
Cleona sudah cantik dan begitu anggun dalam balutan gaun pengantin, tidak hentinya pujian terlontar dari mulut setiap orang yang melihat ratu sehari itu. Wajah Cleona sudah memerah karena pujia-pujian, malu, tapi juga bahagia dan berterima kasih pada penata rias yang sudah menjadikannya bagai putri dalam pernikahannya hari ini.
Begitu aunty Devi yang bertugas di depan mengatakan bahwa acara akan segera di mulai membuat detak jantung Cleona berdetak dengan tidak manusiawi. Di sisi kanan kirinya Clara dan Shafa menuntun Cleona keluar dari persembunyian untuk mendampingi Rapa yang saat ini duduk di kursi yang berada di tengah ruangan dengan stelan putih, senada dengan gaunnya, menatap dengan kagum dan memuja, membuat Cleona segera menundukan kepalanya karena malu di tatap seintens itu.
“Cantik banget sih bidadarinya Abang,” bisik Rapa begitu Cleona duduk di sampingnya.
Cleona semakin menunduk, meskipun pujian itu bukan hanya sekali dua kali laki-laki itu utarakan, tapi entah kenapa hari ini terdengar berbeda. Dadanya berdebar semakin kuat dan seolah ingin loncat dari tempatnya, membuat Cleona sebisa mungkin untuk menahan buncahan bahagia itu.
“Papi kamu mana sih, Queen?” tanya Rapa menoleh kanan dan kirinya mencari keberadaan laki-laki tua yang sayangnya masih tampan di usianya yang sudah berkepala empat.
“Tadi Oapi bilang sakit perut katanya, jadi ke belakang dulu.”
“Ck, alasan aja tuh orang tua!” dengus Rapa tidak percaya. Cleona hanya terkekeh geli melihat Rapa yang tidak bisa diam di kursinya masih mencari orang yang akan berjabat tangan dengannya.
“Bunda, Papinya seret ke sini coba. Bilangin jangan banyak alasan, kalau enggak abang gak akan segan-segan bawa Queen kawin lari.” Rapa berkata cukup keras pada sang bunda yang duduk di kursi belakangnya.
“Sabar kali, Bang.”
“Abang itu udah gak bisa sabar Bunda, apa lagi lihat Queen yang udah secantik ini. Udah pengen cepat-cepat abang halalin!”
Pletak.
__ADS_1
Rapa mengaduh begitu kepala bagian belakangnya di pukul oleh orang yang sejak tadi di tunggunya. Jika saja bukan di hari pernikahan dan dirinya membutuhkan laki-laki itu untuk menjadi wali dari wanita yang akan dinikahinya saat ini, sudah dapat di pastikan bahwa Rapa tidak akan berbaik hati pada laki-laki kesepian itu yang begitu hobi melayangkan pukulan di kepalanya, untung saja dirinya tidak gegar otak.
“Ayo, Pi kita mulai,” ujar Rapa dengan senyum mengembang, tak peduli bahwa kepalanya berdenyut akibat pukulan dari calon mertuanya.
“Ck, gak sabaran banget sih, lo! Percuma ijab di cepetin kalau Queen gak bisa di ajak malam pertama untuk beberapa hari ke depan.”
Cibiran Leo tersebut membuat Cleona semakin menunduk, malu. Dan beberapa orang yang hadir dalam acara akad ini terkekeh geli, begitu juga dengan Bapak penghulu, sementara Rapa mendengus kesal. Sedikit miris memang mengingat bahwa wanita yang di nikahinya hari ini kembali kedatangan tamu. Salahkan hormon menyebalkan itu, yang malah datang dua kali dalam satu bulan ini.
Namun tak apa, Rapa dapat menunggu dengan sabar, toh dirinya menikahi Cleona bukan karena alasan nafsu yang mesti di salurkan, melainkan karena ia benar-benar mencintai wanita itu dan ingin menjaga serta menjadikan Cleona sebagai miliknya, meskipun tidak dapat dirinya elakkan, bahwa malam pertama memang menjadi dambaan semua pengantin baru termasuk dirinya.
“Baiklah, berhubung semua sudah berkumpul dan mempelai sudah tidak sabar. Mari kita mulai saja acaranya,” ucap Bapak penghulu yang membuat bibir Rapa melengkung naik, membentuk sebuah senyum yang menawan.
“Awas lo kalau gak bisa mengucap dalam satu kali tarikan napas, papi cabut restunya!” ancam Leo tajam.
“Tenang pi, abang udah belajar sejak bayi, kok,” jawab Rapa dengan bangga, sementara Leo mencebikan bibirnya.
Orang-orang yang berada di sana menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan kedua laki-laki beda usia itu. Saat-saat yang seharusnya menegangkan ini nyatanya tidak mempengaruhi kedua pria itu untuk bertingkah kalem.
Setelah bapak penghulu memberi pengarahan, Leo serta Rapa sama-sama mengambil napas sebanyak-banyaknya, sebelum kemudian mereka keluarkan secara perlahan. Leo menatap dalam tepat pada mata laki-laki muda di depannya, yang setelah ini akan menjadi suami dari anak pertamanya. Jujur saja Leo sebenarnya begitu gugup, karena bagaimana pun ini adalah pengalaman pertanyanya menikahkan putrinya, dan berdebat dengan Rapa adalah jalan satu-satunya untuk mengalihkan kegugupannya itu.
“Rapa Pratama Dhikra, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, Cleona Queenisa binti Leo Aryatama dengan maskawin sekian di bayar … tunai!”
__ADS_1
“Saya terima nikah dan kawinnya Cleona Queenisa binti Leo Aryatama dengan mas kawin tersebut, tunai!” Rapa membalas ijab dengan lancar dalam satu tarikan napas.
Hembusan napas lega Leo serta Rapa keluarkan begitu juga dengan wanita cantik di samping Rapa yang saat ini punggungnya sudah naik turun membuktikan bahwa Cleona menangis.
Selama penghulu membacakan doa seusai ijab kobul, Leo, laki-laki yang selalu terlihat menyebalkan di mata Rapa itu tidak lagi bisa menyembunyikan air matanya, entah terharu atau justru sedih, karena harus menyerahkan anak perempuan tersayangnya pada laki-laki lain.
Setelah menandatangani segala macam berkas pernikahan, penghulu meminta Cleona untung mencium punggung tangan suaminya, sementara Rapa di minta mencium kening perempuan cantik yang baru saja sah menjadi istrinya.
“Ciumnya boleh di bibir aja gak?’ tanya Rapa dengan tidak tahu malunya.
“Gak sabaran banget lo bocah!” Leo menoyor kepala menantunya.
“Abang kelamaan puasa, Pi. Sekarang udah sah, masa iya gak boleh nyosor.” Rapa mencebikan bibirnya, sementara Cleona yang wajahnya sudah benar-benar memerah karena malu mencubit pinggang suaminya.
“Astaga, mimpi apa gue punya mantu model gini,” keluh Leo, menepuk jidatnya sendiri tidak habis pikir.
“Ya jelas mimpi indah, Pi,” kata Rapa dengan tenang. “Bodo ah, kelamaan kalau minta izin.” Ujar Rapa, dan ‘cup’ satu kecupan singkat Rapa daratkan di bibir pink Cleona yang terkejut dengan serangan tiba-tiba suaminya. Lyra bahkan merasa detak jantunya berhenti sejenak dengan ulah anak lelakinya itu.
Acara yang seharusnya di penuhi dengan air mata haru, malah menjadi heboh dengan suitan dan tawa geli tamu undangan.
“Bisa-bisa umur gue kurang banyak gara-gara punya mantu model begini,” gumam Leo, terduduk kembali di kursinya semula, dengan tangan yang menyangga kepala begitu rasa pusing menghampirinya. Memiliki menantu modelan Rapa memang benar-benar sebuah ujian.
__ADS_1