari pohonnya.” Ujar Linda yang berada di samping suaminya.
“Penerus itu harus ada ma,” sahut Leon.
“Emang, tapi jangan gilanya yang di turunin.” Kali ini Melinda yang menimpali.
“Bukan gila, tapi humoris.” Bantah Leon.
“Iya-in biar cepat!” seru Lyra yang tiba-tiba datang, kemudian berlalu dari orang-orang yang berkumpul di ruang tengah menuju teras untuk menyambut kepulangan Cleona yang dari informasi Pandu baru saja memasuki komplek perumahan tempat mereka tinggal.
Dan benar saja, tak sampai sepuluh menit mobil Leo terparkir di pekarangan rumah, di susul dengan keluarnya Pandu yang kemudian mengambil kursi roda di bagasi. Orang-orang yang ada di dalam berhamburan keluar dengan senyum bahagia, berdiri di teras menunggu Cleona.
Begitu Pandu sudah siap dengan kursi rodanya, Rapa lebih dulu keluar, kemudian menggendong Cleona dan memindahkan istrinya itu untuk duduk di kursi roda.
“Selamat pulang ke rumah Queen!” teriak semua orang bersamaan tanpa di komando.
“Astaga sampai di sambut segala, jadi terharu gini,” Cleona mengusap sudut matanya yang tidak sengaja menjatuhkan bulir bening.
Lyra menyuruh semua orang kembali masuk dan melanjutkan mengobrol di dalam, sambil menikmati hidangan yang sejak tadi di buatnya. Kesedihan benar-benar tidak di perlihatkan semua orang, karena yang ada hanyalah tawa, canda dan kekonyolan mereka semua, membuat suasana begitu hangat hingga malam menjelang dan satu persatu dari mereka undur diri untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Dokter bilang kamu harus banyak-banyak istirahat, jadi sekarang aku bawa kamu ke kamar ya?”
“Tapi …” Cleona menatap suaminya dan tangga secara bergantian.
Paham dengan maksud sang istri, Rapa kemudian melayangkan kecupan kecilnya di kening perempuan cantik itu. “Kamar kita udah pindah ke bawah, sayang. Begitu juga dengan kamar si kembar.”
__ADS_1
“Ya Tuhan, Queen terharu banget loh ini. Kalian pengertian banget sih,” ucap Cleona dengan berkaca-kaca. “Terima kasih karena sudah mengerti keadaan Queen, dan maaf udah ngerepotin kalian semua. Terutama untuk abang, maaf karena mulai saat ini Queen harus bikin abang kerepotan mengurusi Queen yang tidak bisa berjalan dan me…”
“Suuttt!” Rapa segera menempelkan jari telunjuknya di bibir sang istri, agar wanita itu menghentikan ucapannya. “Abang gak pernah ngerasa kamu repotin, sayang. Abang cinta kamu, jadi apa pun akan abang lakukan untuk kamu. Tolong izinkan abang menjadi kaki kamu untuk melangkah.”